
Jantung Joelene bergemuruh, dadanya terasa sesak mendengar ucapan mama mertuanya, dia tak menyangka semua perkataan itu keluar dari mulut mertuanya.
Begitu besar kebencian mertuanya itu hingga kata - kata yang menyakitkan itu bisa keluar dari mulutnya yang sangat menghancurkan hatinya.
Tangisnya pecah, dia kembali kekamar dan tangisannya tumpah disana.
Hatinya begitu sakit, tak terima atas semua ucapan mertuanya itu, dimana dulu suci lah yang memintanya untuk menikah dengan putranya, namun saat ini malah menilai buruk dirinya.
Joelene pun segera mengemasi barang - barangnya, tak mau berlama - lama dirumah yang sudah tak menginginkannya lagi.
Dengan berlahan, Joelene menuruni anak tangga, Kevin dan mamanya sudah tak terlihat disana, Joelene merasa ini kesempatan yang tepat untuk pergi dari rumah itu.
Joelene kini berada Didepan gerbang rumah mewah tersebut, masih bingung akan kemana.
Jika dia pulang kerumah Ibu, pastinya ibu akan bertanya apa yang terjadi, begitu juga kalau dia pergi kerumah kedua kakaknya, Janet dan Jennifer.
Sambil menyusuri jalan komplek perumahan, Joelene masih berfikir akan kemana dia pergi yang tidak diketahui oleh Kevin.
Tiba - tiba dia teringat Ella, teman satu kantornya dulu, Kevin belum tau dimana Ella tinggal dan lagi saat ini Joelene tidak sekantor dengan Ella, jadi tidak akan terfikir oleh Kevin.
Joelene masih menyusuri jalanan sambil akan memesan taksi, namun hujan mulai turun, hingga Joelene berlari kecil meraih ponsel dari dalam tas tangannya.
Nahasnya, saat dia sibuk mencari - cari ponsel dari dalam tas tangannya sambil masih berlari kecil ditengah hujan karena belum menemukan tempat berteduh, tiba - tiba tas tangannya di jambret orang yang sedang melintas dengan mengendarai sepeda motor.
Joelene pun berteriak sambil berlari agar ada yang mendengarnya dan sudi menolongnya
“Hei.... jambret... tolong...jambret...!”
Teriak Joelene, namun karena kondisi hujan tak ada orang yang mendengar, semua yang melintas tidak memperdulikannya karena mereka ingin segera tiba ditujuan mereka.
Joelene masih berlari berharap bisa mengejar jambret tersebut, namun keberuntungan memang sedang tidak berpihak padanya, hingga dia harus merelakan ponsel dan dompetnya raib dibawa jambret.
Joelene yang merasa lapar, memegang perutnya yang sedari tadi belum diisi, dia berdiri Didepan sebuah caffe, mencium aroma masakan yang begitu lezat.
Hujan masih turun membasahi jalan beraspal, walau tidak terlalu deras namun cukup membuat tubuh Joelene basah kuyub.
Saat dia melintas persis Didepan caffe tersebut, tiba - tiba ada sebuah mobil yang baru saja keluar dari caffe, karena kondisi hujan, pengemudi tidak menyadari Joelene yang sedang berjalan, hingga mobil tersebut menyerempet tubuh Joelene hingga membuatnya terjatuh.
“Astaga..! Sepertinya aku menabrak seseorang” ucap si pengemudi.
Kemudian dia pun segera turun, dan mendapati tubuh Joelene sudah terjatuh diaspal, tanpa fikir panjang, si pengemudi pun segera membawa nya kerumah sakit terdekat.
Dengan kecepatan tinggi, dia membersihkan mobilnya hingga hanya beberapa menit saja dia sudah tiba dihalaman sebuah rumah sakit terbesar, karena kebetulan posisi dia menabrak Joelene tidak jauh dari rumah sakit tersebut.
Dengan sigap dia mengangkat tubuh Joelene keluar dari mobil dan para perawat yang bertugas di IGD itu pun membawa brankar lalu mendorong Joelene masuk keruang periksa.
Pria yang menabrak Joelene itu duduk menunggu diruang tunggu tepat Didepan pintu IGD, berharap tidak ada luka yang serius.
Setengah jam kemudian, perawat keluar dari ruang periksa IGD.
“Gimana keadaannya sus ?”
__ADS_1
“Hanya ada luka lecet di kaki dan lengan pasien, sudah ditangani kok, pasien juga sudah siuman, tadi dia hanya shock hingga kehilangan kesadarannya” ucap perawat tersebut.
“Oh.. syukurlah,, terima kasih suster, saya sudah boleh menemuinya ?” Ucap pria itu
“Iya... silahkan pak, kalau kira - kira pasien sudah merasa lebih kuat sudah bisa langsung pulang kok, Ok saya permisi dulu mas” ucap suster tersebut sambil berlalu.
Sipenabrak Joelene pun masuk menemui Joelene
“Joan..!”
“Dave...”
