
Suci sedang bersiap - siap menuju Bogor, hari Ini rencananya dia akan menemui Joelene, rasa kangen pada Alvin yang diyakininya adalah cucunya membuat dia menanggalkan gengsi yang dimilikinya.
Sudah lama Suci berniat untuk mengunjungi Joelene, namun baru kali ini dia memiliki keberanian, didorong rasa kesepian dan rindu yang kian memuncak, hingga hari ini Suci berniat meminta maaf pada Joelene.
“Jalan pak..” perintah suci pada sopir pribadinya yang sudah lama bekerja dengan keluarganya.
Rasa bahagia terpancar dari wajah Suci, karena akan bertemu dengan menantu dan cucu yang sangat dirindukannya.
Rasa percaya diri akan dimaafkan dan diterima Joelene, membuat Suci terlihat begitu bersemangat sekali, dia juga sudah menyiapkan hadiah untuk cucu satu - satunya itu.
Tiga jam perjalanan, hingga akhirnya mobil yang membawa Suci pun tiba dihalaman rumah oma.
Masih pukul 16.00 Joelene belum pulang kerja, jadi Suci memiliki kesempatan untuk bermain dengan cucu kesayangannya itu.
Suci pun memencet bel, sambil membawa beberapa bingkisan yang nantinya akan diberikan pada Alvin.
Pintu terbuka, Mieke terlihat membukakan pintu untuk Suci.
“Selamat sore, apa Joelene ada ?” Ucap Suci
“Sore, Joelene belum pulang kerja, Ibu ini siapa ya ?” Tanya Mieke ramah
“Saya Suci..” ucap Suci ramah sambil mengulurkan tangan, tapi tidak menjelaskan siapa dia sebenarnya.
“Saya Mieke, bude nya Joelene, ayo silahkan masuk bu Suci” sambut Mieke uluran tangan Suci dan mempersilahkannya masuk.
“Silahkan duduk bu” Mieke mempersilahkan Suci duduk sambil berpamitan kedalam untuk menyiapkan minuman.
Selama Mieke didalam, Suci mengedarkan pandangannya diruang tamu yang cukup luas dan sederhana, tertata rapi dengan beberapa tanaman hias yang sangat memanjakan mata, ada monstera variegata, Anthurium dan aglonema golden hope.
Kemudian Suci beralih pada dinding rumah yang tersusun rapi bingkai foto - foto keluarga.
Terdapat foto keluarga yang didalamnya ada oma, opa, pakde Aldo dan Mommy Clara.
Ada juga foto keluarga pakde Aldo, bude Mieke dan Ica, juga ada kumpulan beberapa foto Alvin yang berbentuk mozaik, mulai dari saat Alvin baru dilahirkan Dirumah sakit, Lalu saat usia Alvin satu tahun, dua tahun, tiga tahun sampai usianya menginjak empat tahun.
Suci tersenyum melihat foto - foto lucu itu, lalu pandangan Suci beralih pada satu foto berukuran post card dengan bingkai minimalis berwarna coklat kayu, dimana Alvin sedang menendang bola dengan wajah ceria kearah seorang pria yang membelakangi kamera hingga wajahnya tidak terlihat.
Suci sangat penasaran pada sosok pria muda yang ada dalam foto tersebut, apakah Joelene sudah menikah lagi atau mungkin saja masih ada hubungan saudara dengan mereka.
Saat Suci masih menatap foto dalam bingkai coklat tersebut, tiba - riba terdengar suara serak dan imut mendekat kearah ruang tamu.
“Mommy.. Mommy udah pulang ?” Ucap Alvin dengan wajah yang masih terlihat mengantuk karena baru bangun dari tidur, Suci pun menoleh kearah suara imut itu.
“Alvin.. sini sayang...” ucap Suci melambaikan tangan meminta Alvin mendekat.
__ADS_1
Alvin tak langsung mendekat, ditatapnya wajah asing yang sedang tersenyum padanya itu, namun posisinya masih berdiri ditempat semula.
“Ini oma, masih ingatkan ?”
Lama Alvin menatap kearah Suci mencoba membuka kembali memori ingatannya.
“Oma,, mau ketemu Mommy ya ?”
“Iya sayang, mau ketemu Alvin juga, sini duduk dekat oma, oma ada sesuatu buat Alvin” Ucap Suci dengan mengulas senyum.
Alvin berjalan mendekat kearah Suci dan duduk persis disebelah Suci, sambil memperhatikan bingkisan-bingkisan yang dibawa Suci.
“Oma kok bawa banyak kado, emangnya siapa yang ulang tahun ?”
tanya Alvin setelah memperhatikan beberapa bungkusan yang dibawa Suci yang di bungkus rapi dengan kertas kado.
“Ini semua buat Alvin, Alvin mau kan ?”
Alvin hanya diam menatap bergantian Suci dan bungkusan yang dibawa Suci.
“Tapi Aal belum ulang tahun kok, kata Mommy ulang tahun Aal masih lama” jawaban polos yang keluar dari bibir Alvin membuat Suci merasa gemas, sambil mengusap rambut Alvin dan membelai pipi gembul itu.
“Begitu ya..? Habisnya oma gak tau Alvin ulang tahunnya tanggal berapa, jadi oma bawa aja deh hadiahnya sekarang, emangnya Alvin ulang tahunnya tanggal berapa sih ?”
