
Saat Kevin dan Jullian masih berbincang, Joelene keluar dari kamar dan sudah bersiap untuk lanjut explor tempat - tempat indah.
“Mau kemana ?” Tanya Kevin
“Mau jalan - jalan menghirup udara segar”
“Masih sakit ?”
“Udah tau nanya!! Ya sakit lah,, hati aku sakit banget Iceman! Maksud kamu apa ngajak aku honeymoon ke sini ? Supaya aku ngeliatin kamu ketemuan sama kekasihmu itu? Jahat banget,, kamu yang honeymoon aku cuma pelengkap penderita disini” gumam hati Joelene, dia tidak berani mengungkapkan kekesalannya itu.
“Maksud kamu luka ini ?” Tanya Joelene menunjuk kearah luka di lengannya
“Luka ini tidak seberapa,, tapi ada luka lain yang jauh lebih menyakitkan daripada luka ini” jawab Joelene sambil berjalan menuju pintu keluar.
Kevin tak mengerti atas ucapan Joelene, dahinya mengkerut, sementara Jullian diam tak berani berkomentar.
“Sebentar,, aku temani !” Ucap Kevin beranjak dari sofa lalu mengambil kunci mobilnya.
Joelene tak menjawab atau berkomentar, dia hanya memilih diam, tidak mau terlalu banyak berharap karena takut terluka, dia langsung berjalan menuju pintu keluar apartemen.
“Jullian,, kamu siapkan kontrak kerja sama dengan perusahaan Ibu Clara, besok atur meeting di luar bersama mereka untuk menandatangani kontraknya” perintah Kevin
“Baik bos” jawab Jullian
Jullian beranjak menuju kantor, sementara Kevin menemani Joelene berjalan - jalan, menebus kesalahannya karena sudah beberapa hari mereka di Amsterdam namun sekalipun Kevin tidak pernah menemani Joelene berjalan - jalan.
Kevin dan Joelene memasuki mobil Kevin, Kevin mulai memutar kemudinya.
Kevin terlihat santai hari ini, ini kali pertama Joelene melihat Kevin dengan berpakaian santai seperti ini, Kevin mengenakan celana jeans, dengan atasan kaos putih polos lalu dipadukan dengan jaket dari bahan jeans dengan topi polos berwarna hitam dan sepatu Kets putih, membuat tampilannya sedikit berbeda dari biasanya yang selalu mengenakan pakaian formal.
Joelene terkesima melihat tampilan Kevin, tatapan kagum yang berusaha ditutupinya, Kevin terlihat semakin sempurna dengan out fit yang dikenakan nya, hidung mancung, mata lebar dengan tatapan tajam yang mengintimidasi, garis rahangnya tegas dengan bulu - bulu halus yang tertata rapi menutupi rahang hingga ke dagu.
Didalam mobil Joelene hanya diam,kemudian Kevin memulai percakapan
“Hari ini kamu mau kemana ?”
“Aku mau ke Keukenhof melihat bunga tulip”
“Biar aku temani” ucap Kevin dan mulai melajukan kendaraannya menuju lokasi.
Joelene menikmati perjalanannya, Menatap keluar jendela melihat pemandangan yang begitu indah, hamparan rumput berwarna hijau, begitu indah membentang bak permadani.
Wajahnya seketika sumringah saat mobil Kevin mulai memasuki kawasan Keukenhof.
Tulip adalah salah satu bunga pavoritnya, sejak masih duduk dibangku SMU Joelene berniat akan mengunjungi perkebunan bunga tulip yang ada di Belanda atau pun negara asal bunga tersebut yaitu Turki.
Setelah keluar dari mobil Kevin, Joelene berjalan lebih dulu Didepan meninggalkan Kevin yang menyusulnya.
Joelene menatap takjub atas apa yang dilihatnya, sejauh mata memandang, hamparan kebun bunga beraneka warna terlihat disana, kuning, ungu, jingga, putih dan banyak bunga lainnya membentang bak pelangi di daratan di perkebunan Keukenhof.
