
Sepulang sekolah Cacha bergegas menuju kantor papanya. Seperti biasa Julian akan mengawalnya. Julian juga menggunakan motor jika Cacha menggunakan motor. Sebelum pergi Cacha mengganti roknya dengan celana panjang seperti saat berangkat sekolah tadi.
Disetiap lampu lalulintas Cacha berhenti, akan menjadi pusat perhatian khususnya kaum adam. Tak jarang ada yang menggoda Cacha. Karena Cacha tidak menggunakan helm yang full face. Dan dia juga membuka kaca helmnya.
"Gila tuh cewek keren banget yak". Beberapa puian dari pengendara lain. Julian terus mengawasi dari belakang. Jika ada yang terlalu berlebihan menggoda Cacha, Julian siap bertindak.
Tiba dikantor papanya, Cacha ingin menitipkan dompet kepada security. Namun Dzaky ternyata sudah berpesan agar Cacha mengantarkan sendiri keruangannya.
"Dasar Abang tua menyebalkan. Jul buruan keruangan orangtua menyebalkan itu". Julian berjalan cool disamping Cacha. Terdengar suara tawa lirih dari security dan resepsionis saat Cacha mengumpat bos mereka.
Cacha menaiki lift bersama Julian menuju ruangan Dzaky dilantai tujuh belas. Setiap karyawan yang berpapasan dengan Cacha dan Julian pasti menyapa dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Kak. Si Juki udah balik dari meeting belum". Cacha bertanya dengan sekretaris Dzaky. Sekretaris Dzaky sudah sangat hafal dengan sikap Cacha. Dia selalu tertawa jika Cacha memanggil bosnya dengan sebutan sesuka hati.
"Ada. Barusan saja pak bos balik. Mbak Cacha langsung masuk aja". Sekertaris Dzaky langsung mempersilahkan Cacha masuk kedalam ruangan Dzaky.
"Bisa gak sih ini barang kakak saja yang kasih si Juki. Cacha lagi males aja lihat muka tua Juki". Sekretaris Dzaky terbahak mendengar Cacha kembali menjelekkan abangnya.
"Gak bisa mbak. Tadi pak bos sudah pesan kalau mbak Cacha datang suruh masuk dan saya gak boleh terima titipan apapun dari mbak Cacha". Dengan wajah cemberut dan malas. Cacha langsung membuka pintu ruangan Dzaky tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Woy Abang tua. Nih dompet loe. Makanya jadi orang jangan pikun. Oya lupa loe kan udah tua. Pantes pikun". Dzaky yang sedang berbicara dengan beberapa sahabatnya terkejut mendengar suara sang adik yang menggelegar.
"Merica bubuk. Bisa gak kalau masuk ketuk pintu dulu. Enak aja ngatain gue pikun". Dzaky pun tak mau kalah dengan sang adik.
__ADS_1
"Serah deh. Gue mau balik. Awas loe nyariin gue. Gak usa cari alasan kalau emang kangen gue. Ngomong aja". Cacha sudah meletakkan dompet Dzaky dimeja. Cacha tidak peduli bahkan menoleh pun tidak saat beberapa sahabat Dzaky memperhatikan dia.
"Muka loe Oneng. Amit-amit gue kangen sama loe. Berhenti loe disitu. Gue cek dulu apa yang kurang dari isi dompet gue". Dzaky membuka dompetnya. Cacha berbalik menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan tatapannya berubah menjadi tajam menatap Dzaky yang sibuk membuka dompetnya.
"Ck. Kayak duit loe banyak aja. Isi juga cuma tiga puluh ribu. Sok banget jadi orang. Loe kere ya Abang tua". Teman-teman Dzaky berusaha menahan tawanya. Melihat Dzaky sang arogan dibantai adiknya.
"Oke aman. Sono balik. Awas loe kelayapan. Dan loe Bajul anterin adek gue sampai rumah". Julian hanya mengangguk dan masih tetap berdiri menyandarkan tubuhnya ditembok mengawasi Cacha.
"Dasar Juki. Udah tua songong. Jauh jodoh loe". Cacha berlalu pergi saat Dzaky sudah kesal dengan umpatan adiknya. Dzaky melemparkan salah satu sepatu miliknya kearah Cacha. Dan Cacha bisa menghindari.