“Oh... begitu ya,, iya sih masih lama, ini juga baru bulan Februari, tapi gak apa deh, anggap aja oma memberi hadiah diawal, ini buat Alvin” sambil menyerahkan semua bingkisan yang dibawanya pada bocah kecil itu.
“semua oma ? Ini kebanyakan oma”
“Anggap saja ini kado dari oma sejak Aal ulang tahun dari yang ke 1, 2, 3 sampai 4 tahun, kemarin - kemarin kan oma belum pernah kasi Aal kado pas ulang tahun Aal”
“Tapi ini kadonya ada 5, Aal belum 5 tahun oma, masih 4 tahun, jadi Aal kembaliin Satu ke oma ya” dengan wajah polosnya, Alvin mengembalikan satu kado ke Suci, karena merasa belum berusia lima tahun.
Tawa Suci meledak mendengar ucapan polos Alvin, hingga sakin gemasnya, dia mendaratkan ciuman di pipi gembul milik Alvin.
Kemudian Mieke keluar dari dalam sambil membawa nampan berisi teh dan camilan.
“Duh... asik banget ngobrolnya, lagi ngobrolin apa sih cucu tergantengnya nenek, Eh.. udah salim belum sama oma Suci?” Ucap Mieke sambil menaruh minuman dan camilan dimeja.
“Oh iya.. Aal lupa, terima kasih ya oma” Ucap Alvin sambil mencium tangan Suci.
“Sama - Sama sayang, dibuka dong kadonya” Ucap Suci
Alvin menoleh kearah Mieke seperti meminta izin, lalu dibalas senyuman dan anggukan oleh Mieke pertanda memberi izin.
Dengan semangat, Alvin membuka kado yang dibawa Suci satu per Satu.
__ADS_1
“Silahkan diminum tehnya Bu Suci”
“Terima kasih” Jawab Suci meraih minuman yang sudah disuguhkan.
Alvin sangat antusias membuka hadiah - hadiahnya, semua sesuai keinginannya, selama ini dia beberapa kali meminta pada Mommy nya, namun karena harga mainan tersebut lumayan mahal, Joelene memberi pengertian dan mengalihkan pada mainan lain yang lebih murah.
Alvin asik bermain dengan mainan barunya, Suci dan Mieke mengobrol santai, meskipun Mieke belum tau siapa Suci, namun Mieke pernah mendengar cerita dari Oma bahwa mantan mertua Joelene pernah mengunjungi mereka.
Joelene pulang dari kantor, melihat ada mobil mewah yang terparkir didepan gerbang, seperti mengenal mobil yang berwarna putih itu, dia pun langsung masuk kedalam rumah.
Seketika obrolan Mieke dan Suci terhenti melihat Joelene yang muncul didepan pintu.
“Joelene, apa kabar ?” Ucap Suci tersenyum ramah menyapa Joelene
Wajah Joelene sedikit terkejut, melihat kehadiran Suci dirumah, tatapannya pun mengarah pada Alvin yang sedang asik memainkan mainan barunya.
“Mommy... Mommy udah pulang ?” Ucap Alvin sambil mendekat kearah Joelene lalu mencium tangan Joelene dan Joelene mencium pipi Alvin.
“Iya sayang, wah... Aal banyak banget mainannya dari mana sayang ?” Tanya Joelene
“Ini hadiah dari oma Suci, kata oma hadiah ulang tahun, padahalkan ulang tahun Aal masih lama, Cuma kata oma ini kado ulang tahun Aal dari ulang tahun yang ke 1, 2, 3 dan 4, ohya.. mommy kado ulang tahun Yang ke 5 juga udah dibawa oma, padahal kan ulang tahun Aal masih lama” Ucap Alvin bersemangat.
Joelene tersenyum melihat tingkah putranya yang begitu bersemangat menceritakan sejarah dia mendapatkan hadiah yang begitu banyak dari oma Suci, kemudian Joelene pun tersenyum dan mengacak rambut Alvin.
“Duhh... anak Mommy pinter banget sih,,, udah bilang Terima kasih ?”
“Udah dong Mommy” Ucap Alvin sambil mengacungkan jempolnya.
“Anak pinter udah lanjut mainnya ya, Mommy mau ngobrol sama oma dulu ya” ucap Joelene kemudian beralih pada Mieke dan Suci.
Joelene pun beralih menyapa mantan mertuanya itu.
“Apa kabar bu? Ada apa ibu datang kesini ?” Tanya Joelene to the point.
“Kabar mama baik, Mama kangen kalian jadi mama berkunjung kesini, kenapa nak, kamu keberatan?” Tanya Suci karena melihat raut wajar joelene seketika berubah.
Hening sesaat, Mieke yang merasa tidak enak ada diantara mereka, memilih undur diri mengajak Alvin mandi sore.
“Bukan begitu Bu, tapi buat apa ibu membawa begitu banyak hadiah untuk Alvin, nanti dia manja dan saya tidak sanggup membelikannya mainan sebentar dan semahal ini”
Suci menghela nafas, sepertinya Joelene kurang suka kedatangannya mengunjungi Alvin dan membawa banyak mainan.
“Maaf kan mama, mama hanya pingin membelikan mainan, hanya ingin menyenangkan hati Alvin, tapi kalau kamu merasa keberatan nama minta maaf” Ucap Suci lesu.
Tak lama mereka mengobrol, kemudian Suci pun undur diri karena hari sudah mulai gelap.
__ADS_1