
Terlihat tatapan Kevin tak lepas dari sosok Leona yang baru saja berlalu meninggalkan mereka, terlihat dari tatapannya masih menyimpan harap pada gadis itu.
\*\*\*\*\*
Pagi itu Kevin sudah berangkat kekantor, menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda kemarin karena pertemuan dengan Leona.
Joelene baru saja bangun, keluar dari kamar dan mencari sosok Kevin, namun tak terlihat, lalu dia menuju dapur mengambil air minum.
Duduk disofa ruang tv sambil meraih ponselnya, dilihatnya pesan masuk dari Kevin
ICEMAN
Aku berangkat kekantor lebih awal, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, pergilah jalan - jalan, Jullian akan mengantarkanmu, jangan menungguku. Bawa kartu yang aku letak diatas meja juga uang cash jika Kau butuh, itu milikmu.
Joelene melihat keatas meja yang berada didepan sofa, black card dan beberapa lembar euro.
Joelene masih menatapi dua benda di tangannya, tak tau apa yang akan dia lakukan dengan dua benda itu.
“Sebenarnya dia kesini itu mau mengajak ku jalan - jalan atau mau kerja sih ?” Gumam hati Joelene sambil merebahkan kembali tubuhnya diatas sofa nyaman itu.
Sementara dikantor Kevin, dia sedang terburu - buru menyiapkan dokumen yang akan dibawanya meeting pagi ini, bersama klien yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
“Jullian... Setelah selesai menyiapkan berkas ini, kamu kembali keapartemen, bawa dia kemana pun dia minta” Ucap Kevin sambil membereskan berkas - berkas dimejanya
“Tapi Bos,, bukannya kita mau meeting dengan ibu Clara pagi ini ?”
“Iya... tapi biar saya sendiri aja, kamu temani Joelene jalan - jalan, aku takut nanti dia tersesat, dia kan belum pernah kesini”
“Tapi Bos,, siapa yang akan membantu anda selama meeting nanti?”
“Kan sudah di siapkan semua berkasnya, aku bisa, jangan khawatir, oke.. aku jalan dulu ya” Kevin meraih kunci mobilnya lalu bergegas.
Jullian sedikit heran melihat tingkah Bos nya itu, biasanya dia tidak pernah sendiri, apalagi meeting dengan clien Besar diluar kantor, namun Jullian menuruti perintah Bos nya itu untuk menemani istrinya.
“Apa yang terjadi dengan si bos ya? Kenapa malah aku yang disuruh menemani istrinya berjalan - jalan, sementara dia meeting dengan clien, padahal kan dia kesini membawa istrinya honey moon ? Ah... entah apa yang ada di pikirannya itu” gumam Jullian sambil mengemudikan mobilnya menuju apartemen Kevin.
Suara bel berbunyi, Joelene yang belum bersiap - siap langsung membuka pintu, dia tau itu pasti Jullian
“Ada apa, dapat perintah dari Bos mu mengantarkan aku jalan - jalan? Pergilah, aku sedang malas keluar, aku lelah mau beristirahat” Ucap Joelene di balik pintu yang hanya dibukanya sedikit.
“Nona tidak ingin jalan - jalan hari ini? Cuaca cerah sekali hari ini”
“Tidak,, aku lelah bersepeda kemarin, kakiku pegal, aku mau istirahat saja” tolak Joelene
“Kau mau makan sesuatu Nona ?”
__ADS_1
“Tidak,, aku sudah sarapan roti, sudah Kau pergilah.. kaki ku semakin pegal berdiri terus disini” usir Joelene
“Baiklah,, kemarikan ponselmu?” Ucap Jullian
“Kau mau apa dengan ponselku, apa memeriksa ponselku juga menjadi bagian dari pekerjaan mu ya?”
“Anggap saja begitu” Ucap Jullian, Joelene menaikkan alisnya lalu menyerahkan ponselnya
Jullian pun meminta Joelene membuka password nya, Jullian pun mengetik sesuatu
“Eh... Kau mau apa, Kau mau menghubungi siapa?? Jangan macam - macam, hey,, Jully kembali kan ponselku!!”
