
Pagi ini dikantor Joelene lumayan sibuk, dia sedang mempersiapkan kunjungan tamu dari kantor pusat di Jakarta yang akan menginvestasikan sahamnya.
Semua sibuk dengan pekerjaannya masing - masing, tak terkecuali Joelene yang terlihat sangat sibuk meski perutnya sudah kian membesar karena sudah memasuki 30 minggu.
Tak jarang rekan sekantornya mengingatkannya agar jangan terlalu lelah, terlihat semua sangat perduli pada Joelene, selain Joelene orang yang sangat ramah, suka bercanda dan selalu menjadi tempat curhat kaum hawa dikantornya, hingga mereka memberi Julukan mama Jojo, “curhat dong maah...?” Itu slogan yang selalu diucapkan oleh teman - teman sekantornya saat mereka hendak curhat.
“Mba,, jangan terlalu lelah, kan masih ada kami yang tak berbadan dua ini, aku aja yang Liat mba mondar - mandir aja engap, gimana mba ya?” Ucap salah seorang karyawati yang bernama Nala
“Biar makin lancar lahirannya Nal, harus banyak gerak ga boleh manja”
“Iya deh,, aku angkat tangan kalau soal mandiri, mba emang wanita marcopolo”
“Apaan marcopolo?” Ucap Joelene dengan alis mengkerut
“Iya.. marcopolo,, pemberani dan tangguh,, eak...eak...” goda Nala pada Joelene yang dasarnya suka becanda
“Ealaah... sa ae lu neng warkop!! Hahaha....” sambut Joelene yang membuat mereka tertawa, hingga pekerjaan yang begitu melelahkan tidak terasa bagi mereka.
Tepat pukul 11 siang, tamu yang di tunggu akhirnya datang, Joelene yang diberi tanggung jawab untuk menjamu tamu hari itu terlihat masih saja sibuk kesana kemari untuk memastikan semuanya sesuai rencana, agar tidak ada kesalahan yang terjadi.
Selesai para tamu melakukan pertemuan diruang meeting, kemudian mereka berencana untuk makan siang di sebuah restauran yang sudah di booking sebelumnya.
Joelene pun segera memasuki mobil perusahaan yang akan membawa ke restauran tersebut.
Sesampainya direstauran tersebut, dengan sigap Joelene mengatur semuanya, hingga tiga puluh menit kemudian, tamu perusahaan pun tiba dan langsung menuju ruangan vvip Yang telah disiapkan.
Joelene tidak ikut bergabung, karena acara makan siang diruangan vvip itu hanya khusus untuk tamu yang akan berinvestasi dan CEO perusahaan tempat Joelene bekerja.
Sambil menunggu para petinggi menyelesaikan makan siangnya, Joelene terduduk disalah Satu meja yang berada diluar ruangan vvip tersebut.
“Begini amat yak mencari sesuap nasi dan sekarung berlian ini, kita udah sama kaya dilagu nya Bebeb Aril mba” Ucap Nala yang siang itu ikut bersama Joelene
“Emang lagu bebeb aril yang mana ?” Tanya Joelene kepo
“Itu lo mba,, yang judulnya di atas normal, Yang liriknya begini,, kaki dikepala, kepala dikaki!” Ucap Nala
“Jadul amat lagu nya,, ga ada yang up date lagi ? Udah sama kaya wajah lu Nal,, jadul..! Hahaha...” Ucap Joelene menggoda Nala
Mendengar ucapan Joelene bibir Nala langsung cemberut
“Ya elaaa,,, Dasar nasib dah!!” Ucap Nala cemberut
“Duh... langsung cemberut,, jelek ah...!!” Ucap Joelene
Tiba - tiba Joelene merasa perutnya kram, refleks Joelene mengaduh
“Aduh...aw...!”
“Mba... kenapa mba? Jangan lahiran disini mba, gak Lucu ah masa mba lahiran dibantuin sama koki, apa kata chef Juna ntar!” Masih sempat - sempatnya Nala mencandai Joelene, Joelene yang tadinya kesakitan mengalami kontraksi palsu langsung tertawa mendengar ucapan Nala.
“Yeee... dia ketawa lagi!! Kita nya udah senewen dia nya malah ketawa, mba jangan becanda dong mba!!” Ucap Nala
“Siapa yang becanda Nal,, serius sakit lo,,”
“Terus kenapa mba bisa ketawa ke tiwi begitu, sakit kok malah ketawa sih, nih minum dulu” Ucap Nala sambil menyodorkan gelas minuman yang sudah tersedia di meja yang mereka duduki tadi.
“Tau rasa kan mba, si dedek dari dalam ngeprank emaknya, sama kaya kelakuan emaknya yang suka ngeprank in orang, Satu sama kan?” Ucap Nala sambil menaik turunkan alisnya
“Awas ntar kuwalat ngeledekin ibu hamil!” Ucap Joelene menakuti Nala
“Is... amit- amit mba,, do’a nya gak enak banget ah!!”
