
"Mah, maaf Chaca mau bicara sebentar". Kalandra sudah berusaha menahan Chaca. Namun karena terlalu emosi, Chaca segera menghampiri mama Adina.
"Apa sayang. Sudah menentukan mau pake wedding organizer mana". Mama Adina sangat bersemangat. Dalam hati Chaca tidak tega dengan ekspresi wajah mama Adina. Tapi Chaca harus segera menyelesaikan ini.
"Mah, maaf jika perkataan Chaca akan sangat melukai". Kalandra menatap wajah Chaca dengan ekspresi memohon.
"Chaca plis". Suara Kalandra sedikit berbisik. Namun Chaca tak merespon.
"Sepertinya serius ini". Mama Adina fokus menatap Chaca.
"Mah, sejujurnya Chaca dan Kak Alan tidak memiliki hubungan apapun. Bahkan pertunangan kami hanya pura-pura. Kami tidak saling mencintai. Chaca hanya membantu Kak Alan agar terbebas dari mantan kekasihnya. Jadi, maaf Chaca tidak bisa menikah dengan Kak Alan". Mama Adina yang ceria tiba-tiba menjadi sendu. Kalandra hanya bisa tertunduk pasrah.
"Jika mama ingin marah dan membenci Chaca, Chaca akan terima. Chaca juga akan mengatakan ini kepada orangtua Chaca. Sekali lagi maafkan Chaca mah. Chaca tau mama akan marah, tapi Chaca juga gak bisa terus-terusan bohong mah". Chaca meraih dan menggenggam kedua telapak tangan mama Adina. Dia mencium telapak tangan tersebut berulang kali sebagai permintaan maaf.
Satu menit, dua menit hingga sepuluh menit berlalu masih belum ada satu katapun yang keluar dari mulut mama Adina. Chaca hanya bisa tertunduk. Dalam hati Chaca sudah sangat lega karena bisa mengatakan dengan jujur. Kalandra takut mama Adina tiba-tiba terkena serangan jantung.
"Mah. Alan juga minta maaf. Ini semua terjadi karena ulah Alan. Alan yang memaksa Chaca untuk menjadi kekasih pura-pura dan pura-pura bertunangan.
Kalandra merasa dia harus angkat bicara karena mama Adina sudah diam terlalu lama. Mama adina mendongak menatap mata anaknya. Tersirat kekecewaan dimata mama Adina. Mama Adina tak lantas menjawab perkataan Kalandra. Dia terus menatap wajah putranya itu. Hingga lima menit berlangsung, mama Adina baru mengeluarkan suaranya.
"Alan, setega ini kamu dengan mama. Kenapa kamu melakukan hal seperti itu Alan. Bahkan berani melibatkan Chaca demi kepentingan kamu. Mama gak menyangka kamu seperti itu. Apa kamu tak ada niat untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Sampai-sampai kalian harus berpura-pura. Mama hanya ingin kamu memiliki pendamping yang tulus. Salahkah mama meminta itu". Kalandra tidak bisa berkata apa-apa. Dia terus menunduk.
"Chaca, mama sudah sangat sayang dengan kamu nak. Walaupun yang kalian lakukan salah, tapi pertunangan kalian itu sah. Mama tau usia kamu masih sangat muda. Tapi mama bisa melihat ketulusan dan kedewasaan kamu. Mama tidak akan marah sama kamu nak. Walaupun bagaimanapun ini semua berawal dari Alan. Tapi bolehkan mama meminta agar Chaca kembali memikirkan masalah ini. Cinta pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tak bisakah Chaca mencoba menjalani ini semua". Chaca hanya bisa diam. Tak ada satu katapun yang bisa Chaca ucapkan. Mama Adina beranjak dari ruang tamu. Berjalan menuju kamar.
__ADS_1
"Mama ingin istirahat. Mama berharap kalian bisa berubah pikiran. Tapi jika tidak, mama akan mengikhlaskan". Mama Adina sempat kembali berbicara sebelum masuk kedalam kamarnya.
Chaca dan Kalandra masih duduk diruang tengah. Mereka sama-sama diam membisu. Chaca berdiri dan segera meraih tas yang memang dia tinggalkan diruang tengah. Kalandra melihat gelagat Chaca ingin pergi membuatnya penasaran.
