Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 16


__ADS_3

"Apa-apaan om ngomong gitu. Seenaknya bilang gue tunangan om". Chaca marah-marah kepada Kalandra, setelah Chaca menarik Kalandra keluar ruangan.


"Maaf Cha, maaf. Gue juga gak tau kalau orangtua gue tiba-tiba datang". Kalandra sendiri juga pusing gimana mengatasi masalah yang baru saja dia ciptakan.


"Pokoknya Chaca gak mau tau. Om harus ngomong jujur ke orangtua om, kalau kita sebenarnya hanya pura-pura". Kalandra mengangguk menyetujui permintaan Cacha.


"Yasudah, ayo kita temui orangtua gue. Dan kita jelaskan semuanya". Chaca berjalan mendahului Kalandra kembali keruangan Kalandra.


Didalam ruangan Kalandra, sahabat dan orangtuanya masih asyik berbincang. Dzaky harus benar-benar menahan rasa kesalnya kepada Kalandra menunggu hingga kedua orangtua Kalandra pulang.


"Jadi Chaca adik Dzaky. Wah gak menyangka banget bisa dapat calon mantu anak pak Rasyid". Tak hentinya orangtua Kalandra mengekspresikan kebahagiaan mereka mendengar putra kesayangannya sudah memiliki calon bahkan dari keluarga terpandang.


"Gue juga gak nyangka. Kapan mereka dekat aja gue gak tau". Dzaky berbicara dalam hatinya.


Dzaky hanya bisa tersenyum canggung. Dia masih dalam kondisi yang benar-benar bingung. Tak tau harus bagaimana menanggapi masalah Chaca. Teman-teman Dzaky termasuk Rudi juga dalam kondisi yang sama seperti Dzaky. Tak berselang lama Chaca dan Kalandra masuk kedalam ruangan Kalandra. Mama Kalandra begitu semangat menyambut Chaca.


"Sayang sudah ngobrolnya". Mama Kalandra menghampiri Chaca dan menggenggam kedua tangannya.


"Sudah Tante". Senyuman tulus dan sentuhan dari tangan mama Kalandra seolah menghipnotis Chaca.


"Jangan tante. Panggil mama. Kamu calon putri mama sayang. Terimakasih ya nak. Terimakasih Chaca". Tiba-tiba mama Kalandra memeluk Chaca dan menangis. Chaca bingung begitupun Kalandra.


"Untuk apa mah". Tanya Chaca dalam pelukan mama Kalandra. Mama Kalandra melepaskan pelukannya dan menuntun Chaca untuk duduk disofa bersama yang lainnya.

__ADS_1


"Terimakasih nak karena kamu mau menemani Kalandra, mau menerima Kalandra. Sejujurnya kami berdua datang kesini sengaja ingin membahas perjodohan Kalandra dengan anak teman kami. Tapi ternyata Kalandra sudah memiliki tunangan. Jadi kami putuskan untuk membatalkan rencana perjodohan Kalandra. Maaf ya sayang. Mama gak tau kalau Kalandra sudah punya kekasih". Kalandra tak mengalihkan pandangannya dari sang mama. Senyum yang selalu Kalandra rindu setelah sekian lama hilang.


"Tapi mah...". Chaca berniat menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun kalandra memotong ucapan Chaca.


"Mama jangan sedih lagi ya. Sekarang Alan sudah punya pasangan. Maafkan Alan ya mah sudah membuat khawatir papa dan mama". Chaca melotot kearah Kalandra. Bukan menjelaskan namun kalandra menganggap hubungan mereka nyata.


Kalandra tahu Chaca kesal dengan perkataannya. Tapi Kalandra tak ingin mamanya kembali kecewa. Beberapa kali mama Kalandra memintanya mencari pasangan. Kalandra selalu menolak. Dan akhirnya kedua orangtua Kalandra berniat menjodohkannya. Kalandra memberikan kode kepada Chaca agar Chaca bisa bersabar.


"Alan, segera kita temui kedua orangtua Chaca. Papa dan mama akan melamar Chaca secara resmi. Mumpung kami belum kembali keluar negeri". Chaca semakin pusing harus bagaimana. Dzaky menatap Chaca tak bersahabat. Chaca paham jika Dzaky meminta penjelasan segera.