Sedang asyik mengobrol dan bercanda dengan Nala tiba - tiba pintu ruangan vvip terbuka dan salah Satu dari tamu mereka keluar hendak ke toilet.
Namun saat yang bersamaan tiba - tiba Joelene merasakan perutnya mulas seperti akan melahirkan.
“Aw...aduh...aw...”
__ADS_1
“Hem... ngeprank lagi nih bocah!!” Ucap Nala ambil melirik kearah Joelene, namun kali ini fikirkan Nala salah, karena kali ini benar - benar sakit.
“Nal.. tolongin Nal.. ini beneran sakit !!” Ucap Joelene dengan Wajah meringis sambil memegangi perutnya
“Eh... dia beneran..!! I..Iya.. mba,, Waduh kok aku jadi ikutan mules yah!!” Celoteh Nala karena gugup dan bingung akan berbuat apa
Sesaat Nala masih ke bingungan ingin mencari bantuan, karena postur tubuh Nala yang imut - imut dan tidak mungkin untuk membopong tubuh Joelene yang tinggi dan tengah berbadan dua itu, yang membuat bobot tubuhnya naik hingga nyaris 20 kg.
“Mas..mas.. tolongin temen saya, dia mau brojol Eh... maksud saya mau lahiran di restauran,,Eh... nggak anu mau lahiran di rumah sakit... tolongin mas..!!” Ucap Nala pada sosok pria yang ditemuinya.
Pria bertubuh atletis dengan tinggi badan sekitar 180 an itu segera membantu Nala, tanpa fikir panjang, ia langsung mengangkat tubuh Joelene yang sudah kehilangan kesadarannya itu dan membawanya ke dalam mobilnya yang diikuti oleh Nala yang tegopoh - gopoh mengikuti langkah kaki pria itu.
Dia langsung menyetir mobilnya, sementara Joelene di temani Nala duduk di jok belakang mobil.
Wajah Nala terlihat pucat, ketika tiba - tiba darah segar keluar dari bagian bawah dress Joelene, tubuhnya bergetar tremor karena tidak kuat melihat darah.
“Da...da...da..raahh..!” Ucapnya terbata, seketika pria itu memandang melalui spion diatas dashboard nya.
Tanpa berbicara sepatah katapun, pria itu langsung menginjak pedal gasnya lebih dalam untuk mempercepat laju kendaraannya agar segera tiba dirumah sakit.
Sepuluh menit kemudian mereka tiba didepan pintu Unit Gawat Darurat, tanpa menunggu perawat membawa brankar, pria itu langsung menggendong tubuh Joelene kedalam ruangan UGD agar segera mendapat pertolongan.
Setelah Joelene berada didalam ruangan dan sedang di tangani para dokter, baru lah Nala bisa terduduk lemas dikursi ruang tunggu dengan bibir yang putih memucat.
Pria tersebut mendekati Nala dan memberikan sebotol air mineral pada Nala
“Minum dulu,, biar lebih tenang..”
tanpa menoleh, Nala langsung menerima botol minuman itu dan menenggaknya hingga hampir setengah dari isi botul tersebut.
Setelah selesai minum, Nala tersadar lalu menoleh kearah pria yang barusan memberinya minuman tadi
“Ya Tuhan,, ini beneran manusia ya, bukan malaikat kan ya? Kakinya masih menyentuh lantai kok, berarti dia sejenis manusia, kok bisa gantengnya kurang ajar kaya gini sih,, aku gak lagi mimpi kan ini??”
Nala masih terpesona dengan sosok yang ditatapnya barusan, pria yang sangat perfect dimatanya, bagaimana tidak, untuk jomblo sekelas Nala ini kali pertama dia menemui pria sesempurna yang sedang berada Dihadapannya itu, hingga dia merasa sedang berhalusinasi karena tidak percaya akan pandangan matanya sendiri.
“Eh... I..iya... ga apa - apa kok, Makasi ya mas udah nolongin temen saya itu”
“Sama - sama mba, mba punya nomor suaminya atau keluarganya mungkin, yang bisa segera dihubungi”
“Oh... iya... ada..ponselnya di saya kok, sebentar saya hubungi”
Saat Nala mencoba meraih ponsel Joelene yang berada didalam saku blazernya, tiba - tiba seorang perawat keluar dari UGD
“Maaf... keluarga pasien yang mau melahirkan barusan mana ya ?”
Nala dan pria tersebut saling pandang dan diam sejenak
“Maaf ini harus segera diambil tindakan operasi dan harus ada tanda tangan persetujuan dari pihak suami atau keluarga, Karena pasien mengalami pendarahan, bapak suami pasien kan, ayo ikut saya buat tanda tangan surat persetujuannya” ucap perawat sambil berlalu dengan cepat agar pria itu mengikuti arah langkahnya.