Seperti berjalan dalam labirin, bebungan yang beraneka warna itu seakan melambai pada nya meminta untuk disapa, tanpa menunggu lagi, Joelene pun segera melangkah mendekati bunga - bunga cantik beraneka warna itu, disentuhnya, kemudian ia tersenyum, bunga - bunga cantik itu sukses menghapus gundah dan sedih yang tengah dialaminya.
Tak mau menyia - nyiakan waktu honeymoon yang tersisa, Joelene segera mengambil foto bunga - bunga nan cantik dan beraneka warna itu, sesekali dia berselfie diantara mereka.
Dari kejauhan, Kevin memperhatikan tingkah Joelene, yang terlihat begitu bahagia berada diantara bebungaan.
Kevin tersenyum tipis, sejenak menghapus kekakuan di wajahnya, sepertinya dia juga ikut bahagia melihat Joelene yang excited hanya dengan berada diantara bunga - bunga itu.
Kevin berjalan mendekati Joelene kemudian menawarkan diri menjadi fotografer buatnya
“Sini, biar aku ambil foto nya” ucap Kevin
__ADS_1
Joelene kaget, namun segera memberikan ponselnya pada Kevin untuk mengambil gambarnya.
Dari satu warna bunga ke warna lainnya, berbagai ekspresi dan gaya dengan senyum dan tawa terbaiknya hingga mampu membuat Kevin terpesona.
“Gadis ini narsis sekali, sepertinya dia berbakat, ternyata sesederhana itu membuat dia bahagia” gumam hati Kevin tersenyum tipis.
“Excus me Sir, could you take a picture for us ?” Kevin menyerahkan ponselnya meminta seseorang untuk mengambilkan foto mereka berdua
“Sure..” ucap pria itu
“Sir, could you take more shot for us from this angle ?” Pinta Kevin lagi pada pria tersebut untuk mengambil foto mereka pada latar kincir angin yang ada diantara bunga tulip itu.
Pria tersebut pun bersedia, Kevin dan Joelene pun berdiri berdampingan dengan latar kincir angin raksasa dibelakang mereka.
Posisi mereka berdiri berdampingan namun terlihat jarak diantara mereka, hingga pria itu meisyaratkan pada Kevin untuk merangkul Joelene.
Keduanya saling pandang, Joelene salah tingkah, Kevin sedikit ragu untuk merangkul pundak Joelene, hingga pria itu kembali meisyaratkan pada Kevin dengan mengangkat tangannya dan merangkul wanita yang ada disebelahnya.
Kevin ragu untuk melakukannya, hingga pria itu mendekati mereka dan mengangkat tangan kiri Kevin lalu meletakkan pada lengan kiri Joelene.
“Ya Tuhan... kenapa jantung ini tidak bisa dikondisikan, dia berdetak lebih keras dari biasanya, seperti hendak melonjak keluar, kenapa berada sedekat ini membuat segalanya tidak bisa diajak bekerjasama,,”
Keduanya terlihat kaku, pria itu tersenyum, kemudian mulai mengambil gambar
“Ok... let’s say cheese..”
Pria tersebut mengambil gambar beberapa kali kemudian menyerahkan ponselnya pada Kevin, Kevin pun mengucapkan terima kasih pada pria tersebut.
Diperjalanan pulang, ponsel Kevin berdering, diraihnya dari saku, Tertulis nama Leona disana
Kevin
Leona
“Kamu dimana ? Kenapa dari tadi tidak bisa dihubungi ?”
Kevin
“Maaf, aku sedang ada urusan”
Leona
“Kamu harus segera kesini jika tidak mau melihat berita tentang kematianku!”
Panggilan langsung terputus, Leona sudah mengakhiri panggilannya, Kevin menghapus kasar wajahnya, terlihat sedikit panik.
