
Joelene sudah tiba Dirumah, Alvin sudah terlelap karena sudah larut malam, sejak sore dia sudah menunggu kepulangan Joelene karena ingin menghubungi David menggunakan ponsel Joelene, meminta David datang, hingga akhirnya dia pun terlelap.
Rasa bersalah menghantui Joelene, dipandangnya lekat - lekat wajah imut yang terlihat semakin manis itu saat sedang terlelap.
Dibelainya pipi lembut seperti marsmellow itu, tatapannya sendu, air mata sudah menggenangi kelopak matanya dan siap meluap membasahi pipi Joelene.
Egois memang jika Joelene menjauhkan putra semata wayangnya dari ayah kandungnya, namun mengingat sakit hati yang dia rasakan dulu, membuat Joelene enggan untuk mempertemukan Alvin dengan Kevin, meskipun Kevin sudah yakin Alvin adalah anak kandungnya.
Sementara itu, David yang kian gencar mendekati Alvin hingga Alvin menganggap David lah Ayah kandungnya membuat Joelene semakin pusing bagaimana cara menjelaskan pada Alvin.
Joelene pun berbaring disebelah putranya sambil mencium dan memeluk tubuh mungil yang tengah terlelap itu, hingga akhirnya Joelene pun terlelap.
Pagi harinya, Joelene terbangun oleh suara Alvin yang menggoyang kan tubuhnya memintanya segera bangun, padahal jam masih menunjukkan pukul 05.00, Joelene masih enggan bangun dari pembaringannya, merasa lelah karena kejadian kemarin, ditambah lagi hari ini adalah hari Sabtu.
“Mommy... bangun Mommy,, ayo telpon om Daddy, Aal mau main sepeda Mommy, om Daddy janji mau ajalin Aal naik sepeda, ayo telpon sekalang” rengek Alvin sambil terus mengguncang lengan Joelene dengan mata yang masih terpejam.
Joelene perlahan membuka mata sambil meraih ponsel diatas nakas tepat disebelah tempat tidur, untuk melihat jam.
“Sayang... ini masih terlalu pagi nak, om Daddy masih tidur, bentar lagi ya kita telpon om Daddy, om Daddy kan juga capek seminggu kerja terus kaya Mommy, jadi ini hari libur kerja om Daddy pasti istirahat, nanti agak siangan aja ya kita telpon om Daddy nya”
“Gak mau!! Aal mau nya sekalang, kalau agak siang ntal panas Mommy, Aal ntal kelingetan telus galuk - galuk, sekalang aja Mommy ayo telpon sekalang” Alvin masih merengek.
“Bentar dulu sayang,, Mommy belum cuci muka terus sikat gigi, ntar om Daddy kebau an lagi, sebentar ya anak Mommy yang bawel!!” Ucap Joelene sambil mencubit lembut pipi gembul Alvin dan beranjak dari pembaringannya.
Joelene masih sangat mengantuk dan rencananya dia hari ini mau bermalas - malasan, karena seminggu belakangan ini dia begitu sibuk.
Setelah selesai mencuci muka dan menyikat gigi, Joelene pun disambut Alvin yang sudah berdiri Didepan pintu kamar mandi, yang sudah tidak sabar.
“Duhh!! Anak Mommy yang bawel gak sabaran banget sih!! Kita turun dulu ke bawah ya, liat oma masak sarapan apa pagi ini” ucap Joelene untuk mengalihkan perhatian Alvin dan mengulur waktu agar Alvin lupa.
Saat tiba di lantai satu, semua sudah bangun dan melaksanakan aktivitas masing - masing.
Bude Mieke yang dibantu ART tengah sibuk didapur menyiapkan sarapan, Ica masih belum terlihat, mungkin masih menyatu dengan kasurnya, oma sedang olah raga ringan ditaman belakang yang ditemani pakde Aldo, namun terdengar pakde Aldo seperti sedang mengobrol dengan seseorang bersuara laki - laki, rasanya bukan suara oma.
“Hayo... Mommy,, telpon om Daddy sekalang, Aal mau belajal sepeda..!” Alvin masih merengek sambil menarik - narik tangan Joelene.
