Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 7


__ADS_3

Ting


Ting


Ting


Notifikasi ponsel Chaca tak hentinya berdenting. Karena ini hari Minggu, Chaca masih bergulung didalam selimut tebalnya. Suasana mendung menambah semangat Cacha untuk kembali masuk dalam selimut.


Ting


Ting


Kembali denting ponsel itu mengganggu ketenangan Chaca. Dengan malas Chaca meraih ponsel diatas nakasnya. Dan seperti dugaannya. Marjuki mengganggu ketenangan pagi nan syahdu.


"Ck. Ngapain Marjuki pagi-pagi heboh". Gerutu Cacha sambil membuka pesan dari sang Abang.


Marjuki:


Cha


Merica


Kebo pasti nih


Marjuki:


Caca mari cahehe. Woy bangun.


Isi pesan dari Dzaky yang sangat menggangu ketenangan Chaca bergulung didalam selimut. Chaca segera membalas pesan itu sebelum Marjuki semakin berulah.


Me :


Apa sih. Ganggu aja. Kangen loe sama gue.


Sambil menunggu balasan dari Dzaky, Chaca juga membaca pesan dari sahabatnya Julian. Siang ini mereka berjanji akan pergi ke mall.


Marjuki:


Kangen. Siapa loe gue kangenin. Gue bahagia. Hidup gue tenang selama satu Minggu ini tanpa gangguan si Merica.

__ADS_1


Me:


Ilih kangen aja gak mau ngaku loe. Gue juga bahagia loe gak ada dirumah. Gak usah pulang aja loe.


Dzaky yang membaca pesan balasan dari sang adek tersenyum bahagia. Begitu pun dengan Cacha. Cara mereka mengungkapkan rasa kangen dan cinta itu memang beda.


"Gue kangen loe Cha". Gumam Dzaky pelan sembari menatap layar ponselnya. Senyum tipis tampak dibibir Dzaky.


"Gu kangen loe bang". Cacha juga mengungkapkan hal yang sama setelah berbalas pesan dengan Dzaky.


Chaca tersenyum dan kembali bergulung dengan selimut tebalnya. Dan Dzaky juga kembali dengan rutinitas pekerjaannya. Dzaky sedang mensurvei lokasi yang akan dijadikan perumahan.


Bersama Damar dan Leo mereka masih berada dilapangan. Damar dan Dzaky belum sempat menanyakan perihal pertunangan Leo yang mendadak. Dan mereka berfikir jika hari ini mereka akan menanyakan perihal tersebut.


"Zak, kalau menurut gue yang bagian sebelah kanan bisa kita gunakan sebagai taman. Dan kita bisa bangun danau buatan". Damar mengutarakan idenya. Proyek ini memang kerjasama persahabatan mereka.


"Apa gak terlalu sempit Dam. Gue malah mikirnya itu buat kulineran aja. Terus taman dan danau buatan kkta kasih didepannya. Kan lahan bagian depan itu luas. Gimana menurut loe Zak". Dzaky mulai melihat detail lokasi lahan yang dimaksud sahabatnya itu dan memikirkan masukan keduanya.


"Kalau gue setuju sama Leo. Karena selain taman bermain, nantinya bisa untuk olahraga juga. Kita bisa tambah beberapa fasilitas olahraga. seperti lapangan tenis atau lapangan untuk futsal. Jadi penghuni bisa tetap berolahraga tanpa harus keluar area perumahan. Gimana". Damar dan Leo mengangguk setuju dengan masukan Dzaky.


"Oke juga. Ya udah kita ambil opsi itu saja. Tinggal kita atur waktu ketemu Kalandra sama Sultan". Mereka mengangguk bersamaan. Dan melanjutkan dengan pekerjaan lainnya.


"Cha. Pengen beli sesuatu gak". Chaca melihat toko didepannya. Karena mata Julian mengarah kesana.


"Wah parah emang loe Jul. Itukan toko underwear. Wah mesum banget loe". Julian hanya tersenyum disudut bibirnya saat mendengar Chaca menggerutu.


"Kali aja loe mau beli modelan terbaru. Mumpung gue baik. Gue beliin". Chaca menjitak kepala Julian.


"Gue pakenya karung beras bukan modelan kayak gitu. Yang ada nyelip terus pakai gituan". Julian terkekeh mendengar jawaban Chaca.


Mereka terus berjalan hingga menuju kearea permainan. Julian dan Chaca berhenti disana. Dan mulai memainkan berbagai macam permainan. Mereka benar-benar menikmati kencan persahabatan hari itu.


