
"Pak Kalandra ada di ruangan". Seseorang datang bertanya kepada resepsionis perusahaan Kalandra.
"Maaf hari ini pak Kalandra cuti ibu. Apakah ada pesan. Nanti saya akan sampaikan kepada sekretaris beliau". Hari ini Kalandra akan mengadakan syukuran dan perkenalan dikantor Chaca.
"Dalam rangka apa dia cuti". Tamu itu masih bertanya kepada resepsionis.
"Beliau ada acara bersama istrinya". Jawaban resepsionis tersebut membuatnya terkejut.
"Istri. Istri siapa. Jelas-jelas saya ini calon istrinya". Resepsionis perusahaan Kalandra hanya bisa diam menerima kekesalan dari tamu tersebut.
Tamu itu berusaha menghubungi Kalandra, namun tetap tidak ada jawaban sama sekali. Perempuan itu tak lain adalah Mela. Kalandra sengaja tidak mengundang Mela saat dia kembali menikah dengan Chaca.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Siapa wanita yang sudah dinikahi Kalandra. Gue akan cari tahu sendiri". Mela keluar dari perusahaan Kalandra dengan amarahnya.
Karyawan Kalandra yang mengetahui kedatangan Mela, menertawakan kekalahan Mela. Kalandra memang mengatakan akan cuti hari ini, tanpa memberitahukan hal lebih.
Saat ini Kalandra dan Chaca serta kedua orangtuanya sedang berada diperusahaan Chaca. Kabar bahagia yang mereka bawa memang cukup mengejutkan semua karyawan Chaca. Walaupun Kalandra pernah datang ke perusahaan Chaca, namun tak satupun ada yang mengenalinya.
"Wah saya tidak menyangka jika Bu Chaca sudah menikah. Saya pikir Bu Chaca masih sendiri. Padahal saya berniat menjodohkan dengan putra saya". Suara tawa terdengar ditengah obrolan beberapa senior diperusahaan Chaca.
"Begitukah. Tapi sayangnya saya sudah ada pemiliknya". Chaca memeluk lengan Kalandra. Chaca menyadari perubahan wajah Kalandra yang kesal.
Mereka menikmati makan siang bersama dengan kehangatan. Chaca sebagai pimpinan juga terkenal sangat baik dan royal. Chaca juga begitu menghormati dan menghargai para pegawai yang lebih senior.
"Ck. Sayang ayo pulang". Kalandra nampak begitu tidak semangat.
"Kenapa mas. Bukannya hari ini mau menemaniku disini. Ada yang harus aku kerjakan dulu mas". Chaca berusaha membujuk sang suami yang sedang kesal.
__ADS_1
"Huh. Baiklah". Walaupun dengan terpaksa, Kalandra tetap menyanggupi permintaan istrinya.
Acara syukuran mereka sudah selesai. Seperti halnya saat diperusahaan Kalandra, para karyawan kembali pada pekerjaan mereka. Kalandra sudah menemani Chaca didalam ruangannya. Wajah Kalandra masih tampak masam.
"Mas. Mas kenapa dari tadi cemberut. Gak biasanya loh mas kayak gini". Kalandra masih saja cemberut dan memukul pelan meja kerja Chaca. Karena Kalandra memang duduk didepan meja kerja Chaca.
"Mas kesal sayang". Chaca meletakkan penanya dan menggenggam tangan Kalandra agar Chaca tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan suaminya itu.
"Kesal kenapa mas. Kesal dengan Chaca atau kesal dengan yang lainnya". Kalandra memutarvarah duduknya dan menghadap Chaca.
"Gimana mas gak kesal. Didepan mas sendiri, kepala HRD mengatakan ingin menjodohkan kamu dengan putranya. Gak lihat apa mas ada disamping kamu". Chaca tertawa mendengar penjelasan Kalandra. Dan itu membuat Kalandra semakin kesal.
"Sayang. Kok ketawa sih. Senang ya kamu banyak yang mau jodohin". Kalandra semakin kesal dan itu membuat Chaca tertawa kencang.
"Mas. Mas ini aneh. Mereka hanya bercanda mas. Kenapa serius banget sih nanggepinnya". Chaca mengusap lengan Kalandra untuk menenangkan.
"Tapi mas tetap tidak suka sayang. Apa kamu tidak usah lagi bekerja sayang. Kalau kamu pengen kerja, diperusahaan mas saja". Mata Kalandra begitu berbinar sangat mengucapkan perkataan itu.
"Nanti mas yang bicara sama papa". Kalandra masih keras kepala dengan keinginannya.
