Hight Quality Jomblo

Hight Quality Jomblo
Bab. 89


__ADS_3

Kevin masih berputar - putar di sekitar perumahan, sambil kembali mencoba menghubungi nomor ponsel Joelene, namun tetap tidak bisa dihubungi.


Hingga tengah malam, pencarian Kevin tidak membuahkan hasil, dia pun kembali pulang kerumahnya, berharap Joelene sudah kembali kerumah.


Keesokan paginya, saat sarapan pagi di kediaman Suci, semua penghuni sudah berada diruang makan, tak lama Kevin datang bergabung diruang makan untuk sarapan.


“Mana Joelene ?” Tanya Suci


“Joelene pergi, sampai sekarang Kevin gak tau kemana, tadi malam Kevin udah coba cari, pagi ini Kevin mau coba cari lagi, mungkin dia pulang kerumah Ibu Winata” ucap Kevin sambil mengolesi roti dengan selai coklat.


“Memangnya kamu udah coba telpon dia?” Tanya Suci


“Sudah, tapi tidak bisa dihubungi, mungkin low baterai” jawab Kevin


“Mama rasa kamu gak perlu mencari dia lagi, percuma.. karena dengan kepergiannya dari rumah ini, berarti dia mengakui kesalahannya, ditambah lagi nomornya tidak bisa dihubungi, dia merasa tidak pantas berada disini karena anak itu bukan anak kamu”


“Ma..ma.. sudah lah ma!! Berapa kali Kevin bilang stop menyalahkan Joe,, dia istri Kevin dan anak yang dalam kandungannya itu anak Kevin, stop ma.. ini rumah tangga Kevin, biar Kevin yang menyelesaikannya, mama gak perlu ikut campur!” Dengan nada suara meninggi


Suci terkejut mendapat perlakukan Kevin, dia tidak percaya anak kesayangannya akan berbicara dengan nada tinggi terhadapnya.


Matanya mulai berkaca - kaca, lidahnya kelu tak sanggup lagi berkata - kata, mendapat perlakuan yang tak pernah di lakukan oleh putra kesayangannya itu.


“Kevin... apa yang kamu lakukan!! Kamu sedang bicara dengan mamamu, bukan dengan bawahanmu! Jaga sikapmu!!” Adrian angkat bicara, merasa memiliki peluang untuk menarik simpati mamanya yang selama ini sudah nyaris tidak ia dapatkan lagi akibat kelakuan Mona.


Kevin menyudahi sarapannya, dia langsung beranjak dari kursi makan dan berlalu.


Butiran bening itu berlahan jatuh dari sudut mata Suci membasahi pipi yang tersapu blush on, hatinya tergores atas ucapan Kevin.


“Sudah ya ma,, mama jangan sedih,, mungkin Kevin sedang kalut, memikirkan istrinya yang pergi, jangan terlalu difikirkan, sekarang mama lanjutkan sarapan nya” ucap Adrian sambil mengelus lembut pundak mamanya.


“Tapi gak seharusnya Kevin berlaku seperti itu, terlebih pada mama, bagaimana pun juga mama adalah wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan Kevin, tidak pantas Kevin bicara sekasar itu” Mona menambahi


“Sudahlah Mon, gak baik ribut - ribut saat makan begini, lebih baik kita melanjutkan sarapan” ucap Adrian tidak mau memperpanjang keributan, yang beberapa hari belakangan ini sering terjadi disela - sela sarapan mereka.


Mona pun menurut, didalam hatinya sedang bersorak sorai atas apa yang sudah terjadi pagi ini dan berharap semuanya kembali seperti dulu, dimana hanya dia satu - satunya menantu Dirumah keluarga Laksana.


*****


Sementara itu Joelene baru saja terbangun, mengedarkan pandangannya kesekeliling nya dan dia sadar bahwa saat ini dia tidak berada dirumah mertuanya.


“Ya ampun...!! Aku lupa,, aku kan lagi di apartemen David” gumamnya

__ADS_1


Dia pun beranjak dari kasur empuk menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Usai membersihkan diri, Joelene langsung keluar kamar menuju dapur di apartemen tersebut.


Apartemen yang terbilang mewah, ada dua kamar tidur, ruang makan,dapur yang lengkap dengan perlengkapan masaknya.


Joelene beralih ke kulkas, membukanya, mencoba melihat apakah ada bahan masakan yang bisa diolahnya untuk sarapan pagi.


Tidak ada bahan masakan yang bisa diolahnya, hanya ada botol berisi air dan beberapa soft drink, karena memang apartemen David jarang dia tempati dan bisa dibilang tidak pernah, namun sesekali asisten dirumah mamanya dimintanya untuk datang membersihkan, jadi walaupun tidak ditempati kondisi nya masih bersih dan tertata rapi.


Joelene mengelus perutnya yang mulai lapar, hendak pergi membeli pun dia tak memiliki uang sepeser pun, ponsel pun dia tak punya.