Cacha mengambil sepatu Dzaky dan dilemparnya keatas lemari tinggi diruangan Dzaky. Dzaky semakin murka.
"Merica bubuk sialan emang loe jadi adik". Tawa teman-teman Dzaky meledak membahana didalam ruangan Dzaky. Bahkan tatapan Dzaky tak bisa menghentikan tawa mereka.
"Hahahaha. Itu beneran adik loe Zak". Leo salah satu teman Dzaky masih belum percaya jika Cacha adalah adiknya.
"Kok beda. Setau gue adek loe dulu manis. Gak sebarbar ini". Beberapa teman Dzaky memang mengenal Cacha. Tapi tak begitu dekat. Hanya sekedar tau.
"Manis apanya. Manis kalau tidur. Kalau udah melek. Beuh ampun kelakuannya. Ntah dulu mama ngidam apa. Anak ceweknya berubah macho". Penjelasan Dzaky menambah suara tawa semakin kencang.
"Tapi dia cantik banget Dzaky. Boleh buat gue gak". Salah satu teman Dzaky memang sudah tertarik dengan Cacha saat pertama tadi Cacha masuk ruangan Dzaky.
"Gak. Gak boleh. Adik gue sama loe. Bisa-bisa semalam bunting. Loe kan masih suka celup sana celup sini". Dzaky sudah hafal satu persatu sifat dan watak teman-temannya itu.
__ADS_1
"Gak gitu juga kali. Adek loe kuliah dimana". Damar masih saja penasaran dengan Cacha. Karena dia memang sudah tertarik dari sejak pertama Cacha masuk.
"Masih putih abu dia. Intinya jangan macam-macam loe. Gue kebiri juga loe berani dekati adek gue". Damar mencebik dengan jawaban Dzaky.
"Eh gue penasaran deh Zak. Loe pernah gak jalan berdua sama adik loe". Sultan juga penasaran bagaimana jika sahabatnya itu hanya berdua saja berjalan-jalan.
"Pernah. Kenapa emangnya Sul". Dzaky meminum coklat hangat yang dipesannya setelah selesai meeting tadi sambil bersantai dengan sahabat-sahabatnya.
"Gue penasaran sama reaksi orang-orang lihat kalian berdua jalan bareng. Secara beda usia kalian jauh banget". Dzaky menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Sultan.
"Kalian tau gak apa yang dia panggil ke gue kalau lagi jalan berdua ditempat umum". Semua teman Dzaky kompak menggeleng.
"Dia panggil gue om. Dan parahnya pernah kita jalan bareng karena harus cari kado buat mama. Dia baru pulang sekolah pake seragam putih birunya. Anj***r berasa gue sugar Daddy. Disepanjang jalan di mall jadi pusat perhatian. Mana tuh bocil panggil gue om lagi. Gimana mau ditaruh muka gue". Tak ada jawaban hanya suara tawa dari sahabat Dzaky.
"Huh Sugar Daddy bro. Gila benar emang adek loe. Jadi ini alasan loe selalu nutupin identitas adek loe. Takut dipanggil om". Dzaky melemparkan kookies kearah Sultan karena kesal.
"Semalam Kalandra kasih kabar kalau dia bakalan balik lagi kesini. Dan menetap". Dzaky membahas salah satu sahabatnya lagi yang berada diluar negeri.
"Widih. Bakalan asyik nih. Bukannya dia udah nyaman disana. Dan yang gue dengar udah punya pacar juga disana". Leo menceritakan sedikit tentang kondisi Kalandra.
"Yang gue tau, dia udah pisah sama pacarnya. Terus dia buka cabang disini. Makanya dia pilih kembangin usaha yang disini". Teman-teman Dzaky mengangguk paham dengan penjelasan dari Dzaky.
"Baguslah. Jadi komplit sudah geng kita. Dan pastinya jomblo semua". Sultan memperjelas status mereka semua.
__ADS_1
"Jomblo gak tuh. Yakin mas jomblo". Sultan kembali mencebik mendengar Damar mengoloknya.
Mereka kembali berbincang asyik membahas segala macam hal. Persahabatan yang terjalin dari sejak putih biru hingga mereka akan menyelesaikan gelar S2 masih saja solid. Mereka jarang bisa berkumpul karena terpisah diberbagai negara dan daerah. Sesuai dengan lokasi tempat mereka bekerja.