Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 12


__ADS_3

"Cha, liburan mau kemana". Chaca dan teman-temannya sedang makan dikantin sekolah. Hari ini hari terakhir mereka ujian. Dan mereka sudah menyelesaikan satu jam yang lalu. Karena lapar, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang.


"Gue gak tau. Kalian mau kemana". Tanya Chaca kepada teman-temannya.


"Kalau saya mau mudik ke Jogja mbak Chaca". Jawab Dita yang memang asli Jogja.


"Gue balik ke Bandung kayaknya. Tapi gak tau juga. Nunggu papa nanti gimana". Keluarga Dito lebih banyak di Bandung.


"Loe Fan mau kemana". Tanya Chaca kepada Fani si kulkas berjalan.


"Tidur". Jawaban singkat Fani yang sudah bisa mereka tebak.


"Loe jadi ikut Abang loe Jul". Tanya Dito kepada Julian. Sebelumnya Julian memang bercerita tentang ajakan abangnya.


"Iya. Gue berangkat sebelum ambil raport". Chaca menghentikan suapan kedalam mulutnya mendengar perkataan Julian.


"Kok cepat banget Jul. Gak nunggu nilai keluar dulu. Emang loe gak penasaran sama nilai loe". Julian menatap Chaca. Julian tahu jika Chaca terkejut mendengar perkataannya tadi. Hanya saja Chaca menutupinya.


"Abang jatah liburnya udah habis. Dan Abang gak ijinin gue berangkat sendiri. Apalagi ini pertama kali gue kesana. Abang takut gue nyasar". Mendengar penjelasan Julian Chaca mengangguk saja.


"Cha, bukannya papa loe sering ke luar negeri ya. Kenapa loe gak ikut aja". Pertanyaan Dito, sangat membuat malas untuk Chaca jawab.


"Yang ada gue jadi tahanan rumah kalau nyusul papa. Gak ada bedanya liburan gue sama si Fani. Cuma bedanya gue pindah tidur keluar negeri". Teman-teman Chaca tertawa mendengar perkataan Chaca.


Karena mereka sudah kenyang, mereka pun pulang kerumah masing-masing. Kali ini Chaca membawa mobil, karena motor kesayangannya sedang dibengkel. Chaca melajukan kendaraannya sangat santai. Karena jalanan juga lumayan padat.


Setibanya dirumah, Chaca segera beristirahat. Chaca hanya sendiri, karena Dzaky masih berada dikantornya. Chaca ingin sekali memejamkan matanya. Namun itu sangat susah.


"Pengen tidur tapi mata gak mau diajak kerjasama. Ck. Menyebalkan". Chaca kembali beranjak dari ranjang. Dia berdiri di balkon kamarnya. Menatap jalanan kompleks yang sepi disiang menjelang sore.


"Bahkan kucing aja gak ada yang lewat. Bosen juga". Chaca berbicara sendiri. Dia berjalan menuju almari dan mengambil pakaian.


"Mending main bentar. Daripada bengong dirumah". Chaca mencoba mengirim pesan kepada teman-temannya. Dan semua temannya sedang tidak bisa menemani Chaca.


Chaca kembali mengendarai mobilnya. Dia berkeliling saja tanpa ada tujuan. Karena merasa lelah, Chaca memutar kemudinya menuju pusat perbelanjaan. Berjalan-jalan seorang diri membuat Chaca seperti anak itik kehilangan induknya.

__ADS_1


"Laper. Makan dulu aja deh". Chaca bergumam sendiri. Dia berjalan menuju tempat area makan.


Sambil melihat-lihat nama setiap stand penjual makanan, Chaca mulai tertarik pada satu makanan. Chaca masuk kedalam resto tersebut. Berjalan mencari kursi kosong dan memesan makanan. Sambil menunggu makanan, Chaca mendengarkan musik. Sebelum berangkat, Chaca sempat membawa novel dari rumah. Dan dia membaca novel tersebut saat ini.


"Hai. Maaf lama menunggu ya beib". Chaca yang sedang minum hampir saja tersedak karena ulah seseorang yang memanggilnya 'beib' dan berdiri dihadapannya kini.


"Hah". Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Chaca.


"Maaf ya. Tadi aku ada meeting dadakan. Jadi telat kesininya. Kamu udah lama nunggu disini sayang". Chaca membulatkan matanya ketika pria itu tanpa permisi mencium keningnya. Nampak Chaca akan mengamuk, namun pria itu memberi kode meminta bantuan. Chaca pun memahaminya.


"Ah. Gak papa kok sayang. Belum lama juga. Maaf ya aku lapar, jadi makan duluan sebelum kamu datang". Suara Chaca dibuat semerdu mungkin.


"It's okay beib. Aku kan selalu bilang gak perlu nunggu aku kalau kamu memang sudah sangat lapar". Chaca tersenyum manis kearah pria itu. Dan mata Chaca teralih pada sosok wanita dewasa dibelakang pria tadi yang sudah menatap tajam Chaca.