“Sabar ya nak,, mudah - mudahan ada yang berbaik hati membawakan kita makanan” ucap Joelene sambil mengelus lembut perutnya yang masih rata.


Tak lama terdengar suara bel, Joelene pun menoleh kearah pintu depan yang memang terlihat langsung dari dapur.


Joelene segera membuka pintu, dia yakin pasti David yang datang.


“Ah... syukurlah... habis gelap, terbitlah terang..” ucap Joelene spontan


“Ada apa Jo? Kok berasa Ibu kita Kartini, senang banget aku datang, kangen ya ?”


“Akhirnya kami terbebas dari kelaparan ini” ucap Joelene sumringah sambil menatap bungkusan yang dibawa David


Joelene segera mengambil perlengkapan makan mereka, mereka pun menikmati sarapan bersama, Joelene menikmati sarapannya yang memang sedari tadi sudah sangat lapar.


“Apa hari ini rencana kamu Joan?”


“Mungkin aku harus mengurus berkas - berkas yang hilang kemarin, KTP, ATM, SIM dan berkas - berkas penting lainnya, mungkin aku hari kekantor polisi dulu buat urus surat keterangan hilang, tapi kaya nya aku masih butuh bantuan kamu deh Dave buat urusain semuanya” pinta Joelene


“Siap!! Kapan pun kamu butuh aku, aku siap membantu”


“Makasi banyak ya Dave, kamu dari dulu gak berubah, selalu ada di setiap aku butuh pertolongan, aku bingung gimana cara balasnya” Joelene merasa berhutang Budi pada David


“Santai aja Joan, apa pun yang kamu butuhkan aku siap membantu, dimana pun, kapan pun”


“Jangan gitu dong Dave,, jangan terlalu baik begini, nanti aku susah balasnya, soalnya aku lagi gak punya apa - apa selain baju yang melekat di badan ini”


“buat apa bajunya, aku cuma butuh isi nya” ucap David dengan tatapan nakal menggoda Joelene


Mata Joelene seketika membulat, dia langsung menutup bagian depan tubuhnya dengan kedua telapak tangan.

__ADS_1


Membuat David merasa gemes atas apa yang dilakukan Joelene hingga dia tak kuasa menahan tawanya.


“Ayo siap - siap, biar aku antar kamu urus dokumen yang hilang”


Jielene pun setuju dan langsung beranjak kekamar untuk bersiap - siap, tak lupa dia mengunci pintu kamarnya, mendengar suara pintu dikunci, kembali David melengkungkan sudut bibirnya merasa gemas pada Joelene.


Satu jam kemudian mereka sudah tiba Didepan gerbang kantor polisi, mereka pun langsung menuju ruangan tempat pengurusan surat keterangan hilang.


Saat didalam, tiba - tiba ponsel David berdering, dia langsung menerimanya


“Ya Hallo..”


“Pak David, saya sudah menemukan barang tercecer yang bapak katakan kemarin, tapi untuk ponselnya kami tidak bisa menemukannya, anggota saya akan segera mengantarkannya kekantor bapak” ucap suara dari seberang sana


“Oh.. begitu ya,. Terima kasih banyak ya pak, saya sekarang sedang berada dikantor bapak, kita langsung ketemu disini saja” ucap David


“Oh.. baiklah,, saya segera kesana”


Tak lama, orang uang menelpon David tadi pun menemui mereka diruang tunggu


“Selamat siang pak David”


“Siang pak Nando,, maaf saya merepotkan bapak dan anggota bapak”


“Tidak jadi masalah pak, saya langsung perintahkan anggota untuk berpatroli di sekitar barang ini tercecer dan anggota saya menemukan hanya tasnya saja untuk ponselnya sudah tidak ada” terang komandan polisi yang bernama Fernando itu


“Tidak jadi masalah pak, yang terpenting itu dokumen identitas dan dokumen lainnya masih lengkap, karena kalau untuk mengurus baru lagi akan memakan waktu”


“Baiklah pak, ini tasnya, coba di cek terlebih dahulu apa dokumen yang didalam lengkap” ucap komandan tersebur sambil menyerahkan tas tangan Joelene yang dijambret kemarin


Joelene segera memeriksanya dan semua dokumen masih lengkap, hanya uangnya saja yang sudah tidak ada.


“Iya pak, masih lengkap kok, KTP, SIM, ATM semua masih ada, terima kasih ya pak” ucap Joelene


“Sama - sama buk, kalau begitu saya permisi dulu pak David, kalau ada yang dibutuhkan jangan sungkan hubungi saya, permisi pak” ucap sang komandan sambil menyalami David dan Joelene.


Mereka pun beranjak dari kantor polisi.


Diperjalanan Joelene pun bertanya pada David


“Kok bisa sih tas nya ketemu ?” Tanya Joelene

__ADS_1


“Kan aku udah bilang, apa sih ya nggak buat kamu Jo” ucap David sambil melirik kearah Joelene, membuat wajah Joelene merona.


__ADS_2