Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 4


__ADS_3

"Hust jangan berisik. Juki tidur diruang tamu tadi". Cacha berusaha keluar dari kamarnya melalui jendela. Julian sudah menunggu Cacha didepan jendela. Alasan utama Cacha memilih kamar bawah, agar mudah jika dia ingin kabur seperti ini.


"Iya gue tau. Awas pelan-pelan. Bunga ibu loe bisa rusak keinjek". Dibawah jendela Cacha terdapat tanaman bunga milik mamanya.


"Yes berhasil. Ayo buruan. Loe bantuin dorong motor gue ya". Cacha dan Julian jalan dengan perlahan agar tidak terdengar suara langkah kakinya.


"Cctv udah off belum Cha". Hampir dipenjuru rumah Cacha memang terdapat cctv kecuali kamar dan toilet.


"Tenang aja udah gue rusak dari kemarin dan baru bisa dibenerin besok". Cacha memang merusak beberapa kamera cctv diluar setelah mendapat pesan untuk menjadi joki.


"Niat amat ya". Cacha hanya nyengir mendengar ucapan Julian.


Akhirnya Cacha dan Julian bisa menjauh dari halaman rumahnya. Mereka segera menuju lokasi balap liar. Julian juga suka balap liar, tapi tidak pernah mau jadi joki. Julian lebih sering menjaga Cacha saat Cacha menjadi joki.


Dilokasi balap liar sudah penuh oleh para muda mudi yang akan melakukan balap liar ataupun sekedar nongkrong menonton. Cacha segera menuju kearah orang yang telah memintanya menjadi joki.


"Woy Bro. Pa kabar kalian". Sapa Cacha kepada sekumpulan anak muda yang sudah menunggunya.


"Ah Cacha sayang. Gue kira loe gak jadi datang". Didan adalah orang yang meminta Cacha menjadi joki. Dan itu sudah terjadi beberapa kali. Cacha selalu menggunakan topeng agar wajahnya tidak dikenali begitu juga dengan Julian.


"Jadilah. Masa udah terima uang gak jadi tampil". Mereka tertawa terbahak bersama. Julian setia menjaga Cacha.


Persiapan balap liar sudah selesai. Para pemain sudah siap dibarisannya. Begitu juga Cacha. Seorang wanita muda tak jauh usianya dengan Cacha, berdiri dibarisan paling depan untuk memberi aba-aba. Setelah perempuan itu melemparkan sapu tangannya, pertandingan dimulai.


Julian menunggu Cacha digaris finish bersama para penonton lainnya. Didan mengenal Julian sudah lama. Namun mereka memang tidak dekat. Apalagi Julian memiliki sedikit sifat introvert. Itu yang membuat Didan susah dekat dengan Julian.


"Loe gak ikut main Yan". Rian menyodorkan air mineral kepada Julian. Julian memang tidak mau menerima minuman dan makanan ditempat balap liar seperti ini selain air putih. Hanya untuk berjaga-jaga saja. Apalagi dia juga harus menjaga Cacha.

__ADS_1


"Gak. Gue lagi malas aja". Julian hanya menjawab singkat dan membuka air mineralnya untuk diminum.


Saat sedang asyik menonton puturan dari para pembalap, Julian dan Didan didatangi seseorang yang baru pertama kali mereka temui diarena balap.


"Bro. Gila joki loe boleh juga. Gak nyangka gue bisa lihat joki cewek hebat seperti dia. Pasti wajahnya juga cantik". Julian dan Didan hanya menatap dingin pria dihadapan mereka. Mereka tetap diam tak menjawab sepatah katapun.


"Gue ada tawaran bagus buat kalian. Mungkin kalian penasaran darimana gue tau kalau tuh joki dipihak kalian. Karena dari tadi gue perhatiin tuh joki dekat sama kalian, jadi gue pikir dia punya kalian". Satu putaran baru saja kembali melintas dan tersisa putaran akhir. Cacha masih memimpin dan pria yang berdiri dihadapan Julian dan Rian mengeluarkan kata-kata yang membuat keduanya menahan marah.


"Woy sexy gila". Ucapan pria tadi ditambah dengan mimik wajah yang menunjukkan ketertarikan secara objektif kepada Cacha.


"Loe kesini mau apa. Gue gak kenal loe. Dan gue rasa loe baru pertama kali main disini". Didan membuka suara karena kesal dia menatap Cacha penuh nafsu.


"Oya lupa. Jadi gini bro. Gimana kalau kita taruhan tapi bukan uang yang buat taruhan". Pria itu mulai membicarakan niatnya. Julian mulai curiga.


"Maksud loe. Loe mau taruhan motor loe gitu sama motor gue". Sebenarnya Didan paham maksud dia, tapi Didan hanya ingin menjebaknya saja.


Beruntung pertikaian mereka bisa dilerai oleh kawan-kawan Julian dan Didan. Kawan dari pria tak dikenal tadi hendak membalas tapi jumlah mereka masih tak sebanding. Julian menarik kerah pria kurang ajar itu.


