Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 49


__ADS_3

Chaca sedang fokus membaca setiap poin perjanjian dalam kontrak pernikahan antara dirinya dan Kalandra. Sehari setelah mereka membeli perhiasan, Kalandra segera menyusun kontrak pernikahan seperti permintaan Chaca. Poin utama dalam kontrak tersebut tidak ada kontak fisik berlebihan. Dalam artian Chaca menolak untuk melayani sang suami diatas ranjang.


Kalandra tetap meminta mereka untuk tinggal dalam satu kamar. Untuk mencegah hal tak diinginkan, Kalandra akan mengubah sedikit kamar pribadinya agar Chaca juga bisa tidur diatas ranjang tanpa mereka harus bersentuhan. Dan poin lain yang mereka setujui bersama, tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.


"Ada yang perlu diubah Cha sebelum kita tanda tangani bersama". Chaca masih membaca kembali perjanjian itu.


"Disini om nulis dilarang ikut campur urusan pribadi kan. Jadi kalau gue sudah nemu pria lain, om gak boleh protes kalau gue punya hubungan dengan pria itu". Chaca memperjelas maksud dari poin tersebut agar tidak ada salah paham kedepannya.


"Boleh. Tapi ingat jangan sampai publik tau. Karena pernikahan kita ini sah. Keluarga kita akan mengundang beberapa klien dekat. Jadi tetap jaga sikap. Saya tidak akan melarang apapun asal kamu tau aturan mainnya". Chaca mengangguk. Chaca masih membaca kontrak itu. Poin terpenting dan terakhir tertera jika mereka akan menjalani kontrak selama satu tahun. Dan Kalandra juga menulis akan memberikan sebagian hartanya untuk Chaca setelah mereka berpisah nanti. Tanpa fikir panjang Chaca segera menandatangani kontrak tersebut. Begitupun Kalandra.


"Oke om kita sudah sepakat. Dan tolong jangan ingkar. Gue melakukan ini demi mama Adina". Kalandra mengambil surat kontrak itu satu bagian dan satu bagian lagi diberikan kepada Chaca.


"Iya. Saya juga tau Cha. Semoga kita bisa kerjasama dengan baik". Mereka saling berjabat tangan. Bagaikan sedang menjalin sebuah hubungan kerjasama yang saling menguntungkan.


Hari ini Kalandra mendapatkan kabar jika cincin mereka sudah bisa diambil. Kalandra mengajak Chaca untuk mengambil cincin tersebut setelah Kalandra meeting dengan klien barunya. Meskipun sedang menemani mama Adina, Kalandra tetap melakukan pekerjaannya. Rudi mengatur jadwal Kalandra dari kantor pusat.


"Om, mama tadi telpon. Untuk urusan wedding organizer sudah dihandle sama Marjuki. Jadi kita tinggal bikin gaun saja". Chaca memainkan ponselnya sambil berbicara dengan Kalandra.


"Baiklah. Kamu mau pesan gaun disini atau tunggu kita balik". Waktu liburan Kalandra memang akan segera habis. Bahkan rencana mama Adina menyusul papa Gerald pun batal. Karena Kalandra memberikan kabar bahagia pernikahannya. Mama Adina akan kembali bersama Kalandra dan membantu persiapan pernikahan putranya.


"Sepertinya disini saja om. Gak masalah kan. Gue juga gak bisa ikut balik bareng. Gue akan nyusul sebelum hari H". Chaca memang akan pulang beberapa hari sebelum hari H. Mengingat jadwal kuliahnya yang sangat padat.

__ADS_1


"Iya gapapa. Kita sekalian prewedding aja. Jadi saya pulang tinggal urus yang disana. Gimana". Pernikahan dengan Kalandra dan Chaca memang sangat mendadak. Awalnya Kalandra meminta waktu dua bulan untuk persiapan pernikahan dan menunggu Chaca libur kuliah. Namun mama Adina tidak mau dan mereka menikah awal bulan depan. dengan persiapan kurang dari satu bulan.


"Oke. Tapi setelah Chaca pikirkan lagi, kita pakai gaun yang sudah ada ya om gak usah bikin rancangan lagi. Waktunya gak cukup". Kalandra mengangguk setuju. Chaca kembali menemani Kalandra meeting dengan kliennya. Kalandra berencana akan membuka cabang dinegara ini agar tetap mudah berkomunikasi dengan Chaca dan tidak menimbulkan kecurigaan.


