Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 3


__ADS_3

"Abang, adek. Mama mau nemani papa ke kantor cabang sedang bermasalah. Mama minta Abang jaga adik. Dan adik jangan bandel sama Abang". Weekend ini kedua orangtua Cacha akan pergi keluar negeri. Kantor cabang mereka sedang ada masalah.


"Oke mah. Abang pasti jagain kok". Dzaky merangkul pundak adiknya dengan sedikit mencekik dengan lengannya.


"Loe mau gue mati bang. Sakit tau". Dzaky segera menarik lengannya karena Cacha hendak menggigit lengan Dzaky.


"Papa titip adek bang. Jangan sering ditinggal sendirian dirumah. Abang kurangin dulu mainnya". Papa Dzaky ikut memberikan pesan kepada putranya.


"Papa sama mama pergi bertapa lama". Dzaky sedikit mencebik saat adiknya bertanya kepada orangtuanya.


"Paling lama satu bulan dek. Papa usahakan gak sampai satu bulan". Dzaky dan Cacha mengangguk.


Mereka menghabiskan sarapan mereka. Satu jam setelah sarapan, kedua orangtua Cacha berangkat ke bandara diantar oleh Dzaky.


Panjul


Loe mau ikut gak nanti malam


Cacha sedang asyik memainkan gitar, mendengar notifikasi pesan dari ponselnya. Sahabat kesayangannya mengirim pesan.


Cacha


Ikutlah. Didan udah kontak gue. Dia minta gue jadi joki


Panjul


Loe gak usah berangkat Cha


Cacha


Gue udah janji. Gak bisa dibatalin Jul


Panjul


Besok lagi tanya gue dulu. Jangan pergi kalau gue gak temani. Gue jemput loe kayak biasa

__ADS_1


Cacha


Ayaya kapten


Cacha memang sering mengikuti balap liar tanpa sepengetahuan orantuanya. Bahkan dia terkenal dengan joki cantik. Mereka tahu jika Cacha perempuan, tapi belum ada yang melihat wajah Chaca, kecuali Didan dan teman-temannya. Belum ada yang bisa mengalahkan keahlian Cacha dalam hal balap liar. Panjul sudah berulang kali meminta Cacha untuk berhenti menjadi joki. Tapi Cacha memang keras kepala dan tetap saja menjadi joki saat kedua orangtuanya sedang pergi keluar negeri atau keluar kota.


Dzaky masuk kedalam kamar Cacha setelah mengantar kedua orangtuanya. Sebenarnya mereka itu saling menyayangi. Tapi memang caranya saja yang aneh. Cacha masih asyik memainkan gitar sambil bernyanyi. Suara Cacha juga indah. Tanpa sepengetahuan Cacha, Dzaky merekam aksi bermain gitar dan bernyanyi Cacha. Dan Dzaky mengunggah ke akun media sosial miliknya.


Karena Dzaky tidak pernah menampakkan wajah Cacha disetiap media sosialnya, banyak temannya yang bertanya siapa wanita itu. Hanya teman dekat Dzaky saja yang mengetahui tentang Cacha. Cacha menghentikan permainan gitarnya dan menoleh kebelakang karena mendengar bunyi notifikasi yang tidak berhenti dari ponsel Dzaky.


"Berisik amat tuh hape". Cacha meletakkan gitarnya dan berjalan mendekati Dzaky yang sedang asyik tiduran diranjangnya.


"Mandi gih. Kita jalan. Abang bosan". Dzaky berbicara tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. Dzaky sibuk membaca dan membalas beberapa komentar dari unggahnya tadi.


"Kemana sih bang. Gue agak males kalau ketempat ramai". Cacha menggeser kepalanya dan dia menyandarkan diri di pundak Dzaky.


"Gak. Kita gak ke tempat rame. Abang cuma pengen healing aja". Dzaky membiarkan Cacha bersandar. Dan terus bermain ponsel. Cacha sudah paham dengan tingkah abangnya itu.


"Cari pacar napa. Jangan gue melulu loe jadiin bahan postingan". Cacha beranjak masuk kedalam kamar mandi dan bersiap untuk pergi bersama Dzaky. Dzaky juga sudah kembali ke kamarnya untuk bersiap.


"Juki. Loe naik motor apa odong-odong sih. Sama semut aja cepetan semut". Cacha tak henti menggerutu karena Dzaky terlalu pelan saat mengendarai motor.


"Ini juga udah kencang merica. Nikmatilah perjalanannya. Ngapain juga buru-buru". Dzaky santai saja menanggapi gerutuan Cacha.


"Berhenti loe didepan. Gue yang bawa. Pegel pinggang gue kalau loe yang bawa". Cacha yang kesal meminta Dzaky bertukar posisi.


