
Joelene sudah berada didalam salah satu gerbong kereta yang akan membawanya ke kota keluarga kandungnya.
Diperjalanan, tatapannya kosong menatap kearah luar jendela, dimana senja mulai menampakkan sinarnya yang akan segera berganti dengan pekatnya malam.
“Mommy,,, aku gak tau apa langkah ku ini tepat, aku hanya ingin benar - benar terlepas dari semua ini, aku lelah, aku ingin menjalani hidupku dengan tenang, sampai suatu saat aku akan menemukan Mommy”
Setibanya di kota hujan, Joelene langsung menuju rumah omanya, untuk sementara dia akan tinggal Dirumah omanya sambil mencari pekerjaan.
Tepat pukul 20.00 wib, Joelene tiba Didepan gerbang rumah omanya dan mengetuk pintu.
Tak lama pintu pun terbuka, terlihat dari balik pintu, Bude Mieke tersenyum padanya
“Joelene... sama siapa nak? Ayo masuk dulu” ucap Mieke mempersilahkan Joelene masuk kedalam rumah.
Joelene pun menyalami bude lalu membawa barangnya masuk.
“Siapa yang datang ma ?” Tanya pakde dari dalam rumah
“Kejutaaan...” ucap Mieke sambil membawa Joelene masuk keruang makan karena pada saat itu mereka sedang akan makan malam bersama.
“Jo... sama siapa kamu nak ?” Tanya pakde sambil berjalan mendekat kearah Mieke dan Joelene, Joelene pun langsung mencium tangan pakdenya itu.
“Jo sendiri pakde, memangnya Jo mau sama siapa kesini,, hehehe..”
Oma yang baru saja bergabung diruang makan langsung berjalan kearah Joelene dan memeluknya
“Duhh... oma kangen sama kamu nak,, kamu sendirian ?” Sambil Joelene mencium tangan oma dan pipinya.
“Iya oma,, memangnya Joelene mau sama siapa kesini, keluarga Joelene semua disini, Joelene juga kangen oma, bude, pakde juga Ica, ica mana ?” Tanya Joelene mencari keberadaan Ica sepupu satu - satunya itu.
“Ica sedang ada acara Persami di sekolahnya, ayo duduk dulu, pasti kamu belum makan, ayo kita makan sama - sama dulu nak” ajak Mieke
“Ayo duduk dulu Jo, biar pakde bawa koper kamu ke kamar ya” ucap pakde membawa koper Joelene naik ke lantai dua rumah tersebut.
“Oma senang banget kamu kesini, rumah jadi tambah rame”
“Kita langsung makan dulu aja mah, Jo udah lapar habis perjalanan jauh, ya kan Jo?”
“Bude,, kok tau banget ya,, keliatan ya wajah Jo wajah mupeng,,,” ucap Jo sambil tertawa
“Mupeng apaan sih ?” Tanya pakde yang baru turun dari lantai dua dan bergabung dimeja makan
“Yee... si pakde.. kepo urusan anak muda,,, gak perlu lah tau istilah anak muda jaman sekarang, ntar pusing sendiri, udah sesuai usia aja..” ucap bude Mieke
“Papa perlu tau juga dong ma, papa kan punya anak gadis yang udah mulai ABG, jadi papa harus update perkembangan jaman, apalagi istilah - istilah anak muda jaman sekarang, biar gaul, ya kan Jo ?”
“Bener pakde, biar bisa nyambung sama Ica,,”
“Ah... udah ah,,, ayo kita makan dulu, nanti kita bahas permasalahan si mupeng tadi,, ayo Jo” ucap oma menyudahi perdebatan ringan mereka.
Mereka pun mulai menikmati makan malam mereka, yang berbeda dari hari - hari biasanya, karena ada Joelene yang meramaikan suasana.
Usai santap malam, Mieke dibantu Joelene membereskan peralatan makan mereka, setelahnya mereka beralih keruang keluarga.
__ADS_1
“Kamu cuti berapa hari nak ?” Tanya pakde
“Papa,, kok Jo baru nyampe udah ditanyai cuti berapa hari!”
