Hight Quality Jomblo

Hight Quality Jomblo
Bab. 58


__ADS_3

Masih di pemakaman, para pelayat sudah mulai meninggalkan pemakaman, Jennifer, Jannet dan Ibu juga sudah bersiap meninggalkan pemakaman karena mulai turun hujan, namun Joelene masih berjongkok menatap nisan bertuliskan nama Ayahnya itu, sesekali dihapusnya dengan bajunya karena basah terkena air hujan.


“Dek, pulang yuk, udah sore, besok kita kesini lagi, nanti kamu sakit” ajak Jannet


“Aku masih mau disini mba, mba sama Ibu dan mba Jeje duluan aja” dengan suara parau nya akibat terlalu banyak menangis.


“Nanti kamu sama siapa pulangnya, udah kita pulang yuk, hujannya makin deras dek” ucap Jannet berusaha membujuk adiknya


Namun Joelene tetap menggeleng dengan tatapan masih tertuju pada batu nisan, sambil sesekali menghapus air matanya yang masih menetes.


“Tapi nanti kamu pulang sendirian dek, kita pulang yuk” kini Jennifer berganti yang membujuk Joelene


“Gak apa mba, aku nanti bisa pulang sendiri naik taksi kok, udah mba sama Ibu pulang duluan aja, aku masih mau disini, kasihan Ayah sendirian kehujanan” ucapnya semakin terisak


Jennifer ikut berjongkok dan memeluk adiknya itu, dia juga merasakan kesedihan yang sama seperti apa yang dirasakan Joelene.


“Dek,, udah dong!! Kalo kamu hujan - hujanan begini juga Ayah gak suka lo,, kamu ingat gak, setiap hujan turun saat jam pulang kerja kamu, Ayah pasti bela - belain jeput kamu supaya kamu gak kehujanan, supaya kamu gak sakit dek, udah ya kita pulang sekarang ya ?” Jennifer membujuk Joelene


Joelene memang anaknya keras kepala, dia tetap bertahan di pemakaman dan belum mau pulang, hingga Ibu dan kedua kakaknya pun membiarkannya.


“Ya udah kalau kamu masih mau disini, tapi jangan lama - lama ya dek, sebentar lagi malam, baju kamu basah, nanti kamu sakit, mba sama Ibu duluan ya” ucap Jennifer yang dibalas anggukan oleh Joelene.


Setelah Ibu dan kedua kakaknya pulang, tinggal Joelene sendiri yang masih berjongkok Didepan makam Ayahnya.


“Ayah.. kok Ayah tinggalin Jojo sih yah, Ayah gak Bantuin Jojo ketemu mama, terus sekarang Jojo harus gimana Yah ? Jojo harus kemana? Jojo gak tau harus apa, Jojo sekarang sebatang kara gak punya siapa - siapa, biarin Jojo disini aja temenin Ayah, ayah pasti kedinginan disana, Jojo gak apa kok kalau tetap disini temani Ayah” oceh Joelene Didepan makam Ayahnya.


Hujan semakin deras, tiba - tiba hujan di sekitar Joelene seperti berhenti, Joelene mendongakkan wajahnya yang tertunduk, dilihatnya sesosok pria membawa payung dan memayungi Joelene.


“Hujan semakin deras, hari juga semakin gelap, sebaiknya kamu pulang, nanti kamu sakit” ucap pria yang memayungi Joelene.


“Ayo kita pulang, nanti kamu sakit, pakaian kamu juga sudah basah” ajak Kevin sambil memegang payung hitam itu.


Joelene pun beranjak, sebelum beranjak dia berpamitan pada makam Ayahnya


“Ayah.. Jo pulang dulu ya, besok Jo kesini lagi” sambil dikecupnya nisan Ayahnya lalu beranjak.


Didalam mobil diperjalanan pulang, Kevin membuka jaketnya dan memberikannya pada Joelene agar dia tidak kedinginan Karena pakaiannya yang basah.


Joelene menatap kosong keluar jendela, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah kepergian Ayahnya.


