HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Kisah Masa Lalu sang Dosen Kutub


__ADS_3

" Assalamu'alaikum, bagaimana kondisi wanita itu mas?" tanya Annisa saat menyambut kedatangan sang suami, di teras depan.


Seperti biasa Azzam mengulurkan tangannya kepada Nisa, dan disambut oleh sang istri dengan ciuman d punggung tangan tersebut.


" Wa'alaikumussalam, baru saja di pindahkan ruangan sayang. " jawab Azzam membuang nafas kasar, pertanda dirinya tengah lelah saat itu.


Tak banyak tanya, Nisa mengikuti langkah kaki sang suami yang berjalan menuju ruang tengah. Azzam duduk merebahkan punggungnya, bersandar di bantalan sofa.


Tangan Nisa mulai memainkan perannya, memijit kecil punggung ayah dari calon bayinya.


" Terimakasih sayang." ucap Azzam sembari memejamkan mata. Dan Nisa masih terus memijat.


Azzam terlihat tampak lelah sekali sore itu, sambil menikmati pijatan lembut istri tercinta, mendadak pria ini teringat akan bocah laki-laki yang ia titipkan kepada istrinya.


" Oh ya yang aku enggak lihat anak itu, dimana dia?" tanya Azzam kembali membuka mata. Menatap sang istri yang tengah berdiri di belakangnya, masih memijat.


" Ada kok mas, Hamzah lagi tidur di kamar." balas Nisa, berhenti memijat.


Azzam terjaga dan beranjak ke kamar untuk melihat, dan memastikan bocah itu baik-baik saja.


" Alhamdulillah." ucap Azzam.


Pria ini menarik lembut tangan sang istri, dan membuatnya duduk di pangkuannya. Tangan Azzam membuka niqab yang Nisa kenakan, dan mencium kedua pipi sang istri bergantian.

__ADS_1


" Aku mau bercerita siapa wanita yang aku tolong tadi, tapi sayang mau berjanji enggak akan marah?" ucap Azzam kembali bertanya. Dan tangannya kini merengkuh pinggang wanita yang duduk di pangkuannya itu, agar tidak terjatuh. Dibalas anggukan oleh sang istri, serta senyum lebar.


Sebelum memulai bercerita, lagi-lagi Azzam menghela nafas panjang.


" Sebelumnya aku minta maaf yang, enggak pernah menceritakan masa laluku. Karena aku fikir itu hanyalah sebuah kenangan yang harus aku buang, dan tak wajib untuk aku ingat-ingat lagi." tandasnya.


" Wanita yang aku tolong tadi, dia bernama Aulia Farzana. Dia mantan tunangan aku yang pergi meninggalkan aku, bersama pria yang lebih mapan dan kaya raya."


" Dia teman satu kampusku dulu, dan ibunya meninggal, saat ia masih duduk di bangku SMA. Ia tinggal dengan ayahnya. Aku dan dia hanya sebatas teman saja awalnya. Namun karena perhatian dia yang selalu tertuju padaku, bahkan sering membantuku saat gadis di kampus, menggodaku. Dan hal itulah yang membuat aku mulai menyukai sifatnya, dan perlahan jatuh cinta." ujar Azzam dengan cerita yang makin kedalam kisahnya.


" Karena abi dan umi tidak pernah mengizinkan aku untuk berpacaran, maka aku memberanikan diri untuk mengajaknya tunangan, tanpa berpacaran. Dan ia pun seketika menyetujui nya. Kami bahagia sekali saat itu, Alhamdulillah perasaan kami bak gayung bersambut. Di bulan ke tiga setelah tunangan itu berlangsung, tiba-tiba dia menghilang begitu saja tanpa penjelasan sepatah kata pun." raut wajah Azzam mulai tampak bersedih kala mengingat flashback kisah masa lalu nya.


" Aku pikir saat itu dia sedang sakit, karenanya aku beranikan diri untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Dan ternyata menurut cerita ayahnya, sejak kemarin Aulia kabur dari rumah bersama seorang laki-laki. Bahkan ayahnya sempat marah namun sayang, semua tidak berhasil membuat Aulia kembali. Dia tetap pergi bersama pria itu." bola kristal bening mulai beranak sungai di sudut netra Azzam.


