
Diperjalanan mereka ngobrol, sesekali mereka tertawa lepas mengingat kisah masa sekolah dulu, saat Joelene masih mengikuti ospek penerimaan murid baru dan David sebagai panitia.
Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 4 jam perjalanan itu tak terasa hingga mereka tiba di sebuah dermaga penyeberangan.
Malam semakin gelap, dengan kondisi hujan gerimis, mereka harus tetap melanjutkan perjalanan agar segera tiba ditujuan.
Joelene pun memasuki kapal veri yang akan mengantarkan mereka, Joelene yang memiliki phobia terhadap air, ada rasa takuti namun ia berusaha untuk menepisnya agar tidak terlihat oleh David.
Walau raut wajah Joelene terlihat tenang, namun aura kepanikan terpancar diwajahnya, beberapa kali David mengajaknya bicara ia tidak merespon, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Joan, kamu kok diam aja sih, kangen suami ?” Goda David namun Joelene tidak menjawab,seperti ada yang sedang ia fikirkan
“Jo...Joana...” ucap David sambil melambaikan tangannya persis Didepan mata Joelene hingga tiba - tiba Joelene tersadar
“Eh...iya... kenapa tadi.. kamu ngomong apa ?” Tanya Joelene yang sedari tadi memang tidak mendengar ucapan David
“Yaela... dia ngelamun... kok ngelamun sih, kangen suami ? sok Atuh ditelpon, jaringan ada kok, kalau malu biar aku menjauh deh..” ucap David
“Apaan sih Dave,, nggak kok,, aku cuma rada mual aja” Joelene beralasan
“Yakin nih cuma mual, gak ada rasa yang lain gitu, misalnya rasa kangen gitu ?” Lanjut David menggoda
“Nggak lah... kamu tuh hobbi nge godain ya, perasaan dulu kamu itu kakak senior yang paling irit bicara, maen nya ke perpus mulu, pokoknya tipe - tipe juara deh”
“Apaan... tipe juara, orang aku sering main ke perpus itu lagi mau liatin gebetan kok, siapa bilang aku tipe kutu buku”
“Terus kalau bukan kutu buku kutu apa dong, kutu loncat ? Hahaha...” Joelene mulai melupakan rasa takutnya, karena David mengajaknya bicara dan bercanda
“Ye... bukan kutu loncat, tapi kutu kumpret!!”
“Hahaha... bukan aku yang bilang lo ya...” mereka pun tertawa.
Hingga tiga pulih menit berlalu, mereka sudah tiba di pulau seberang tempat tujuan mereka.
Setelahnya mereka harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil David yang juga ikut serta dalam veri tersebut.
David dan Joelene segera melanjutkan perjalanan mereka yang menempuh kurang lebih satu jam perjalanan.
Resort ini dibangun nantinya akan dilengkapi dengan fasilitas angkutan udara atau helikopter untuk mempersingkat perjalanan bagi para tamu VVIP.
Terletak di sebuah pulau yang jauh dipedalaman, masih belum tersentuh, rencana resort yang akan dibangun perusahaan Laksana Corp juga berkonsep alami, namun nyaman untuk para pengunjung.
Pagi harinya, Joelene dan David sudah tiba didesa tempat resort akan dibangun, hanya terdapat 20 kepala keluarga saja disana.
Desa yang berada agak jauh dari bibir pantai, masyarakatnya masih memiliki ikatan keluarga, karena hanya tidak lebih dari 20 kk saja.
David yang memiliki ilmu bersosialisasi yang mumpuni, tidak perlu waktu lama baginya untuk berbaur dengan masyarakat setempat.
Begitu juga dengan Joelene, tidak sulit baginya untuk bersosialisasi dengan masyarakat desa setempat, hingga masyarakat setempat menerima mereka dengan baik.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu, mereka sudah menanda tangani perjanjian jual beli dengan disaksikan beberapa saksi dari pihak penjual dan pembeli, hampir tidak ada masalah, semua sesuai harapan dan kedua belah pihak pun saling bersalaman.
Joelene yang mewakili dari perusahaan berjabat tangan dengan para pemilik lahan yang telah menjual lahannya pada perusahaan Laksana.
Semua proses sudah dilaksanakan dan sudah bisa dikatakan selesai, Joelene pun sejenak menikmati pemandangan desa yang masih asri berada diatas bukit dengan pemandangan langsung menuju laut lepas.
Angin meniup hingga membuat rambut Joelene yang tergerai melambai tak beraturan.
Dinikmatinya hembusan angin sambil memejamkan matanya, dalam fikirannya sedang membayangkan rencana berikutnya yang akan ia lakukan untuk mencari orang tua kandungnya.
David berdiri sejajar dengan Joelene yang masih memejamkan matanya, David menatap jauh kearah lautan yang berada dibawah sana, kemudian dia menoleh kesebelah kirinya, menatap lamat - lamat wajah Joelene yang masih terpejam menikmati hembusan angin yang bagian ya sangat menenangkan itu.
Pandangan David diam disana, menikmati wajah sendu wanita yang sudah lama dikaguminya.
Flash Back On
Siang itu kelas Joelene sedang jam pelajaran Kimia, Joelene tidak bertarik belajar kimia, apalagi guru bidang study kimia itu terkenal killer, siapapun tak berani menghindar dari mata pelajaran yang diajarkannya, siapapun yang mencoba untuk kabur saat jam pelajarannya berlangsung, dia tidak segan mencari dan menindak murid yang berani keluar saat jam pelajarannya berlangsung.