Apa yang harus dilakukan untuk memulai mencari ibu kandungnya, yang dia tidak tau entah dimana keberadaan nya dan saat ini masih hidup atau tidak.

__ADS_1


Air mata menetes membasahi pipinya, dia tidak mengacuhkan Kevin yang berada Disamping sedang menyetir.


Kevin melirik sekilas kearah Joelene yang menatap keluar jendela masih meneteskan air mata, lalu diraihnya tissue dan memberikannya pada Joelene


“Hapus air mata kamu, jangan takut, ada aku bersama mu” ucap Kevin tanpa menoleh, pandangannya tetap fokus kedepan.


Lalu masih tetap menyetir, Kevin meraih tangan Joelene yang berada diatas pahanya lalu menautkan jari dan menggenggamnya, seakan memberi kekuatan.


Joelene menatap sekilas kearah Kevin lalu kearah tangan mereka yang sudah saling bertaut, Joelene pun membalas genggaman tangan Kevin.


Ada rasa nyaman dan tenang saat tangan Kevin menggenggam erat tangan Joelene, seperti ada aliran kekuatan yang dialirkan Kevin, membuat Joelene mengangkat wajahnya dan menghapus air mata.


Mereka tiba Dirumah keluarga Kevin, mama Suci menyambut kepulangan Joelene dan melihat pakaian Joelene yang sudah basah


“Joe,, kamu kenapa, kok basah begini ?” Tanya Suci


“Tadi kami dari makam ma, terus kehujanan, ya sudah kami naik dulu ya ma, mau bersih - bersih dulu” pamit Kevin pada mama nya, karena ingin menghindari Mona yang juga sudah mendekat, pasti ada saja yang akan diributkannya.


Didalam kamar Kevin, Joelene merasa canggung, dia pun langsung masuk kekamar mandi membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri dan beganti pakaian dikamar mandi, Joelene pun keluar dengan rambut yang masih terbungkus handuk.


“Hatcii...hatci...”


“Kamu flu? Demam nggak ?”


“Aku gak apa kok, aju memang sering seperti ini kalau kehujanan, minum yang anget - anget juga baikan” ucap Joelene sambil membuka handuk dikepalanya lalu mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Kevin menatap Joelene, entah sejak kapan dia sangat menyukai rambut panjang Joelene yang terurai basah, lalu dia mendekati Joelene meraih hair dryer ditangan Joelene lalu mematikannya.


“Jangan dikeringkan, biarkan dia basah, aku menyukainya” ucapnya Didepan wajah Joelene yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari bibir Joelene yang merah lembab itu, yang sangat menggoda Kevin.


Dikecupnya dalam pucuk kepala Joelene dengan rambut yang basah, aroma shampo menyeruak, membuat Kevin mabuk hingga matanya terpejam meresapi aroma rambut Joelene.


Joelene sedikit kaget melihat tingkah Kevin yang sedang memeluknya erat itu, walau hatinya senang mendapat perlakuan seperti itu dari orang yang


Dikaguminya, karena dia juga belum yakin dengan perasaannya, entah itu hanya perasaan sekedar mengagumi atau kah cinta.


Usai kevin membersihkan diri, Kevin meminta ART dirumahnya untuk mengantarkan makan malam untuk mereka kedalam kamar, dengan alasan Joelene sedang tidak enak badan.


Joelene dan Kevin menikmati makan malam berdua saja didalam kamar, Kevin sangat memanjakan Joelene malam ini, dia menyuapi Joelene, entah apa yang ada dikepalanya, dia yang selama ini dingin, cuek terkesan tak perduli pada Joelene, malam ini berubah jadi seperhatian ini, membuat wajah Joelene bersemu merah karena malu mendapat perlakuan seperti ini.

__ADS_1


Selesai makan malam, Joelene merebahkan tubuhnya yang terasa lelah diatas kasur, melepaskan penat dan lelahnya.


