
" Silahkan mandi dulu mas, sebentar lagi adzan Maghrib, pasti mas Han sangat capek, sini tasnya mas , biar ku tata di lemari." ujar Karen meraih tas yang sedang di pegang oleh suaminya.
Han pun memberikan tasnya kepada Karen, lalu menuju kamar mandi yang ada didalam kamar Karen yang kini menjadi kamar baru bagi pasangan pengantin baru ini.
Tampak langkah kaki Han terlihat canggung, antara masuk kamar mandi atau tidak.
" Mas Han kenapa? kok masih diam berdiri di situ, sebentar lagi adzan Maghrib loh mas, nggak mau apa mengimami aku sholat." celetuk Karen menggoda suaminya yang tampak canggung, sedangkan ia mulai menata pakaian Han ke dalam lemarinya.
Han tersipu malu mendengar gurauan wanita di hadapannya, baginya sama sekali tidak menyangka, seorang putri pengusaha yang notabene nya kaya raya dan selalu terpenuhi setiap keinginan pastinya, adalah sosok gadis yang mandiri, berfikiran dewasa dan sama sekali tidak manja.
Karen mendorong tubuh Han dari belakang menuju kamar mandi, sampai Han masuk dan menutup pintu. Sementara Karen menggelengkan kepala seraya tersenyum menatap punggung suaminya itu. Dan tak lama kemudian berganti Karen masuk kedalam kamar mandi.
Sepasang pengantin baru yang masih diliputi rasa canggung ini, untuk pertama kalinya melaksanakan sholat berjama'ah.
*****
" Sayang kenapa susunya belum diminum?" tanya Azzam, saat mendapati sang istri tengah duduk termenung, mendiamkan susu buatannya.
Nisa menggeleng kan kepala serta memasang wajah cemberut, duduk diatas kasur. Azzam pun menghampirinya, membelai rambut hitam Annisa.
Dikecupnya kening wanita yang masih tidak jelas kenapa moodnya saat itu.
" Sayang mau pulang kah?" Annisa masih tetap sama, hanya geleng kepala.
" Atau mau mas masakin sesuatu? atau mas pijitin?" Azzam terus saja berusaha merayu dan mengambil hati sang istri yang masih termenung.
Tiba-tiba, " huuuuuu..... aku masih pingin ngobrol sama Karen mas, aku mau belajar banyak hal darinya, dia wanita hebat pintar segala hal, tidak seperti ku, hikkssss. Aku mau kesana sekarang juga huaaaaa." rengek Annisa kepada Azzam.
Azzam mendadak ambigu seraya menggaruk kepalanya merasa bingung dengan kemauan sang istri, " iya dia wanita hebat, tapi sayang juga sama hebatnya seperti Karen kok. Kalian adalah bidadari terbaik pilihan Allah, jadi stop sayang, berhenti jangan merendahkan diri terus. Apapun adanya sayang, mas tetap akan menerima semua kekurangan kamu untuk menjadi sebuah kelebihan." ucap Azzam mengusap kepala sang istri dan mendekapnya agar lebih tenang.
__ADS_1
Bukannya diam, Annisa makin meraung minta bertemu dengan Karen saat itu juga. Dan lagi-lagi, Azzam kebingungan dibuatnya.
" Astaghfirullah, mereka kan pasti lagi berduaan yang, masa iya kita mau bertamu kesana, lagi pula ini sudah jam sembilan, pasti sampai sana nanti sudah sangat malam yang." tukas Azzam berusaha menenangkan hati Annisa, menepuk pundak belakangnya.
" Hikss hiksss.... tapi aku mau ketemu sekarang juga mas, memangnya mas Azzam mau anak kita nangis dan nggak bisa bobo semalaman." ancam Annisa dengan manja, ucapannya membuat Azzam makin bingung.
" Astaghfirullah, apa semua wanita yang lagi hamil, moodnya suka berubah-ubah ya, perasaan tadi siang dia baik- baik saja, kenapa sekarang jadi aneh banget seperti ini." Azzam menggumam tak habis pikir.
Sementara Annisa masih menangis, meminta untuk bertemu Karen kembali. Demi memenuhi keinginan wanita yang tengah mengandung itu, maka Azzam pun akhirnya mengalah.
