
"Maafkan kami Cha. Kami hanya ingin kamu tetap fokus dalam belajar. Itulah yang membuat mama, papa dan Abang tidak memberitahu kamu mengenai sakitnya papa". Mama Manda tau jika Chaca kecewa dengan cara mereka menyembunyikan sakit papa Rasyid. Tapi memang itu jalan terbaik. Agar Chaca fokus menuntut ilmu.
"Mah, Chaca kecewa seolah-olah Chaca tak dianggap sebagai keluarga. Tapi ya sudahlah, saat ini kita fokus untuk kesembuhan papa dulu". Mama Manda segera memeluk putri satu-satunya itu.
"Terimakasih sayang dan maafkan kami. Tidak menyangka kamu sudah dewasa ini". Mereka duduk menunggu dokter yang masih memeriksa papa Rasyid. Mama Manda mengatakan jika papa Rasyid sempat kejang. Dan saat ini sedang diperiksa oleh dokter.
Kalandra tetap setia mendampingi Chaca. Mereka berdoa agar papa Rasyid baik-baik saja. Tak lama dokter keluar dan menjelaskan kondisi papa Rasyid.
"Tolong jangan sampai pak Rasyid stress. Jangan terlalu terforsir dengan pekerjaan. Inilah pemicu utama pak Rasyid kambuh". Setelah menjelaskan dokter tersebut segera kembali keruangannya. Mama Manda, Chaca dan Kalandra segera masuk
dan melihat kondisi papa Rasyid.
Papa Rasyid sudah tersadar dan kaget melihat kedatangan Chaca. Mama Manda memberikan ruang agar papa Rasyid dan Chaca bisa berbicara. Mama Manda dan Kalandra duduk disofa sambil memperhatikan Chaca yang sedang berbincang dengan papa Rasyid.
"Papa. Apa sudah lebih baik". Chaca sudah bisa memahami situasi saat ini. Dia duduk dan menggenggam tangan papa Rasyid.
"Maafkan papa ya Cha. Kamu pasti sudah taukan alasannya kenapa". Chaca tersenyum. Rasa kecewanya berubah menjadi rasa takut kehilangan cinta pertamanya itu.
"Papa tidak salah. Sekarang papa harus sembuh. Chaca akan marah jika papa tidak mau sembuh. Chaca akan datang menemani papa setiap akan kontrol". Papa Rasyid merentangkan tangannya dan Chaca segera masuk kedalam dekapan hangat papa Rasyid.
"Pasti sayang. Papa akan sembuh. Terimakasih ya nak". Melihat semua baik-baik saja mama Manda dan Kalandra ikut tersenyum.
Chaca hanya bisa menemani papa Rasyid selama tiga hari. Karena dia harus menjalani ujian sebelum libur musim panas datang. Chaca kembali ke negara tempatnya menuntut ilmu seorang diri. Sedangkan Kalandra langsung kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan pernikahannya. Keluarga Kalandra juga sudah kembali. Sedangkan keluarga Chaca akan menyusul setelah papa Rasyid benar-benar pulih.
__ADS_1
Seperti hari biasanya Chaca berangkat bersama ketiga temannya. Setelah beberapa hari tidak tidur di asrama, Chaca kembali bisa merasakan keributan pagi hari di asrama.
"Om ganteng kemarin udah balik Cha". Sandra begitu bahagia saat menanyakan mengenai Kalandra. Chaca tau jika temannya itu suka pada Kalandra.
"Sudah. Kemarin setelah dari tempat papa dia langsung pulang. Kenapa San". Chaca sengaja pura-pura tidak tahu dengan sikap Sandra.
"Cha, si om udah punya pacar belum sih". Chaca tertawa mendengar pertanyaan Sandra.
"Loe suka sama om Alan". Sandra mengangguk kencang.
"Mike mau kamu kemanakan Sandra". Wajah Sandra cemberut saat Chaca menyebut nama Mike.
"Ck. Suka kan gak berarti harus memiliki. Gue juga cuma tanya dia punya pacar belum. Kan dia tampan tuh. Masa belum punya seseorang". Chaca hanya menggeleng saja dengan tingkah Sandra. Sandra dan Mike memang sudah menjalin hubungan spesial belum lama ini. Dan Sandra memang pengagum para pria tampan. Itu yang membuat Mike selalu cemburu.