Saat Joelene meraih ponsel dan bersiap memencet nomor kontak David, tiba - tiba saja suara yang mengobrol dengan pakde tak terdengar lagi
“Hai... jagoan,, udah siap ?” Ucap David yang muncul dari taman belakang
Seketika wajah Alvin berbinar melihat David sudah ada Dihadapannya, kemudian berlari menerjang tubuh David, David pun merentangkan tangannya bersiap menyambut tubuh gembul itu, seperti pertemuan ayah dan anak yang sudah lama terpisah, keduanya berpelukan lalu David mengangkat tubuh Alvin keatas pundaknya dan Alvin berpegangan kepala David.
“Aal.. gak boleh gitu,, ga sopan nak, hayo turun, ga boleh pegang - pegang kepala orang tua nak” ucap Joelene meminta anaknya segera turun merasa tidak enak.
__ADS_1
“Mommy... kalau Aal gak pegang kepala om Daddy, telus Aal pegangan apa dong? Aal ntal jatoh Mommy..” ucap lugu Alvin membuat David tersenyum geli mendengarnya, sementara Joelene merasa tidak enak atas tingkah anaknya pada David.
“Udah gak apa Joan, lagian Aal bener, kalau dia gak pegang kepala aku terus dia mau pegangan apa, udah gak apa kok” ucap David sambil masih menggendong Alvin dipundaknya.
“Om Daddy, ayo kita ke taman, katanya mau ajalin Aal naik sepeda ?”
“Ok.. siap.!!” Ucap David kemudian menurunkan Alvin dari pundaknya dan Alvin pun bersiap mengambil sepedanya.
“Dave, maaf ya Alvin udah gerecokin kamu pagi - pagi, dari tadi sejak bangun dia udah minta aku telpon kamu, harusnya hari ini kan hari istirahat kamu, sekali lagi maaf ya” ucap Joelene merasa tidak enak pada David.
“Kamu ngomong apa sih Joan, gak ngerepotin sama sekali kok, aku juga kalau Dirumah walau hari libur aku cepat bangun olah raga ringan, kalau masih sempat aku jogging, santai aja Joan, seperti orang lain aja”
Alis Joelene mengkerut mendengar ucapan David terakhir, lalu terdengar suara Alvin
“Om Daddy,,, ayo kita ke taman..” ajak Alvin sambil mendorong sepedanya
“Oke..! Aal bisa kan naik sepedanya ? Nanti udah ditaman baru om Daddy lepas roda bantuannya ya”
“Oke om Daddy, Mommy juga ikut ya”
“Mommy Dirumah aja ya nak, mau Bantuin oma buat sarapan, Aal sama om Daddy aja gak apa ya?”
“Ga mau!! Aal maunya sama Mommy dan om Daddy, ayo Mommy ikut aja” pinta Alvin, David tersenyum samar, namun dihatinya berharap Joelene mau ikut bersama.
Lengkungan senyum terpancar diwajah David, tanpa instruksi dari nya, Alvin sepertinya mengerti isi hati David, setelah Joelene tak terlihat, David mengacungkan jempolnya kearah Alvin lalu mengangkat telapak tangannya kearah Alvin memberikan tos lalu mereka menaruh jari jempol dan telunjuk nya dibawah dagu yang biasa mereka lakukan.
Tak lama Joelene sudah kembali dan bergabung bersama mereka untuk menuju taman seputaran areal perumahan.
Sambil berlari kecil, David dan Joelene mengikuti Alvin menggowes sepedanya yang masih menggunakan dua roda bantuan dibelakang menuju taman.
Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, sepasang suami istri dan satu anak mereka.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di areal taman, ada beberapa orang yang juga sedang berolah raga disana.
David menaikkan roda bantuan sepeda Alvin, setelah itu Alvin pun mulai menaiki sepedanya sambil masih dipegangi David.
Perlahan David mendorong dari belakang, lalu berlahan - lahan David mulai melepaskan pegangannya pada sepeda Alvin dan sepeda pun mulai berjalan, namun tiba - tiba Alvin hilang kendali, karena gugup hingga arah sepeda tak terkendali lalu menabrak trotoar.
“Daddy......!!” Teriak Alvin
David pun berlari mengejar Alvin yang sudah terjatuh dipinggiran trotoar, Joelene pun ikut mendekat.
