
Setelah luka pada lengan Joelene di obati, mereka pun beranjak pulang, Didalam mobil hening, Jullian fokus menyetir sementara Joelene merasa lapar karena seharian tadi dia hanya makan makanan yang menurutnya mirip bakso goreng itu.
Terdengar suara aneh dari perut Joelene yang sedang keroncongan karena lapar.
Jullian melirik dari kaca spion, sementara Joelene berlagak tidak mendengar apa - apa, padahal perutnya sudah berdemonstrasi.
“Anda lapar Nona ?” Tanya Jullian
Joelene hanya melirik kesal karena memang dia sudah sangat lapar
“Kita makan dulu” Ucap Jullian sambil menghentikan mobil didepan sebuah resto.
Joelene dan Jullian pun masuk ke resto tersebut, lalu pelayan memberikan buku menu, seketika wajah Joelene frustasi melihat buku menu itu.
“Anda mau makan apa Nona ?”
“Apa saja yang buat perut kenyang, asal jangan batu!!” Ucap nya kesal tanpa melihat buku menu tersebut.
“Batu tidak dijual disini Nona, baiklah saya akan pesankan” Ucap Jullian yang kalau berbicara dengan pelayan tersebut.
Joelene sedang tak ingin meladeni Jullian, dia hanya diam sambil meraih ponselnya yang tadi nyaris di rampas oleh pemabuk itu.
Dibukanya pesan yang masuk ke ponselnya namun tak Satu pun pesan masuk dari Kevin, walau hanya sekedar menanyakan sedang apa dan dimana.
“Nona mau kemana?” Ucap Jullian melihat Joelene beranjak dari tempat duduknya
“Apa menemaniku ke toilet juga jadi bagian dari pekerjaan mu ?” Ucap Joelene Ketus
“Maaf,, silahkan Nona”
Joelene pun berjalan menuju toilet di resto tersebut.
Saat Joelene keluar dari toilet, tanpa sengaja dia melihat Kevin dan Leona sedang duduk dalam satu meja, terlihat keduanya sedang menikmati makan malam, sambil sesekali mereka tertawa, entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas pemandangan barusan membuat sesak Joelene.
Joelene masih terpaku menatap kedua nya, perasaan nya campur aduk, sedih, hancur dan merasa wanita paling bodoh sedunia yang mau saja menikah dengan laki - laki yang jelas - jelas tak memiliki rasa padanya.
Rasanya dia ingin sekali mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan, sakit terasa namun Kakinya enggan beranjak dari posisi berdirinya, masih tetap mematung menatap Kevin dan Leona yang semakin intim.
__ADS_1
Dunia seakan tak berpihak padanya, disaat Joelene melihat Kevin dan Leona berciuman dengan hangatnya, membuat seketika pertahanan dihatinya ambruk menghantam dasar yang sangat dalam.
Genangan air mata yang siap membasahi pipi, berusaha ditahannya, mencoba kuat menatap.
Sementara Jullian yang merasa Joelene sudah pergi terlalu lama, ia pun menyusul Joelene ke toilet.
Jullian melihat Joelene berdiri terpaku menatap kearah depannya, matanya sudah basah karena air mata yang tadinya masih menggenang di kelopak mata, akhirnya tumpah ruah membasahi pipi mulusnya.
Jullian pun mendekat mencoba melihat apa yang sedang dilihat Joelene hingga membuat dia menangis.
Jullian langsung memanggil Joelene dan mengajaknya pulang.
“Nona,, sedang apa disini ? Ayo kita pulang nona, hari sudah semakin gelap” ucap Jullian mengajak Joelene pulang agar dia mengakhiri tatapannya.
Segera Joelene menghapus air mata di pipinya, lalu berbalik menghadap Jullian kemudian berjalan menuju meja mereka.
Didalam mobil perjalanan menuju apartemen Kevin, Joelene diam menatap ke jendela kaca, meratapi kebodohannya yang terlalu berharap pada pria yang sudah mencuri perhatiannya selama ini, merasa yakin akan perasaannya yang akan terbalas.
“Di negara - negara Eropa, berciuman dengan lawan jenis biasa, walaupun itu hanya sahabat” ucap Jullian mencoba menguatkan dan meyakinkan Joelene bahwa apa yang dilihat Joelene itu adalah hal yang biasa, tak perlu harus memiliki hubungan khusus.
