Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 77


__ADS_3

"Itulah saya. Maafkan Mas sayang. Mas terlalu buruk dimasa lalu". Chaca diam mendengarkan semua cerita Kalandra siang ini setelah menyelesaikan makan siang mereka.


"Sayang tetap akan bersama mas kan". Kalandra memeluk tubuh Chaca dari samping. Dia memohon kepada Chaca untuk kesalahannya.


"Mas, setiap orang memiliki masalalu. Tidak akan ada hari ini tanpa adanya masalalu. Chaca akan menganggap itu bagian kisah hidup mas yang sudah menjadi kenangan. Tapi Chaca minta cukup masalalu, jangan pernah ada disaat ini dan dimasa yang akan datang". Jawaban Chaca membuat Kalandra terharu.


"Terimakasih sayang. Terimakasih. Entah terbuat dari apa hatimu sayang. Kamu bisa menerima semua masalalu burukku". Kalandra memeluk erat Chaca. Chaca dan membalas pelukan suaminya.


"Sudah mas tak perlu dibahas lagi. Kita tata masa depan kita. Dan terimakasih sudah mau jujur dengan Chaca". Kalandra mengecup kening sang istri cukup lama.


"Sayang, jangan kembali ke kantor ya. Temani mas disini". Kalandra menampakkan sisi manjanya kepada Chaca.


"Maaf mas, Chaca ada meeting satu jam lagi". Kalandra nampak kecewa dengan jawaban Chaca. Namun dia juga mengerti posisi Chaca sebagai pimpinan.


"Hah, yasudah. Nanti mas jemput". Chaca segera bersiap untuk kembali ke kantor.


"Oke. Chaca tunggu". Mereka saling berpelukan sebentar. Kalandra mengecup bibir Chaca sekilas. Kalandra mengantar Chaca hingga lobby kantornya.


Semua karyawan melihat kearah Kalandra dan Chaca yang melewati ruangan mereka. Keromantisan mereka menjadi pusat perhatian para karyawan.


"Chaca pamit mas". Chaca menyalami tangan Kalandra dan menciuminya.


"Iya sayang. Hati-hati". Kalandra mengecup kening Chaca. Kalandra membuka pintu belakang mobil dan meminta Chaca untuk masuk.


"Pak, hati-hati bawa mobilnya". Kalandra berpesan kepada sopirnya untuk berhati-hati.


"Ya pak". Sopir Kalandra menjawab sambil mengangguk.


"Bye mas". Chaca melambaikan tangannya ketika mobilnya perlahan melaju.


"Bye sayang". Kalandra tetap berdiri didepan lobby hingga mobil yang ditumpangi Chaca sudah menghilang.


Kalandra kembali masuk kedalam ruangannya. Tumpukan dokumen sudah menunggu.


Hari berganti, bulan pun berlalu. Kalandra dan Chaca masih berada di tanah kelahiran mereka. Mereka kembali karena pernikahan Dzaky. Dan hingga saat ini, Chaca dan Kalandra masih bertahan ditanah kelahirannya.


"Mas, belum mau pulang. Masih betah disini". Tanya Chaca kepada Kalandra yang sampai saat ini masih menunda untuk pulang.


"Gak usah balik lagi gimana Yang". Chaca menatap Kalandra tajam, tapi bukannya Kalandra takut. Namun tertawa terbahak melihat ekspresi lucu Chaca.

__ADS_1


"Mas, Chaca ada beberapa proyek disana". Kalandra pun akhirnya tertawa.


"Oke, lusa kita kembali". Kalandra mengecup pelipis Chaca. Mereka sedang menikmati waktu bersama ditepi pantai.


"Sayang. Mas boleh tanya". Chaca mengangguk dalam pelukan Kalandra.


"Tanya aja mas". Chaca sama sekali tidak melepaskan pelukannya.


"Kapan kamu siap untuk program hamil sayang". Chaca mendongakkan wajahnya kearah Kalandra.


"Mas emang mau segera punya anak". Kalandra mengusap lembut pucuk kepala Chaca.


"Kamu tau kan sayang, usia mas semakin bertambah. Mas gak mau saat nanti kita punya anak, sudah tidak sanggup lagi buat gendong". Chaca tertawa dengan jawaban suaminya.


"Hahaha. Ya gak gitu juga mas". Kalandra memeluk erat tubuh Chaca.


"Makanya, kapan kamu siap". Chaca memang meminta untuk menunda sebentar keinginan Kalandra memiliki keturunan. Dan Kalandra hanya memberikan waktu menunda selama empat bulan saja.


"Aku siap mas. Kapanpun Tuhan menitipkan dia, Chaca siap menerima". Kalandra yang bahagia dengan jawaban Chaca. Kembali memeluk erat tubuh Chaca. Wajah Chaca habis diciumi oleh Kalandra.


