Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 83


__ADS_3

Sudah dua bulan kehidupan Chaca dan Kalandra tenang. Keributan kecil itu wajar dalam sebuah rumah tangga. Itu adalah bumbu keharmonisan hubungan. Chaca tetap dengan aktivitasnya mengurus perusahaan milik papanya. Kalandra pun dengan perusahaan miliknya sendiri.


Sebenarnya Kalandra ingin Chaca tidak bekerja lagi. Tapi Chaca masih menolak. Apalagi kondisi papa Rasyid masih tidak memungkinkan untuk kembali bekerja dalam waktu dekat. Kalandra tetap membantu pekerjaan Chaca agar Chaca tidak kelelahan.


Sudah satu Minggu ini sikap Kalandra aneh. Sejak kejadian beberapa bulan lalu, tiba-tiba Kalandra menyukai tiramisu cake. Kini keanehan kembali muncul. Kalandra sangat malas mandi. Padahal Kalandra adalah orang yang sangat peduli dengan kebersihan.


Chaca bahkan sering dibuat kesal dengan ulah Kalandra yang tidak mau mandi. Bahkan Kalandra sering pergi kekantor hanya menggunakan parfum saja dan mencuci muka serta menggosok gigi. Keanehan lainnya adalah, Kalandra sangat suka makan. Bahkan dimanapun dia berada, camilan akan selalu ada disampingnya.


Hari ini Chaca berangkat dengan sopir karena Kalandra ada meeting pagi. Siang nanti Kalandra akan makan siang bersama Chaca seperti yang sudah mereka janjikan. Entah mengapa selama perjalanan menuju kantor, Chaca merasa pusing.


"Non. Non baik-baik saja?" Pak Man sopir pribadi dari keluarga Chaca merasa khawatir melihat wajah Chaca yang pucat.


"Chaca baik-baik saja pak man" Chaca tersenyum meskipun kepalanya terus berdenyut.


Pak Man hanya mengangguk saja. Matanya masih menatap Chaca dari spion. Chaca bahkan sempat memejamkan matanya sebentar. Pak Man sangat hafal seperti apa anak majikannya ini. Chaca selalu bisa menahan rasa sakitnya sendiri.


"Pak. Nanti tolong belikan vitamin Chaca ya. Tadi mau mampir lupa" Sebelum keluar dari mobil, Chaca meminta tolong kepada Pak Man membelikan vitamin seperti biasanya. Chaca lebih suka meminta tolong kepada Pak Man. Karena Pak Man sudah sangat hafal dengan apa yang Chaca suka dan tidak sukai.


"Ya non" Chaca segera masuk kedalam kantornya. Para pegawai menyapa Chaca saat berpapasan.


Chaca segera masuk kedalam ruangannya. Pekerjaan sudah menunggunya. Sekretaris Chaca segera menghadap dan membacakan agenda Chaca untuk hari ini.


"Bu. Ibu baik-baik saja?" Sekretaris Chaca tampak khawatir karena melihat Chaca yang tidak seperti biasanya. Wajah pucat dan begitu lemas.


"Hmmm. Tidak apa-apa. Hari ini tidak ada agenda keluar kantor kan?" Chaca menunduk karena kepalanya benar-benar sangat pusing.


"Tidak Bu. Hari ini hanya meeting dengan para karyawan saja" Chaca mencoba untuk mendongak. Namun sudah tidak sanggup lagi.


"Hmm. Baiklah. Kamu bisa kembali bekerja" Sekretaris Chaca semakin khawatir dengan Chaca.


"Ibu benar tidak apa-apa. Apa saya hubungi bapak saja. Sepertinya ibu sedang sakit" Chaca melambaikan tangannya menolak tawaran sekretarisnya. Chaca mencoba berdiri. Chaca ingin merebahkan diri di sofa sebentar. Namun belum juga sampai dia terjatuh dan pingsan.


"Ibu" Sekretaris Chaca berteriak dan segera menolong Chaca. Pintu ruangan Chaca terbuka. Pak Man terkejut melihat Chaca tergeletak. Pak Man ingin mengantarkan vitamin pesanan Chaca.


"Non Chaca. Ada apa ini. Kenapa non Chaca bisa pingsan?" Pak Man mengangkat tubuh Chaca dan membaringkan disofa.


"Saya juga tidak tahu pak. Tiba-tiba ibu pingsan" Pak Man segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kalandra. Namun belum mendapatkan jawaban dari Kalandra.


"Tolong bantu saya membawa nona kerumah sakit" Pak Man meminta kepada sekretaris Chaca untuk ikut kerumah sakit.

__ADS_1


Mereka segara membawa Chaca menuju rumah sakit terdekat. Didalam perjalanan, Pak Man meminta kepada sekretaris Chaca untuk menghubungi Kalandra. Dan beruntung Kalandra segera merespon. Kalandra segera menyusul Chaca ke rumah sakit.


Pak Man membawa Chaca menuju ruang gawat darurat untuk mendapatkan penanganan. Pak Man dan sekretaris Chaca menunggu didepan ruang gawat darurat.


"Pak Man. Chaca kenapa?" Kalandra berlari menghampiri Pak Man.


"Dokter baru memeriksa nona Chaca tuan" Kalandra berdiri menatap kearah pintu ruangan Chaca.


"Maaf pak, saya ijin kembali ke kantor. Karena bapak sudah disini" Sekretaris Chaca meminta ijin untuk kembali ke kantor.


"Baik. Tolong kamu urus pekerjaan istri saya. Pak Man tolong antarkan" Sekretaris Chaca segera meninggalkan rumah sakit dengan diantarkan oleh Pak Man.