Lutut dan siku Alvin terluka dan berdarah, wajahnya sudah mengeluarkan air mata, begitu David mendekat, Alvin langsung memeluk tubuh David seperti seorang anak yang meminta perlindungan pada Ayahnya.
__ADS_1
David pun memeluknya erat, menghapus lembut punggung Alvin menenangkan.
Joelene menatap keduanya sendu, sepertinya Alvin sangat merindukan sosok seorang Ayah dan itu didapatnya dari David.
“Gak apa - apa sayang, jagoan ga boleh cengeng dong, masa luka segitu aja nangis, namanya belajar pasti ada jatuhnya, udah jangan nangis lagi ya nak, kita obati lukanya ya” ajak David sambil melepaskan pelukannya dan beralih pada luka di lutut dan siku Alvin.
Joelene membelai lembut rambut putra kesayangannya itu lalu menagup kedua pipi gembul itu
“Jatuh itu biasa sayang, kalau mau pinter naik sepedanya harus jatuh dulu, jadi biar Alvin lebih hati - hati lagi bawa sepedanya, sini duduk dekat Mommy” Joelene menarik Alvin duduk disisinya dibatu yang berbentuk persegi panjang di sekitar areal taman, sementara David sedang pergi ke mini market yang letaknya tak jauh dari taman untuk membeli obat dan minuman.
Setelah kembali dari mini market, David menyerahkan sebotol air mineral pada Alvin, membukakannya lalu meminumnya, lalu David juga menyerahkan sebotol lagi pada Joelene, membukakan nya agar Joelene meminumnya juga.
“Minum dulu Joan”
Setelah Joelene menerimanya lalu meminumnya, Joelene sadar David hanya membeli dua botol air mineral.
Saat David mengobati luka Alvin, kemudian Joelene bertanya
“Terus kamu minumnya mana, kok cuma dua botol ? biar aku beli lagi ya” Joelene hendak beranjak menuju mini market membeli minuman untuk David, namun David menahan lengan Joelene, membuat Joelene menoleh kearah David.
Tatapan mereka pun bertemu, terdiam beberapa detik, lalu David meraih botol minuman Joelene yang ada digenggamannya lalu membukanya dan kemudian meminumnya.
Joelene hanya terdiam menatap David yang dengan lahapnya minum dari botol bekas bibir Joelene.
“Ciee... om Daddy sama Mommy sebotol beldua,,,” goda Alvin yang sudah berhenti menangis.
David kemudian tersenyum dan mengacak lembut rambut Alvin, sementara Joelene terlihat salah tingkah.
Alvin pun kembali mengajak David untuk belajar bersepeda dengan hanya dua roda saja, beberapa kali terjatuh namun tidak terlalu parah seperti diawal tadi, hingga akhirnya Alvin pun bisa mengendarai sepedanya tanpa dua roda bantuan.
Alvin terlihat asyik karena sudah lancar, sementara David dan Joelene yang duduk bersebelahan sambil memperhatikan Alvin dari jarak yang tidak terlalu jauh.
“Dave.. Makasi ya.. kamu udah mau direpotkan Alvin, tapi kamu jangan terlalu memanjakan dia, aku takut dia terlalu bergantung pada kamu hingga suatu saat nanti jika kamu sudah menikah, Alvin akan begitu kehilangan kamu, dia kalau udah sayang sama seseorang, susah untuk move on”
“Joan... kamu ini ngomong apa sih, siapa yang mau pergi dan siapa juga yang mau menikah, yang mau diajak nikah aja belum ada, emang menikah itu segampang belajar naik sepeda ?” Ucap David sambil tetap mengawasi Alvin.
“Ya mana aku tau kamu udah punya pilihan apa belum, kamu nya juga gak pernah kenalin ke aku”
“Menikah itu bukan perkara gampang Joan, banyak yang harus dipertimbangkan dalam memilih pasangan, aku gak mau gagal lagi” ucap David yang sontak membuat Joelene mengerutkan alisnya.
“Maksudnya gagal lagi ??” Tanya Joelene memintan penjelasan
“Iya.. gagal lagi.. seperti pernikahanku sebelumnya” ucap David.
__ADS_1