Karena lelah, Chaca memilih duduk sambil menunggu Julian menyelesaikan permainannya. Seseorang datang dan memanggil Chaca.


"Chaca". Chaca menoleh kearah suara itu. Tiga pemuda tampan datang mendekati Chaca. Salah satu dari mereka tersenyum manis kepada Chaca. Chaca diam mengamati pria itu.


"Jangan bilang lupa lagi sama Abang ganteng". Chaca masih diam tak menjawab. Pria itu duduk disamping Chaca. Sedangkan dua pria lainnya masih berdiri.


"Ah. Baru ingat Chaca. Sultan tanpa istana. Ya kan". Sultan terkikik geli mendengar panggilan Chaca kepadanya.

__ADS_1


"Main sama siapa. Kok sendirian aja. Ntar diculik orang loh". Chaca hanya mencebik mendengar lelucon Sultan.


"Maaf saya bukan bayi yang bisa dikibulin om-om". Sultan membulatkan matanya mendengar perkataan Chaca. Julian menyudahi permainannya dan bergabung dengan Chaca.


"Ya kali Abang dipanggil om-om Cha. Kalian kencan ya. Cie". Hanya Sultan yang terus berbicara dengan Chaca sedangkan kedua teman Sultan hanya diam mengamati.


"Kalau iya kenapa emangnya. Emang situ udah om-om masih jones". Chaca berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Sultan dan teman-temannya. Julian mengikuti Chaca.


Saat Chaca berjalan disamping teman Sultan, seseorang menyadari sesuatu. Salah satu teman Sultan menahan lengan Chaca.


"Tunggu. Apa kita pernah ketemu sebelumnya". Chaca mengibaskan tangan pria tadi dan menatapnya.


"Tidak. Dan tidak pernah ingin bertemu". Chaca berjalan menjauh. Teman Sultan itu segera mengingat sesuatu.


"Gadis tengil itu ternyata". Sultan menatap Kalandra. Begitu juga Rudi.


"Siapa maksud loe Ndra". Rudi melihat arah tatapan Kalandra.


"Dia gadis yang gue ceritain ke loe Rud. Gadis yang manggil gue om". Rudi kembali menatap Chaca dan Julian yang sudah jauh berjalan.


"Ada yang gue ketinggalan cerita". Tanya Sultan memutus pandangan dua pria tampan itu. Dan mereka melanjutkan langkah. Rudi menceritakan apa yang dialami Kalandra awal bertemu Chaca.


"Kok loe bisa kenal sama gadis tengil itu Tan". Kalandra memang belum mengetahui siapa Chaca.


"Dia itu adiknya si Dzaky. Masa loe gak tau Ndra". Rudi dan Kalandra sama-sama terkejut.


"Emang si Dzaky punya adek. Kok gue gak pernah tau". Tanya Kalandra yang masih penasaran.


"Gue juga tau belum lama. Kata Dzaky adiknya dulu lebih sering ikut mama papanya keluar negeri atau ke luar kota buat kerja. Jadi kita tiap main gak pernah ketemu. Gue pertama ketemu dikantor Dzaky belum lama juga". Kalandra dan Rudi mengangguk paham.


"Tapi kok sifatnya beda banget sama Dzaky". Kalandra masih penasaran dengan Chaca.


"Emang iya. Mulut Chaca lebih pedas dari Dzaky. Anaknya juga tomboy". Sultan menceritakan tantang Chaca seperti apa yang dia ketahui.


"Iya kalau tomboy jelas. Karena pertama gue ketemu dia pake motor gede. Keren sih tapi sayang judes". Sultan dan Rudi terkekeh mendengar perkataan Kalandra mengenai Chaca.


Mereka bertiga pergi meninggalkan mall. Mereka berpisah di parkiran mall. Saat perjalanan pulang, tanpa sengaja Kalandra melihat Chaca berboncengan dengan Julian.


Kalandra menatap Chaca dari balik kaca mobilnya yang tertutup. Tiba-tiba saja Chaca turun dari motor dan berlari ke seberang jalan. Chaca menolong seorang nenek yang hendak menyebrang jalan dengan menggendong barang yang cukup berat.

__ADS_1


"Dibalik sifat judesmu, ada hati yang begitu mulia. Gadis tengil". Gumam Kalandra pelan sambil menatap Chaca dari dalam mobil.


__ADS_2