Hight Quality Jomblo

Hight Quality Jomblo
Bab. 98


__ADS_3

Joelene sedang berada di kantor, memeriksa beberapa berkas, karena sore nanti dia akan bertolak ke Jakarta untuk menghadiri pembacaan putusan sidang perceraiannya.


Menjelang sore, Joelene pulang kerumah untuk segera bersiap - siap berangkat menuju jakarta dengan kereta.


Usai bersiap - siap, joelene pun pamit dan menitipkan putranya pada pakde, bude dan oma.


“Oma, jo berangkat dulu ya, jo titip Alvin”


“Iya nak, kamu gak usah khawatir, ada pakde dan bude juga disini, kamu selesaikan saja urusan kamu nak, semoga semuanya lancar, oma mendo’akan yang terbaik untuk cucu oma” Ucap oma sambil mencium kening cucunya itu


“Makasi oma, pakde, bude juga Ica, mudah - mudahan cepat selesai, besok sore Jo langsung balik ya, jo pergi dulu”


“Hati - hati Jo, kalau ada apa - apa kabari pakde sama bude nak” Ucap pakde


“Iya pakde, jo jalan dulu ya,, Aal jangan nakal ya nak, denger kata yangyut, kakek, nenek dan onty Ca ya sayang..” Ucap joelene sambil mencium pipi putranya itu


“Ok mommy,, mommy hati - hati ya, jangan lupa makan” pesan Aal putranya sambil memeluknya


Joelene pun mencium pucuk kepala putranya itu, kemudian langsung menaiki taksi yang akan mengantarnya ke stasiun kereta.


Malam hari Joelene tiba di Jakarta, dia segera menuju rumah Ibu angkatnya swngan menumpangi taksi.


Tiga puluh menit kemudian, Joelene tiba didepan gerbang, Jojo pun langsung masuk menuju pintu utama lalu memencet bel.


Pintu terbuka, Janet muncul dari balik pintu


“Jojo ? Kok gak kasi kabar mau kesini ?”


“Iya mba,, dadakan, kemarin di telpon pengacara yang urus perceraian Jojo, katanya besok pembacaan putusan perceraian Jo”


“Ibu sudah tidur, besok aja temui ibu ya, tadi Ibu agak kurang sehat, belakangan ini Ibu susah tidur, jadi mba kasi obat biar istirahat, kita ngobrol diruang tengah aja ya, ohya... kamu udah makan ?”


“Udah mba, tadi di kereta, ohya.. anak - anak kemana ?”


“Udah pada tidur, besokkan hari sekolah” Jawab Janet sambil duduk di sofa ruang tv.


“Sepi ya mba, mas Adam kemana ? Mba Jeje jarang kesini ?” Tanya joelene


“Mas Adam lagi ada seminar di Surabaya, kalau Jeje paling kesini pas week end, mungkin repot, urus anak yang masih balita, urus butik, saloon, pokoknya semua sesuai cita - cita nya deh,, jadi wanita karir,, hahaha...”


“Salut liat mba Jeje, mama yang multy talent banget ya mba,, hehehe...”


“Jadi gimana, kamu memang benar - benar udah yakin mau bercerai Jo ?”


“Loh... kenapa mba nanya nya sekarang, udah telat mba, besok udah pembacaan putusan”


“Iya mba tau,, tapi itu benar - benar udah kamu fikirkan matang - matang ? Kevin gimana, apa dia juga mau bercerai ?”


“Kalau dia gak mau bercerai, dia bakal berusaha mencari keberadaan Jo mba, beberapa kali Jojo kirim email, gak ada tanggapan, berarti kan dia juga menginginkan perceraian ini, capek mba, sekarang prioritas Jo Cuma Alvin juga mencari Mommy, saat ini Jo lagi nabung buat modal Ongkos ke Belgia, Jo yakin akan bertemu dengan Mommy” ucapnya sambil menatap lurus kedepan


“Kamu juga akan membawa serta Alvin ke Belgia ?”


“Iya mba,,, kami tidak boleh terpisah, apa pun yang terjadi kami harus tetap bersama, Jo gak mau Alvin mengalami hal serupa seperti yang Jo alami waktu jo kecil, susah senang kami akan tetap bersama, Cuma Alvin yang Jo punya mba” ucapnya pada Janet dengan mata yang berkaca mengingat semua yang terjadi di kehidupannya dan tak ingin itu terjadi pada putra semata wayangnya.


“Ya sudah,, mba hanya bisa berdo’a Yang terbaik buat kamu dan Alvin, mudah - mudahan juga kamu bisa ketemu mommy, ya sudah... kita masuk yuk,, udah malam, kamu juga harus istirahat, besok pagi kan harus menghadiri persidangan” Ucap Janet dan mereka pun beranjak masuk kekamar masing - masing untuk beristirahat.