"Om Alan memang tidak memiliki kekasih. Tapi sebentar lagi akan menikah". Chaca berjalan menuju lobby asrama karena Joan sudah menunggu disana.
"Besok loe juga tau". Jawaban Chaca yang menggantung membuat Sandra semakin kesal.
"Cha, apa maksud loe. Jangan gantung gitu deh kalau ngomong". Chaca melambaikan tangan kepada Joan dan Mike yang sudah berdiri disamping mobil. Pemandangan yang selalu dinikmati oara penghuni asrama setiap Joan dan Mike datang menjemput mereka.
"Pagi". Sapa Chaca kepada keduanya. Sandra masih saja heboh karena belum mendapatkan jawaban yang sesuai.
"Pagi Cha. Kenapa si Sandra". Joan melihat Sandra masih menahan lengan Chaca. Chaca hanya tertawa.
__ADS_1
"Apaan sih San. Gak lihat ada pangeran loe tuh". Mike pun menatap Sandra penasaran. Sandra segera mendekati Mike dan mengecup bibirnya sekilas. pemandangan seperti itu sudah tak asing bagi Chaca.
"Jelasin dulu apa maksud loe tadi Cha". Joan sudah membukakan pintu untuk Chaca namun masih tertahan oleh Sandra.
"Huh, Sandra sayang. Nanti saja ya penjelasannya. Waktu kita sudah mepet ini. Nanti gak diijinkan masuk kelas gara-gara penasaran loe". Sandra pun mengalah. Walaupun dia masih saja pemasaran.
Chaca selalu duduk disamping Joan setelah Mike dan Sandra menjalin hubungan. Kedekatan mereka selalu saja membuat para penghuni asrama dan teman satu kampus mereka iri. Bahkan banyak yang mengira jika Joan dan Chaca memiliki hubungan spesial seperti Mike dan Sandra.
Mereka sudah sampai dikampus dan segera masuk kedalam kelas. Dua jam telah mereka selesaikan untuk satu mata pelajaran yang diujikan. Mereka menunggu ujian berikutnya di dalam perpustakaan. Sandra masih saja bertanya.
"Sebenarnya ada apa sih. Apa yang membuat Sandra sepenasaran itu". Joan juga ingin tahu. Pasalnya Sandra masih saja meminta penjelasan kepada Chaca.
"Oke gue jelasin. Tapi setelah gue jelasin, gue minta kalian tetap mau berteman dengan gue. Dan gue juga butuh masukan dari kalian". Ketiga teman Chaca mengangguk. Chaca menceritakan semua kepada ketiga temannya. Selain Julian, mereka sudah membuat Chaca nyaman untuk berbagi apapun.
Ekspresi wajah mereka berbeda-beda. Namun mereka masih terus mendengarkan dan memperhatikan Chaca yang menjelaskan siapa Kalandra sebenarnya.
"Jadi bagaimana menurut kalian. Apa tindakan gue salah. Dan apa kalian masih mau berteman dengan gue". Chaca takut jika teman-temannya menjauhinya setelah mendengar cerita Chaca.
"Kalau menurut gue, ada salahnya dan ada baiknya juga. Salahnya kenapa kalian harus kembali berbohong. Apa tidak mencoba saja membuka hati untuk saling menerima. Baiknya, kalian menolong nyawa seseorang. Dan gue rasa, gak ada yang harus loe takutkan. Gue masih tetap teman loe Cha". Sandra memeluk Chaca setelah memberikan pendapatnya.
"Gue pun sama. Tidak perlu ada yang loe takutkan. Gue juga masih teman loe. Ya walaupun cara loe sedikit aneh". Joan dan Chaca saling melempar tawa.
"Mike juga sama Cha. Kami mendukung loe". Mereka tertawa bersama. Setidaknya saat nanti Chaca akan kembali pulang karena pernikahannya, teman-temannya sudah tau alasan yang sesungguhnya.
__ADS_1
Mereka kembali ke kelas dan mengikuti ujian selanjutnya. Mereka berharap bisa menikmati libur musim panas dengan tenang tanpa harus mengikuti kelas tambahan karena nilai yang kurang memuaskan.
"Ada rasa yang tak harus terucap. Semoga waktu memihak pada kita Cha...