Joelene tak mengacuhkan Kevin, karena Joelene mengira Kevin pasti tidur disofa yang ada didalam kamar, ini kali pertama mereka tidur sekamar di rumah keluarga Kevin, karena sebelumnya Joelene tidur dikamar tamu yang letaknya disebelah kamar Kevin.


Saat mata Joelene nyaris terpejam, tiba - tiba dari belakang tubuhnya ada tangan yang melingkar pada pinggang Joelene, seketika matanya terbelalak.


Terasa aroma tubuh Kevin sudah mendominasi penciumannya dan ia yakin tangan itu milik Kevin.


Semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Joelene hingga tak ada jarak diantara mereka, hembusan nafas Kevin tepat diceruk leher Joelene, hingga terasa hangatnya sampai keseluruh tubuhnya.


Joelene hanya diam, terbius aroma laki - laki yang berada Disampingnya saat ini, aroma yang sangat disenanginya.


Joelene belum bisa terpejam, masih tak percaya dengan apa yang dilakukan Kevin.


“Kau belum tidur ?” Suara bisikan Kevin tepat di daun telinga Joelene, membuat Joelene menggeliat merasa geli.


“Em.. a..aku tiba - tiba gak bisa tidur” jawab Joelene


“Aku juga” jawab Kevin singkat


“A..aku akan mengambil obat tidur saja” ucap Joelene agar bisa terlepas dari pelukan Kevin yang membuat dia semakin tak karuan.


“Jangan pergi.. tetaplah seperti ini” ucap Kevin menahan tubuh Joelene agar tidak menjauh dari nya.


Joelene gugup, deru nafasnya terasa lebih cepat, membuat suhu tubuh dan suhu kamarnya terasa panas.


“Kau demam ya? Tapi sepertinya tadi baik - baik saja” ucap Kevin menggoda Joelene yang wajahnya sudah merona.


“A..aku.. kepanasan.. mungkin suhu Kamar ini yang sedikit panas, aku akan mengambil remote AC dulu” Joelene beralasan


“Tidak perlu, remotnya ada di aku” ucap Kevin masih tidak melepaskan tubuh Joelene dalam dekapannya


Bukan meraih remot AC, Kevin malah mematikan lampu tidur, hingga suasana kamar gelap gulita, hanya ada sedikit cahaya lampu dari luar dibalik tirai yang sengaja dibuka sedikit.


“Aku kedinginan, kamu kepanasan, sepertinya kita cocok” ucap Kevin ditelinga Joelene yang semakin membuat Joelene menggeliat dan tubuhnya bergetar.


Kevin mulai menciumi rambut hingga turun ke leher Joelene dan berakhir di bibir lembab Joelene yang sedari tadi menggodanya, Joelene menggeliat, tangan Kevin mulai meraih dan membuka satu persatu kancing piyama Joelene.


Joelene pasrah, dia membiarkan Kevin bergerilya disekujur tubuhnya, menikmati dan sesekali mendesah lembut, membuat Kevin semakin bersemangat mengekspose seluruh tubuh Joelene.


Ini kali pertama bagi Joelene, menikmati sentuhan Kevin, karena sebelumnya Kevin melakukannya pada saat Joelene mabuk berat karena terbakar melihat kemesraan Kevin dengan Leona, sementara Kevin sudah kedua kali melakukannya dan sejak saat itu, Kevin merasa Joelene adalah candu baginya, yang membuatnya ingin lagi dan lagi.

__ADS_1


Setelah keduanya tak ditutupi sehelai benang pun, mereka tenggelam dalam selimut yang menutupi mereka, bergerilya didalam sana, saling membalas satu sama lain, Kevin yang tergila - gila akan semua sisi Joelene, tak satu pun luput dari nya, meninggalkan tanda kepemilikannya dimana - mana, membuat tubuh Joelene seperti babak belur.


Hingga keduanya mencapai puncak dan saling melepas, Joelene mendesah sedikit lebih keras, Kevin merasa berhasil memberikan kenikmatan pada wanita yang sudah dinikahinya itu, Hingga keduanya tertidur karena kelelahan.


__ADS_2