"Gak mau gue. Loe yang bawa gue gak yakin bisa". Dzaky tetap kekeh tidak mau bertukar posisi.


"Kalau loe gak mau tukaran, gue naik taksi aja. Capek gue dibonceng sama loe". Cacha semakin kesal dengan Dzaky.


"Ck. Ya udah loe didepan. Tapi kalau loe gak pinter bawa motornya, loe harus manut omongan gue". Dzaky pun akhirnya mengalah dan mau bertukar.


Teman-teman Dzaky penasaran melihat Dzaky menepi. Mereka akhirnya paham setelah melihat Cacha berpindah posisi.


"Tuh si Juki gak salah tempat. Cacha yang suruh nyetir". Leo berbicara dengan dengan Damar sambil menunggu Cacha bersiap menjalankan motornya.

__ADS_1


"Mungkin Juki terlalu cepat bawanya. Eh tapi emang Cacha bisa bawa motor. Baru tau gue". Leo mengangkat kedua pundaknya untuk menjawab Damar.


Tanpa aba-aba Cacha segera menjalankan motornya. Dan kejutan pun terjadi. Leo dan Damar mulai susah untuk mengimbangi kecepatan Cacha.


"Merica. Pelanin dikit. Loe mau ngajak gue ke neraka ini namanya". Dzaky berteriak ketakutan dan memeluk erat pinggang ramping sang adik.


"Berisik loe Juki. Ini namanya naik motor. Gak kayak loe. Naik semut itu". Cacha bahagia bisa membuat Dzaky ketakutan.


"Gue belum kawin Cha. Pelanin Cha". Dzaky terus saja menggerutu. Bahkan Dzaky menempelkan wajahnya ke punggung Cacha karena takut.


Mereka berhenti karena lampu lalulintas yang berwarna merah. Dzaky menetralkan nafas dan detak jantungnya sangat cepat berdetak. Teman-teman Dzaky hanya bisa geleng-geleng kepala melihat cara Cacha membawa motor.


"Zak loe gapapa kan". Leo melihat wajah pucat Dzaky. Tapi berbeda dengan Cacha yang tertawa terbahak dengan reaksi Dzaky.


"Loe mau bonceng Leo aja Zak. Gue khawatir sama loe". Damar juga khawatir karena Dzaky tak bersuara.


"Alah cemen loe bang. Ini belum seberapa. Masa udah kalah". Cacha mengolok Dzaky. Dzaky tidak bereaksi karena masih syok dengan apa yang baru dialaminya. Tak lama lampu berubah menjadi hijau. Dengan kecepatan yang sama, Cacha membawa kembali laju motornya.


"Mar, nanti kalau ada apa-apa sama Juki. Loe siap telpon ambulance". Leo yang tidak bisa lagi mengejar Cacha, berbicara dengan Damar saat kendaraan mereka sejajar.


"Berdoa saja si Mr Arogan selamat". Jawaban Damar membuat Leo menghembuskan nafasnya kasar.


Lima belas menit kemudian merupakan sudah sampai tujuan. Cacha turun dari motor dengan santai, sedangkan Dzaky masih duduk diatas motor berusaha menenangkan diri. Leo dan Damar berlari menghampiri Dzaky karena dia tidak bergerak sama sekali.


"Jek, loe gapapa kan. Loe bisa jalan kan". Leo mencoba menyadarkan Dzaky dari lamunannya.


"Gue masih hidup kan Yo. Gue dimana Yo". Pertanyaan Dzaky membuat Cacha tertawa terbahak-bahak.


"Loe dineraka Juki. Noh ditungguin malaikat buat dihukum". Cacha sengaja menggoda Dzaky.


"Ampun jangan. Gue belum kawin. Gue masih mau happy". Damar dan Leo menepuk jidat mereka bersamaan. Melihat kebodohan Dzaky.


"Gak nyangka gue si arogan ini bisa bego juga". Damar mengangguk mendengar perkataan Leo. Perlahan Leo membantu Dzaky turun dari motor. Dengan kaki gemetaran, Dzaky berusaha untuk berdiri tegak.


Dzaky sedang masih bergetar saat berdiri. Cacha benar-benar tak bisa lagi menahan tawanya. Bahkan perutnya kram karena terus tertawa. Dan terjadilah…Celana Dzaky tiba-tiba basah. Leo, Damar dan perempuan yang bersama Damar tertawa melihat itu.

__ADS_1


"Woy Juki ngompol. Udah tua ngompol". Teriakan Cacha membuat Dzaky menunduk melihat kearah celananya. Tawa Cacha benar-benar sangat tak terkendali begitu juga kedua teman Dzaky. Bahkan Damar sengaja merekam itu untuk dikirim kepada sahabat lainnya.


__ADS_2