
Usai berpamitan dengan mereka pun langsung melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah.
Hari beranjak sore, tapi tidak seperti biasanya, burung - burung terlihat wara - wiri diangkasa, seperti sedang memberi pertanda.
Hari yang sedikit mendung menambah gelap suasana diperjalanan, padahal waktu masih menunjukkan pukul 3 sore.
Para petani terlihat berjalan pulang kerumah, anak - anak masih asyik bermain sepeda, ada juga yang bermain layangan karena cuaca yang tidak panas.
Joelene memandang keluar jendela, tersenyum seperti merasakan kebahagiaan yang tengah di rasakan oleh anak - anak tersebut.
“Joan,, kok senyum - senyum liat anak - anak itu, pengen gabung juga ?” Goda David
“Anak - anak itu enak ya, gak ada beban hidup, hanya tau belajar dan bermain” ucap Joelene
“Kamu juga pernah kan seperti mereka, hanya bermain dan sekolah”
“Tapi mereka berada dikeluarga yang utuh, ada ayah kandung, ibu kandung juga saudara kandung”
David mengerutkan dahinya, mencerna setiap ucapan Joelene.
“Maksudnya ayah dan Ibu kandung itu seperti apa Jo, bukannya kamu juga berada dikeluarga yang lengkap ?” Tanya David
“Memang aku berada dikeluarga yang lengkap, tapi,,,” ucapannya terjeda
“Tapi kenapa Joan ?” David semakin ingin tahu
“Tapi,,, mereka di tengah - tengah keluarga kandung, sedangkan aku, dengan keluarga yang mengasuhku, seperti apa rasanya berada di tengah - tengah keluarga kandung ?” David terkejut dengan ucapan Joelene.
“Memangnya saat ini kamu tidak bersama orang tua kandung kamu ?”
Joelene tak menjawab, hanya menggeleng pelan dan menatap kosong kedepan.
Suasana dalam mobil senyap, mereka sibuk dengan fikiran masing - masing, namun tiba - tiba terlihat orang - orang berlarian dari arah yang berlawanan.
David dan Joelene berhenti, kemudian bertanya pada salah satu pria yang juga berlari dengan membawa anaknya.
__ADS_1
“Pak,,, kenapa semua orang pada berlarian keatas bukit pak, apa yang terjadi ?” Tanya David
“Air laut surut drastis mas, peringatan tsunami berbunyi dan barusan terjadi gempa, semua yang berada dekat dengan laut harus pergi kedataran tinggi!” Ucap si bapak dan langsung meninggalkan David
David pun segera memutar balik mobilnya untuk ikut dengan orang - orang yang berjalan menuju daerah perbukitan.
Joelene menatap kesekililingnya, orang - orang berlarian menyelamatkan diri, anak - anak menangis di gendongan Ibunya, hewan ternak juga digiring naik ke perbukitan karena air laut mulai naik kedaratan dan akan ada gelombang besar setelahnya.
Suara gaduh bercampur tangisan terdengar, ada yang mengumandangkan adzan, ada yang berdo'a memohon perlindungan sambil tetap berlari dengan bertelanjang kaki.
Hingga tatapan Joelene terhenti pada seorang Ibu tua yang berjalan lemah hingga nyaris terjatuh karena dorongan orang - orang yang berlarian.
“Stop.. Dave aku mau turun!!” Ucap Joelene langsung membuka pintu mobil tak perduli mobil belum berhenti sempurna.
“Joan.. kamu mau kemana, Joana jangan turun !!” Teriak David yang tak diperdulikan Joelene.
Dia langsung mendekati Ibu Tua yang tengah terduduk lemah dipinggir jalan, nafasnya terengah - engah, wajah tuanya sudah penuh peluh yang bercampur air mata.
“Ibu... ayo bu saya bantu” ucap Joelene berniat membantu si Ibu berdiri dan berjalan kembali.
“Ibu... saya akan menemani Ibu,mari saya bantu bu..” ucap Joelene
Joelene pun mulai membawa Ibu masuk kemobil David.
