
" Sayang Nisa nggak kuliah nak?" teriak Devi, mengira sang putri masih belum terjaga.
Sang mama pun naik ke atas melihat putri semata wayangnya, Devi mengetuk pintu kamar Annisa yang tidak dikunci, namun tak ada jawaban.
" Annisa nak, nggak kuliah kah?" panggil Devi.
Ceklek....Devi membuka pintu kamar Annisa dan rupanya gadis itu tengah menunaikan sholat Dhuha.
" Subhanallah.... terimakasih Yaa Allah." gumam Devi takjub dan haru melihat ketaatan Annisa saat ini.
Devi pun duduk di ranjang Annisa menunggu putrinya usai sholat Dhuha.
" Iya ma, ada apa?" tanya Annisa membuka mukena yang dikenakan seusai berdo'a.
" Nisa nggak kuliah nak?" tanya Devi kembali
" Kuliah kok ma, Nisa berangkat jam sebelas, hanya ada satu mata kuliah." jawab Annisa beranjak berdiri dan mencium tangan sang mama.
" Sarapan dulu yuk sayang, papa berangkat duluan tadi, ada meeting diluar kantor." ujar Devi
" Iya ma, ayo ." Nisa menuruni anak tangga dan menuju ruang tamu.
Sementara Devi masih dikamar putri semata wayangnya. " Biasanya setiap pagi kamar ini selalu berantakan saat ia bangun tidur. Tapi kini Subhanallah semua telah berubah, semua tertata rapi." ucap wanita paruh baya tersebut, tanpa terasa butiran kristal bening menggenang di pelupuk bola matanya.
Puas melihat kondisi kamar Annisa satu persatu, Devi pun kembali turun kebawah.
Seusai sarapan, Nisa pergi ke taman depan menyiram bunga bunga yang selama ini dilakukan oleh Devi tugas, merawat dan menyiram tanaman tersebut.
Dert...dert... ponsel Annisa yang tergeletak dimeja makan berdering, Devi meraih ponsel tersebut, dan rupanya nama yang tertera adalah nama Azzam.
" Nisa nak Azzam menelfon." teriak Devi memanggil Annisa yang sibuk bermain air, menyirami tanaman.
" Angkat saja ma, bilang Annisa sibuk, atau tinggalkan pesan saja." sahut Annisa.
" Maaf nak Azzam, Nisa sedang menyiram tanaman, ada perlu apa ya nak? kata Nisa bisa tinggalkan pesan nanti pasti Nisa balas." ujar Devi menjawab panggilan telepon Azzam.
" Iya ma terimakasih, Azzam cuma mau bilang mau mampir sebentar lagi sebelum berangkat ke kampus. Umi menitipkan sesuatu buat Nisa."
sahut Azzam dari balik layar ponsel.
" Baiklah nak, nanti mama sampaikan." balas Devi, kemudian mengakhiri panggilan suara dari Azzam.
*******
Semua tanaman sudah tersiram dan kembali segar, beberapa tanaman yang memanjang dan tidak beraturan daunnya pun telah terlihat rapi, Annisa memotong dan merapikannya.
" Apa kata si kutub ma?" tanya Annisa duduk di teras depan, pertanyaan Annisa membuat Devi kaget.
__ADS_1
" Hussst.... Nisa gak boleh manggil calon suami begitu. Kata nak Azzam sebentar lagi mampir , ada titipan dari mertua kamu." timpal Devi.
" Kan memang mas Azzam dijuluki kutub Utara ma. Adiknya saja manggil dia Ice cool, terus semua murid muridnya memanggil dia dosen kutub. Salah dia sendiri lah ma, jadi orang dingin banget, kulkas dua pintu aja kalah dinginnya sama mas Azzam." celetuk Annisa menjawab sekenanya.
Devi menggelengkan kepalanya, " Itu kan mereka, Nisa nggak boleh ikutan memanggil kutub juga dong." tukas Devi.
Keduanya kembali bercengkerama dan bercanda ria. Sesekali Devi juga menasehati Annisa agar tidak terlalu judes kepada calon suaminya.
" Ya tergantung mas Azzam juga lah ma, kalau dia dingin masa iya Nisa kalem, dan lembut. " protes Annisa.
" Harus bisa sayang, buang semua sifat keras kepala, judes dan jutek kamu itu. Kasihan nak Azzam nanti, kalau terus dicuekin dan di gass terus sama kamu dengan ocehan dan ucapan pedes kamu itu." sela Devi.
" Mama nggak fair deh, apa apa sekarang yang dibela menantunya, mama sudah nggak sayang lagi sama Nisa." Nisa berpura pura merajuk pada Devi.
" Bukan begitu sayang, maksud mama itu, supaya hubungan kalian nantinya itu langgeng sampai maut memisahkan." ucap Devi mencubit hidung mancung Annisa.
Tak lama sebuah mobil yang sudah tidak asing lagi dilihatnya, sedang memasuki pelataran rumah Amir Syah Alam.
Pria yang sudah rapi dengan kemeja panjang warna navy itu tengah turun dari dalam mobil, membawa sebuah paper bag berisikan kue buatan umi Fatimah.
Nisa dan Devi yang tengah duduk di teras, berdiri menyambut kedatangan Azzam.