“Bukan begitu ma, papa cuma mau tau Joelene cutinya berapa hari, kalau lama biar papa ambil cuti juga, biar kita jalan - jalan, mama suudzon aja deh”
“Kirain... eh tapi asyik juga tuh kita jalan - jalan, asyiknya kemana ya pah?” Sambut Mieke
“Gimana kalau kita pulang kampung aja, Joelene kan belum pernah pulang, gimana jo kamu mau nak ?” Tanya oma
“Sebenarnya Joelene, sudah resign dari pekerjaan Jo, jadi saat ini Jo pengangguran, mau cari kerja di sini aja biar dekat sama oma, bude dan pakde”
“Oma senang banget kalau kamu mau tinggal dan menetap disini, kalau untuk masalah mencari pekerjaan, nanti pakde bisa bantu mencarikan pekerjaan untuk kamu”
“Iya... nanti bakal pakde bantu, tapi sebelum kamu dapat pekerjaan, gimana kalau kita healing sejenak, pakde juga udah lama gak cuti, bener juga kata oma, kita pulang kampung aja, biar menghirup udara pedesaan yang bebas dari polusi, kamu mau kan ?” Tanya pakde
“Jo seneng banget, asal jangan merepotkan pakde dan bude saja”
“Kamu ngomong apa sih nak, mana mungkin pakde merasa direpotkan, ok deh,, besok sepulangnya Ica dari sekolah, kita langsung berangkat ya, ini pertama kali kita liburan rame - rame, ya kan pa ?” Ucap Bude Mieke
“Ok,, besok kita siap - siap ya, sekarang kamu istirahat, tadi kan kamu baru perjalanan jauh, biar besok kamu fresh lagi” Ucap Mieke
Joelene pun berpamitan dan bergegas masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua, membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya diatas kasur, melepaskan sejenak segala kepenatan yang dialami, berharap esok akan lebih baik lagi.
*****
Seperti rencana pakde, mereka pun pergi berlibur dengan formasi lengkap.
Rencananya mereka akan kekampung halaman oma yang ada di daerah cipanas, Jawa barat.
Jarak usia Ica dengan Joelene memang terpaut jauh, selain mommynya yang lebih dulu menikah, pakdenya juga cukup lama mendapatkan keturunan.
Menjelang sore mereka tiba dikampung halaman oma, udara sejuk dan segar, hamparan perkebunan sayuran terbentang di sisi kanan dan kiri jalan menuju perkampungan.
Mobil memasuki halaman yang cukup luas, banyak tanaman disana, berbagai jenis bunga - bungaan, buah dalam pot juga tanaman sayuran dalam pot.
Karena sebelumnya mereka sudah memberi kabar akan datang, ambuh panggilan saudara jauh oma yang menempati rumah oma itu, dia yang Menjaga dan membersihkan sekaligus bercocok tanam.
Ambuh tinggal bersama abah suaminya, mereka pasangan suami istri dengan tiga orang anak yang ketiganya sudah menikah dan merantau ke ibukota, Ada yang ke kota cianjur, Bandung juga Jakarta.
“Teteh.. sudah sampai, euleh...euleh.. sehat teh ?” Sapa ambuh pada oma Kemudian memeluk
“Alhamdulillah sehat, kalian sehat kan ?”
“Seperti yang teteh lihat, kami sehat walafiat, Mieke sekeluarga sehat kan ?” Tanya ambuh pada bude Mieke
“Alhamdulillah sehat buh, ambuh lagi apa ?”
“Itu.. tadi ambuh baru selesai beberes taneman dibelakang, ini neng geulis teh saha?” Tanya ambuh melihat ada sosok wanita cantik yang belum dikenalnya
Joelene pun mendekat dan menyalami ambuh dan abah, kemudian oma pun memperkenalkan Joelene.
“Ini Joelene putri nya Clara”
__ADS_1
Ambuh terlihat shock, karena sudah lama dia tidak mendengar kabar keberadaan Clara, semenjak dia kabur dari rumah, hingga saat ini ambuh tidak pernah mendengar kabarnya.
“Clara...? Dia pulang teh?”
“Panjang ceritanya, kita duduk dulu atuh,, ngeteh sambil makan pisang goreng, aya pisang goreng ?” Ucap oma sambil duduk di kursi
“Oh..maaf teh,, aya teh... jadi lupa ambuh.. hehehe...”
Ambuh pun kedapur membuat kan teh beserta pisang goreng yang sudah disiapkannya.
Mereka pun mengobrol, sambil menikmati pisang goreng dan teh hangat yang disuguhkan ambuh.
Selama dua hari berada dikampung halaman oma, tidak banyak yang dilakukan Joelene, dia lebih banyak duduk melamun diteras depan, terkadang dia duduk di gazebo halaman belakang, menikmati udara segar dibelakang rumah, menatap tanaman sayuran hijau.
Seperti saat ini, oma mendapati Joelene sedang duduk termenung digazebo belakang, sambil menatap kearah kebun sayuran.