“Sebentar Nona, nona tidak sabaran ya”
“Huuhh!! Dasar Jullian kepo!!” Kesal Joelene, lalu Jullian mengembalikan ponsel Joelene
“Aku pergi Nona, aku sudah menyimpan nomor ponsel ku di ponselmu, jika Kau butuh sesuatu hubungi aku” Ucap Jullian langsung berlalu meninggalkan Joelene.
“Dasar Jullian charlotta, si penguping dan selalu ingin tau urusan orang!! Pergilah,, hush...hush...” usir Jolene sambil mengibas - ngibaskan tangannya kearah Jullian.
Jolene kembali masuk dan bersantai menonton tv, menunggu beberapa menit sampai Jullian benar - benar pergi, karena dia berencana berjalan - jalan sendiri tanpa dihantui Jullian yang menguntitnya dari belakang.
Setelah di rasa aman, Joelene pun berganti pakaian, kali ini dia mengenakan gaun santai berwarna nude panjang dengan sepatu kets putih, tak lupa summerhat pavoritnya.
“Hari ini aku mau kemana dulu ya ?” Ucapnya sambil mengambil ponsel dari slingbag nya, melihat beberapa destinasi yang sudah di browsing diinternet.
Kali ini Joelene ingin mencicipi kuliner khas Belanda dan dia sudah mempersiapkan tujuannya dari malam tadi
“Baiklah,, pertama kali aku akan ke Dam Square, kayanya asyik bisa hunting - hunting makanan,, tak masalah honeymoon ku tak seperti orang - orang, setidaknya aku bisa menemukan kebahagiaan ku disini, daripada hanya duduk manis di apartemen atau dikantor, yang ada aku bisa jatuh cinta lagi Sama si Jullian Charlotta itu,, huuh... amit- amit deh!!” Gumam Joelene.
Dengan bermodalkan map yang baru dibelinya ditoko kemarin, juga bertanya pada orang sekitar atau polisi yang sedang bertugas, Joelene pun menaiki kendaraan ummum dan akhirnya Joelene tiba ditempat tujuannya.
Dengan senyum sumringah terpancar diwajahnya, mengedarkan pandangan keseluruh sudut tempat, kemudian dia ingin memasuki museum Koninkjilkt di alun - alun kota tersebut.
Tanpa diketahui Joelene, Jullian mengikutinya dari belakang, melihat apa saja yang dilakukan Joelene untuk dilaporkan pada Kevin.
Usai keluar dari museum tersebut, Joelene pun merasa lapar, dia memilih tempat makan masih dikawasan alun - alun tersebut.
Mencari - cari tempat makan yang memungkinkan untuk dimakan,
Sambil berjalan pelan, Joelene memperhatikan nama cafe maupun resto yang tertera.
Akhirnya dia menemukan sebuah cafe yang salah Satu pengunjungnya mengenakan jilbab, dia pun langsung memasuki cafe tersebut.
Terlihat dari menu makanan, semua berbahan dasar roti, keju dan susu, Joelene masih membolak - balik buku menu tersebut tapi tidak menemukan makanan yang cocok dilidahnya.
__ADS_1
“Ya tuhan.. disini apa gak ada nasi goreng gitu, Pecel lele atau setidaknya salad lah, masa sih dari tadi aku udah muter - muter gak ada makanan yang cocok buatku,, Hahh...
Gimana mau kuat menghadapi kenyataan kalau makanannya Cuma rerotian begini, bisa lupa sama rasa nasi rames dan bakso nya pak kumis yang didepan komplek kalau begini ceritanya,, huuftt!!” Joelene sedikit frustasi.
Akhirnya lelah mencari apa yang akan dinikmati, Joelene pun memilih makanan dengan bentuk bulat yang di goreng, seperti bakso goreng.
Setelah makanan yang dipesannya datang, ekspresi wajah Joelene berubah drastis, dari yang senang karena akhirnya makanannya datang, lalu memperhatikan sejenak bentuk dan rupa makanan yang sudah ada dihadapannya.
