HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Kembali Beraktivitas


__ADS_3

Pagi yang cerah, dihiasi suara kicau burung nan bersahutan, dengan kemilau mentari pagi menyinari bumi, menambah keindahan pagi itu.


Azzam dan Annisa tengah duduk di meja makan, menikmati sarapan pagi bersama, bersiap memulai aktifitas kembali.


" Mas nanti aku pulangnya di antar Sinta saja ya, hari ini aku cuma ada satu mata kuliah." ucap gadis yang baru selesai merapikan meja makan.


" Kamu yakin nggak mau nunggu sebentar dan kita pulang bareng." jawab Azzam, mengusap bibirnya dengan tissue.


" Dua jam bukan sebentar mas, lumayan bisa buat rebahan di rumah nonton Drakor he he he."


timpal Annisa kembali.


" Ya sudah kalau Sinta nggak keberatan, kalau dia sibuk sebaiknya naik taksi saja." ucap Azzam beranjak bangkit dari duduknya.


" Iya mas." Nisa berlari kecil menyusul sang suami ke depan.


Azzam dan Annisa pun berangkat bersama ke kampus. Sebelum jalanan kota M macet.


******


Mobil yang dikendarai Azzam telah tiba di kampus, setelah hampir dua puluh menitan berkutat dengan kemacetan.


Azzam mematikan mesin mobil, dan membuka sabuk pengamannya. Sebelum ia keluar, dosen cool ini membantu Nisa membuka sabuk pengamannya. Membuat Nisa yang tadinya kesulitan, secara tidak sengaja dahi keduanya saling terbentur.


" Auw... he he he he, maaf mas nggak sengaja." ucap Annisa mengusap dahinya. Begitu juga dengan Azzam.


Sebelum Nisa keluar, ia terlebih dulu mencium punggung tangan sang suami, dan dibalas kecupan kecil di kening Annisa bekas benturan barusan.

__ADS_1


Kedua nya berjalan melintasi beberapa para mahasiswa dan mahasiswi yang tengah bersiap masuk kelas masing-masing. Bahkan ada beberapa pasang mata para murid Azzam yang tengah mengamati pasangan yang baru nikah tersebut.


" Kok mau ya si Nisa nikah sama dosen kutub itu, kalau gue mah ogah. Orang dingin dan datar mah nggak ada romantis romantis nya." celetuk Dewi, salah satu murid Azzam yang paling benci dengan sikap Azzam, karena berulang kali ia mencoba mengajak Azzam berkenalan, namun selalu tidak ditanggapi.


Meski sentilan obrolan Dewi terdengar ke telinga Annisa, namun istri sang dosen kutub ini tak menanggapinya. Tetap fokus berjalan beriringan dengan Azzam.


Setelah sampai di kantor kedua berpisah, Annisa menuju kelasnya, sedang Azzam masuk ke kantor. Terkesan datar di mata orang lain, pasangan ini.


" Sepertinya pernikahan Nisa nggak bahagia ya bro, kasihan gadis itu. Bagaimana mungkin dosen kutub itu akan membahagiakan dia, yang ada pasti selalu di tindas, dan di cuekin." celetuk Leo.


" Tapi itu pilihan Annisa, aku mah bisa apa. Lu lihat sendiri kan waktu itu. Semoga saja pernikahan mereka langgeng dan bahagia." sahut Rangga.


Tak hanya sampai disitu, bahkan beberapa dosen muda yang usianya sepadan dengan Azzam, juga merasakan hal yang sama dengan mahasiswa yang beragumen tentang hubungan Azzam dan Annisa.


" Eh pengantin baru kok biasa biasa saja sih, harusnya kan mesra gitu Zam." ledek Linda dosen muda satu angkatan dengan Azzam, namun beda jurusan.


" Sebuah hubungan nggak harus di umbar juga kemesraannya Lin." jawab Azzam datar, meletakkan tas di atas meja.


" Ya biar kelihatan mesra saja Zam, kan enak dilihat nya kalau kalian terlihat mesra, padahal kalian itu terlihat serasi sekali loh." timpal Linda lagi.


" Terimakasih sarannya." sahut Azzam singkat.


Dan tak lama kemudian jam mata kuliah pun dimulai. Azzam beranjak menuju kelas, sementara Linda tak lagi mengusik dosen kutub tersebut, karena percuma tidak akan mendapat jawaban yang menyenangkan.


Detik berganti detik, tanpa terasa mata kuliah yang diikuti Annisa telah usai, gadis ini pun keluar kelas menunggu sahabatnya lewat.


" Tumben tuh anak lelet bener jalannya. " gumam Annisa yang sedang duduk, sementara pandangannya mencari cari keberadaan Sinta.

__ADS_1


Tak juga muncul Sinta, Nisa meraih ponsel yang ada di sakunya, diusap layar ponsel, mencari nomor Sinta, namun rupanya hari itu Sinta tidak masuk kuliah.


" Lah pakai nggak aktif pula nih anak, apa jangan jangan dia lagi nggak masuk kuliah?" gumam Annisa.


Merasa yang ditunggu tak kunjung tiba, Nisa segera bangkit dari duduknya dan memesan taksi online.


Gadis bercadar ini pun berjalan menuju parkiran, menunggu taksi pesanannya datang.


" Mau aku antar kah Nis?" tiba tiba sebuah suara terdengar, dan tak lain adalah Rangga.


" Maaf nggak usah kak, terimakasih. Sebentar lagi taksi pesanan saya akan segera datang kok." sahut Annisa lembut sembari tertunduk.


" Maaf Nis, aku cuma mau tanya. Apa pernikahan kamu dengan dosen itu bahagia ??"


Rangga memberanikan diri mencari tahu jawaban dari rasa penasarannya.


Sedangkan Annisa mulai sedikit kesal dengan pertanyaan Rangga.


" Tolong kakak dengar baik baik ya, bahagia atau pun tidak pernikahan saya, itu sama sekali bukan urusan kakak." tandas Annisa menajamkan pandangannya pada Rangga, pertanda kurang suka kehidupan pribadinya terusik.


" Perlu kakak ingat sekali lagi, berhenti mencari tahu ataupun ikut campur dengan masalah pribadi saya." ujar Annisa ketus sekaligus kesal.


Lalu Annisa pergi meninggalkan Rangga yang masih mematung dengan kekecewaannya. Karena taksi pesanannya telah datang.


Pagi setengah siang saat itu, Annisa kembali pulang ke rumah dengan menggunakan taksi yang dipesannya. Hatinya dipenuhi rasa kesal dengan beberapa kejadian yang ia dengar sejak kembali masuk setelah libur kuliah.


********

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2