Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 29


__ADS_3

"Apaaa. Mama beneran mau tinggal disini". Kalandra terkejut dengan keputusan kedua orangtuanya yang tiba-tiba memutuskan untuk tinggal menemani Kalandra.


"Iya. Mama sudah kangen kota ini. Mama bosan tinggal di luar negeri. Mama kangen suasana disini". Kalandra sudah lesu mendengar penjelasan mamanya.


"Barapa lama Mah". Kalandra mulai bingung karena orangtuanya membuat semua rencananya harus berubah.


"Kamu gak suka mama disini. Terserah mama dong mau sampai kapan". Kalandra hanya bisa pasrah. Dia berdoa agar sang mama tak lama tinggal di tanah kelahirannya.


"Bukan gitu mah. Papa kan gak mungkin bolak-balik sana sini. Nanti papa disana gak ada yang nemani gimana". Kalandra sedang berusaha membuat mamanya berubah pikiran.


"Ah gampang itu. Mama bisa kunjungi papa setiap tiga Minggu sekali. Kalau gak ya papa kesini. Ya nggak pah". Papa Kalandra yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perdebatan istri dan anaknya, tersenyum bahagia.


"Bisa diatur itu. Yang penting mama bahagia". Kalandra memutar matanya jengah. Tak ada satu orangpun yang memihaknya.


"Kan mama juga mau dekat sama calon mantu. Bentar lagi kan Chaca lulus. Jadi sebelum kalian nikah, mama mau lebih dekat dulu sama Chaca". Pusing yang saat ini Kalandra rasakan. Belum ada satu idepun yang melintas dibenaknya.


"Oya Lan, kemarin kan Chaca juara pertama olimpiade sains, hadiahnya kan dapat beasiswa Ke luar negeri. Apa gak sebaiknya kalian segera menikah setelah Chaca lulus, jadi kamu bisa temani Chaca sekolah disana. Papa yakin kamu gak akan betah ditinggal lama Chaca". Ide papanya membuat Kalandra semakin pusing. Dia tidak memiliki pemikiran sejauh itu.


"Nah benar itu kata papa. Jadi Chaca lulus kita sudah bisa gendong cucu ya pah". Kalandra tak merespon. Pikiran dan tubuhnya tak sinkron. Keduanya berada ditempat berbeda saat ini.


"Huh. Chaca aja masih sekolah, mama sama papa udah bahas cucu aja. Masih jauhhhhhhhh banget". Kalandra berdiri dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air dingin.


"Kan sekolah juga mau lulus. Ah mama bangga banget punya calon mantu secerdas Chaca. Kemarin dia jawab semua pertanyaan sat set banget". Kedua orangtua Kalandra memang menonton pertandingan final Chaca.


"Benar banget mah. Besok pasti cucu kita juga cerdas kayak ibunya. Papa bisa pamer ke rekan bisnis papa, kalau calon mantu kita itu hebat". Kalandra menghembuskan nafasnya kasar mendengar pembicaraan kedua orangtuanya dari dapur.

__ADS_1


"Kenapa semakin rumit gini". Kalandra bergumam pelan didapur. Dia mengusap kasar rambutnya karena terlalu pusing mencari jalan keluar.


Sebelumnya....


Sesuai yang Kalandra katakan kepada Chaca, usai babak penyisihan menuju final. Kalandra menjemput Chaca disekolah dan mereka menuju apartemen Kalandra. Kalandra sudah menyiapkan pakaian Chaca yang dia ambil dari rumah milik keluarga Rasyid dengan bantuan Dzaky. Kalandra meminta Chaca beristirahat diapartemen miliknya sebelum menjemput kedua orangtuanya. Jika Chaca harus pulang kerumah, jalannya akan memutar jauh menuju bandara.


Saat jam penjemputan tiba, mereka menuju bandara. Mereka berangkat satu jam lebih awal karena jalanan pasti akan macet. Sepanjang jalan Chaca kembali tak bersuara hanya membaca buku untuk persiapan final. Kalandra juga tak berniat mengganggu. Dia hanya fokus menyetir.


Tiba di bandara, Kalandra dan Chaca segera menuju tempat kedatangan kedua orangtuanya. Kalandra dan Chaca berdiri menunggu ditempat orang-orang yang juga sedang menunggu penumpang pesawat keluar. Sepuluh menit menunggu, satu persatu penumpang sudah mulai berdatangan.


Kalandra melambaikan tangannya ketika melihat kedua orangtuanya datang. Chaca tertegun karena melihat cinta pertamanya juga berada dalam barisan penumpang bersama kedua orangtua Kalandra.


"Papa". Chaca berlari menuju cinta pertamanya. Chaca masuk kedalam pelukan papanya.