***

__ADS_1


Keesokan paginya, Joelene sudah berada di pengadilan, sidang akan di mulai tiga puluh menit lagi, Joelene menatap sekitar, apakah ada Kevin disana, namun Joelene tidak menemukan sosok Kevin, diraihnya ponsel membuka emailnya, juga tidak ada balasan dari Kevin, Joelene pun menghela nafas.


“Sepertinya gugatanku akan dikabulkan, ya... memang sebaiknya berpisah, tidak ada lagi yang harus dipertahankan”


Joelene duduk didepan ruang sidang, sambil memainkan ponselnya, melihat beberapa pesan masuk.


“Ibu Joelene Anastasia, sepertinya anda sudah lama tidak minum kopi, bagaimana kalau anda minum Kopi dulu biar lebih fokus” Ucap seseorang yang berdiri dihadapan Joelene, dia segera mengangkat wajahnya


“David... sedang apa kesini ?” Ucap Joelene sedikit kaget


“Wah... sepertinya ibu Joelene Anastasia ini kurang ngopi sampai dia gagal fokus, ibu lupa kalau saya pengacara, pastinya pengadilan tempat saya bergentayangan” Ucap David menggoda Joelene


“Hahaha,,, ya ampuun!! Kenapa aku bisa lupa ya,, sepertinya memang benar, aku belum ngopi pagi ini jadi gagal fokus”


“Bagaimana kalau kita ngopi didepan sana, biar lebih konsentrasi?” Ucap David


Sejenak Joelene melirik jam dipergelangan tangannya


“Baiklah.. masih ada waktu tiga puluh menit” Ucap Joelene menyetujui ide David.


Mereka pun berjalan beriringan menuju caffe yang berada diseberang gedung pengadilan.


“Lady’s first..” Ucap David sambil membukakan pintu kaca caffè tersebut mempersilahkan Joelene masuk terlebih dahulu.


“Apaan sih... tapi makasi” Ucap joelene sambil melangkah masuk.


Mereka pun memilih tempat duduk dan memesan kopi.


“Kamu dalam rangka apa kesini?” Tanya David sambil menunggu kopi yang mereka pesan datang


“Seperti yang kamu fikirkan” Jawab joelene singkat


“Ya mana aku tau Dave,, lagian siapa juga yang memperdalam ilmu, aku sedang memperdalam persembunyian, biar gak ketemu kamu terus” ucap Joelene sambil mengatupkan bibirnya.


“Hahaha... lagian kamu tuh emang gak bisa sembunyi jauh - jauh dari aku Joana, karena sejak kamu jadi adik kelas aku, aku udah pasang alat pelacak, biar dimana pun kamu berada aku bisa mengendus keberadaan kamu” ucap David sambil menaikkan sebelah alisnya.


Keduanya tertawa, sambil menikmati kopi pagi mereka, entah mengapa, setiap bersama dengan David, Joelene merasa nyaman, walaupun pertemuan mereka selalu tidak disengaja dan tidak berlangsung lama, tapi kehadiran David sukses membuat mood Joelene jauh lebih baik, padahal hanya candaan dan godaan receh David sudah mampu menjadi mood booster bagi Joelene.


“Jadi hari ini sidang ke berapa, Kevin datang ?” David menyelipkan pertanyaan serius disela - sela candaannya


“Hari ini pembacaan putusan dan sepertinya Kevin tidak datang, beberapa kali aku mengirimkan email tapi tidak ada tanggapan, disidang - sidang sebelumnya dia juga tidak pernah datang, aku rasa itu akan lebih mempermudah, bener kan ?” Tanya Joelene memastikan pada David


“Iya benar Joan, tapi kamu yakin dengan keputusan kamu ini Jo, gimana dengan anak kamu ?”


“Aku yakin hak perwalian pasti jatuh ditangan ku, jadi aku gak terlalu khawatir”


“Iya,, memang benar, tapi anak kamu kan butuh figur seorang Ayah, apalagi di usianya yang masih kecil pasti dia sedang aktif dan banyak meniru apa yang dia lihat, dan biasanya anak laki - laki akan cenderung meniru apa yang dilakukan Ayahnya”


“Kamu benar Dave, sekarang aja dia udah mulai bertanya kemana Daddy nya, karena dia sering melihat anak tetangga yang bermain basket ditaman perumahan bersama ayah mereka”


“So.. kamu jawab apa ?” Tanya David yang sangat ingin tahu


“Aku cuma bilang, Daddy nya sedang bekerja jauh dan belum tau kapan akan pulang”


“Berarti dia masih menunggu akan hari kepulangan Daddy nya dong ?”