“Sudah beberapa hari disini, oma lihat kamu lebih banyak melamun, kalau oma boleh tau, apa yang sedang kamu fikirkan nak ? sepertinya kamu tidak menikmati liburan sekaligus pulang kampung ini ?” Oma mencoba bertanya
“Oma,, jujur saat ini Jojo memang sedang ada masalah, Jojo juga gak tau mau cerita ke siapa”
“Dari awal kamu datang kerumah, oma sudah melihat ada sesuatu yang coba kamu sembunyikan, tapi kamu itu memiliki banyak kesamaan dengan mommy mu, selalu saja mencoba menyimpan masalahnya sendiri, tanpa menceritakannya pada siapa pun, mencoba untuk terlihat baik - baik saja, padahal oma yang telah melahirkannya, oma tau persis dia sedang mencoba menyembunyikan sesuatu, begitu juga dengan kamu, kamu sedang berusaha terlihat tidak ada masalah, tapi sebenarnya kamu sedang menghadapi suatu masalah”
Joelene tersenyum getir, mimik wajahnya membenarkan ucapan oma, namun dia masih enggan menceritakan masalahnya, karena takut akan menjadi beban fikiran keluarga kandungnya itu, yang baru ditemukannya.
Namun dua manik coklat nan indah miliknya sudah tergenang dan siap meluap membasahi pipi mulusnya dan oma paham betul, hingga oma berucap
“mari sini oma peluk”
Tanpa berlama - lama, Joelene pun segera mendekat dan memeluk oma dan menumpahkan kesedihannya dalam pelukan oma.
Bude Mieke yang melihat dari kejauhan interaksi antara omadan Joelene terlihat serius, dia pun mendekat ingin tahu apa yang sedang oma dan Joelene bicarakan.
“tak ada yang perlu kamu khawatirkan, sekarang kamu berada diantara keluargamu nak, apapun masalahmu kami siap membantu, jangan pernah merasa sendiri, karena kini ada kami didekat mu, menangislah, jika itu membuat mu lega” Ucap oma sambil memeluk dan mengelus lembut punggung Joelene yang kini berada dalam dekapan nya.
Untuk beberapa saat Joelene meluapkan kesedihannya dalam pelukan oma, joelene merasa hangat dan nyaman berada di pelukan oma, mungkin begini lah rasanya dipeluk oleh momny, gumam hatinya.
Mieke yang juga bersama mereka, ikut memberikan kekuatan dengan mengelus lembut pundak Joelene.
“Sudah merasa lega ? Minum dulu teh nya nak” Ucap Mieke, meminta joelene meminum tehnya yang sudah sejak tadi ada di meja
Joelene meneguk tehnya, menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya berlahan, kini dia merasa lebih baik.
“Kalau kamu tidak mau bercerita, tidak apa nak, setidaknya kamu sedikit merasa lega” Ucap oma sambil menghapus pundak Joelene
“Sebenarnya, Jo gak mau cerita masalah Jo, karena Jo gak mau jadi beban fikiran oma dan yang lain, Jo gak enak karena sudah mengusik ketenangan oma, pakde dan bude, selama ini kalian hidup tenang tanpa ada masalah, kemudian Jo datang dengan membawa masalah Jo, yang membuat kalian ikut memikirkannya, Jo gak mau seperti itu ma, selama ini oma sudah tenang menjalani masa tua oma, dulu juga mommy sudah membuat oma susah”
“Kamu jangan berfikir seperti itu, kita ini keluarga, itulah gunanya keluarga, membantu setiap anggota keluarga yang sedang mengalami kesusahan, setidaknya tempat berbagi”
Oma berucap, sambil menghapus lembut air mata Jojo yang sudah membasahi pipinya.
Joelene merasa mendapatkan kehangatan dan kasih sayang yang tulus, hingga dia pun berniat menceritakan masalahnya pada oma.
Joelene pun mulai menceritakan masalahnya, tentang dia yang sudah menikah, tentang ibu mertuanya yang menuduhnya berselingkuh dan perihal kehamilannya yang diragukan suami dan tak diakui mertuanya.
__ADS_1
Oma kembali memeluk erat cucunya itu
“Nak... kamu yang kuat ya, oma akan tetap berada disamping kamu, sekarang kamu gak perlu khawatir, kami akan tetap melindungi dan menjaga kamu nak, meskipun suami San mertua mu tidak mengakui anakmu, kamu jangan sedih lagi ya, ada kami yang siap menjaga dan melindungi kalian, udah kamu jangan sedih lagi nak, nanti akan berpengaruh pada janin yang ada didalam kandungan kamu” Ucap oma sambil mendekap tubuh Joelene.