"Sayangnya papa. Apa kabar". Chaca meneteskan air matanya. Setelah sekian lama tidak bertemu. Bahkan kedua orangtua Chaca mengatakan tidak bisa hadir saat final olimpiade. Namun kini keduanya berada dihadapannya.


"Surprise buat adik. Maaf mama baru bisa datang. Papa sibuk banget". Chaca mengangguk dalam pelukan mamanya.


Kedua orangtua Kalandra tersenyum melihat Chaca dan orangtuanya. Dan mereka memanggil nama Chaca lembut. Chaca mendekati orangtua Kalandra.. Menyalami dan memeluk mereka satu persatu. Mereka meninggalkan bandara. Namun Kalandra bingung karena dia hanya membawa mobil kecil. Karena orangtuanya juga tidak memberitahu jika orangtua Chaca juga bersama dengan mereka.


"Om, Tante. Alan pesankan taksi atau gantian Alan jemput. Tadi Alan cuma bawa mobil kecil. Gak tau kalau om juga pulang". Orangtua Chaca tersenyum mendengar tawaran Kalandra.


"Tidak usah nak Alan. Sebentar lagi Marjuki datang. Tadi Tante sudah hubungi Marjuki". Mama Chaca menyebut nama Dzaky seperti Chaca menyebutnya dengan diiringi suara tawa. Benar Dzaky datang dengan berlari. Dengan naafs tersengal, Dzaky mengomel.


"Bisa gak kalau pulang itu gak mendadak gini ngasih kabar. Untung aja Abang pintar balap". Papa Chaca menjitak kepala Dzaky karena terus mengomel.

__ADS_1


"Berisik. Kalau gak mau jemput tadi tinggal ngomong". Chaca tertawa melihat wajah Dzaky cemberut. Dzaky baru sadar jika ada Chaca dan Kalandra.


"Lah ada merica disini. Kan bisa bareng mereka mah. Gak usah pake ngancam Abang juga". Dzaky kembali mengoceh. Sedangkan Chaca menjulurkan lidahnya mengolok Dzaky.


"Gak muat mobilnya. Jadi gak ikhlas ini jemputnya. Tega lihat mama yang cantik ini naik diatas kap mobil". Dzaky hanya bisa pasrah jika mamanya sudah mengomel.


"Ya sudah kalau gak ikhlas. Mama akan...". Belum selesai mama Chaca berbicara, Dzaky sudah memotongnya.


"Ikhlas. Ikhlas banget mah. Ayo baginda ratu". Dzaky merangkul pundak mamanya. Keluarga Kalandra tertawa melihat tingkah Dzaky.


Saat akan pulang, Chaca ingin bersama keluarganya. Namun mama Adina meminta Chaca untuk ikut bersama mereka dengan alasan masih kangen. Chaca hanya patuh saja. Mereka menghabiskan malam bersama. Makan malam dan berjalan-jalan sebelum Chaca diantarkan pulang kerumah.


"Chaca malam ini tidur dirumah mama saja ya. Besok pagi biar diantar Alan kesekolah". Chaca diam melirik Kalandra yang duduk dihadapannya. Beruntung Kalandra paham maksud Chaca.


"Mah, besok Chaca masih ada pertandingan final. Dan harus berangkat pagi. Kalau dari rumah mama kesekolah Chaca itu jauh banget mah. Masa Chaca harus berangkat subuh. Kan kasian. Belum lagi seragam Chaca kan dirumah semua". Kalandra berusaha mencari alasan yang tepat agar mamanya tidak curiga.


"Iya juga ya". Mama Kalandra pun tak membantah perkataan putranya.


"Final apa Lan. Chaca ikut lomba". Orangtua Kalandra memang belum mengetahui mengenai Chaca yang sedang bertanding dalam olimpiade sains.


"Chaca terpilih untuk ikut olimpiade sains nasional pah, mah. Dan besok final. Jadi Chaca harus sampai sekolah pagi-pagi besok". Mama Kalandra menghentikan menyuap makanan saat mendengar Chaca mengikuti olimpiade dan masuk final.


"Jam berapa finalnya sayang". Tanya mama Adina antusias".


"Jam dua siang Tante. Tapi pagi Chaca masih ada pelatihan disekolah. Jadi harus berangkat pagi". Chaca kembali memperjelas agar mama Adina semakin percaya.

__ADS_1


"Kita harus nonton pah. Nanti kirimi lokasinya sayang. Mama sama papa pasti datang. Dan kamu Alan juga harus datang kasih semangat Chaca". Kalandra hanya bisa mengangguk. Acara makan malam dan jalan-jalan usai, mereka mengantarkan Chaca pulang kerumahnya dan keluarga Kalandra juga kembali kerumah mereka.


__ADS_2