Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 38


__ADS_3

"Gimana, mau gak diajak ketemuan". Leo sedang berbicara dengan Sultan melalui telepon.


"___"


"Ck. Loe bujuk gimana pun caranya. Sebelum tuh cewek semakin jauh".


"___"


"Oke. Gue tunggu kabar dari loe".


Leo menyimpan ponselnya. Sebenarnya hari ini Chaca akan terbang, namun diurungkan karena mama Adina masih belum sadar. Hai itu juga disetujui oleh orangtua Chaca. Namun keluarga Chaca tidak membatalkan penerbangan Chaca. Mereka sengaja melakukan hal tersebut untuk mengecoh Agnes. Setelah pertemuan terakhir Agnes dan Chaca dirumah sakit, sesuai dugaan Rudi dan Kalandra. Agnes menargetkan Chaca. Beberapa kali pengawal papa Chaca melihat orang yang memantau rumah Chaca dan sering mengikuti Chaca.


Papa Gerald juga sudah tiba. Bergantian menjaga mema Adina dirumah sakit. Kalandra sudah menceritakan semua yang terjadi termasuk rencana yang sedang dijalaninya. Papa Gerald pun marah, bahkan sempat menyalahkan Kalandra. Kalandra hanya bisa diam. Dia memang bersalah karena menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Agnes. Tapi dia juga tidak tahu jika penyebab mamanya koma di masalalu adalah Agnes.


Diam-diam Chaca dipindahkan kerumah keluarga Kalandra. Karena mereka yakin Agnes tidak akan pernah mendatangi tempat itu selama Kalandra dirumah sakit menjaga mamanya. Dzaky dan teman-temannya sudah mulai mendapatkan titik terang. Dan sedikit celah untuk bisa bertemu dengan papa Agnes. Walaupun sedikit sulit. Mereka melihat rumah yang ditempati orangtua Agnes sangat ketat penjagaannya layaknya sebuah penjara.


Sultan sudah menyusun rencana agar bisa memancing papa Agnes keluar dan menemui mereka tanpa Agnes. Dan itu harus ada andil dari Kalandra.


"Satu-satunya cara memancing papanya Agnes keluar tanpa Agnes, ya Kalandra yang bisa melakukan itu". Kalandra diam mendengarkan saran Sultan.


"Jadi loe nyuruh Kalandra untuk mulai main drama Tan". Sultan mengangguk menjawab perkataan Leo.


"Kalandra harus bisa mengajak pergi jauh Agnes satu hari saja. Dan nanti kita akan berpura-pura menjadi klien papanya Agnes. Dan sebisa mungkin ponsel Agnes dimatikan. Gimana gess". Sultan meminta pendapat teman-temannya.


"Kalau dari gue setuju. Tinggal gimana Andra. Mau gak lakuinnya". Leo menyetujui pendapat Sultan. Begitu juga dengan teman-teman lainnya.


"Oke. Gue mau. Kita akan mulai rencananya besok. Gue gak mau lama-lama kasian Chaca juga terkurung". Mereka kompak menyusun rencana bersama. Sultan sudah meminta sekretarisnya untuk menghubungi perusahaan milik Agnes dan membuat janji. Beruntung Agnes tak mengenal sahabat Kalandra kecuali Rudi. Itu mempermudah mereka menjalankan aksinya.


Kalandra pun sama, dia menghubungi Agnes dan membuat janji untuk kencan. Dan membicarakan kerjasama mereka. Awalnya Agnes keberatan dan ingin mengubah hari karena dia sudah ada janji bersama papanya dengan perusahaan lain. Yang pastinya Kalandra tau itu Sultan.


"Nes, tapi saya hanya bisa besok. Kalau misal kamu gak mau ya sudah lain waktu saja". Kalandra berpura-pura kecewa saat berbicara dengan Agnes melalui telepon.

__ADS_1


"__"


"Terimakasih sayang. Aku jemput kamu besok ya. Jangan lupa dandan yang cantik". Kalandra segera mematikan panggilnnya. Dan berekspresi seperti akan muntah. Teman-teman Kalandra terus tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


Apa yang mereka rencanakan mulai sedikit berhasil. Selangkah demi selangkah, mereka tau pasti jika lawan mereka bukan orang biasa, melainkan seorang psikopat.


Sesuai rencana, mereka kini sedang bersiap dengan peran masing-masing. Rudi memantau pekerjaan kantor sesuai kesepakatan. Agar tidak banyak mengandung kecurigaan. Kalandra yang sangat enggan bertemu Agnes, hari ini dia harus berperilaku seolah Agnes adalah kekasihnya.


"Huft, semangat Alan. Demi kebaikan bersama". Gumam Kalandra pelan. Dia sudah berada didalam lift. Kalandra memang tinggal apartemen. Demi menjaga Chaca.


Perlahan Kalandra menjalankan kendaraanya. Dia segera menuju rumah Agnes dengan berbekal kenekatan dan doa akan keberhasilan. Seperti apa yang dikatakan oleh temannya, jika rumah Agnes seperti penjara. Bahkan saat Kalandra tiba, seorang asisten rumahnya hendak berbelanja dihalaman rumah namun diawasi ketat oleh penjaga rumah Agnes.


"Serem banget ni rumah. Akh... selamatkan hamba tuhan". Mobil Kalandra berhenti tepat digerbang rumah Agnes. Seorang penjaga mendekati mobil Kalandra.