“Jika ada pekerjaan yang urgent aku pulang naik taksi saja” ucap Joelene tidak mau merepotkan Kevin, karena dengan Kevin menemaninya berjalan - jalan hari ini sudah cukup baginya, dia tidak mau mengharap lebih dari itu jika nanti nya akan membuat dia merasakan lebih sakit lagi.
“Aku akan mengantarmu pulang”
“Tapi aku masih mau berjalan - jalan lagi, aku turun disini saja” pinta Joelene
“Baiklah.. jangan pulang terlalu malam, karena kota ini tidak seramah bunga - bunga yang kamu temui tadi” pesan Kevin sebelum Joelene keluar dari mobil
“Hemm” jawabnya singkat sambil mengangguk
Joelene pun beranjak keluar dari mobil Kevin, masih berdiri pada posisinya menatap mobil kevin yang semakin jauh meninggalkan nya.
Ingin rasanya mengakhiri semua ini, agar tidak merasakan hal yang lebih sakit lagi, melihat kedekatan Kevin dengan kekasihnya yang secara tak sengaja dilihatnya, mungkin itu sudah cukup membuktikan kalau dia tidak memiliki tempat sedikit pun dihati Kevin, namun entah kenapa disaat dia mulai putus asa, lagi - lagi kevin memberi harapan padanya.
Seperti hari ini, Kevin menemaninya berjalan - jalan seharian, hingga membuat Joelene merasa menjadi satu - satunya wanita yang paling bahagia.
__ADS_1
\*\*\*\*\*
Kevin yang barusan mendapat panggilan dari Leona langsung menuju apartemen milik Leona yang letaknya tidak jauh dari tempat Joelene turun.
“Sayang akhirnya kau datang, aku sudah hampir gila menunggumu, ponselmu juga tidak bisa dihubungi. Kau kemana saja, aku ke kantormu hanya ada asisten mu, aku menanyakan padanya, dia menjawab tidak tau,, sunggu asisten tidak berguna, pecat saja dia !” Keluh Leona pada Kevin
“Sayang,, tidak semudah itu, dia sangat berharga bagiku, dia yang membantuku mengurus perusahaan ku selama aku berada di Indonesia, jika dia tidak aku bakal repot nantinya” terang Kevin sambil membelai rambut lurus terawat Leona yang sejak kedatangan Kevin langsung menempel pada Kevin.
“Ya sudah,, kamu aja yang urus perusahaan disini, kalau perusahaan orang tua kamu yang di Indonesia kan bisa diurus sama kakak kamu, kamu gak takut nanti dia menyalah gunakan kepercayaan kamu? Perusahaan kamu itu besar sayang, siapa saja pasti tergiur ingin memilikinya dan orang - orang akan melakukan segala cara untuk bisa memiliki perusahaan kamu sayang”
“Sudahlah,, aku gak mau membahas itu, kembali ke permasalahan kita, apa maksud ucapan kamu tadi sayang, mengerikan sekali mendengarnya”
“Yah habisnya kamu dihubungi gak bisa, ya udah... kalau kamu gak datang juga aku bakal bunuh diri aja, buat apa aku hidup kalau tanpa kamu disisi kU” ucap Leona manja sambil bersandar di lengan kekar Kevin.
“Maaf,, kan aku gak bisa setiap saat ada sayang, aku juga punya pekerjaan, lagian waktuku terbatas disini, berapa hari lagi aku harus kembali ke Indonesia”
“Hah... jadi kamu akan kembali ke Indonesia, tidak menetap disini ? Kamu jahat Kevin, kalau begitu aku lebih baik mati saja, daripada harus tinggal sendiri disini!!” Ancam Leona
“Sayang,,jangan begitu, aku tetap milik kamu, hanya saja aku sedang ada pekerjaan di Indonesia, nanti setelah selesai aku bakal kembali kesini kok, perusahaanku kan ada disini, kamu jangan melakukan hal bodoh sayang, demi aku berjanji lah tidak melakukannya?” Ucap Kevin sambil menagub kedua pipi Leona.
