
Dua Minggu lamanya Chaca menjalani perawatan. Mama Adina setia menjaga dan merawatnya. Kalandra sudah kembali dengan aktivitasnya yang padat. Sesekali Kalandra datang mengunjungi Chaca. Mama Adina bahagia melihat hubungan Chaca dan Kalandra semakin membaik.
Mama Adina sudah memberitahukan rencananya kepada papa Gerald. Papa Gerald menyetujui rencana mama Adina. Bahkan papa Gerald segera merencanakan hari liburnya khusus untuk membantu rencana istrinya.
"Alan, lusa papa datang. Kamu jemput ya nak". Kalandra sedang berada di apartemen Chaca mengunjungi mamanya.
"Iya mah. Tumben papa datang sekarang mah. Ini belum waktunya kan". Kalandra hafal kapan waktu papanya mengunjungi mamanya.
"Pekerjaan papa sedang tidak banyak". Mama Adina menjelaskan sambil sibuk menyiapkan makanan untuk kedua anaknya. Kalandra mengangguk paham.
"Cha. Kapan mulai ngantor". Chaca memang masih mengerjakan pekerjaannya dirumah. Terkadang, Kalandra akan membantu.
"Senin besok om. Udah bosan dirumah terus". Chaca memang sudah mulai jenuh. Hanya karena mama Adina belum mengijinkan Chaca bekerja, Chaca masih dirumah.
"Jangan sungkan kalau kamu butuh bantuan saya". Chaca mengangguk sambil memakan camilan yang disiapkan oleh mama Adina.
"Alan. Besok nginap sini saja. Kita makan malam bareng sama papa juga". Kalandra menatap Chaca dulu. Chaca hanya tersenyum.
"Oke mah". Jawaban Kalandra yakin setelah mendapat ijin dari Chaca.
Malam harinya, mama Adina mengajak Kalandra dan Chaca untuk jalan-jalan. Mereka menyusuri setiap lorong mall. Mama Adina dan Chaca sibuk keluar masuk setiap toko pakaian wanita dan pria. Sedangkan Kalandra bagaikan pengawal yang sedang mengawal dua ibu negara.
"Kita mau kemana lagi mah". Kalandra mulai protes. Karena mama Adina akan lupa waktu saat asyik berbelanja.
"Bentar. Masih ada yang mau mama cari. Kenapa sih kayak bayi, rewel". Chaca hanya tertawa mendengar perdebatan keduanya.
"Chaca harus istirahat mah. Dia baru sembuh. Udah mama ajak jalan sehat aja". Sebenarnya Kalandra sendirilah yang lelah. Namun menggunakan Chaca agar mama Adina mau menuruti kemauannya.
"Chaca capek sayang". Mama Adina langsung bertanya kepada Chaca. Chaca memberikan kode kepada Chaca agar mengiyakan pertanyaan mama Adina.
"Hmmm, sedikit sih mah". Kalandra mengacungkan jempolnya. Chaca hanya tertawa pelan melihat tingkah Kalandra.
"Maafkan mama ya sayang. Sekarang kita cari makan dulu aja yuk". Mama Adina merangkul lengan Chaca. Kalandra merasa lega bisa beristirahat sejenak.
__ADS_1
Mereka masuk kedalam resto makanan Asia. Mereka sudah mendapatkan tempat duduk dan menunggu pelayan datang menghampiri. Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka dan memberikan menu makanan. Sambil menunggu makanan di hidangkan, mereka saling bercanda.
"Hmmm. Kalian ini. Udah seperti kucing dan tikus". Mama Adina menghentikan perdebatan antara Kalandra dan Chaca.
"Si om mah yang mulai duluan. Udah tua gak mau ngaku tua". Kalandra kembali menjitak dahi Chaca.
"Heh gadis tengil. Kamu pun sama menyebalkannya". Mama Adina hanya bisa menghela nafas pasrah saja melihat kelakuan Chaca dan Kalandra.
"Jika kalian tidak mau berhenti juga. Mama tidak akan melepaskan tangan mama ini". Mama Adina menjewer telinga Chaca dan Kalandra.
"Aduh sakit mah. Malu mah". Kalandra mengaduh begitupun dengan Chaca.
"Makanya diam". Mereka mengangguk bersama dan diam hingga makanan yang mereka pesan datang.
Mereka makan dengan nikmat. Mama Adina begitu bahagia melihat pemandangan ini. Mereka tidak tampak seperti pasangan yang sudah berpisah. Chaca sudah menghabiskan makanannya. Sambil menunggu Mama Adina dan Kalandra menghabiskan makanannya, Chaca mengeluarkan ponselnya.