"Mas. Percaya deh sama Chaca. Chaca bekerja menjalankan amanah papa. Mana mungkin Chaca tega untuk melepaskan kepercayaan papa. Dan ini juga kesempatan Chaca untuk membuktikan bakti Chaca dan juga menyalurkan ilmu yang Chaca perolehan selama dibangku kuliah". Saat Chaca berbicara, tatapan Kalandra selalu fokus kepada Chaca.
"Mas selalu percaya dengan kamu sayang. Mas juga sangat bangga dengan kamu. Jalan fikiran kamu juga dewasa. Baiklah, mas akan mengijinkan kamu sayang. Tapi ada syaratnya". Kalandra memberikan syarat kepada Chaca.
"Apa mas". Chaca tersenyum lembut dan tatapannya fokus kepada Kalandra.
"Apapun yang kamu alami, apapun yang kamu rasakan. Sesibuk apapun kamu. Mas minta, tetap jaga kesehatan dan jaga hati kamu itu yang paling penting. Selalu berikan kabar sama mas. Dan selalu beritahu apapun yang kamu alami ke mas". Kalandra mencium telapak tangan Chaca penuh sayang.
__ADS_1
"Pasti. Mas adalah rumah Chaca. Dan Chaca harap mas pun merasakan hal yang sama kepada Chaca. Chaca akan siap menjadi pendengar setia disetiap apapun yang akan mas ceritakan". Kalandra berdiri dan memutar agar bisa memeluk tubuh Chaca.
"Terimakasih sayang. Terimakasih. Meskipun terlambat menyadari, mas bahagia kamulah pasangan mas". Kalandra melepaskan pelukannya. Tatapan mereka saling beradu. Perlahan Kalandra mendekatkan bibirnya kearah bibir Chaca.
Cup
Satu kecupan mendarat dibibir tipis Chaca. Mereka masih saling bertatap. Dan kecupan kedua Kalandra berubah menjadi *******. Kalandra seolah lupa jika mereka masih ada dikantor. Aksi Kalandra terhenti karena seseorang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Chaca.
"Bagus. Kalian enak-enakan main lidah, gue capek sendiri ngurusin acara kalian". Dia adalah Rudi. Asisten Kalandra. Rudi masuk kedalam ruangan Chaca untuk melaporkan hasil kerjanya.
"Mengganggu saja". Chaca bersembunyi dalam dekapan Kalandra karena malu.
"Cha ngapain ngumpet. Awas pingsan ketek Andra kan bau". Rudi mengolok Chaca dan Kalandra sekaligus.
"Loe ada urusan apa nyari gue. Gak bisa apa ketuk pintu dulu". Kalandra tetap memeluk Chaca.
"Loe asyik perang lidah, gue ketuk sampai pegal juga loe gak akan dengar". Rudi memang sempat mengetuk pintu ruangan Chaca, namun tidak ada respon. Itu yang membuat Rudi masuk kedalam ruangan Chaca.
"Ya udah. loe mau apa". Kalandra duduk dikursi kerja Chaca. Sedangkan Chaca berada disampingnya.
"Mas, Chaca ke toilet dulu". Chaca segera keluar ruangan setelah Kalandra mengangguk.
"Gue mau laporan. Kerjaan semua beres. Tapi tadi dari kantor ada kabar. Mela nyariin loe. Dan kata karyawan disana, Mela kesal mendengar loe nikah". Kalandra diam mendengarkan penjelasan dari Rudi.
"Sepertinya gue harus ekstra jaga Chaca. Dan gue minta jangan sampai Mela tahu dimana kantor Chaca. Dia wanita nekad". Rudi paham maksud Kalandra. Dia segera akan menjalankan perintah Kalandra.
"Satu lagi. Chaca jangan sampai tau masalah ini". Rudi kembali mengangguk mendengar perintah Kalandra.
__ADS_1
"Ndra. Gue bahagia lihat loe yang sekarang. Gue harap loe bisa terus seperti ini. Chaca adalah jodoh sesungguhnya untuk loe. Jaga dia. Sayangi dia. Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu berpihak pada kalian". Rudi mengungkapkan rasa bahagianya melihat kehidupan Kalandra saat ini lebih baik. Tak lupa memberikan doa terbaik.
"Makasih Rud. Makasih juga selama bertahun-tahun loe selalu setia menemani gue. Gak bosan mengingatkan hal yang baik untuk gue. Dan semoga loe segera nyusul gue Rud. Mendapatkan yang terbaik juga". Mereka saling berpelukan. Sahabat dan sepupu yang saling menyayangi.