Sekilas bentuknya seperti bakso goreng yang baluri tepung roti atau kroket kentang yang sering Di buat Ibu tapi Setelah di cicipi rasanya membuat bulu kuduk merinding, abstrak, berantakan, jumpalitan, tapi Jojo tetap melahapnya untuk menambah tenaganya hari ini.
Setelah selesai makan, dia pun membuka ponsel dan melanjutkan perjalanannya menuju destinasi berikutnya.
“Melihat kincir angin.. iya... kincir angin raksasa,, I’m coming..!!” Sambil memakai sunglass dan summerhat nya, Joelene melangkah keluar dari resto tersebut.
Jullian pun terus mengikutinya dengan memberi jarak agar tidak terlihat oleh Joelene.
“Dasar Nona big Bos yang aneh!! Aku akan mengikutimu kemanapun kaki pegalmu berjalan” Gumam Jullian.
Joelene pun menaiki kereta menuju Uitgeest melalui Amsterdam Centraal, dia sangat menikmati kesendiriannya, menikmati pemandangan diluar jendela sambil meratapi nasib pernikahannya.
“Aku yakin wanita itu spesial di hidup mu dan sampai saat ini dia masih mengisi hatimu mungkin juga masih menaruh harap atas hubungan kalian, dan aku...”
Tiba - tiba butiran bening lolos dari pelupuk matanya, dihapusnya butiran bening itu yang sudah membasahi pipi mulusnya, wajah yang tak pernah menunjukkan kesedihan, kegundahan dan kesakitan yang ia rasakan, karena saat ini Joelene yakin, kalau Kevin sedang bersama wanita yang bernama Leona itu.
Setelah bertanya kesana kemari, Akhirnya Joelene tiba di tempat tujuannya di Zansee Schans.
Seketika kesedihan hilang diwajahnya, ketika melihat pemandangan didepan matanya, sebuah kincir angin raksasa yang selama ini hanya dilihatnya pada kemasan biscuit.
Berjalan kesana kemari, mengambil foto dengan ponselnya, hingga hari menjelang senja Joelene pun beranjak pulang.
Hari semakin malam, Saat berada distasiun kereta menuju pulang, ia diganggu oleh dua orang pria yang sedang mabuk.
Salah satu dari ke dua pemabuk itu mulai menyentuh Joelene dengan mencolek dagunya, Jolene menghindar menjauhi mereka namun kedua nya semakin berani, hingga satu orang dari pemabuk itu mengeluarkan pisau mengancam Joelene agar memberikan uang dan barang berharga milik Joelene.
Jolene masih tetap melawan mempertahankan slingbag miliknya, hingga terjadi tarik menarik diantara mereka, Joelene memukul salah satunya dengan tas tangannya, lumayan keras hingga mengeluarkan cairan merah di pipi pemabuk itu, pemabuk itu kembali melakukan perlawanan dengan salah satunya memegang lengan Joelene lalu rekannya mencoba merampas paksa tas milik Joelene, Joelene pun memberikan tendangan dengan kakinya yang mengenai alat vital pria itu hingga dia meringis kesakitan, hingga akhirnya pria pemabuk tersebut mengeluarkan senjata tajam lalu mengayunkan nya pada Joelene, lengan Joelene terkena sabetan pisau itu.
Jullian yang sejak tadi memantau dari kejauhan seketika keluar dari persembunyiannya, memukul pemabuk yang sudah mengarahkan pisau pada Joelene hingga pisaunya terjatuh dan masuk kedalam lubang saluran air.
Jullian dengan garang memberi pelajaran pada dua pria mabuk itu hingga keduanya kabur meninggalkan mereka.
“Anda tidak apa - apa Nona ?” Ucap Jullian
“Tidak apa - apa bagaimana, lengan ku terluka!!” Ucapnya, Joelene merasa kesal, sudah jelas lengannya terluka Jullian masih saja bertanya.
Segera Jullian membawa Joelene kerumah sakit terdekat untuk mengobati luka di lengan Joelene.
__ADS_1