“Astaga...! Ternyata kamu yang aku tabrak, maaf kan aku Jo, Sakin paniknya sampai aku tidak mengenali kamu tadi” ucap David
“Bukan kamu yang salah,, aku yang kurang fokus, sampai - sampai aku gak liat ada mobil kamu melintas” ucap Joelene
“Jadi gimana, ada lagi yang sakit ?” Tanya David
“Gak kok Dave,, sudah enakan.. terima kasih ya udah bawa aku kerumah sakit”
“Ngomong apa sih kamu Jo, memang kewajiban aku lah, kan aku yang nabrak kamu, terus kamu mau kemana malam - malam begini, bawa koper lagi ?” Tanya David
“Aku mau kerumah teman, tadi pas dijalan aku lagi mau ambil ponsel didalam tas, namun tiba - tiba jambret membawa tas ku, semua dompet, hp dan kartu ATM dan kartu identitasku di bawa jambret itu, aku juga bingung mau hubungi temannku itu” ucap Joelene dengan wajah lesu
“Terus sekarang kamu mau kerumah teman kamu, mari aku antar” David menawarkan diri untuk mengantar Joelene
“Ya itu dia Dave, dia tuh udah pindah kontrakan, jadi aku tadi masih mau hubungi dia, eh..tiba - tiba aku dijambret”
“Terus gimana ? Aku antar pulang kerumah ya ?” Ucap David
“Kenapa ? Kevin disini kan, gak lagi di luar negeri ?” Tanya David
“Iya,,tapi aku gak mau pulang kerumah itu”
“Kenapa, kalian ribut lagi ? Dia pergi dengan wanita itu ?” Ucap David geram akan kelakuan Kevin terhadap Joelene
“Sudahlah Dave, aku gak mau membahas ini, sekarang aku bingung mau cari alamat Ella dimana” ucap Joelene bingung
Hari semakin malam, namun Joelene masih belum memutuskan dia akan kemana.
Saat saling diam, tiba - tiba terdengar suara dari dalam perut Joelene, yang begitu jelas terdengar oleh David.
“Sepertinya peliharaan kamu belum
Dikasi makan Joana, mereka sudah berdemonstrasi, ayo makan dulu” ajak David sambil tersenyum karena melihat wajah Joelene yang memerah menahan malu akibat suara perutnya.
Joelene tak menjawab, dia pun menurut pada David yang akan membawanya makan, sebelum berangkat Joelene mengganti pakaian nya terlebih dahulu yang basah terkena hujan tadi.
Karena kondisi masih hujan, jalan tidak terlalu macet, hingga mereka cepat tiba di sebuah restauran.
Mereka pun berjalan masuk kedalam restauran, lalu memilih posisi yang enak menurut mereka dan meraih buku menu untuk memesan makan.
__ADS_1
Joelene memilih menu nasi goreng dan segelas teh hangat, sementara David hanya memesan secangkir kopi saja menemani Joelene makan.
Melihat begitu lahapnya Joelene makan, David tersenyum
“Ada pesanan tambahan lagi mba ?” Bergaya seperti karyawan restauran tersebut.
Joelene yang tadi sedang konsentrasi melahap makanannya, langsung mengangkat wajahnya tersenyum malu - malu.
“Maaf Dave... aku terlalu fokus ya ? Hehehe...”
“Iya... sampai - sampai aku yang sedang duduk disini aja di cuekin” goda David
“Duhh... maaf ya Dave... aku lapar banget memang, tadi belum sempat makan” ucap Joelene sambil dengan raut wajah meringis karena malu
“Haha.. santai aja kali Joan, kaya baru kenal aja, lanjut deh, apa kamu mau pesan yang lain lagi atau minuman mungkin ?” David memberi menawarkan
“Gak Dave sudah cukup, jangan buat aku tambah kepanasan karena malu ya,,”
“Malu kok kepanasan sih ? Gak apa - apa Jo, ibu hamil tuh ya makannya emang harus porsi double, kan makan buat dua orang, kamu dan anak kamu”
“Iya tapi kan aku jadi malu, wajahku jadi panas banget ini menahan malu, udah Dave udah cukup kok”
“Haha... kamu tuh lucu ya kalau lagi malu - malu kaya gini, wajah kamu udah kaya kepiting rebus” goda David lagi, yang memang sangat gemes dengan Joelene yang sedang menahan malu.
“Udah dong please...! Senang banget ya!”
“Iya deh..iya deh... oh.. ya.. sekarang udah tau mau kemana, biar aku antar ?” Tanya David
Joelene terlihat menarik nafas, dia tak tahu harus pergi kemana, kalau pulang kerumah Ibu, rasanya tidak mungkin, nanti mereka bakal tau apa yang terjadi pada pernikahan nya dan Kevin.
“Gimana kalau malam ini kamu nginap di apartemen aku aja ?” Ucap David
Seketika mata Joelene membulat, tak menyangka David berniat seperti itu
“Dave..? Ng..nggak usah.. Makasi Dave” ucap Joelene cepat dengan wajah yang ketakutan
“Hahaha... kamu itu ya.. kok wajahnya begitu ? Pasti mikirnya yang nggak - nggak nih pasti, hayo ngaku ??”
“Nggak kok,,, mikir apaan,,” ucap Joelene
“Joan..Joan.. aku tau pasti kamu mikirnya aku mau ngajak kamu nginap diapartemen aku karena aku ada niat jahat sama kamu kan ?” David menebak dan tebakannya tepat
“Nggak kok!! Siapa bilang.. aku gak ada mikir begitu”
“Udah deh... wajah kamu itu gak bisa bohong Joan,, walau kamu gak ngomong apa - apa tapi wajah kamu yang bicara seperti itu”
“Beneran..! Emang wajah aku ngomong apaan ?” Tanya Joelene
“Udah ah..! ya udah ayo ikut aku” ucap Dave sambil menarik tangan Joelene
Usai David membayar, mereka pun langsung masuk kedalam mobil David.
__ADS_1
Perasaan Joelene semakin tak karuan, sangat takut dia akan tinggal bersama David di apartemen milik David, sementara statusnya masih istri orang.
“Ya Tuhan... bagaimana ini ? David akan membawa ku menginap diapartemennya”.