"Kamu mau kemana Cha". Kalandra menahan tangan Chaca yang sudah berjalan melewatinya.
"Gue mau pulang. Urusan kita selesai sampai disini". Kalandra ikut berdiri dan mengambil kunci mobil. Sebelum pergi Kalandra berpesan kepada asisten rumah mamanya jika dia mengantarkan Chaca.
Chaca sudah berjalan mendahului Kalandra. Chaca terus menyusuri jalanan perumahan orangtua Chaca untuk mencari taksi. Tak lama mobil Kalandra menghadang langkah kaki Chaca. Kalandra menurunkan kaca mobilnya dan memanggil Chaca.
"Cha, ayo saya antar. Kamu taukan masih jauh berjalan jika mau mendapatkan taksi". Chaca segera masuk kedalam mobil Kalandra. Bukannya dia tidak mau jalan jauh, tapi dia benar-benar lelah hari ini.
Kalandra menjalankan mobilnya keluar komplek perumahan orangtuanya. Masih hening didalam mobil tersebut. Kalandra juga sedang berfikir bagaimana dia akan menghadapi keluarga Chaca. Dan apa memang ini jalan terbaik. Chaca tak berniat untuk berbicara dengan Kalandra. Dia hanya menatap jalanan yang sepi dari balik jendela mobil.
"Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Terimakasih sudah membantu saya selama ini. Dan nanti saya akan bertemu keluar kamu untuk menjelaskan semuanya". Chaca menoleh kearah Kalandra sesaat dan kembali memalingkan wajahnya.
"Maaf om, Chaca gak bisa bantu lebih jauh lagi. Nanti Chaca akan sampaikan sama mama dan papa kalau om mau ketemu. Semoga om bisa segera menemukan pendamping hidup yang tepat. Dan jangan lagi bermain sandiwara". Kalandra mengangguk dan suasana kembali hening.
Setengah perjalanan mereka sedikit terganggu karena asisten rumah mama Kalandra menghubungi Kalandra. Kalandra memasang headset untuk menerima panggilan itu.
"Ada Bi".
"____"
__ADS_1
"Apa. Bawa keriamh sakit segera. Saya akan menyusul sekarang".
Kalandra mematikan panggilan itu dan tampak panik. Chaca mencoba bertanya kepada Kalandra.
"Kenapa om". Kalandra melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan memutar balik arah.
"Cha, mama kena serangan jantung. Sekarang dibawa kerumah sakit". Chaca melotot karena terkejut. Tanpa bertanya lagi. Mereka segera menuju rumah sakit.
Setiba di rumah sakit, Kalandra berlari menuju ruang gawat darurat diiringi oleh Chaca. Didepan ruangan tersebut sudah berdiri pelayan rumah mama Kalandra dan seorang pengawal.
"Bi, bagaimana kondisi mama". Kalandra sangat panik dan takut. Chaca diam mendengarkan percakapan mereka.
"Masih diperiksa den. Untungnya bibi tadi langsung masuk kamar nyonya. Jadi nyonya masih sadar dan sempat meminum obatnya". Kalandra duduk menunggu dokter keluar ruangan. Chaca pun juga duduk disamping Kalandra.
Dokter keluar dan segera menemui Kalandra. Kalandra dan Chaca juga mendekati dokter tersebut untuk menanyakan kondisi mama Adina.
"Dok bagaimana keadaan mama saya". Dokter yang sudah berumur itu tersenyum tipis.
"Sudah lebih baik. Tapi harus istirahat total. Dan tolong jangan banyak membebani pikirannya. Jantung Nyonya Adina itu sangat lemah. Jadi saya minta untuk menjaga perasaan nyonya Adina. Dan pola makannya juga harus dijaga". Jelas dokter tersebut.
"Baik dok. Saya mengerti". Tak lama dua orang perawat keluar dengan mendorong ranjang mama Adina menuju ruang rawat inap.
Kalandra dan Chaca mengikuti dari belakang. Pelayan rumah mama Adina sudah diminta kembali kerumah bersama dengan supir. Kalandra belum berani menghubungi sang papa. Kalandra menunggu sampai kondisi mamanya sedikit membaik, dan dia akan menghubungi Papanya.
__ADS_1