Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 8


__ADS_3

"Jadi loe nikahin dia karena gantiin Abang loe yang kabur. Terus cewek loe gimana". Leo telah menjelaskan alasan dia tunangan dan akan segera menikah dengan wanita lain.


"Dia tau. Dia minta putus. Tapi gue gak mau. Gue janji gak akan lama. Gue berusaha nyari keberadaan Abang gue sebelum akad nikah". Leo nampak lesu membahas hal ini.


"Perlu bantuan. Kita akan bantu loe. Kita juga gak mau sahabat kita seperti ini. Apalagi loe udah lama jalan sama Intan". Damar mencoba memberikan solusi untuk Leo.


"Mungkin memang gue harus minta tolong kalian. Karena sampai saat ini gue belum tau dimana Abang gue berada. Gue gak mau buat Intan kecewa. Gue sayang banget sama dia". Dzaky menepuk pundak sahabatnya perlahan.


"Loe gak usah khawatir. Kita akan bantu loe". Leo mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Mereka melanjutkan makan siang dan segera menuju bandara untuk kembali ke kota asal mereka. Pekerjaan mereka sudah selesai.


Disaat para sahabatnya bersiap untuk pulang, Kalandra masih disibukkan dengan jadwal meeting. Kalandra memulai semua dari awal. Walaupun ini perusahaan milik ayahnya. Semenjak sang ayah memutuskan pensiun, perusahaan ini tidak begitu berkembang dan saat ini Kalandra mulai memulihkan semuanya.


"Terimakasih atas kerjasamanya pak. Saya akan pastikan untuk tidak mengecewakan bapak". Kalandra meyakinkan rekan bisnisnya itu.


"Saya percaya pak Kalandra bisa bekerjasama dengan baik". Mereka saling berbalas senyum. Kalandra cukup terkenal di luar negeri. Walaupun disini dia masih dianggap pemula, namun berkat nama baiknya itu banyak perusahaan yang ingin bekerjasama.


Pesona Kalandra memang tak diragukan. Bahkan sekretaris pribadi rekan bisnisnya selalu berusaha mencuri pandang. Rudi yang mengetahui hal itu hanya diam dan tersenyum tipis.


"Apa pak Kalandra sudah memiliki pasangan. Maaf jika saya lancang bertanya. Karena tidak mungkin seorang pengusaha muda nan tampan seperti pak Kalandra masih sendiri". Kalandra tersenyum menanggapi pertanyaan itu sebelum dia menjawabnya.


"Dan sayangnya memang saya masih sendiri pak". Kalandra sedikit terkikik menjawab pertanyaan itu.


"Wah wah saya tak menyangka hal itu. Sayangnya semua anak saya lelaki. Mana mungkin bisa saya jodohkan". Klien Kalandra tertawa lepas setelah mengatakan itu begitu juga dengan Kalandra.


Karena masih ada meeting lain lagi, Kalandra memutuskan untuk berpamitan terlebih dahulu. Kalandra dan Rudi segera menuju tempat meeting selanjutnya. Disebuah kafe yang cukup terkenal. Dan tak jauh dari kafe tersebut terdapat sebuah sekolah menengah atas.


Setiap jam istirahat, kafe tersebut ramai dengan para pelajar yang menikmati hidangan kafe tersebut. Seperti saat ini, Kalandra datang disaat menjelang istirahat sekolah. Beruntung Kalandra masih bisa mendapatkan tempat duduk.


"Gila ramai banget tempat ini Ndra. Mayan cuci mata kita". Seloroh Rudi yang disambut suara tawa kecil dari Kalandra.

__ADS_1


"Berasa masih abege kita Rud". Mereka terkikik berdua. Sambil menunggu klien mereka datang, Kalandra dan Rudi memesan beberapa snack. Karena sedari pagi mereka belum sempat sarapan.


Tak lama klien mereka datang. Dan mereka memulai meeting tersebut. Walaupun banyak pelajar yang berlalu lalang, namun tak mengganggu meeting mereka.


"Wah pak James tau tempat seperti ini dari mana". Kalandra berbincang dengan kliennya setelah mereka mencapai kesepakatan bersama.


"Kebetulan adik saya bersekolah disini pak. Dan saya sering mampir kesini saat menjemput adik saya". Jelas pak James sambil membubuhkan tanda tangan di surat perjanjian mereka.


"Oh pantes. Karena ini juga lumayan jauh dari kantor bapak". Kalandra mengamati sekeliling kafe yang masih dipenuhi para pelajar. Tak jarang beberapa siswi mencoba menarik perhatian Kalandra.


"Iya memang lumayan jauh. Dan memang saya tadi ada janji didaerah sini, ya sudah sekalian saja kita bertemu disini". James kembali tersenyum melihat kearah Kalandra.


"Oh begitu. Saya juga baru tahu kalau bapak masih memiliki adik yang masih sekolah". Mata Kalandra terpaku pada pintu masuk.


"Adik ketemu gede sih pak. Haha". James menjawab dengan diiringi suara tawa.


