
Malam yang indah nan melelahkan bagi pasangan yang baru saja menyatukan cintanya, membuat keduanya terlelap. Jarum jam berdenting menunjukkan pukul tiga dini hari.
Azzam mulai mengerjapkan matanya, mengumpulkan sisa sisa nyawa seraya menatap sosok wajah ayu yang terlihat tenang merenda mimpi indah.
Azzam mendaratkan sebuah kecupan di kening Nisa yang masih terlelap. " Selamat pagi sayang, terimakasih atas semuanya." bisik Azzam.
Dan pria ini pun segera bergegas menuju kamar mandi, membasuh seluruh tubuhnya dengan sabun, melakukan mandi besar Mengejar waktu sholat tahajud sebelum berakhir.
Tak tega membangunkan sang istri yang terlihat lelap dan nyenyak, maka Azzam memilih sholat malam sendirian saat itu.
Dengan khusyu' Azzam menunaikan tahajjud seperti malam malam biasanya. Sementara menunggu Adzan subuh tiba, Azzam melantunkan ayat suci Al-Quran dengan suara khasnya yang merdu dan menyentuh kalbu bagi siapa saja yang mendengarnya.
Begitu juga pagi itu, sayup suara indah Azzam menyeruak ke telinga Annisa. Membuat wanita yang tadinya tertidur lelap itu membuka mata dan menggeliat, merilekskan otot tubuhnya yang terasa sakit dan pegal semua.
Jarum jam telah menunjukkan pukul empat pagi, beberapa menit lagi, adzan subuh akan segera tiba.
Nisa sadar bahwa suaminya telah terbangun menunaikan rutinitas malamnya.
" Pagi mas, kenapa Nisa nggak di bangunin mas?" ujar Annisa dengan suara seraknya , suara khas bangun tidur.
" Sayang kan sangat capek, jadi sengaja malam ini mas tidak membangunkan kamu. Cepat pergilah mandi sayang, sebentar lagi adzan subuh." tukas Azzam tersenyum menyambut pagi sang istri.
Dengan patuh, Nisa pun segera bergegas menuju kamar mandi. Membersihkan seluruh tubuhnya dan dengan segera ia mengganti pakaian dan mengenakan mukenah, berdiri di belakang Azzam mengerjakan sholat dua rakaat sebelum subuh atau disebut Qobliyah Subuh.
Sejenak setelah dengan khusyu' melakukan sholat Sunnah, Adzan subuh mulai terdengar. Dan keduanya segera menghadap sang khalik, bermunajat setelah sholat usai.
Karena tugas yang terbengkalai akibat, acara mendadak semalam. Maka seusai sholat subuh mereka melanjutkan tugasnya.
" Mas Nisa lanjutin tugas dulu ya, bukan kah mas juga belum selesai tugasnya." celetuk Annisa mencium tangan Azzam, dibalas kecupan di kening dan pipi oleh Azzam.
" Iya sayang, mas juga mau lanjut tugas yang semalam ke pending." jawab Azzam beranjak bangkit dari duduk bersila.
*******
Mentari pagi mulai menyapa dunia dengan sinar hangatnya. Hampir seluruh penghuni bumi, mulai melakukan aktivitasnya. Suara kicau burung yang bersahutan menambah suasana pagi itu terasa indah sekali.
__ADS_1
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Tugas kuliah Annisa baru selesai, sementara Azzam terlihat masih berkutat dengan laptop yang ada dalam pangkuannya.
" Mas Azzam ke kampus jam berapa?" teriak Nisa dari dapur.
" Sayang sendiri ada kelas jam berapa?" Azzam balik bertanya.
" Nisa jam sembilan mas, kalau mas masih agak siangan, biar Nisa minta jemput pak Kasim." sahut Nisa, sembari membuat roti bakar beserta susu untuk sarapan pagi mereka.
" Enggak usah yang, kita berangkat bareng saja ya?" timpal Azzam.
" Baik mas." sahut Nisa.
Roti bakar berisi selai kacang dan dua gelas susu panas telah siap di atas meja makan. Nisa menghampiri sang suami, yang terlihat masih sibuk dengan laptopnya.
" Mas masih lama kah?" tanya Annisa, dan Azzam pun mengangguk.
Merasa kasihan dan takut keburu dingin roti buatan nya, Nisa pun mengambilnya dan hendak menyuapkan kepada Azzam.