Joelene tak menggubris, dia masih dengan lamunan dan fikirannya sendiri dan tak memperdulikan Jullian.
Direbahkannya tubuh diatas kasur empuk yang ada dikamar Kevin, meringkuk kan tubuhnya kearah sisi kiri tempat tidur.
Sampai tengah malam matanya masih enggan terpejam, membayangkan Kevin yang masih belum pulang.
Tak lama terdengar suara pintu apartemen dibuka, seketika Joelene menutup kelopak matanya berpura - pura tidur.
Kevin masuk kedalam kamar dengan suara langkah yang pelan, takut membangunkan Joelene yang menurutnya sudah terlelap.
Dia masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri. Joelene kembali membuka matanya lalu butir bening itu kembali lagi membasahi pipinya.
Keesokan paginya, Joelene bangun lebih awal dari Kevin, ia merasa lebih baik, walaupun hanya tidur beberapa jam saja namun hari ini dia sudah siap untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat - tempat yang sudah di list nya.
Pagi ini, Joelene memasak sarapan sendiri, agar tidak sesat mencari sarapan yang cocok dilidahnya yang sangat Indonesia sekali.
Mie goreng instan menjadi menu sarapan pagi ini. Dengan sigap Joelene memasak didapur, karena hari ini dia akan mengunjungi kebun bunga tulip, yang menjadi bunga pavoritnya.
__ADS_1
Usai memasak sarapannya, Joelene pun membersihkan diri, sementara Kevin masih terlelap di sofa Didepan TV.
Setelah selesai membersihkan diri, Joelene pun segera menikmati sarapan paginya.
Ditemani mie goreng dan secangkir teh hangat, Joelene pun sangat menikmati sarapan kali ini, tidak seperti sarapan hari - hari sebelumnya.
Kevin terbangun mencium aroma masakan Joelene, matanya mulai membuka berlahan, diedarkannya pandangan dan bangkit dari pembaringannya.
Joelene masih menikmati sarapannya, Kevin pun berjalan kearah dapur, diliriknya sekilas lengan Joelene yang terbalut akibat insiden kemarin.
“Apa yang terjadi semalam ?” Tanya Kevin sambil meneguk air putih yang baru diambilnya dan duduk di hadapan Joelene.
“Tidak ada, hanya kecelakaan biasa” jawabnya tanpa menatap wajah Kevin, tak ingin membuatnya teringat akan apa yang dilihatnya tadi malam.
Kevin tak percaya, dia mendekati lengan Joelene yang terluka, diperhatikannya luka itu, Joelene tak bergeming, tetap menghabiskan sarapannya.
“Ini seperti luka senjata tajam, ada apa semalam ?”
“Tidak ada apa - apa, hanya kurang hati - hati saja”
Kevin meraih ponsel lalu menghubungi Jullian.
“Apa yang terjadi kemarin ? Mengapa kau tidak melaporkannya ?” Ucapnya melalui sambungan telepon dengan Jullian dihadapan Joelene.
“Baiklah, aku tunggu” ucap Kevin mengakhiri panggilan.
Selang beberapa menit saja, Jullian sudah tiba di apartemen Kevin, Joelene pun sudah selesai menghabiskan sarapannya dan sedang bersiap - siap.
Kevin membuka pintu untuk Jullian, lalu duduk disofa bersama dengan Kevin yang sedari tadi menunggu kedatangan Jullian.
“Maaf bos, saya tidak sempat menghubungi bos, saya langsung membawa nona ke rumah sakit” terang Jullian
“Memangnya apa yang sudah terjadi ? Kau kuberi tugas untuk menemani nya berjalan - jalan”
“Kemarin nona dirampok oleh dua pemuda yang sedang mabuk, mereka membawa senjata, saya minta maaf karena kala itu saya terlambat memberikan pertolongan hingga pemabuk itu mengayunkan senjatanya pada nona, hingga terjadi insiden ini, Sekali lagi saya minta maaf bos, saya berjanji akan selalu mengawasi nona”
“Lukanya parah ?”
__ADS_1
“Ada tiga jahitan” jawab Jullian
“Aku kan sudah memerintahkan mu untuk selalu mengawasi dia kemana pun dia pergi, jangan pernah ia luput dari pantauanmu, tapi mengapa sampai terjadi seperti ini, sepertinya kau tidak bisa diandalkan” ucap Kevin sambil memijat pelipisnya.