"Kamu curang Cha. Kenapa saya yang menghabiskan makanan ini". Kalandra kesal karena mama Adina memesankan makanan untuk Chaca, namun Chaca sudah merasa kenyang.
"Gapapa dong Om. Gak boleh marah semakin tua nanti". Chaca kembali mengolok Chaca. Dan Kalandra hanya melotot saja. Sedangkan mama Adina tertawa riang.
"Sania. Apa kabar". Chaca berdiri dan langsung memeluk Sania.
"Baik Cha. Lama tidak bertemu". Chaca dan Sania saling melepaskan pelukan. Dan saling menatap.
"Wah sudah besar saja. Berapa bulan sekarang". Chaca mengusap perut Sania yang sudah membuncit.
"Hampir tujuh bulan Cha". Sania tersenyum kepada Chaca.
"Kamu sendiri Sania. Dimana Joan". Chaca melihat kesekeliling resto tersebut untuk mencari keberadaan Joan.
"Tidak. Aku bersama Joan kok. Kami ada dilantai atas". Resto tersebut memang memiliki dua lantai. Chaca mengangguk paham.
"Cha, terimakasih ya. Maaf saat itu aku tidak mengucapkan terimakasih. Karena bantuan kamu, anakku bisa hidup bersama ayahnya". Sania mengusap pelan perutnya. Matanya sedikit memerah.
__ADS_1
"Hust. Jangan berkata seperti itu. Itu memang sudah jalan yang terbaik buat kalian". Chaca memeluk Sania sebentar untuk menenangkan.
"Sayang, kenapa lama". Chaca menoleh kearah suara yang lama tidak dia dengar. Kalandra diam memperhatikan.
"Hai Jo. Apa kabar". Sapa Chaca dengan ramah. Joan diam karena terkejut.
"Chaca. Gue baik. Apa kabar loe Cha". Sapa Joan kepada Chaca.
"Gue baik. Gue kira loe sama Sania udah gak ada dikota ini". Joan dan Chaca salung berjabat tangan.
"Tidak Cha. Gue masih disini menemani Sania. Sania masih belum lulus. Tahun lalu Sania mengambil cuti satu semester. Dan juga kandungan Sania sempat lemah dan harus badrest". Chaca diam mendengarkan. Dan kembali Chaca yang gemas dengan perut Sania, Chaca mengusapnya.
"Loe kerja dimana Jo". Chaca kembali bertanya kepada Joan. Karena setau Chaca semua keluarganya memiliki perusahaan ditempat asalnya.
"Gue kerja di perusahaan Bu Mela Cha. Tempat kita magang waktu itu. Kebetulan ada lowongan yang sesuai dengan jurusan kita". Joan merangkul pundak Sania. Dan Chaca bahagia melihat itu. Joan baru menyadari adanya Kalandra dan mama Adina.
"Wah Cha, sepertinya tidak ada lelaki lain yang bisa mengalahkan om Kalandra dihati kamu". Kalandra tersenyum tipis begitu juga mama Adina. Sedangkan Chaca hanya melotot saja.
"Ngomong yang baik. Asal saja". Joan dan Sania tertawa bersama. Mama Adina juga ikut tertawa.
"Kami pamit om, tante. Kasian Sania ini sudah malam. Dan Cha, jangan terlalu lama menggantung. Memang produk lama itu lebih meyakinkan daripada yang baru. Ya kan Cha" Joan segera membawa Sania pergi sebelum mendapat amukan Chaca.
"Joan. Awas kau ya". Chaca sedikit berteriak dan Joan hanya tertawa. Mereka sudah selesai makan malam dan segera pulang. Mama Adina juga sudah merasa lelah.
Dalam perjalanan pulang, mama Adina berpesan kepada Kalandra untuk berhenti diapotek. Mama Adina ingin membeli vitamin. Kalandra pun mengiyakan permintaan mama Adina. Didalam mobil Chaca juga tertidur karena lelah.
Mama Adina meminta Kalandra untuk membelikan vitamin miliknya. Karena merasa lelah, mama Adina memilih menunggu di mobil bersama Chaca.
"Mah. Bulan depan Chaca pulang ke Indo. Marjuki mau menikah". Mama Adina terkejut mendengar berita itu.
"Loh kok mama tidak diberitahu Cha". Mama Adina sedikit cemberut dan membuat Chaca tersenyum.
"Ini Chaca dikasih tau baru aja mah". Chaca memperlihatkan layar ponselnya kepada Mama Adina.
__ADS_1
"Ah pantas saja. Akhirnya Marjuki laku juga". Mama Adina dan Chaca tertawa bersama.