" Assalamu'alaikum ma , Nisa." ucap Azzam mencium punggung tangan calon ibu mertuanya.
" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh, pagi nak Azzam, ayo masuk nak !!" seru Devi mempersilahkan masuk.
Annisa hanya berdiri mematung, menerima paper bag dari Azzam, tak banyak berucap.
" Nisa berangkat jam berapa ? atau kita sekalian berangakt bersama." ujar Azzam.
" Nggak usah, Nisa bisa berangkat sendiri kok mas." timpal Annisa menolak.
" Baiklah, aku berangkat duluan. Mari ma, Azzam berangkat dulu." pamit Azzam lalu kembali menuju mobil miliknya dan berlalu pergi meninggalkan halaman rumah Amir.
Selepas kepergian Azzam, Nisa bersiap untuk berangkat ke kampus. Dan siang itu ia mengenakan gamis syar'i warna Salem.
" Ma Nisa berangkat . Assalamu'alaikum."
Nisa pun segera menghidupkan mesin mobilnya. Dengan kecepatan sedang, gadis berhijab syar'i warna Salem itu melintasi jalanan kota M, menuju kampus.
Siang yang sangat terik, ditambah jalanan yang sedikit memadat, membuat Nisa terpaksa harus berjejer antri memecah kemacetan, agar segera sampai ke kampus.
******
Mobil sport warna merah menyala memasuki halaman parkir kampus, setelah hampir satu jam memecah jalanan menembus kemacetan.
Nisa turun dari mobil, dan bergegas berjalan menuju kelas, karena kelas akan segera dimulai.
__ADS_1
Sepasang mata yang baru saja keluar dari kelas , sedang memperhatikan langkah Annisa.
Dari kejauhan mata itu tak henti, bahkan tak berkedip sama sekali. Sepasang mata indah ini tak lain adalah milik dosen Azzam Muwaffiqi.
Masih dipenuhi rasa penyesalan dan ingin mendapat maaf langsung dari Annisa, gadis yang pernah dilukainya, Rangga mencegat kembali Annisa.
" Assalamu'alaikum, Nisa plis tolong berhenti, dan dengarkan gue kali ini saja." pinta Rangga menghiba.
" Wa'alaikumussalam." jawab Annisa tanpa menghentikan langkah besarnya.
Gadis berhijab warna Salem itu terus saja berjalan, begitu juga dengan Rangga tak mau kalah, terus saja mengikuti langkah Nisa.
" Rupanya ancaman saya, tidak membuat kamu jera ya Rangga. Oke kalau itu mau kamu." gumam Azzam mengepalkan kedua tangannya.
Dosen kutub ini pun menghampiri Rangga yang sedang membuntuti Annisa.
Sedang gadis yang di ekorinya itu tak sadar jika calon suaminya tengah terbakar cemburu, mengikuti Rangga dari belakang.
" Hentikan Rangga, kamu ikut saya ke kantor sekarang juga !!" seru Azzam meninggikan intonasi nya.
Nisa otomatis kaget, tiba tiba sebuah suara besar berteriak dibelakangnya.
Rangga tak mau kalah, anak muda ini pun membantah perintah sang dosen.
" Tolong bapak jangan ikut campur urusan saya, saya tidak akan pergi sebelum Annisa mengucapkan, telah memaafkan saya. Jika Nisa mengucapkan itu secara langsung dari mulutnya, maka saya janji tidak akan mengganggu calon istri bapak." jawab Rangga mulai terbawa emosi.
Azzam merasa terpancing jiwa kelakuan nya saat mendengar ucapan Rangga, seolah mengabaikan ancamannya.
Annisa sendiri merasa kesal, karena lagi lagi Rangga terus mengganggunya. Tak membiarkannya bebas barang sejenak.
Gadis berbaju warna Salem itu menghela nafas panjang " Dengar ya tuan Rangga Adijaya, saya Annisa Rahmadhania, telah memaafkan semua yang pernah anda lakukan terhadap saya, jadi tolong mulai saat ini jangan pernah ganggu kehidupan saya lagi, karena bertemu dengan anda adalah sebuah petaka. " ucap Annisa penuh kemarahan.
Dan gadis itu berlalu pergi menuju kelas, tak menghiraukan kehadiran Azzam, meninggalkan Rangga yang mematung disana.
Mendengar semua ucapan wanita yang tak lama lagi akan dihalalkannya, maka Azzam pun merasa bangga, dan ia kembali ke kantor dengan perasaan lega, bahkan sesampainya didalam kantor, Azzam senyum senyum sendiri. Merasa puas dengan jawaban dari seorang Annisa Rahmadhania.
Antara lega dan sakit, yang dirasakan oleh Rangga saat itu, di satu sisi, ia merasa lega, Annisa telah memaafkan semuanya. Namun disisi lain ia seolah kehilangan sesuatu yang tak tahu apa itu. Dan membuat hatinya sesak dan sakit.
******
**BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA KLIK VOTE RATE LIKE DAN GIFT YA KAKA READERS SEMUA AGAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA
JANGAN LUPA PULA TINGGAL KAN JEJAK KOMENTAR KAKA READERS SEMUA DI KOLOM KOMENTAR YANG ADA
JAZZAQUMULLAAH KHAIRAN KATSIR 🙏😘😘**
__ADS_1