Usai jam istirahat, di koridor sekolah sudah terlihat cahaya menyilaukan yang menari - nari di sepanjang koridor sekolah menuju kelas Joelene.
Bapak John Erlenmeyer, dari namanya saja sudah bisa ditebak dia terlahir dan mendedikasikan hidupnya pada laboratorium.
Tampilannya yang sangat menyeramkan, dengan kepala botak dan mengkilap, terlihat seperti bola kristal milik peramal.
Kumis tebal melintang diatas bibirnya, wajah yang selalu ketat dan tak berselera humor, membuat para murid merasa seperti menjadi tersangka.
Kebetulan mata pelajaran kimia adalah mata pelajaran terakhir dan bisa dipastikan jam - jam rawan itu Joelene akan menguap sejadi - jadinya dengan nyanyian diperutnya.
Joelene pun berhasil keluar kelas dan berjalan kearah perpustakaan yang berada dibelakang kelas Joelene.
Disana memang tempat yang strategis buat para murid yang melarikan diri dari mata pelajaran yang membosankan, selain tempatnya yang teduh karena banyak pohon rindang dengan angin sepoy yang berhembus lembut.
Joelene sedang berada diteras belakang perpustakaan sambil memainkan ponselnya menunggu jam pulang sekolah.
David yang hendak berganti baju seragam karena baru selesai mata pelajaran olah raga, melihat Joelene yang sudah membawa tas dan duduk manis diteras perpustakaan, David pun tau kalau Joelene tidak menyukai mata pelajaran kimia, dia hanya tersenyum melihat kelakuan Joelene.
Saat David menatap kearah Joelene dan tersenyum, tiba - tiba Joelene mengalihkan pandangannya dan menatap kearah nya.
“Apa liat - liat?! Belum pernah liat cewek cantik ya?!” Ucap Joelene jutek
David tertawa mendengar ucapan Joelene, kemudian berucap
“Udah kok, barusan malahan” ucapnya sambil tersenyum
“Udah sana masuk!! Ga usah kepo sama urusan orang, ntar gak naik kelas lo!” Ancam Joelene
David mengerutkan dahinya, merasa tidak ada hubungannya antara kepo urusan orang lain dengan kenaikan kelas
“Apa hubungannya kepo dengan naik kelas, bukannya kalo kita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi itu ciri - ciri anak pintar ya, masa sih gak naik kelas ?”
__ADS_1
“Ya gak naik kelas lah!! Sibuk ngurusin urusan orang bukannya urusin pelajaran!!”
“Oh... gitu,,, terus kamu ngapain disitu udah bawa tas lagi, emang udah pulang sekolah ya ?”
“Ihh... udah dibilang jangan kepo,, pake nanya - nanya lagi!! Sana gih masuk kelas, gak usah urusin orang lain!”
Oh... aku tau pasti kamu mau bolos kan, kimia pasti?” Ucap David sambil tersenyum
“Bukan urusan kamu! Udah sana pergi, ntar mister John Erlen kesini lagi!!” Usir Joelene
Dan benar saja, mister John Erlen yang saat berjalan menuju kelas Joelene sempat melihat Joelene keluar kelas sambil membawa tasnya.
Mister John Erlen pun menyusul Joelene kebelakang perpustakaan, dan mendapati mereka berdua.
“Berandal..!! Kalian mau bolos ternyata!! Kalian berdua ikut saya ke kantor” ucap mister John
Joelene kesal pada David, gara - gara David dia jadi tertangkap oleh mister John, bukan hanya dia, David juga terkena imbasnya dan akhirnya mereka berdua pun menghadap ke ruangan bimbingan konseling, hingga akhirnya mereka berdua terkena hukuman wajib lapor setiap jam pelajaran kimia.
Dengan kejadian itu, mereka sering bertemu di ruangan BK dan David semakin hari semakin mengagumi Joelene.
Entah karena kejadian itu, David merasa nyaman bersama Joelene, setiap hari dia selalu bermain ke perpustakaan karena bersebelahan dengan kelas Joelene dan Joelene sering menghabiskan waktunya dengan teman - temannya di area teras perpustakaan dan disanalah David sering memperhatikan dan mengagumi Joelene.
Flash Back Off
Tiba - tiba Joelene membuka matanya dan menoleh kearah David yang sedang memandanginya
“Apa liat - liat!! Bukan muhrim !” Ucap Joelene
David kaget sekaligus lucu mendengar ucapan Joelene, membuat dia teringat kemasa sekolah dulu, dengan ucapan Joelene yang nyaris sama
“Salah, harusnya kamu jawabnya,,, “apa liat - liat, gak pernah liat cewek cantik” itu baru bener” sambil masih tertawa melihat tingkahnya.
“Udah ah,, pulang yuk!! Udah sore nih, biar cepat nyampe rumah terus istirahat!” Ajak Joelene karena merasa malu.
David pun setuju, mereka pun mau berpamitan pada para tetua desa.
Hai para readers kesayangan author...
Mohon maaf kalau belakangan Author jarang up, tapi kedepannya Author akan usahain minimal up satu bab sehari atau dua bab sehari, demi kesayangan semua yang udah setia nungguin.
Hari ini Author up double, jangan lupa kasih vote, like, komen dan hadiahnya juga, biar Author oN fire berhalu nya😁👌🏻
Baiklah,, Author akan berusaha up sehari dua bab, satu nya pagi dan satunya lagi di jam - jam kunti, jangan lupa tinggalkan jejaknya juga ya.
Happy reading kesayangan...😊
Salam,
La Shakila 🌷
__ADS_1