Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 44


__ADS_3

"Baik dok. Saya akan lakukan sesuai perintah dokter". Damar meninggalkan kafe tempat dia bertemu seseorang. Seorang dokter kejiwaan yang pernah menangani Agnes sebelum Agnes kabur dan merubah sedikit penampilannya.


Damar sudah menghubungi semua temannya. Agnes saat ini masih dalam pengawasan anak buah Dzaky. Agnes pergi kerumah sakit jiwa temoat Livia berada. Berkat kerjasama papa Agnes dan Sultan, mereka berhasil membawa pergi Livia dan bertemu mama Agnes.


"Oke kita siapkan untuk pertunjukan terakhir. Tapi harus tetap hati-hati. Jangan sampai seperti kemarin hampir saja Kalandra menegak racun". Kalandra hampir saja menegak minuman beracun karena Agnes curiga dengan minuman yang dipesan Kalandra. Beruntung Agnes tidak jadi meminta Kalandra meminumnya. Kalandra terlampau emosi setelah pengakuan Agnes.


"Benar karena kecerobohan dan terlalu gegabah kita hampir gagal". Dzaky juga kesal dengan sikap Kalandra. Kalandra hanya diam tak menanggapi.


"Dokter Jay sudah siap ditempat kan". Damar mengacungkan jempolnya. Semua persiapan sudah matang. Mereka tinggal menunggu kedatangan Agnes ditempat yang sudah ditentukan.


"Gess, gue cabut. Agnes udah hampir sampai. Kita selesaikan sekarang". Mereka mengangguk dan Kalandra keluar dari tempat persembunyiannya. Kalandra segera masuk kedalam sebuah ruangan kafe dan menunggu Agnes disalah satu meja.


"Sayang maaf aku telat". Agnes memeluk Kalandra. Kalandra hanya mengusap pelan punggu Agnes.


"Duduklah. Aku sudah memesankan makanan seperti apa yang kamu mau". Agnes sempat mengirim pesan pada Kalandra untuk dipesankan makanan yang sedang dinginkannya.


"Terimakasih sayang. Ada apa mendadak ingin bertemu. Kangen ya". Agnes menampakkan puppy eyes kepada Kalandra.


"Ada yang harus kita bahas". Agnes tersenyum menatap Kalandra.


"Boleh saya tau sesuatu, tentang awal pertemuan kita". Agnes mengerucutkan dahinya. Senyum mulai pudar.

__ADS_1


"Kenapa kamu ingin mengetahui cerita itu. Apa kamu sudah melupakan kenangan kita". Kalandra lagi-lagi hanya tersenyum dan menggenggam tangan Agnes.


"Hanya sekedar mengenang masa lalu. Kamu kan tahu saya ini memang pelupa. Apa kamu tidak ingin bernostalgia". Agnes kembali dengan senyumnya. Dan Agnes mulai menceritakan awal mula pertemuan mereka.


Kalandra diam mendengarkan cerita Agnes dan mulai mengingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu. Ada selintas bayangan ingatan Kalandra tentang Agnes. Kalandra mulai ingat jika gadis didepannya saat ini, adalah gadis yang mengalami pelecehan dan pembullyan oleh teman-temannya.


"Aku mengingatmu. Jadi kamu gadis itu. Kenapa kamu sangat menakutkan. Dan aku menyesal telah menolongmu". Kalandra bermonolog dalam hatinya.


"Indahkan kisah kita. Aku tau kamu menyukaiku sejak kita pertama bertemu. Makanya kamu mau menolongku. Dan sebentar lagi kita akan menikah. Bahagia sekali hidupku". Kalandra diam menatap Agnes tanpa ekspresi. Ini waktunya...


"Kamu salah mengartikan kebaikanku. Kamu salah dengan perasaan gilamu itu. Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya. Aku hanya berniat menolongmu karena kasian. Tapi kenapa balasan kamu begitu menyakitkan. Tidakkah kamu tau betapa tersiksanya saya dengan sikap dan ulah kamu". Agnes yang tersenyum bahagia tiba-tiba menangis mendengarkan perkataan Kalandra.


"Kamu tau apa yang saat ini saya pikirkan". Kalandraenjeda dan menatap Agnes menggelengkan kepalanya.


"Apa, kamu menyesal. Apa yang kamu sesali. Apa karena kamu menolongku. Kenapa menyesal. Apa sekarang kamu akan meninggalkanku. Iya, benarkan seperti itu. Dan alasan menyesal hanyalah alesan. Kamu bosan denganku. Kamu gak sayang sama aku". Agnes berdiri dan membelakangi Kalandra, Kalandra diam menatap Agnes dengan tatapan tajam. Agnes nampak gusar berjalan mondar-mandir dan berkali-kali tampak mengusap kasar rambutnya.