"Terimakasih sayangku. Ayo kita gas. Malam ini kita menginap dihotel saja". Chaca kembali terbahak dengan jawaban Kalandra.


"Iyalah. Sesuatu yang baik tidak boleh ditunda sayang. Rasanya akan berbeda tanpa sarung". Chaca menatap Kalandra bingung.


"Sarung apa mas. Emang mas bawa sarung". Kalandra berbisik ditelinga Chaca.


"Sarung spesial si Jhon yang anti bocor". Chaca memukul lengan Kalandra.


"Mas mesum". Kalandra hanya terbahak saja melihat kekesalan Chaca.


Kalandra benar-benar membawa Chaca ke hotel tak jauh dari pantai. Chaca hanya bisa menggeleng dengan kelakuan Kalandra.


"Mas, kita gak bawa baju ganti". Chaca masih mencoba mencegah keinginan Kalandra.


"Gampang. Tinggal beli. Lagian nanti dikamar juga gak pake apa-apa". Chaca cemberut dengan jawaban Kalandra.


Mereka sudah berada dilobby hotel. Kalandra memesan kamar duluxe. Chaca hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya itu. Usai mendapatkan kunci kamar, Kalandra segera membawa Chaca masuk kekamar yang mereka pesan.


"Kita honeymoon lagi sayang". Perkataan Kalandra mengingatkan Chaca akan hal yang belum jadi mereka lakukan.

__ADS_1


"Kapan memangnya kita honeymoon mas. Kan belum jadi". Kalandra menepuk jidatnya karena melupakan hal itu.


"Maaf sayang. Karena pekerjaan kita yang terlalu banyak, mas jadi lupa. Ya udah anggap saja ini pemanasan sayang. Kita undur kepulangan kita. Mas akan atur liburan kita sekaligus honeymoon". Chaca hanya bisa diam pasrah saja. Kalandra tidak main-main dengan ucapannya.


"Mas, Chaca mau mandi. Tapi gak ada baju ganti". Kalandra tersenyum tipis. Chaca sepertinya lupa jika lawan bicaranya mesumable.


"Yuk sayang". Chaca kebingungan dengan jawaban Kalandra.


"Kemana kak". Kalandra mengangkat tubuh Chaca sebelum Chaca menyadari ucapan Kalandra.


"Mandi dong sayang". Chaca tidak bisa berontak karena Kalandra mengingjung tubuhnya.


"Let's play baby". Kalandra pun beraksi. Mandi yang harusny hanya tiga puluh menit, kini menjadi dua jam.


"Lama-lama Chaca ngembang direndam dibawah shower". Chaca menggerutu setelah mereka menyelesaikan kegiatan mandi plus-plus.


"Jangan cemberut. Ingat kamu sangat menikmati tadi sayang". Chaca semakin cemberut. Chaca mengeringkan rambutnya. Dan saat akan mengenakan pakaian, Chaca baru ingat jika mereka belum membeli pakaian.


"Mas, bajunya belum beli". Kalandra segera mengenakan pakaiannya tadi.


"Mas keluar sebentar. Mas akan belikan pakaian kamu sayang". Chaca mengangguk menjawab Kalandra. Chaca menunggu masih mengenakan bathrobe. Sambil memainkan ponselnya. Mereka lupa mengabari keluarga mereka jika mereka menginap di hotel. Chaca segera mengabari keluarganya.


Kalandra kembali setelah pergi selama tiga puluh menit. Kalandra membawa beberapa paperbag. Chaca masih berbicara melalui telepon dengan Julian. Hingga tak menyadari Kalandra datang.


"Sayang. Pake baju dulu". Kalandra memeluk tubuh Chaca dan sengaja mengatakan hal itu didekat ponsel Chaca.


"Mas. Jul udah dulu ya". Chaca yang panik segera menutup panggilannya.


"Mas kok ngomong gitu sih. Chaca kan malu sama Julian". Kalandra mencubit pipi Chaca karena gemas.


"Pake dulu baju kamu sayang". Kalandra menyerahkan paperbag itu kepada Chaca.


"Banyak banget mas beli". Kalandra melihat kedalam paperbag.


"Malam ini kamu pake yang ini ya sayang". Kalandra mengarahkan satu paperbag lagi kepada Chaca. Chaca membuka paperbag itu dan mengambil isinya.


"Mas, kenapa transparan gini bajunya". Lingerie berwarna merah menyala terpampang didepan wajah Chaca.


"Akan indah ditubuh kamu sayang. Macha harus pake itu malam ini". Kalandra mengedipkan matanya. Chaca hanya bisa pasrah.

__ADS_1


__ADS_2