" Dari situ aku tahu ternyata dia pergi meninggalkan aku dan memutuskan tunangan kami, demi kabur bersama pria lain yang saat itu aku tidak tahu dia siapa. Aku berusaha mengikhlaskan kepergian dia, walau ada rasa kecewa yang menghimpit ku. Dan hal itu lah yang membuat sikap ku berubah menjadi dingin, dan seolah apatis terhadap semua wanita. Dan sejak saat itu pula aku sering di juluki si kutub." Nisa memegangi wajah suaminya dan mengusap air mata yang berhasil terjatuh itu.


" Lama aku dengar dia tinggal di Malaysia bersama pria itu dan menikah. Karena papa dari suaminya itu menugaskan dia untuk pindah kesana dan mengelola perusahaan yang ada disana. Dan setelah itu aku tidak lagi mendengar kabar dia lagi." kali ini, wajah Azzam berubah kembali ceria, mengulas senyuman kepada sang istri.


" Sampai suatu waktu, sayang ingat tidak saat malam-malam sayang ngidam pizza?" tanya Azzam menatap lekat wajah ayu sang istri, dibalas anggukan dan senyuman oleh Nisa.


" Karena semua sudah tutup, aku hampir saja pulang, dan kebetulan ada kedai di pinggir jalan yang bertuliskan menjual Pizza, donuts dan hotdog. Jadi mas kesana. Qodarullah saat itu mas kaget sekali karena ternyata yang berjualan adalah dia, Aulia. Dan saat itu aku juga melihat anak kecil sedang tertidur, hanya saja, karena hari sudah malam, maka aku tidak banyak bertanya, dan dia ngasih sayangku ini donuts dan hotdog, fahimtum?" goda Azzam mencubit mesra pipi chubby sang istri.


" Oh jadi ceritanya itu pizza mantan ya? he he he, pantesan enak ha ha ha." kekeh Nisa lanjut tertawa.

__ADS_1


Bukannya ekspresi sedih yang ia lihat dari wajah sang istri, malah gembira. Hal itu membuat Azzam merasa plong, dan ikutan bercanda ria dengan sang istri, dengan menggelitik pinggang dan perutnya.


" Ampun, ampun mas ha ha ha. Stop Nisa sudah nggak kuat, ha ha ha." tawa Annisa terpingkal, saat Azzam terus menggelitik dan membuatnya merinding disko.


Mendengar riuh suara tawa yang ada di dalam kamar, bocah kecil yang tadinya tertidur lelap, akhirnya terjaga.


Seketika Azzam dan Annisa berhenti tertawa, menghampiri bocah tersebut. Hamzah menoleh bergantian ke arah kedua orang dihadapannya.


" Hai, assalamu'alaikum anak Sholeh, kenalkan nama om Azzam, nama kamu siapa?" tanya Azzam seraya mengulurkan tangannya ke arah bocah dihadapannya.


Hamzah pun menerima uluran tangan pria berwajah kearaban di hadapannya tersebut.


" Wa'alaikumussalam om ganteng, nama aku Hamzah, mama biasa panggil aku Ham." jawab bocah tersebut.


Azzam memeluk tubuh bocah itu dan mencium keningnya.


" Sekarang, anak sholeh tinggal bersama om dan Kaka cantik dulu ya, besok kita jenguk mama Ham di rumah sakit." ujar Azzam membujuk bocah tersebut.


Hamzah pun mengangguk dan balas tersenyum. Nisa juga ikutan memeluk tubuh bocah lucu dan menggemaskan itu.


" Terimakasih ya mas, sudah bercerita semuanya. Aku beruntung sekali bisa menjadi pendamping dan pelengkap hidup kamu mas." tutur Annisa saat keduanya memeluk tubuh mungil Hamzah.


Tak lama kemudian mereka pun berpamit kepada sang mama Devi, untuk membawa Hamzah ikut bersamanya mereka pulang. Namun sebelum kembali pulang, Azzam terlebih dulu mampir ke toko pakaian anak-anak. Membeli baju untuk ganti Hamzah.

__ADS_1


******


BERSAMBUNG.....


__ADS_2