"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak akan melepaskan kamu. Jangan harap kita akan berpisah. Itu tidak mungkin". Agnes mengacungkan belati kearah wajah Kalandra. Dia memang membawa belati itu kemanapun.


"Jika kamu ingin pergi, pergilah ke neraka. Aku akan bahagia jika kamu pergi kesana. Tidak akan ada orang yang memiliki kamu disana". Agnes tertawa kencang. Kalandra mencoba tenang. Seperti apa yang disarankan eh dokter kejiwaan Agnes.


Agnes terus berjalan maju kearah Kalandra. Kalandra masih diam ditempat menunggu sejauh apa tindakan Agnes.

__ADS_1


"Kamu benar-benar ingin menantangku. Baiklah jangan salahkan aku jika pisau ini membuat sayatan diwajah tampanmu itu". Kalandra memang sengaja tidak menghindar. Saat pisau itu ditempelkan tepat diwajah Kalandra, Agnes tiba-tiba kembali menangis .


"Kenapa semua pergi. Kenapa semua tidak menyayangiku. Kalian jahat. Jahattt". Agnes terduduk sambil menangis tersedu. Kalandra memberikan kode agar teman-temannya bersiap-siap. Kalandra berjongkok mendekati Agnes.


"Banyak yang menyayangi kamu. Tapi kamu tidak menyadari itu. Kamu harus kembali sehat. Mama papa kamu menunggumu". Agnes mendongak. Dan...


"Akhhhh". Kalandra tersungkur karena Agnes menghujamkan belati itu kearah Kalandra. Kondisi darurat membuat teman-teman Kalandra segera menghampiri Kalandra.


"Hahahaha. Kamu kenapa sayang. Kenapa ada darah disini sayang. Hiks hiks kamu jahat sama aku. Kenapa kamu mau pergi juga. Hahahaha jangan tinggalkan aku sayang". Melihat reaksi Agnes yang tertawa dan menangis'bersamaan, membuat semua teman Kalandra segera menarik tubuh Kalandra menjauh. Sebelum Agnes kembali menghujamkan senjatanya.


Dokter Jay sudah datang dan membawa dua orang perawat untuk memegang Agnes. Tenaga Agnes begitu kuat walaupun tubuhnya kecil. Agnes mengenali dokter Jay. Dia terus memberontak.


"Kita pialang yang Nes. Sudah lama kamu main petak umpet dengan saya. Sekarang kita pulang. Nanti saya temani kamu bermain. Gimana". Perlahan asisten dokter Jay menyuntikkan obat bius. Sedangkan Kalandra sudah dibawa kerumah sakit.


Sebelumnya, Kalandra juga sudah berusaha memberikan obat bius. Namun gagal karena gerakannya disadari Agnes. Bagaimana hari ini semua berjalan dengan lancar tanpa ada satu pengawal pun. Itu karena Dzaky meminta semua pengawal Agnes untuk pergi. Bahkan Dzaky memberikan pekerjaan yang layak untuk mereka. Dan proses itu butuh waktu cukup lama.


Dokter Jay memang menyarankan agar Kalandra memancing masalalu Agnes mengenai awal pertemuan mereka. Dokter Jay juga meminta agar Kalandra mengatakan sudut pandangnya mengenai pertemuan itu. Dokter Jay juga sudah meminta agar Kalandra mengantisipasi agar dia tidak terluka. Namun sialnya Kalandra kurang persiapan.


Agnes akan kembali dibawa keluar negeri seperti permintaan papanya. Dimana tempat pertama Agnes mendapatkan perawatan. Papa Agnes sudah memblokir semua akses Agnes untuk pergi dari negara itu. Keluarga Agnes juga akan pindah keluar negeri. Usaha papa Agnes akan dipusatkan disana dan tidak berencana membuat cabang di negara ini.


Mama Adina sudah bisa dibawa kembali kerumah dan Kalandra menjalani perawatan. Beruntung bukan jantung yang terkena tusukan, melainkan bahu kiri Kalandra. Chaca sudah mendapatkan kabar dari Dzaky. Chaca mulai fokus untuk pendidikannya.

__ADS_1


Satu Minggu berlalu, Kalandra kembali dengan aktivitasnya. Begitu juga dengan para sahabatnya. Teror mama Adina pun kembali


"Mama mau nyusul Chaca. Mama kangen".


__ADS_2