"Selamat siang, bisa saya bantu tuan". Sapa penjaga rumah Agnes.


"Siang pak, saya mau menjemput Agnes. Kami sudah ada janji". Tampak penjaga membuka buku tamu yang berada diatas meja ruang jaganya.


"Ya benar. Jika tidak yakin, ini identitas saya". Kalandra mengeluarkan kartu identitas karena raut wajah penjaga itu kurang percaya dengan Kalandra.


"Oh maaf tuan. Silahkan anda masuk. Nona sudah menunggu didalam". Kalandra mengangguk. Saat Kalandra mulai masuk kedalam halaman rumah, dia semakin terkejut dengan banyaknya pengawasan.


"Wow. Udah kayak rumah mafia aja. Hii serem". Kalandra bergidik ngeri melihat suasana rumah Agnes. Kalandra turun dari mobil dan diantarkan seorang pengawal untuk menemui Agnes.


"Selamat siang nona. Tamunya sudah datang". Kalandra hanya berdiri diam dibelakang pengawal Agnes sambil matanya melirik melihat isi ruangan itu. Agnes berdiri menyambut Kalandra setelah mengibaskan tangannya agar pengawalnya pergi.


"Andra. Aku pikir kamu hanya berbohong. Senangnya kamu beneran datang". Agnes langsung memeluk tubuh Kalandra. Kalandra dengan terpaksa membalas pelukan Agnes.


"Saya tidak akan ingkar janji. Sebelumnya saya minta maaf atas sikap saya kepada kamu beberapa hari ini. Saya terlalu kasar dengan kamz,AA AAu". Mendengar suara Kalandra yang dirasa Agnes tulus, Agnes pun tersenyum bahagia dan kembali memeluk Kalandra.


"Aku tau kok, kamu gak akan pernah kasar ke aku. Aku kuga gak marah kok sama kamu. Dan aku bahagia banget kamu mau menerima aku". Agnes melepaskan pelukan Kalandra dan saling menatap. Agnes tersenyum bahagia. Kalandra menyambut senyuman itu. Walaupun terpaksa.

__ADS_1


"Kita langsung jalan yuk. Keburu sore". Agnes begitu semangat menyambut ajakan Kalandra.


"Tunggu sebentar aku ambil tas dulu". Agnes berlari menuju kamarnya. Diam-diam Kalandra mengambil beberapa gambar isi rumah Agnes. Terutama foto keluarga. Disana tampak Agnes tidak hanya sendiri. Dalam foto itu tampak Agnes memiliki saudara. Namun rumah ini sepertinya begitu sepi.


Kalandra sengaja berjalan-jalan disekitar ruang tamu sambil menunggu Agnes, Kalandra juga diawasi oleh salah satu pengawal Agnes. Asisten rumah Agnes datang dengan membawakan minuman untuk Kalandra.


"Tuan, ini minimnya". Kalandra menoleh dan mengambil gelas yang disodorkan diatas nampan.


"Terimakasih bi". Saat asisten itu akan pergi, Kalandra sengaja mencegahnya karena ingin bertanya sesuatu.


"Maaf Bi, saya boleh tanya". Nampak ragu asisten itu mengangguk pelan. Matanya sedikit melirik kearah pengawal Agnes. Kalandra menyadari itu.


"Difoto itu, saudaranya Agnes ya Bi". Asisten itu kembali mengangguk ragu. Sesekali matanya melirik ke belakang.


"Dimana sekarang mereka Bi. Tinggal disini juga". Asisten itu menggeleng dan segera meninggalkan Kalandra. Kalandra hanya bisa diam dan kembali melihat beberapa piagam penghargaan yang terpampang rapi didalam almari khusus.


Kalandra melihat semua piagam itu milik Agnes. Karena hanya nama Agnes tertera disana. Mata Kalandra melotot saat menemukan satu piala dengan nama dan sekolah yang berbeda. Dengan kamera pengintai yang dia punya, diam-diam Kalandra merekam dan memfotonya.


"Andra, ayo. Fokus amat sih lihat apa". Agnes sudah siap bahkan dia juga mengganti pakaiannya.


"Wah saya baru tau kamu sehebat ini. Dari tadi saya melihat semua piagam ini, semua atas nama kamu. Hebat, hebat sekali". Kalandra segera memuji Agnes, sebelum dia curiga. Agnes tersipu-sipu dengan pujian Kalandra.


Agnes menggelayut manja dilengan Kalandra. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Kalandra. Saat akan berbelok keluar dari area perumahan, Kalandra melihat ada mobil mengikutinya. Dan dia tahu pasti itu pengawal Agnes.


"Kamu meminta pengawal mengikuti". Tanya Kalandra hati-hati agar Agnes nyaman.


"Tanpa disuruh mereka akan tetap ikut. Apa kamu tidak nyaman". Kalandra mengangguk. Ini kesempatan Kalandra agar Agnes bebas dari pengawalan.


"Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan kamu. Jika kamu membawa pengawal, aku merasa tak bebas". Kalandra sengaja menghentikan mobilnya dan menggenggam tangan Agnes tak lupa mengecupnya.


"Baiklah aku percaya dengan kamu. Aku akan menyuruh mereka pulang". Terlena dengan perlakuan Kalandra, Agnes pun meminta semua pengawal untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2