
Masih dirumah oma, Joelene belum menjawab pertanyaan oma, kemudian bude mengajak Joelene makan siang bersama.
“Sudah waktunya makan siang, kita makan dulu Bu, ayo nak Joelene” ajak bude Mieke
Joelene mengangguk dan berjalan bersama oma menuju ruang makan, tak lama Pakde pulang kerumah untuk makan siang.
“Bunda, ada tamu ya ?” Ucap pakde dari pintu depan sambil berjalan menuju ruang tengah, karena melihat ada sepatu yang terparkir didepan pintu.
“Ayah,,, langsung makan siang aja yah” Ucap bude yang sudah berada diruang makan
“Waaw... menu hari ini lumayan rame yah..hemmm... Ayah jadi tambah laper” Ucap Ayah yang belum menyadari kehadiran Joelene diruang makan.
“Aldo.. sabar dulu.. Kau tidak melihat disini ada yang baru?” Ucap oma sambil menoleh kearah Joelene
“Yang baru ? Maksud mama ?” Tanya nya balik sambil menoleh kearah mama nya
“Maaf.. benar ada tamu, siapa dia ma ?”
Joelene pun berjalan mendekati Aldo lalu mengulurkan tangannya hendak menyalam Aldo
“Saya joelene pak, ponakannya pakde” Ucap Joelene
“Ponakan..?” Ucapnya heran sambil menyambut uluran tangan Joelene
“Iya... Joelene putri adikmu Clara” Ucap oma
Wajah Aldo sedikit terkejut, tidak menyangka ponakan yang sudah dicarinya bertahun - tahun kini berada dihadapannya
“Kamu putrinya Clara ?” Tanya Aldo balik memastikan
Joelene tersenyum sambil mengangguk lembut, lalu Aldo memeluk ponakannya itu dengan mata berkaca - kaca.
“Kalian kemana saja,, pakde sudah mencari - cari kalian, sejak mama mu menikah dan memilih keluar dari rumah ini, pakde tak henti mencari, keberadaan kalian tinggal dimana? Mama kamu mana ?” Tanya Aldo sambil mengelus rambut ponakannya itu.
“Sudah.. nanti saja kita bicarakan, sekarang kita makan siang dulu” Ucap Oma, semua pun setuju dan mereka pun mulai menikmati makan siang mereka yang sedikit beda hari ini, karena kehadiran Joelene.
Usai makan siang dan masih diruang makan, mereka mengobrol sambil menikmati pudding mangga buatan bude Mieke.
“Enak banget puddingnya bude, nanti Jo diajari buatnya ya” ucap Joelene
__ADS_1
“Boleh Sayang, kapanpun kamu mau pasti bude ajari” Ucap Mieke
“Jadi sebenarnya saat ini kalian tinggal dimana Jo dan kenapa mama kamu tidak ikut kesini?” Ucap pakde Aldo yang sejak tadi ingin menanyakannya
Wajah Joelene berubah sendu dan tertunduk, dia tak tahu harus menjawab apa, karena dia sendiri juga tidak tahu dimana keberadaan mommynya.
“Sebenarnya Jo kesini mau mencari Mommy, selama ini Jo juga gak tinggal sama Mommy, bahkan wajah asli Mommy pun Jo belum pernah liat, hanya liat di foto”
Sontak semua yang ada diruang makan terkejut mendengar ucapan Joelene, bagaimana mungkin Clara dan Joelene bisa terpisah.
“Kenapa begitu nak, jadi kamu tinggal dengan siapa ?” Tanya pakde Aldo
“Jadi dulu Joelene di titip kan pada sahabat Mommy, Joelene memanggilnya Ayah, Namanya Harry Winata, teman SMU mommy” terang Joelene
“Oo.. jadi kamu tinggal dengan keluarga Harry, tapi kan mereka tidak tinggal di Bogor lagi ya”
“Iya pakde,, sekarang Ayah sudah meninggal dan sebelum meninggal Ayah memberikan kotak berisi barang - barang Joelene saat Mommy menitipkan Jo dulu, dari benda - benda itulah Jo mencari keberadaan Mommy dan keluarga mommy”
“Kenapa kamu dititipin ke Harry ?” Tanya pakde
“Menurut dari surat yang mommy tulis untuk Jo, dia akan memperjuangkan hak Jo, tapi Jo juga gak tau hak apa yang dimaksud mommy”
“Sudah lah Aldo, jangan diungkit lagi, mama sudah tidak mau mengingatnya, Syukur sekarang kamu sudah disini nak, oma sangat merindukan kalian, terakhir kali oma bertemu mamamu saat dia berpamitan sambil membawa kamu yang masih bayi, sekarang apa rencanamu ?” Tanya Oma
“Jo mau mencari mommy, tapi Jo masih mengumpulkan petunjuk keberadaan Mommy”
“Sebentar nak, oma ingat dulu mommy mu pernah mengirim surat” Ucap oma sambil beranjak dari duduknya
Tak lama oma kembali lagi sambil menyerahkan sepucuk surat yang pernah ditulis mommy nya pada oma.
Isi surat itu, Clara menuliskan dia mau berpamitan menyusul suaminya yang berkewarganegaraan Belgia.
