Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 18


__ADS_3

"Abang. Tolong panggil Chaca kesini. Papa mau bicara". Pak Rasyid sudah sampai malam tadi. Beliau tidak langsung menemui kedua putra putrinya.


"Iya pah". Dzaky berjalan menuju kamar Chaca. Bahkan Chaca tidak bangun untuk sarapan pagi karena terlalu lelah memikirkan solusi untuk kesalah pahaman yang sedang terjadi.


Tok tok


"Dek. Abang masuk ya". Dzaky mengetuk pintu kamar Chaca. Perlahan dia melangkahkan kakinya masuk kedalam untuk membangunkan Chaca.


"Dek, bangun yuk. Sudah ditunggu papa dan mama dibawah". Dzaky mengusap lembut pucuk kepala Chaca.


"Eugh. Papa sudah sampai bang". Chaca memang sangat mudah terusik dengan sedikit gerakan saja sudah bisa membangunkannya.


"Iya. Dari semalam. Sekarang kamu mandi dan temui papa". Chaca duduk bersandar menatap Dzaky.


"Bang". Dzaky tersenyum menatap adiknya. Dia paham akan rasa takut Chaca.


"Jangan takut. Ada Abang". Dzaky menggenggam kedua telapak tangan Chaca.


Dzaky keluar dari kamar Chaca dan kembali menemui kedua orangtuanya. Chaca segera membersihkan dirinya. Papa Chaca tidak suka menunggu lama.


"Pah, mah". Chaca segera datang menghampiri kedua orangtuanya dan memeluk mereka.


"Sayang, apa kabar". Tanya mama Chaca dalam dekapan putrinya.


"Chaca baik mah". Chaca beralih pada papanya.


"Pah". Chaca sedikit ragu mendekati papanya. Papa Chaca merentangkan kedua tangannya. Chaca pun berlari masuk kedalam dekapan papanya.

__ADS_1


"Maafkan Chaca pah". Lirih suara Chaca dalam dekapan papanya.


"Kita bicara dulu. Kamu duduk ya". Chaca mengurai pelukannya dan duduk disamping Dzaky.


"Chaca kamu makan dulu nak. Baru kita bicara". Mama Chaca segera menyiapkan sarapan untuk Chaca. Karena hanya Chaca yang belum sarapan, maka Chaca duduk sendiri dimeja makan. Kedia orantuanya dan Dzaky duduk ruang keluarga. Papa Rasyid menanyakan perkembangan perusahaan Dzaky.


Usai sarapan, Chaca menyusul keluarganya. Masih terdengar pembicaraan antara Dzaky dan papanya. Chaca kembali duduk disamping Dzaky. Papa Rasyid segera menyudahi diskusi bersama Dzaky. Dan mulai fokus dengan permasalahan Chaca.


"Ada yang ingin Chaca jelaskan sama papa. Karena sampai sekarang papa masih bingung dan kaget saat Dzaky tiba-tiba meminta papa pulang karena Chaca akan tunangan". Chaca menunduk tak berani menatap papanya. Dzaky terus menggenggam tangan adiknya memberikan kekuatan.


"Maaf pah, mah. Sebenarnya ini salah paham. Chaca hanya menolong bang Kalandra. Dia ingin terbebas dari kejaran mantan kekasihnya. Karena Chaca pikir bang Kalandra teman Abang, jadi Chaca membantunya. Itupun hanya sekali pah". Chaca diam melihat ekspresi kedua orangtuanya.


"Terus. Lanjutkan penjelasan kamu Cha". Mendengar suara tegas papanya, Chaca menelan salivanya sebelum melanjutkan.


"Habis kejadian itu kami gak pernah ketemu lagi pah. Chaca baru ketemu dia hari yang lalu. Itupun karena abang minta Chaca untuk antar berkas ke kantor bang Kalandra. Dan waktu Chaca mau pulang, mantan bang Kalandra datang lagi. Bang Kalandra sengaja mengatakan jika chaca tunangannya dengan maksud agar perempuan itu mau pergi menjauh. Tapi tak disangka kedua orangtua bang Kalandra datang tiba-tiba dan mendengar apa yang bang Kalandra ucapakan. Mereka juga memutuskan untuk segera menemui papa mama membahas hubungan kam. Yang sebenarnya hanya salah paham". Chaca menyelesaikan penjelasannya. Papa Chaca hanya diam menatap.


"Apa tidak bisa kalian langsung menjelaskan kepada orangtua Kalandra saat itu juga. Jadi gak sampai salah paham seperti ini". Papa Chaca masih ingin penjelasan lebih rinci dari Chaca.