" Aaaaaaaaaaa.... mas , Nisa suapin ya." ucap Nisa menyodorkan roti buatannya ke mulut Azzam.
Nisa mengambil tissue yang ada di depannya, mengusap sisa susu yang menempel di pinggiran bibir Azzam.
" Makasih sayang sarapannya. Oh ya sayang ganti pakaian dulu biar sama sama selesai. Sebentar lagi aku menyusul, ini juga sudah hampir selesai." ujar Azzam masih menatap layar laptopnya.
" Iya mas." jawab Annisa, berlalu pergi mencuci wajah dan mengganti bajunya.
******
Di tempat lain Sinta sahabat Annisa juga hendak berangkat menuju kampus. Dengan mobil Brio warna silver milik Sinta.
" Sayang ayo, takut makin macet nanti." ajak Azzam menggandeng tangan istrinya menuju garasi.
Azzam membuka pintu mobil untuk istri tercinta nya, yang pagi itu mengenakan gamis warna soft pink. Menambah aura kecantikan alami dari dalam diri Annisa makin terpancar.
" Pagi ini sayang cantik sekali." puji Azzam yang tersenyum saat membuka pintu mobil untuk Nisa.
__ADS_1
Nisa jadi tersipu malu, " Terimakasih mas pujiannya. Pagi ini mas Azzam juga terlihat tampan, apa lagi wajah kutub mas sudah tidak lagi terlihat he he he." balas Nisa sembari meledek sang suami.
" Sayang bisa saja, itu kan sebelum bongkahan es si kutub ini mencair yang, kan sekarang sudah meleleh oleh cintanya ukhty Annisa ha ha ha.". balas Azzam terkekeh, sembari mulai memasang sabuk pengaman Nisa dan dirinya.
Dan mobil Alphard warna hitam itu, bertolak meninggalkan rumah Azzam menyusuri jalanan kota M, membelah jalanan yang mulai sedikit macet.
" Mas aku boleh cerita nggak?" tanya Nisa ragu. Seraya menoleh menatap Azzam yang fokus mengemudi.
" Iya sayang cerita saja, mas dengerin kok." sahut Azzam menoleh sesaat ke arah Annisa.
" Ehmmm... mas ingat peristiwa yang pernah aku alami tidak?" tanya Nisa kembali.
" He Hem... iya ingat sayang, kenapa?? apa anak tidak tahu diri itu mulai mengganggu sayang lagi?" tukas Azzam memasang wajah serius.
Nisa menggeleng, " bukan dia mas, maksud Nisa pria yang hendak menodai ku waktu itu ternyata tak lain adalah kakak Sinta. Aku baru mengetahuinya lusa kemarin mas. Menurut mas Azzam Nisa harus bagaimana?" suara Nisa mulai terdengar lirih terlihat sedih, saat menyebut pria brengsek tersebut.
" Kalau sayang mau kita lapor polisi , nanti mas dampingi. Tapi apa sayang yakin peristiwa itu akan diketahui oleh banyak orang, bukan kah kata papa biar lah itu menjadi rahasia keluarga."
ujar pria yang tengah mengemudi ini.
Nisa hanya bisa diam ambigu, tertunduk lesu dan kedua bola mata indahnya tampak mulai berkaca-kaca.
Azzam sejenak menepikan mobil dan mematikan mesinnya. Di genggam tangan Annisa dan mengusap air mata yang mulai terjatuh. Azzam merengkuh tubuh Nisa, berusaha menenangkannya.
" Menangis lah jika itu bisa membuat hati sayang lega. Tapi setelah ini mas minta, jangan pernah mengingat peristiwa pahit itu ya sayang. Cukup jadikan itu pembelajaran hidup nya sayang." ucap Azzam mengusap pucuk kepala dan pipi Nisa.
Wanita ini pun menumpahkan kesedihannya dalam pelukan sang suami. Dan dengan sabar dan lembut Azzam menenangkan Nisa yang sedikit kalut, kala teringat peristiwa pahit yang pernah ia alami.
Setelah terlihat tenang, Azzam pun kembali melajukan mobilnya, mengingat jam sudah hampir masuk kelas. Dan untung saja setelah sejenak mereka menepi, kemacetan pun terhindari dan kini jalanan mulai lancar jaya.
Keduanya sampai di kampus sepuluh menit sebelum kelas masing-masing dimulai.
******
BERSAMBUNG.....
__ADS_1