“Berarti mommy menyusul Daddy ke Belgia Oma? Tapi kenapa mommy gak bawa Joelene?” Ucapnya sedih dan tertunduk
“Sayang.. mungkin mommy punya alasan kenapa dia tidak membawa serta kamu bertemu dengan daddy, jangan suudzon dulu, oma tau mommymu sangat menyayangimu, dia pergi dari rumah ini karena opa tidak merestui pernikahannya dengan Daddy mu dan dia pergi ke Belgia tidak membawa kamu mungkin dia punya alasan, percaya lah pada oma, dia itu putri oma” Ucap Oma sambil mengelus lembut rambut panjang cucunya.
Hari itu Joelene bermalam dirumah oma, hingga keesokan harinya, Joelene pun berpamitan pada seluruh keluarga untuk pulang
“oma, pakde dan bude, Joelene pamit pulang dulu ya, nanti lain waktu Jo main kesini lagi”
__ADS_1
“Terus sekarang kamu tinggal dimana, masih dirumah Harry? Biar pakde dan bude antar ya?” Ucap pakde berniat mengantarkan Joelene pulang
“Iya teh... Ica pengen ikut kerumah teteh, selama ini Ica merasa sendiri gak punya saudara ataupun sepupu, sekarang Ica udah punya teteh, boleh ya teh ya?” Bujuk Ica putri semata wayang Pakdenya
Joelene tersenyum lembut sambil meraih pundak mungil Marisa Suhardibrata yang biasa dipanggil Ica itu
“Ica sayang,, nanti kalau sudah waktunya pasti teteh akan ajak Ica kerumah teteh, tapi untuk saat ini belum, sabar ya Cantik”
“Sebenarnya kamu ini tinggal dimana sih nak, kenapa kami tidak boleh tau dimana kamu tinggal, kamu masih dirumah Harry kan, coba oma minta alamatnya biar nanti ada waktu kami main kesana nak” Pinta oma
“Iya oma, nanti Jo kirim alamatnya ke nomor bude atau Ica, Jo gak bisa lama-lama karena Jo ambil cutinya cuma dua hari, nanti kalau Jo bisa ambil cuti panjang Jo bakal main kesini lagi ya oma, Jo janji” Ucap Joelene sambil mencium tangan dan kening omanya.
Joelene merasa bahagia menemukan keluarga Kandungnya, keluarga yang hangat dan begitu perhatian, dia juga merahasiakan pernikahannya dari keluarganya, karena menurut Joelene mereka tidak perlu tau pernikahan yang dia jalani.
Setelah berpamitan, Joelene pun menuju stasiun kereta dengan menumpang ojek online, sebenarnya pakde menawarkan diri untuk mengantar Joelene, namun Joelene bersikeras menolaknya.
Tepat jam 8 malam, Joelene tiba dihalaman rumah mewah milik keluarga Laksana, dengan langkah berat dia pun memasuki pintu utama, Suci sedang menonton tv diruang tengah.
“Joelene, darimana kamu beberapa hari gak pulang ?” Ucap Suci mendengar suara langkah Joelene
“Dari rumah sodara ma, ada acara keluarga, mama belum tidur?” Tanya Joelene basa - basi.
“Kenapa nanya begitu ? Kamu berharap saya udah tidur ya, biar kamu leluasa pulang diantar pengacara itu?”
“pengacara yang mana ? Mama kok ngomong begitu?”
“Belakangan ini mama liat kamu sering bepergian dengan dia, apa wanita yang sudah bersuami boleh seperti itu atau kamu lupa sudah punya suami ? Karena suaminya pergi dari rumah tapi istrinya tidak tahu suaminya pergi kemana”
“Ma.. kan udah Joe bilang, Jo gak tau Kevin pergi kemana, dia juga gak bilang dia mau kemana, Jo juga udah coba hubungi ponselnya tapi tidak bisa, udah hubungi asistennya Yang disana juga tapi tetap tidak ada jawaban,terus Joelene harus gimana ma, sepertinya mama menyalahkan Joelene ? Padahal sebenarnya Joelene lah yang menjadi korban dalam pernikahan ini” Ucap kesal Joelene
“Apa maksud kamu bicara seperti itu? Korban apa ? Bukankah kamu setuju menikah dengan Kevin, terus kenapa sekarang kamu bilang kamu yang jadi korban!”Ucap Suci berapi- api karena ucapan Joelene
“Bukan begitu ma, tapi sepertinya ucapan mama itu menuduh Jo yang menyebabkan Kevin pergi”
“Sudah lah!!” Ucap Suci sambil berlalu meninggalkan Joelene.
Langkah kaki ini berat menaiki anak tangga, entah apa yang membuat mama Suci berubah seperti ini, padahal awalnya mama Suci yang meminta aku untuk menikah dengan Kevin, sekarang Setelah anaknya pergi, kenap jadi aku yang disalahkan atas kepergian nya” hati Joelene berkata - kata.
Usai membersihkan diri, Joelene merebahkan tubuhnya diatas kasur, memikirkan rencana berikutnya untuk mencari keberadaan Mommynya, walaupun dia tidak tahu apakah Mommy masih hidup atau tidak.
__ADS_1