Kalandra duduk dengan rasa khawatirnya karena dokter juga belum keluar dari ruangan itu. Kalandra tidak melihat keanehan Chaca pagi ini. Setelah meeting Kalandra melihat ponselnya dan panggilan dari Pak Man yang berulang kali membuat Kalandra khawatir. Sebelum Kalandra menghubungi Pak Man, sekretaris Chaca sudah lebih dahulu menghubungi Kalandra.


Dokter keluar ruangan dan Kalandra segera mendekati dokter tersebut untuk menanyakan kondisi Chaca saat ini.


"Dok, bagaimana kondisi istri saya?" Dokter tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Kalandra.


"Istri bapak baik-baik saja. Beliau hanya butuh istirahat dan asupan gizi yang cukup. Dan setelah ini saya akan memberikan surat rujukan agar nyonya bisa ditangani dokter secara intensif" Kalandra masih belum paham dengan maksud dokter.


"Kalau baik-baik saja, kenapa harus dirujuk dok?" Kalandra sangat takut jika Chaca memiliki penyakit yang sangat berbahaya.


"Tuan, apa tuan baik-baik saja?" Dokter mencoba menyadarkan lamunan Kalandra.


"Dokter tidak berbohong kan?" Dokter tersenyum mendengar pertanyaan konyol Kalandra. Wajar bagi dokter itu melihat reaksi terkejut Kalandra.


"Saya juga hanya manusia biasa tuan. Jadi biar lebih pasti, nanti akan diperiksa oleh dokter kandungan" Kalandra mengangguk dengan antusias. Dokter kembali masuk kedalam ruangan tersebut diikuti Kalandra setelah mendapat ijin dari dokter.


Kalandra meneteskan air matanya. Chaca masih terbaring lemah. Melihat Kalandra menangis, Chaca menjadi khawatir.


"Mas" Mendengar suara lirih Chaca, membuat Kalandra semakin menangis dan segera memeluk tubuh Chaca.


"Terimakasih sayang. Terimakasih" Tangis Kalandra dalam pelukan Chaca. Chaca masih bingung dengan sikap Kalandra.


"Ada apa mas. Kenapa menangis" Kalandra masih terus memeluk tubuh Chaca. Hingga dokter datang mendekati mereka.


"Maaf pak. Ini surat rujukan untuk nyonya Marrisa" Kalandra melepaskan pelukannya dan menerima surat rujukan itu. Chaca semakin bingung dengan situasi ini.


"Terimakasih dok" Dokter mengangguk dan segera meninggalkan mereka. Chaca mengambil surat rujukan dari tangan Kalandra. Setelah membaca sesaat, Chaca ikut menangis.

__ADS_1


"Mas, ini" Kalandra mengangguk pelan. Mereka kembali berpelukan.


"Semoga ya sayang. Ini yang kita nantikan" Chaca mengangguk. Para perawat yang melihat mereka, ikut terharu.


Kalandra memapah Chaca dan meminta Chaca untuk duduk diatas kursi roda. Karena kondisi Chaca masih lemah. Kalandra mendorong kursi itu menuju ruang periksa kebidanan. Chaca melihat banyaknya ibu hamil yang juga sedang mengantri. Kalandra menyerahkan surat rujukan kepada perawat yang berjaga, dan menunggu nama Chaca untuk dipanggil.


"Semoga kamu memang sudah ada disini sayang" Chaca bergumam dalam hati sambil mengusap perutnya yang masih rata.


______________


SPOILER TIME GESSS .....


Tapi jangan tanya kapan tayang dan dimana 😂😂😂😂..ditunggu saja...



"Mas…mas stop dulu". Kim pun berhenti dari kegiatannya setelah mendengar permintaan sang istri. Wajah Kim ditekuk karena sedikit kesal.


"Kenapa sayang. Mas lagi enak-enaknya ini" Tangan Yuna masih menahan dada Kim. 


"Mas ingatkan kata dokter kemarin waktu kita cek si utun?" Kim mengangguk mendengar pertanyaan istrinya itu.


"Ingat. Kenapa memangnya?" Kim hendak kembali dengan gerakan syahdunya, namun Yuna masih menahan dada Kim. 


"Si utun kan masih seukuran biji kedelai kan mas. Mas tadi tembak dalam. Apa utun gak tenggelam ya mas?" Wajah Kim seketika tegang mendengar perkataan istrinya. 


"Ayo cepetan mas keluar. Jangan tembak dalam. Nanti utun malah hanyut mas" Yuna semakin histeris. Kim junior yang awalnya semangat, kini menjadi lesu. 


"Tenggelam. Sejak kapan ada teori macam itu. Oh tuhan tolong selamatkan saya" Batin Kim bergejolak. Dia harus mengubur hasratnya. Karena kehebohan sang istri.


"Mas, besok kita ke dokter ya" Yuna sibuk memakai kembali pakaiannya. Sedangkan Kim hanya menatapnya saja. 


"Kan bukan jadwal kontrol utun sayang. Apa bisa?" Kim masih duduk di atas ranjang dengan memijat pelipisnya.


"Pasti bisa. Aku ingin menanyakan kepada dokter mengenai utun mas. Aku khawatir" Kim mengerutkan keningnya mendengar perkataan istrinya itu. 


"Memangnya utun kenapa sayang?" Kim sedikit memincingkan matanya. 


"Aku ingin tanya ke dokter. Apa utun tidak tenggelam karena papanya sering tembak dalam?" Kim melotot mendengar itu. Dia hanya menghela nafasnya….

__ADS_1


__ADS_2