HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Detik detik Persiapan Perniakahan


__ADS_3

Seusai menghabiskan waktu bersama, Azzam dan Safa berpamit pulang kepada Annisa. Mereka kembali tepat selepas sholat Ashar.


Sepulang nya Azzam dan Safa, Annisa pergi menghampiri sang mama yang tengah rebahan diatas sofa kesayangan nya, sembari menonton acara televisi.


Gadis itu memeluk tubuh Devi layaknya anak kecil yang merindukan ibunya.


" Ada apa sayang, kok manyun gitu. Harusnya senang kan, sudah dikunjungi calon suami." ucap Devi meledek sang putri.


" Mama ih kenapa ikutan ngeledek." sahut Nisa kesal


" Ma mas Azzam mau pernikahan kita dimajukan tiga hari lagi, huuuuuuuuaaaaaa.". ujar Nisa sembari merengek menangis kecil.


" Loh loh kenapa nangis, harusnya senang dong. Mama sama papa sih terserah kalian, mau besok ya oke." timpal Devi tertawa gembira.


" Kalau Nisa nggak mau tiga hari lagi, mas Azzam mau nya besok huuuuu." rengek Annisa kembali.


" Bagus lah, lebih cepat lebih baik, mama sangat setuju." lagi lagi pernyataan Devi membuat Nisa kesal dan cemberut manja, memukuli tubuh Devi.


" Mama jahat ih huuuuu." Annisa berlalu pergi ke kamar.


Setelah melihat sang putri tercinta merengek nangis manja, Devi segera meraih telepon duduk yang tak jauh dari tempat ia berbaring.


" Assalamu'alaikum pa, papa tahu nggak, kata Nisa nak Azzam ingin pernikahannya dimajukan tiga hari lagi. Bagaimana pa?" tanya Devi dari balik telepon.


" Wa'alaikumussalam iya ma, bagus lah. Bagi papa kapan pun itu baik, apalagi menyegerakan. Aku sangat suka pemuda yang seperti ini. Kelak pasti Nisa akan bahagia bersama imam seperti nak Azzam." sahut Amir yang tengah duduk di kursi kebesarannya, di dalam ruangannya.


Sepasang suami istri ini pun berbincang tentang majunya acara, dan Devi beserta Amir segera menghubungi bagian WO tentang perubahan jadwal.


*****


Hari berganti hari, dan waktu terus bergulir, keluarga Kyai Waffiq tengah bersiap untuk acara akad nikah sekaligus resepsi pernikahan putra sulung mereka.


Undangan pun telah tersebar ke beberapa kerabat, teman dan handai taulan. Kabar pernikahan Azzam dan Nisa juga telah terdengar ke telinga Rangga.


" Ga lu denger kabar nggak ?? , besok Nisa akan menikah dengan dosen kutub itu. Kabarnya sih pernikahan mereka maju dari hari sebelumnya."

__ADS_1


ujar Leo bercerita kepada sahabatnya yang tampak luyuh.


Rangga diam tak menjawab atau pun merespon ucapan Leo. Sepertinya kabar pernikahan Annisa membuatnya benar benar telah kehilangan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya saat ini telah mulai merasakan suatu perasaan terhadap Annisa.


Leo pun tak banyak berucap lagi, sebab ekspresi diamnya sang sahabat telah membuktikan bahwa Rangga hari itu tidak dalam keadaan baik baik saja hatinya.


" Ternyata cinta itu benar benar rumit, lebih rumit dari algoritma." gumam Leo menggaruk tengkuknya.


Sementara Safa dan Hanafi terlihat sibuk menata rumah yang akan ditempati oleh kedua mempelai.


Ya, selama ini Azzam telah berhasil menabung dari hasil kerja kerasnya yaitu sebagai dosen juga pengusaha beberapa cafe dan restoran.


Dan hasilnya Azzam telah mampu membangun sebuah rumah megah, lokasinya pun sangat strategis. Tidak jauh dari tempat ia bekerja, ataupun dari rumah sang Abi.


" Pasti seru ya kak Han malam pertama mereka nanti. Ha ha ha sama sama kutub. Klop sudah pertemuan antara kutub Utara dan kutub selatan. Pasti anak mereka nantinya jadi beruang salju ha ha ha." timpal Safa berceloteh sembari menata kelopak bunga mawar diatas kasur ber sprei kan warna putih polos.


" Wahhhh.... kok jadi Safa yang kepo ya. Jangan jangan juga keburu pingin nikah ya." ledek Hanafi.


" Apaan sih kak Han." sahut Safa, dan wajahnya berubah memerah karena malu.


" Kalau Safa mau kak Han siap kok jadi calon imamnya." timpal Hanafi menggoda Safa.