"Baik pah, mah. Nanti Alan akan membuat janji dengan om Rasyid. Om Rasyid masih diluar negeri mah,pah". Memang benar orangtua Chaca ada diluar negeri. Sebenarnya Kalandra ingin mengulur sedikit waktu saja.


"Dzaky, bisa om minta tolong". Papa Kalandra menatap Dzaky yang masih bingung.


"Apa om. Dzaky akan bantu jika bisa". Dzaky menanggapi permintaan orangtua Kalandra dengan sopan.


"Ba-baik om". Dengan terbata Dzaky segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Papanya.


Dzaky keluar ruangan Kalandra untuk berbicara dengan papanya. Awalnya Chaca ingin mengikuti Dzaky, namun ditahan oleh mama Kalandra. Setelah mendapat kepastian akan kepulangan orangtua Chaca, kedua orangtua Kalandra berpamitan pulang kerumah untuk beristirahat dan segera mempersiapkan segala kebutuhan lamaran untuk Chaca.


"Jelaskan". Suara Dzaky begitu tegas setelah kepergian orangtua Kalandra. Hingga membuat Chaca takut. Baru sekali ini dia melihat abangnya bersikap seperti itu.


"Gue akan jelaskan ke loe semua". Kalandra mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi diantara dirinya dan Chaca.

__ADS_1


"Maaf Dzak harus melibatkan adik loe dalam masalah gue. Tapi gue gak tega lihat mama gue kembali drop. Kejadian Gwen waktu itu hampir membuat gue kehilangan mama gue". Dzaky mengusap rambutnya kasar. Ingin marah tapi dia tak bisa.


"Kenapa loe malah bikin rumit suasana sih Ndra. Kalau loe bilang pacar itu masih enak ngatasinnya. Ini loe bilang tunangan loh Ndra". Dzaky kembali memgomel. Sahabat mereka hanya diam mendengarkan saja.


"Iya, gue salah Dzak. Loe mau mukul gue, gue terima. Gue tau gue salah Dzak. Maaf". Dzaky berdiri dan berjalan mondar-mandir didalam ruangan tersebut.


"Loe mikir gak, adik gue masih sekolah. Dan gimana gue hadapin papa gue Ndra. Papa gue gak akan terima ini. Loe bikin masalah buat gue Ndra". Chaca hanya bisa diam. Dia juga bingung gimana nanti dia harus berhadapan dengan papa dan mamanya.


"Gue gak tau harus gimana lagi Ndra. Gue mau balik dulu. Cha ayo balik sama abang". Dzaky berjalan sambil menggenggam tangan Chaca. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Dzaky.


"Bang, gue bawa motor". Chaca berusaha membuka percakapan saat menuju tempat parkir.


"Nanti Abang suruh pegawai abang ambil motor kamu". Chaca hanya diam dan menurut kemana Dzaky membawanya.


Didalam mobil keduanya hanya diam membisu. Berkali-kali Dzaky tampak memukul-mukul kecil setir mobilnya. Dan terdengar helaan nafas dari Dzaky yang begitu kencang.


"Cha, loe tau gak apa yang papa katakan saat Abang telpon tadi". Chaca menoleh kearah Dzaky mendengar perkataan Dzaky. Chaca menggelengkan kepalanya.


"Papa minta loe pindah sekolah kalau Abang gak bisa jagain loe Cha. Dan mama pingsan dengar loe mau dilamar". Chaca menunduk, menangis mendengar kabar papa dan mamanya.


"Maafin Chaca bang. Chaca gak ada niat sampai seperti ini". Dzaky menepikan mobilnya dan memeluk tubuh adiknya.


"Maafkan Abang juga. Mungkin abang kurang memperhatikan loe. Tapi abang gak mau kalau loe harus tinggal jauh dari Abang Cha. Abang gak mau Cha loe terkekang sama papa". Kakak beradik itu akhirnya menangis.

__ADS_1


"Maafkan Chaca ya bang". Dzaky melepaskan pelukannya dan menghapus air mata dipipi Chaca.


"Abang akan berusaha ngomong sama papa Cha. Loe tau papa gimana kerasnya. Papa sudah dalam perjalanan. Tadi papa kirim pesan, setelah mama sadar tadi". Chaca kembali menatap Dzaky. Chaca tahu kekhawatiran abangnya itu.


__ADS_2