Leona tidak menjawab, dia hanya menghela nafas panjang, wajahnya kecewa dan tak bersemangat.
“Sudah dong, wajahnya jangan begitu,buat aku jadi semakin merasa tidak enak,, bagaimana kalau kita jalan - jalan,, atau belanja misalnya ?” Tawar Kevin.
Wajah Leona seketika berubah sumringah, tersenyum semanis mungkin mendengar tawaran Kevin.
“Aku mau tas yang ada di butik langgananku, barangnya baru saja datang, baru hari ini mereka menghubungi aku” rengek Leona
“Baiklah sayang, apapun itu,, ayo kita berangkat” ajak Kevin, seketika Leona mendaratkan bibir mungil nya pada bibir Kevin hingga Kevin terlonjak kaget.
Selang beberapa menit saja, mereka sudah tiba di butik langganan Leona, dia langsung disambut pemilik butik yang juga sahabatnya, tak menunggu lama, Leona langsung membeli tas terbaru dengan merek terkenal itu, tanpa ragu Kevin pun membayar tas tersebut dengan harga yang fantastik, namun tidak jadi masalah bagi seorang Kevin, apalagi buat wanita yang dicintainya.
Usai belanja, Kevin dan Leona memasuki resto terkenal di pusat kota Amsterdam.
Dengan bergandengan tangan mesra, Kevin dan Leona memasuki resto tersebut dan langsung memilih meja.
Setelah memesan makanan mereka mengobrol sambil sesekali Leona bergelayut manja di lengan Kevin, Kevin juga tak sungkan membelai rambut indah Leona yang dibiarkan tergerai.
Tak berselang lama, Joelene yang baru selesai berjalan - jalan merasa lapar, dia pun memasuki resto dimana didalamnya ada Kevin dan Leona.
Posisi Joelene agak jauh dari Kevin dan Leona, namun masih jelas terlihat Kevin dan Leona yang bermesraan.
Joelene mantap jengah kearah mereka, terlebih Leona yang terus menempel manja.
“Hufft... jika saja ini di Indonesia, mungkin mereka sudah habis dinyi - nyiri netijen +62, emang resto ini cuma milik mereka berdua gitu, terus yang lagi pada makan disini dianggap benda mati kaya vas bunga, meja makan, laci kasir atau tempat sampah gitu?!” Joelene menggerutu.
Kalau tidak karena kakinya yang sudah lelah berjalan kaki dan perutnya yang sudah sangat lapar, mungkin Joelene akan keluar mencari resto lain.
Resto yang bergaya klasik Eropa, diiringi live musik dengan alunan biola, saat musik slow mengalun, Leona menarik tangan Kevin untuk berdansa.
Kevin tak kuasa menolak, ia pun beranjak dari kursi dan mereka mulai berdansa.
Pasangan kekasih itu berdansa berdua, saling tatap dan tersenyum bahagia, terkadang pipi mereka saing menempel tak berjarak, membuat Joelene semakin terbakar melihatnya.
“Aku istrinya secara sah dimata hukum dan agama, tapi sedikitpun dia tidak pernah menyentuh kU, jangankan menyentuh, menatapku saja dia tak mau, menyedihkan Sekali nasibku ini” keluh Joelene dalam hati.
Hingga akhir alunan musik, Kevin dan Leona berciuman mesra membuat Joelene semakin terbakar dan langsung beranjak dari kursinya meninggalkan mereka yang masih bermesraan.
Dia mengabaikan kakinya yang sudah merasa pegal tadi, berjalan tak tentu arah, air mata sudah mulai membasahi pipi mulusnya dan membuat hidungnya memerah.
Langkahnya terhenti Didepan sebuah Bar, Joelene memasukinya kemudian duduk Didepan para bartender yang sedang meracik minuman.
__ADS_1