"Maksudnya gimana nih pak. Kok saya kurang paham". Kalandra mengalihkan pandangannya setelah cukup lama menatap seseorang.


"Hal yang biasa untuk jaman sekarang diusia matang kita memiliki kekasih dengan usia jauh. Ada sensasi tersendiri". Penjelasan James sedikit membuat Kalandra terkejut. Kalandra dan Rudi hanya tersenyum tipis saja.


"Kalau beda usia sejauh itu, apa gak dikira anaknya". Kalandra bergumam dalam hati.


Selesai dengan berkas kerjasama mereka, obrolan masih berlanjut dengan diselingi makan siang bersama. Kalandra benar-benar merasa memiliki teman baru. Walaupun Kalandra lebih muda, James bisa mengimbanginya. Mereka dikagetkan dengan kedatangan seorang gadis muda yang tiba-tiba memeluk James.


"Baby, kok disini". Suara manja dari perempuan muda itu cukup membuat Rudi dan Kalandra terbengong.


"Iya tadi habis meeting. Sayang baru istirahat. Bukannya sudah hampir habis jam istirahatnya". James melihat kearah arloji dipergelangan tangannya.


"Tadi kan pelajaran olahraga dulu. Jadi istirahatnya molor". Jelas gadis itu. Mata Kalandra kembali teralih pada sosok gadis lain yang sedari tadi dia perhatikan.

__ADS_1


"Oh gitu. Sayang mau makan apa. Biar sekalian yang bayar. Mau duduk sini atau sama teman kamu". Tanya James bertubi-tubi. Dan sadarilah dua orang jomblo dihadapan mereka sudah semakin mengenaskan.


"Asyik uang jajan utuh. Baby aku makan sama teman-teman saja. Gak enak ganggu pekerjaan kamu". Tolak gadis itu sambil melirik kearah Kalandra dan Rudi.


"Ah baiklah. Pesanlah apapun. Nanti aku yang akan bayar". Gadis itu mengecup pipi James sebelum pergi meninggalkan meja James. Rudi hampir saja tersedak jika dia tidak mengendalikan dirinya.


"Maafkan saya pak Kalandra dan pak Rudi. Saya tidak tau jika kekasih saya akan beristirahat saat ini". James merasa tak enak hati dengan suasana baru saja.


"Tak apa pak James. Pantas awet muda. Selalu dapat vitamin ya pak". Seloroh Kalandra disambut suara tawa James.


James terlebih dahulu pergi setelah mendapat panggilan telepon. Sedangkan Rudi dan Kalandra masih menghabiskan makanan mereka. Karena jadwal meeting untuk hari ini sudah selesai. Mereka memilih rehat sebentar sebelum kembali ke kantor.


Disalah satu meja dikafe itu yang selalu menjadi titik fokus Kalandra, Chaca dan teman-temannya sedang beristirahat. Sebenarnya Julian tau jika Kalandra sedang mengamati Chaca. Karena posisi duduk Julian bisa melihat kearah Kalandra. Namun Julian hanya diam saja.


"Loe lihat apa sih Ndra". Rudi melihat kearah Kalandra terus menatap. Kalandra hanya diam saja tak menjawab.


"Oh gadis itu. Eh bentar. Itu adiknya Dzaky kan. Yang dibilang Sultan waktu itu. Ternyata masih sekolah". Oceh Rudi tanpa mendapat tanggapan dari Kalandra.


Tanpa berkata-kata, Kalandra beranjak dari tempat duduknya. Dia menuju kasir untuk membayar makanan mereka. Rudi menunggu diarea parkir karena kasir masih mengantri.


"Mbak sekalian untuk meja ujung itu berapa totalnya". Kalandra menunjuk meja Chaca dan teman-temannya menggunakan dagu.


"Oh baik kak. Sebentar saya cek". Setelah membayar semua makanan yang dipesannya dan juga milik Chaca dan teman-temannya. Kalandra segera meninggalkan kafe.


Salah satu teman Chaca menggoda Kalandra saat berjalan menuju pintu keluar. Kalandra yang berjalan cool dengan kacamata hitamnya membuat pesonanya semakin bertambah.


"Kak godain kita dong". Ucapan salah satu teman Chaca. Kalandra hanya diam melintas. Namun dibalik kacamatanya, Kalandra melirik Chaca yang menatapnya tajam. Julian dan Chaca hanya diam saja melihat ulah temannya. Chaca mengingat siapa pria yang baru saja digodanya itu.


"Sepertinya gue pernah ketemu. Dimana ya. Kok gak asing". Gumam Chaca dalam hatinya.

__ADS_1


Karena bel pelajaran akan segera dimulai, Chaca dan teman-temannya meninggalkan kafe. Saat mereka akan membayar, mereka kaget karena semua tagihan sudah dibayarkan. Chaca dan teman-temannya bingung dan penasaran siapa yang sudah membayarnya. Karena merasa rejeki nomplok, mereka segera kembali kesekolah dan tak mau memikirkan lagi siapa yang sudah mentraktir mereka.


__ADS_2