"Loh kenapa. Bukannya malah tidak akan serumit ini jika kalian meluruskan sejak awal". Chaca menarik dalam nafasnya. Dia menceritakan semua mengenai orangtua Kalandra dan dibantu oleh Dzaky.


"Ck. Kalian terjebak dalam permainan kalian sendiri. Maju atau mundur kalian tetap tidak bisa bergerak bebas. Papa tidak akan sekecawa ini jika kamu setidaknya sudah memasuki usia dewasa. Kamu saja belum tujuh belas tahun. Sudah membahas mengenai pertunangan". Papa Rasyid juga bingung harus memutuskan seperti apa.


"Bang, mama mau tanya. Siapa keluarga Kalandra. Apa mama pernah mengenalnya. Seperti tidak asing nama itu". Dzaky mengangguk kecil sebelum menjawab.


"Kalandra Geraldin Aditya. Teman kuliah Abang mah. Dulu sering main kesini. Tapi jarang ketemu mama dan papa. Papanya bernama Geradin Pratama. Papa Dzaky sedikit mengingat nama itu yang tidak bergitu asing.


"Apa perusahaan kita pernah kerjasama dengan mereka sebelum ini bang". Pak Rasyid meminta bantuan Dzaky untuk mengingat nama itu.

__ADS_1


"Belum pernah pah. Mereka tinggal diluar negeri. Dan baru kembali belum lama. Dan sekarang Dzaky ada kerjasama dengan Kalandra dan teman-teman lainnya pah".


"Ah, mungkin perasaan papa saja seperti mengenal mereka". Karena tak mau ambil pusing, pak Rasyid kembali membahas mengenai Chaca.


"Pah, Chaca harus gimana sekarang. Apa Chaca jelaskan sebelum mereka datang kerumah". Terdengar suara helaan nafas dari papa Chaca.


"Ya sudah kita hadapi saja. Seperti apa alurnya kita ikuti nak. Papa minta kamu bisa ambil hikmah dari kejadian ini agar tidak terulang lagi dimasa depan". Chaca kembali pasrah dengan keputusan papanya. Dia harus mampu menghadapi.


"Kapan keluarga mereka akan datang bang. Agar mama bisa mempersiapkan jamuan". Mama Chaca sudah nampak lebih bersemangat lagi daripada sebelumnya.


"Nanti coba Abang tanyakan mah". Setelah pembicaraan itu usai, kedua orangtua Chaca memilih beristirahat. Perjalanan jauh dan lama membuat tubuh mereka lelah.


Chaca duduk didekat kolam renang. Dzaky sedang mengawasi Chaca dari balik jendela kaca. Dzaky segera menghubungi Kalandra dan memberitahukan jika kedua orangtuanya sudah tiba. Usai menutup panggilannya, Dzaky mendekati Chaca.


"Ada apa". Perlahan Dzaky duduk disamping Chaca. Mereka mengayunkan kaki didalam kolam.


"Gue bingung bang. Gue kira papa akan langsung ambil keputusan untuk menolak permintaan teman Abang. Tapi nyatanya papa sendiri masih ngambang". Dzaky tersenyum tipis sambil menatap kakinya yang terendam air.


"Papa juga gak mau ambil resiko. Jika tadi papa langsung menghubungi keluarga Kalandra, bisa dipastikan berita duka segera kita dengar". Chaca mengangguk setuju. Mau tak mau dia harus tetap melanjutkan ini.


"Gapapa dek, setidaknya jika loe gak merasa cocok masih ada kesempatan untuk berpisah. Tapi jika status loe sudah istri akan sulit untuk kalian berpisah". Chaca hanya diam mendengarkan nasehat abangnya.


"Terimakasih bang. Abang sudah selalu ada untuk Chaca". Mereka saling berpelukan.


"Loe adik gue Cha. Walaupun nyebelin. Cuman loe yang gue punya setelah papa dan mama. Gue janji akan selalu ada untuk loe cha". Melihat mereka akur adalah suatu hal menakjubkan. Dan saat ini kedua orangtua mereka sedang memperhatikan dari dalam kamar.


"Pah lihat deh. Tom and Jerry lagi akur". Mama Chaca berdiri menghadap jendela. Pak Rasyid segera berdiri dibelakang badan istrinya.

__ADS_1


"Papa bangga melihat Abang mah. Abang bisa melindungi adik hingga saat ini. Papa tau, papa jarang ada buat mereka. Maafkan papa mah". Pak Rasyid memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Tidak pah. Jangan meminta maaf. Mama tau papa melakukan ini untuk keluarga. Yang penting papa harus tetap sehat. Jangan lupa papa minum obat rutin. Dan check up". Papa Chaca hanya mengangguk menjawab perkataan istrinya.


__ADS_2