"Om Chaca tunggu dimeja lain saja. Gak enak nanti ganggu". Kalandra mengangguk. Dan spontan menarik tangan Chaca menuju meja yang tepat berada dibelakangnya.


"Duduk disini saja. Saya gak mau kalau kamu nanti menghilang". Kalandra sempat bercanda dengan Chaca sebelum dirinya menemui klien. Kalandra menuju meja kliennya sudah datang terlebih dahulu.


"Selamat siang Pak Lee. Maaf membuat anda menunggu". Pak Lee menyambut Kalandra dan saling berjabat tangan.


"Saya juga baru saja sampai pak Kalandra. Mari silahkan duduk". Pak Lee datang bersama sekretarisnya. Walaupun pak Lee seusia dengan papa Kalandra, namun tetap masih tampak bugar.


"Sepertinya pak Kalandra membawa seseorang. Saya kira tadi sekretaris anda pak". Pak Lee sempat menggoda Kalandra karena melihat Kalandra membawa Chaca.


Chaca tidak merasa jenuh menunggu Kalandra karena dia juga sedang mengerjakan tugas. Dan juga memilih baju pengantin yang akan digunakannya satu salah satu toko ternama. Chaca sengaja memilih secara online sebelum dia datang untuk mencobanya.


"Saya sangat senang melihat seorang pemuda yang penuh semangat seperti anda. Masih muda sudah sukses. Bahkan saya sangat tertarik dengan proyek kerjasama kita ini. Tapi sayangnya anda masih lajang. Saya lebih mempercayakan kerjasama ini kepada orang yang sudah berkeluarga. Bagi saya orang yang sudah berkeluarga memiliki tanggung jawab yang lebih baik daripada yang masih melajang. Bukan saya tidak mempercayai yang masih lajang. Saya lebih yakin dengan pria yang sudah berkeluarga". Pak Lee seorang family man. Semua kliennya harus sudah menikah.


"Saya akan menikah bulan depan pak Lee. Dan wanita yang bersama saya adalah calon istri saya". Dengan senyuman Kalandra mantap menjawab semua opini pak Lee.


"Wah benarkah. Jika memang seperti itu, saya akan menunggu undangan dari anda pak Kalandra. Dan saya akan menyetujui kerjasama kita setelah saya datang keacara pernikahan anda". Pak Lee dengan sengaja menunda kesepakatan kerjasama mereka.

__ADS_1


"Baik pak. Saya akan mengirimkan undangan kepada bapak secara pribadi". Mereka saling melemparkan senyuman.


"Tidakkah anda ingin memperkenalkan calon istri anda kepada saya pak Kalandra". Pak Lee sengaja ingin mengenal Chaca.


"Baiklah pak. Sebentar saya akan memperkenalkan calon istri saya". Kalandra berdiri dan menghampiri Chaca yang masih fokus dengan bukunya.


"Cha". Kalandra menepuk pelan pundak Chaca karena Chaca menggunakan headset.


"Om, sudah selesai". Kalandra menggeleng. Kalandra berbisik kepada Chaca.


"Klien saya ingin berkenalan dengan kamu Cha. Kamu mau kan bantu saya". Chaca menatap mata Kalandra dan mengangguk.


Kalandra menuntun Chaca setelah membereskan semua buku yang Chaca keluarkan dari dalam tas. Mereka segera berjalan mendekati pak Lee.


”Pak Lee saya perkenalkan ini calon istri saya. Marrisa Al-Rasyid". Pak Lee terbengong mendengar nama belakang Chaca.


"Salam kenal Tuan. Saya Marrisa calon istri dari Kak Kalandra". Chaca mengulurkan tangannya, namun belum ada sambutan dari pak Lee. Pak Lee terus menatap wajah Marissa.


Kalandra dan Chaca saling pandang karena bingung. Sekretaris pak Lee pun juga bingung dengan reaksi pak Lee. Sekretaris pak Lee mengusap lengan pak Lee pelan untuk menyadarkan dari lamunannya.


"Tuan. Tuan Lee. Apa anda baik-baik saja". Pak Lee yang terkejut langsung menatap sekretarisnya dan mengangguk.

__ADS_1


"Rasyid....


__ADS_2