"Apa maksud loe berkata gitu. Loe anak baru disini. Dan loe gak tau aturan disini". Didan menarik tangan Julian dari kerah baju pria itu.


"Sudah Jul. Gak ada gunanya kita ngomong sama gerombolan sampah kayak mereka". Karena perkataan Rian, pria itu kembali marah. Saat hendak memukul Didan, dia lebih dulu terpental karena tendangan Cacha yang baru menyelesaikan pertandingan.


"Loe banci ya beraninya dari belakang". Julian dan Didan menghampiri Cacha. Didan meminta Julian membawa Cacha ke basecamp mereka.


"Gue bisa laporin kalian ke kantor polisi agar tempat ini digrebek dan kalian hancur. Jangan pernah kalian main-main dengan gue". Pria itu berteriak marah-marah karena kalah. Didan datang bersama kawan-kawannya berdiri tepat dihadapan pria itu.


"Gue gak tau kalian siapa. Gue juga gak mau tau siapa loe. Gue gak takut sama ancaman loe. Yang pasti loe masuk ke rumah orang tanpa permisi dan tanpa etika. Setiap rumah ada aturannya. Jadi gue harap loe bisa paham. Dan satu lagi cari tahu dulu sebelum loe memberi ancaman. Jangan sampai ancaman itu berbalik ke loe". Rian pergi bersama kawan-kawannya meninggalkan lokasi. Pria tak dikenal dan rombongannya juga ikut pergi dengan membawa amarah.

__ADS_1


Basecamp Didan dan kawan-kawannya berkumpul tidak terlalu jauh dari lokasi. Cacha dan Julian sering mampir ketempat itu. Didan meminta beberapa temannya untuk berjaga didepan basecamp karena dia khawatir pria tak dikenal itu mengikuti mereka.


"Loe gapapa Jul. Muka loe gak kena bogem kan". Didan segera menanyakan kondisi Julian. Mengingat besok pagi mereka harus sekolah.


"Gue aman. Muka loe gapapa bang". Julian dan Cacha memang memanggil Didan dengan sebutan Abang karena usia Didan lebih tua dari mereka.


"Santai gue gapapa. Kalian balik biar diantar anak-anak. Gue curiga tuh cunguk ngikutin gue tadi. Cha lepas topeng loe. Loe juga Jul. Mereka pasti gak tau wajah asli kalian". Julian dan Cacha mengangguk paham.


Beberapa teman Didan yang diminta untuk berkeliling disekitar basecamp sudah kembali dan mengatakan memang pria itu mengikuti mereka. Didan meminta agar Cacha dan Julian memakai mobilnya. Sedangkan motor Cacha akan dibawa oleh teman Didan untuk menjebak gerombolan penyusup itu.


"Gue gak bisa bang. Besok pagi si Juki gak lihat tuh motor digarasi, bisa heboh dia bang". Cacha menolak menggunakan mobil Didan karena dia takut Dzaky akan curiga.


"Benar juga. Ya udah jaket loe lepas. loe juga Jul. Loe pake punya gue. Dan Julian pake punya Jack. Terus motor loe biar dibawa si Jack. Ntar loe pake motor gue. Nanti kita ketemu disimpang biasanya buat tukeran motor. Sebisa mungkin jangan sampai dia sadar kalau kita ngecoh dia". Cacha dan Julian mengangguk dan mereka bersiap.


Didan pergi terlebih dahulu menggunakan motor Cacha karena warna motor itu begitu mencolok. Tak lupa topeng wajah Cacha Rian kenakan. Agar lebih meyakinkan. Lima belas menit setelah kepergian Rian, Chaca dan Julian menyusul diikuti kawan Rian lainnya.


Saat mendekati persimpangan jalan, Didan menambah kecepatan dan berbelok berlawanan arah dari tempat tinggal Cacha. Rombongan orang tak dikenal itu terus mengejar Didan hingga tanpa mereka sadari sudah ada rekan Didan lainnya yang menunggu menggunakan motor dengan warna hampir mirip dengan motor Cacha.


Didan bertukar posisi dengan rekannya. Gerombolan itu terus mengejar motor yg dia kira adalah Cacha. Sedangkan Didan berputar balik menuju rumah Cacha untuk bertukar motor.


"Maaf lama. Nunggu si Jo jauh dulu baru gue puter balik". Didan menjelaskan kepada Cacha karena dia memang sedikit terlambat.


"Gapapa bang. Yang penting semua aman. Makasih ya bang". Cacha mengambil alih kemudi motornya.


"Loe ganti warna bodi loe biar mereka gak ngenalin. Jangan lupa pake nomor polisi asli loe". Karena memang mereka menutup nomor polisi kendaraan mereka dengan nomor palsu.


"Siap bang. Gue balik dulu keburu Juki bangun". Didan mengangguk dan masih memantau Cacha dan Julian dari kejauhan hingga mereka masuk ke area kompleks perumahan mereka.

__ADS_1


Cacha dan Julian sudah bekerjasama dengan penjaga kompleks. Jadi mudah bagi mereka untuk keluar masuk kapanpun itu.


__ADS_2