"Sayang bawa siapa kesini". Tanya Chaca sambil menatap kearah wanita tadi.


"Hanya teman beib. Yasudah kamu habiskan makannya. Terus kita shopping". Seperti layaknya kekasih yang sebenarnya, Chaca memeluk pria itu dan mengucapkan terimakasih.


Wanita yang terus menatap Chaca, berjalan kehadapan Chaca, dan memperkenalkan dirinya.


"Ndra. Dia siapa". Tanya Gwen kepada Kalandra. Kalandra menggenggam tangan Chaca sebelum memperkenalkan siapa Chaca.


"Kenalkan dia tunangan saya. Jadi tolong jangan lagi mengganggu saya". Tegas Kalandra kepada Gwen.


"Hai Tante. Kenalkan saya Marisa". Chaca mengulurkan tangannya, namun tak ditanggapi oleh Gwen.


"Loe bohong kan Ndra. Gue yakin loe masih cinta sama gue. Dia masih kecil untuk kamu jadikan tunangan". Gwen terus mencecar Kalandra.


"Untuk apa saya bohong. Alasan saya kembali kesini karena Chaca. Tak masalah dengan umur. Yang penting bisa menghargai". Karena kesal dengan tuduhan Gwen, Kalandra pun menjelaskan dengan suara yang begitu dingin.


Gwen pergi meninggalkan Kalandra dan Chaca. Chaca duduk sambil menatap tajam Kalandra. Bisa-bisanya dia datang dan mengusik ketenangan Chaca yang sedang menyantap makanannya. Kalandra yang merasa ditatap segera meminta maaf.


"Maafkan saya Cha. Saya terpaksa biar tuh orang segera pergi". Kalandra menanggkupan kedua telapak tangannya didepan dada sebagai permintaan maaf.


"Lalu kenapa harus Chaca. Pake cium-cium. Emang Chaca cewek apaan". Dengus Chaca pelan tapi tetap bisa didengar Kalandra.

__ADS_1


"Iya maaf. Abang terpaksa lakuin itu. Biar tuh perempuan pergi" Jelas Kalandra kepada Chaca.


"Lagian dia siapa om. Mantan om ya". Mendengar Chaca memanggilnya dengan sebutan 'om' membuat Kalandra berdecak pelan.


"Cha, panggil Abang aja kenapa. Gue sama Dzaky seusia Cha". Kalandra memprotes Chaca mengenai panggilan itu.


"Gue manggil dia aja Marjuki. Kadang om. Gak salah kan". Chaca kembali menikmayi makanannya yang sempat tertunda.


"Terserah deh. Loe main sendirian Cha". Chaca hanya mengangguk tak mau menjawab karena fokus dengan makanannya. Kalandra pun ikut memesan makanan.


Chaca melirik kearah luar resto yang menghadap kearahnya. Dia tersenyum disudut bibirnya.


"Om. Mantan loe masih mantau tuh. Dari balik tembok". Ucap Chaca tanpa melihat kearah Gwen. Kalandra mengeluarkan ponselnya. Dia menyalakan kamera depan untuk melihat keberadaan Gwen.


Dan benar saja Gwen masih mengawasi mereka. Kalandra meminta bantuan kepada Chaca untuk memainkan sandiwara.


"Ogah om. Cari yang lain aja". Tolak Chaca. Jika dilihat dari jauh, Kalandra dan Chaca memang seperti pasangan. Karena Kalandra berbicara begitu dekat dengan Chaca.


"Ayolah Cha. Nanti Abang kasih tambahan jajan". Chaca melirik sebentar kearah Kalandra.


"Ogah. Chaca punya banyak uang". Chaca kembali menolak. Bahkan Chaca beranjak pergi. Kalandra yang terkejut, ikut menyusul Chaca.


Tiba-tiba…


"Sayang. Aku mau cari buku dulu. Anterin dong". Sikap Chaca berubah manja saat akan melewati pintu keluar. Kalandra tersenyum tipis.


"Apapun untukmu beib". Kalandra merangkul pundak Chaca. Tinggi Chaca baru sebatas dada Kalandra.


Gwen mengepalkan tangannya. Dia tidak suka jika apa yang diinginkannya diganggu. Gwen melangkah pergi. Selama Gwen menemui Kalandra ditempat umum, dia selalu menggunakan penyamaran. Karena dia seorang model ternama.


"Lepasin. Cari kesempatan aja loe om". Chaca melepaskan lengan Kalandra dari pundaknya.


"Makasih ya Cha. Beneran mau ketoko buku". Melihat langkah Chaca yang benar-benar menuju toko buku.


"Ya benar dong. Emang om udah tua suka bohong. Ingat umur om. Jangan sampai pas lagi asyik bohong disapa malaikat". Kalandra diam melongo mendengar ucapan Chaca. Chaca masuk kedalam toko buku dan mencari novel. Sedangkan Kalandra pergi meninggalkan tempat tersebut karena Rudi sudah menelponnya.

__ADS_1


__ADS_2