Safa terkekeh dan terpingkal-pingkal melihat sang kakak menimpuk Hanafi.


" Wah wah... mana boleh calon pengantin ikutan kesini. Sudah sana pulang, sabar besok bebas ditempati, nggak bakalan ada yang ganggu." celetuk Hanafi menggoda Azzam.


Kedua sepupu ini beradu mulut bercanda dan saling mengejek, bahkan Azzam menjewer telinga Hanafi yang terusan berusaha menggoda Safa.


******


Sepanjang malam,.Annisa tidak dapat memejamkan mata. Hatinya terus berdebar kencang. Masih merasa antara percaya atau tidak bahwa esok hari dirinya telah resmi menyandang gelar sebagai istri dari seorang dosen sekaligus ustadz.


Begitu juga dengan Azzam. Di tempat yang berbeda, pria muda yang terkenal cuek dan dingin ini tak dapat terpejam juga. Otaknya terus bergerilya membayangkan bagaimana nanti jalan pernikahan yang akan di segerakan esok hari.


Malam bertabur bintang dan kemilau cahaya lintang, turut menyinari keindahan malam itu, di kota M. Suara denting jarum jam juga terdengar setiap jam. Masih menyisakan sepasang insan yang tak mau terpejam juga.

__ADS_1


Sama sama tak bisa terpejam, maka Azzam dan Annisa mengambil wudhu dan memutuskan mengaji, ditempat yang berbeda.


Sampai sang fajar mulai menyemburkan sinar cahaya kemerahan diufuk timur. Keduanya bmasih terduduk diatas sajadah menunaikan sholat sunah fajar hingga sholat subuh tiba.


*****


Setelah pagi menjelang, beberapa kru MUA, datang ke kediaman Amir Syah Alam, untuk merias putri tercinta beserta keluarga Amir.


" Mempelai wanitanya cantik sekali ya mbak. Beruntung sekali pria yang bersanding dengan mbak Nisa nantinya." ujar salah satu kru MUA yang bertugas merias wajah Annisa.


Dag dig dug suara detak jantung Azzam kian kencang, hatinya terus bergejolak merasa nervous.


Baju kurta panjang warna putih dengan syal putih melingkar dileher jenjang Azzam Muwaffiqi. Membuat pria dingin itu terlihat berbeda. Terkesan lembut tampan dan berwibawa.


" Jangan tegang seperti itu Zam, rileks saja. Atur nafas kamu, perbanyaklah membaca sholawat dalam hati, agar semuanya diberi kelancaran." ucap Kyai Waffiq menghampiri putra sulungnya yang telah bersiap, duduk di sofa depan.


" Iya bi, Zam sudah berusaha rileks, tapi tetap saja gugup. Apa abi dulu juga begitu? waktu mau menikah sama umi." tanya Azzam menatap wajah sang abi.


" Wajar itu Zam, tapi cobalah ikuti yang abi katakan barusan, niatkan Bissmillah dalam hati, agar mental kamu siap. Bukan kah dimajukan adalah keinginan kamu sendiri." jawab Kyai Waffiq menasehati Azzam.


Serasa mendapat ultimatum dari sang abi, Azzam merasa kesindir akan perbuatannya yang gegabah, memajukan hari pernikahan seenak hatinya.


Mulut Azzam pun terus berkomat kamit membaca sholawat, kedua telapak tangannya serasa dingin, bak direndam air es. Menunggu jam sembilan pagi tiba.


Seluruh keluarga Kyai Waffiq mengenakan busana muslim syar'i warna putih, begitu juga dengan Safa dan umi Fatimah.


Kedua tangan Annisa dipenuhi lukisan dari Inai layaknya pengantin India, make up yang sangat sederhana dan paduan niqab warna putih, semakin menambah keayuan gadis jutek dan cuek tersebut. Walau hanya kedua bola matanya yang terlihat, Tak menyurutkan sedikitpun aura kecantikan yang terpancar dari wajah ayu Annisa Ramadhania.


Detik detik menjelang prosesi akad nikah pun akan segera dimulai. Babak baru kehidupan Azzam Muwaffiqi Al Ghifari bersama Annisa Ramadhania akan dimulai.


*******


**BERSAMBUNG....


JANGAN LUPA KLIK VOTE RATE LIKE DAN GIFT YA KAKA READERS SEMUA AGAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA

__ADS_1


JANGAN LUPA PULA TINGGAL KAN JEJAK KOMENTAR KAKA READERS SEMUA DI KOLOM KOMENTAR YANG ADA


JAZZAQUMULLAAH KHAIRAN KATSIR 🙏😘😘**


__ADS_2