" Ya sudah bersiap lah, aku mau berpamit kepada abi, sama umi dulu." Azzam pun pergi menuju ruangan kedua orang tuanya.
"tok tok tok." Azzam berdiri di depan kamar mengetuk pintu.
" Iya Zam, ada apa nak?" tanya umi Fatimah saat membuka pintu.
" Apa? Karen? tapi kan ini sudah malam Zam, dan lagi apa kamu yakin mau mengganggu mereka?" umi Fatimah balik bertanya.
" Umi lihat lah sendiri dia dikamar, baru saja diam saat Zam menyetujui permintaannya." sahut Azzam.
Mendengar ucapan sang putra, umi Fatimah hanya bisa tersenyum sambil menggeleng,
" sabar, wanita hamil itu memang begitu, ya sudah sana cepat kalian berangkat, hati-hati dijalan, nanti biar umi sampaikan ke abi." ujar umi Fatimah, mengusap pundak sang putra, dan Azzam pun mencium punggung tangan sang ibunda, lalu kembali ke kamar dan membawa Annisa pergi ke rumah Karen.
Setelah duduk didalam mobil, raut wajah yang tadinya sedih, seketika berubah jadi berbinar, bahkan disepanjang perjalanan menuju rumah Karen, Annisa terus saja mengobrol, sementara Azzam hanya bisa memijat pelipis kepalanya yang terasa sedikit pening.
" Teeet...teeet." bunyi bel rumah Karen, dan seorang satpam membuka pintu untuk mereka berdua.
" Assalamu'alaikum, bisa bertemu dengan nona Karen?" tanya Azzam kepada satpam rumah keluarga Mangku.
__ADS_1
" Wa'alaikumussalam, iya silahkan masuk, sebentar saya panggilkan tuan." balas sang satpam, berlalu kedalam dan tampak mang Udin mengobrol dengan satpam, lalu memanggil sang nona majikan.
" Non, maaf mengganggu, diluar ada ustadz Azzam beserta istrinya, ingin bertemu anda." ucap mang Udin.
Karen dan Han yang kebetulan belum tidur karena sama-sama canggung, mereka sedang menonton televisi.
" Azzam, Annisa, mau apa mereka malam malam begini kesini ? dasar Azzam pasti mau berulah menggangguku, awas saja kamu Zam." gumam Hanafi dengan raut wajah kaget bercampur kesal namun berpura-pura tersenyum dihadapan sang istri.
" Mas Han kenapa terlihat kesal begitu?" Karen menatap Han.
" Ah tidak tidak, mana ada kesal here." sahut Han mengulas senyum yang terpaksa.
Pintu pun terbuka, dan berdirilah dua orang yang sudah tak asing lagi bagi mereka, yang satu memasang wajah tak berdosa, sedang satunya lagi memasang wajah imutnya, segera memeluk tubuh Karen saat melihat kehadiran istri Hanafi.
" Maaf ya malam-malam ganggu kalian, ini Nisa nangis minta bertemu istri kamu, kangen katanya." tukas Azzam yang berdiri di depan Hanafi.
" Iya nggak papa kak Zam, mungkin bawaan kehamilan mbak Nisa." sahut Karen sambil memeluk dan mengusap punggung Annisa.
Melihat mimik Han, Azzam segera memalingkan wajah, berharap si Han tidak menceramahinya. Namun sepertinya benar saja.
Han menarik tangan Azzam dan membawanya keluar, " astaga bro, kamu ngapain malam-malam begini bawa istri kamu kesini, nggak lihat apa aku lagi usaha buat akrab dengan istriku, Zam Zam dasar kutub nggak peka." gerutu Hanafi berbisik kepada Azzam meninju lengan Azzam.
" Ini bukan kemauan aku tahu, itu keinginan Bu mil faham !! lagian kamu keburu amat sih, santai bro perjalanan masih panjang, tenang dia sudah jadi milik kamu, nggak bakal ada yang ngambil." balas Azzam dengan penekanan kata seraya menggoda sang sepupu.
Melihat wajah Azzam yang terlihat bodoh amat, Han makin kesal dibuatnya, sementara Azzam berlalu meninggalkan Han sambil cekikikan tertawa, dan berhenti menahan tawa saat di depan kedua wanita yang ada di dalam rumah.
******
BERSAMBUNG....
__ADS_1