“Ayo Dave,, kita bawa Ibu ini !” Ucap Joelene pada David
David pun menurut dan mulai melajukan mobilnya dan membawa si Ibu serta.
Setelah mereka berada didaerah perbukitan yang letaknya tidak jauh dari kawasan resort yang akan dibangun.
Mereka dan beberapa orang yang juga sudah tiba, mereka beristirahat, sambil menatap kearah lautan dibawah sana, dan benar saja, tak berapa lama mereka tiba, gelombang besar setinggi 10 meter naik kedaratan dan menyapu orang - orang yang masih terjangkau, hingga orang - orang tersebut terhempas dan ada juga yang terseret ke tengah lautan.
Orang - orang yang melihatnya dari atas bukit histeris dan menangis melihat gelombang tsunami yang menyapu desa mereka juga ada anggota keluarga, sahabat dan saudara mereka yang belum mereka temukan.
Hari sudah malam, gelombang tinggi sudah tidak lagi, namun menyisakan puing - puing bangunan yang hancur diterjang air laut, hingga membuat banyak rumah penduduk yang sangat dekat dengan pantai rata dengan tanah.
__ADS_1
Namun karena hari sudah malam dan mereka masih takut akan ada gempa dan tsunami susulan, mereka pun memilih tetap bertahan.
Joelene dan David mencoba menghubungi bantuan namun jaringan telepon sudah terputus total, listrik padam, kondisi desa semakin mencekam.
“Keesokan paginya cuaca cerah, orang - orang sudah sibuk mencari anggota keluarga mereka yang terpisah.
Dan bantuan dari TNI baru tiba, mereka membawa obat - obatan, pakaian dan bahan makanan.
Mereka juga mendirikan tenda darurat untuk para korban berteduh, juga tenda perawatan untuk merawat para korban yang terluka.
David dan Joelene ikut membantu anggota TNI, Joelene pun ikut membantu membawa anak - anak, Wanita dan manula menuju tenda perawatan, sedangkan yang lain dibawa ke tenda darurat untuk mereka beristirahat, karena semalaman mereka tidak terpejam.
Joelene pun membantu dibagian dapur umum, menyiapkan makanan untuk para korban bencana.
David dan Joelene belum bisa pulang, karena akses jalan terputus, jaringan telepon dan listrik pun padam, hingga membuat mereka harus menetap bersama masyarakat setempat.
David dan Joelene pun juga turun ke bawah ikut mencari korban yang masih selamat didaerah yang paling parah tersapu ombak.
Mayat - mayat bergelimpangan yang tak sempat menyelamatkan diri, ada juga yang hilang terseret ke tengah lautan, ada juga yang masih hidup namun terjepit diantara reruntuhan bangunan, David dan para TNI membantunya.
Hingga menjelang malam, mereka pun menghentikan pencarian dan kembali menuju tenda darurat untuk beristirahat.
Bantuan sudah mulai banyak berdatangan, BNPB, Pemerintah daerah juga beberapa volunteer asing.
Joelene bersama petugas dapur umum membagikan makanan untuk santap malam, dan memberikan obat - obatan pada korban anak - anak yang terpisah dari keluarganya.
Diam - diam David memperhatikan ketulusan Joelene membantu para korban bencana, tak perduli pada dirinya sendiri yang juga termasuk menjadi korban salam bencana ini, dia dengan tulus dan sabar membantu setiap korban.
Sisi lain yang belum di ketahui David tentang Joelene ini membuat rasa kagum David bertambah berlipat - lipat, sosok wanita yang sejak dulu mencuri hatinya dan saat ini berada sangat dekat dengannya dan kini mengubah rasa kagum menjadi cinta.
Setelah Joelene selesai membantu para korban, David pun memanggil Joelene untuk duduk bersamanya sambil menikmati secangkir kopi.
“Joan.. sini dulu kita ngopi bareng” ajak David
Joelene tak menolak, karena urusannya sudah selesai, dia pun duduk disebelah David, David pun mengambilkan secangkir kopi untuk Joelene.
__ADS_1
Joelene meneguk kopinya sambil menarik nafas dan menghembuskannya berlahan.