Wajahnya terlihat kebingungan, sementara Nala masih kesusahan membuka pola dari ponsel Joelene, hingga beberapa kali dia mencoba namun belum berhasil juga.
“Ayo pak,, bapak harus segera tanda tangan,, ini menyangkut nyawa istri dan anak bapak!!” Ucap perawat yang menoleh kebelakang karena pria tersebut belum juga mengikutinya.
Tanpa fikir panjang, karena menyangkut keselamatan dua nyawa sekaligus, dia pun segera mengikuti perawat tersebut untuk menanda tangani surat persetujuan pengambilan tindakan SC.
Nala masih sibuk dengan ponsel Joelene yang belum berhasil dibukanya.
Saat Nala masih berkutat dengan ponsel Joelene tiba - tiba ada panggilan masuk ke ponsel Joelene, terlihat nama bude Mieke muncul pada layar ponsel Joelene, Nala pun langsung menerima nya, karena dia juga sudah mengenal bude Joelene tersebut.
Nala
“Ya Hallo bude...”
bude Mieke
“Jo..eh... ini siapa ya, ini bukan Joelene ?”
__ADS_1
Nala
“Eh... iya bude ini Nala teman sekantornya mba Joelene”
Bude Mieke
”Joelene kemana Nal ?”
Nala
“anu bude,, mba Joelene nya lagi Dirumah sakit, kaya nya udah mau lahiran ini”
Bude Mieke
“Loh,,, kok bisa, kan belum waktunya, memangnya Jo kenapa Nal, jatuh ?”
Nala
“Nggak bude, tadi pas lagi kerja tiba - tiba mba Joelenenya kontraksi, jadi langsung dibawa kerumah sakit, terus kata dokter dia udah mau lahiran karena pendarahan, bude ke rumah sakit harapan bunda aja ya”
Bude Mieke
“Ok,, Nal, Makasi ya nal”
Mereka pun langsung mengakhiri panggilannya dan bude Mieke segera bergegas kerumah sakit tempat Joelene dirawat.
Tiga puluh menit kemudian, pria itu kembali menuju ruang tunggu ditempat Nala duduk, wajahnya yang ganteng maksimal menurut Nala semakin bertambah berkali - kali lipat saat wajahnya menunjukkan ekspresi takut dan panik, seperti benar - benar sedang menunggu istrinya yang sedang melahirkan.
Nala tak berani mendekat ataupun bertanya, dia memilih diam namun tetap memperhatikan dari jarak yang tidak jauh.
Empat puluh lima menit kemudian, perawat keluar dari ruangan dan menemui pria tersebut
Selamat ya pak, anak laki - laki, tapi karena masih kurang bulan jadi kita rawat di inkubator dulu, ibunya juga belum siuman”
Pria itu hanya mengangguk masih dengan ekspresi wajah panik.
Pintu UGD terbuka lebar, Joelene pun di dorong untuk dipindahkan keruang perawatan, Joelene sudah siuman namun belum sepenuhnya.
Nala bangkit dari duduknya dan mengikuti kemana Joelene dibawa, terlihat mata Joelene sudah terbuka namun belum sadar sepenuhnya.
Pria tersebut pun mengikuti kemana Joelene akan dibawa.
Sesampainya diruang perawatan, Joelene dirawat diruang VVIP rumah sakit tersebut, Nala kaget, kenapa Joelene dibawa keruangan perawatan VVIP, sementara limit asuransi yang dicover dari perusahaan hanya maksimal VIP.
Setelah para perawat memindahkan Joelene, mereka pun segera pamit meninggalkan ruangan tersebut, dan kini yang hanya tertinggal di ruangan tersebut hanya Nala, Joelene dan pria tersebut.
“Mba,,, mba udak sadar, kenal aku kan ?” Ucap Nala masih tetap dengan jahilnya mencandai Joelene.
Joelene tersenyum sambil menutup matanya perlahan
“Kamu tuh ya, orang baru antara hidup dan mati aja kamu masih sempat -sempatnya bercanda” ucap Joelene Lemah
“Ya maap mba, kirain udah boleh dibecandain,, hehehe...”
“Bude sama pakde mana Nal ?”
“Belum datang mba, mungkin masih dijalan”
“Loh... jadi mereka belum kesini, terus siapa yang tanda tangan persetujuan SC nya ?” Tanya Joelene dengan wajah heran
Nala bingung harus jawab apa, lalu dia pun berucap
“Kebetulan orangnya masih disini mba, biar orangnya aja yang ngomong ke mba ya” ucap Nala, lalu mendekat pada pria yang sejak tadi duduk di sofa di ruangan tersebut
“Mas,, dicari mba Joelene” ucap Nala pada pria itu, pria tersebut pun mengangguk dan beranjak dari duduknya kemudian mendekat ke tempat tidur Joelene.
Tanp berkata - kata, pria itu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan pada Joelene yang masih terbaring.
__ADS_1
Joelene kaget, sekaligus tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.