“Iya,, terkadang dia sering meminta vidio call dengan Daddy atau pun telponan dengan Daddy, tapi aku selalu memberi alasan atau aku mengalihkannya dengan bermain atau apalah yang membuat dia lupa”

__ADS_1


David hanya mengangguk pelan, sambil meraih cangkir kopinya.


“Eh.. sebentar lagi sidang akan dimulai, aku harus kembali Dave” ucap Joelene sambil melirik pada pergelangan tangannya


“Ok,, kita balik..” ucap David setelah meninggalkan uang dimeja.


Joelene pun segera memasuki ruang sidangnya, sementara David sedang menunggu sahabatnya sesama pengacara untuk menyerahkan beberapa berkas yang sedang ditanganinya, karena dia sudah fokus mengurus perusahaan hingga berkas kasus - kasus yang sedang di tanganinya akan dilimpahkan pada sahabatnya itu.


Lebih kurang satu jam didalam ruang sidang, akhirnya Joelene keluar dengan bernafas lega, karena pengadilan memutuskan permohonan cerainya dikabulkan dan hak asuh anak jatuh ke tangannya.


Saat keluar dari ruang sidang, David menyambut dengan senyuman manis di kursi tunggu Didepan ruang sidang Joelene.


“Dave,, kamu masih disini ?”


“Iya,,” jawabnya singkat


“Bukannya tadi kamu ada urusan ya ?”


“Iya.. udah kelar” jawabnya masih dengan singkat


“Terus.. kenapa masih disini ?”


“Emang gak boleh..? ini tuh tempat aku bergentayangan Joana...”


“Iya sih,,, ya udah aku jalan dulu ya” ucap Joelene sambil akan berlalu meninggalkan David


David refleks meraih lengang Joelene sambil berucap


“Eh... tunggu dulu, hasilnya apa ?” Tanya David yang ternyata memang sedang menunggu Joelene kelar sidang dan ingin tau apa hasil keputusan sidangnya.


Joelene kaget sambil menatap kearah lengannya yang diraih David, lalu berucap


“Seperti yang kamu fikirkan, semua lancar”


“Kamu senang banget buat aku menerka - nerka Joan,,” kesal David


“Masa sih seorang pengacara ternama gak bisa menyimpulkan dari apa yang aku ucapkan, udah ah.. aku mau langsung balik nih, takut ketinggalan kereta” ucap Joelene


David hanya tersenyum kecut sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal.


Sebenarnya dia juga sudah tau pasti hasil putusan sidang yang memutuskan mengabulkan permohonan Joelene namun dia hanya ingin mendengar langsung dari mulut Joelene.


“Joan... tunggu...! Kamu mau langsung balik ke Bogor ? Kita bareng aja, aku juga mau ke Bogor” ucap David sedikit berlari mengejar Joelene yang sudah berjalan Didepan David


“Aku naik kereta aja Dave, lagian ini masih ada kok jadwal kereta terakhir dan masih sempat kok ini, udah kamu urus aja dulu urusan kamu” ucap Joelene sengaja menghindar.


Namun, bukan David sang pengacara nama nya jika menyerah begitu saja, dia tetap berusaha.


Saat Didepan gerbang, terlihat sangat padat dan ramai wartawan yang sedang mengejar artis yang baru saja tiba untuk menghadiri sidang perceraian nya, hingga Joelene tidak bisa keluar dari gerbang utama.


Seulas senyum terbit di bibir David ketika melihat kondisi pintu gerbang utama dipadati para wartawan yang sedang mengejar berita hingga sulit untuk keluar.


“Joana... sejauh apa pun kamu menghindar dari aku, tetap kamu tidak akan berhasil karena semesta sangat merestui misi ku ini”


“Aku bilang juga apa, kamu gak bakal bisa keluar diantara kerumunan wartawan bar - bar pemburu berita gosip itu, kamu bakal kekurangan oksigen, mending bareng aku aja toh aku juga mau ke Bogor” ucap David dengan seringai diwajahnya.


Joelene berdiri terpaku, sambil masih melebarkan pandangan keseluruh penjuru, berharap ada sedikit celah buat dia keluar dari kerumunan orang - orang itu, namun Joelene tidak menemukan cela sedikitpun, dia pun langsung melihat jam di pergelangan tangannya, jadwal keberangkatan Kereta tinggal 30 menit lagi, Joelene hanya bisa menghela nafas dengan kasar, sementara David membelakangi Joelene sambil mengepalkan tangannya

__ADS_1


“Yess...”menempelkan jari telunjuk dibibirnya kemudian mengarahkan nya ke langit seperti berucap terima kasih pada sang penguasa langit dan bumi atas restu yang diberikan.


__ADS_2