
Sore itu Safa, Nur dan Siti dengan ditemani Hanafi sedang menikmati film layar lebar. Mereka terlihat serius menikmati alur yang membuat semua penonton menguraikan air mata, akan jalan cerita film tersebut, dan tanpa terasa dua jam berlalu film pun berakhir.
" Kak Han bentar lagi adzan Maghrib, kita cari Masjid atau musholla dulu kak, habis itu kita makan." ujar Safa saat keluar dari gedung bioskop.
" Iya benar neng Safa, sebaiknya kita menunggu Maghrib dulu. Ayo ustadz Han !!" seru Nur
Seperti keinginan Safa, Hanafi pun menghidupkan mobil dan mencari Masjid terdekat, sampai didepan Masjid, adzan pun berkumandang dan semuanya segera bergegas masuk kedalam untuk menunaikan sholat Maghrib.
******
Sementara Azzam dan Annisa, di rumah baru yang ditempatinya, mereka tampak sholat berjama'ah, bahkan selepas sholat Maghrib, Azzam mengajar Annisa mengaji, meski Nisa kini sudah tahu tentang makhrojul dan tajwid, namun kendati ya masih sedikit terbata.
Tak hanya itu, selepas mengajar Annisa mengaji, gantian Azzam yang melantunkan ayat suci Al-Quran dengan merdu juga mengajak Annisa bersholawat. Sepasang pengantin baru ini turun dari atas sajadah, seusai menunaikan sholat Isya'.
" Mas Azzam mau makan malam apa, bisa Nisa masakin." tanya Annisa sembari membuka mukenah yang dikenakan, selepas mencium punggung tangan Azzam.
" Nisa yakin bisa masak sendiri, apa perlu mas bantu ? " tanya Azzam memperhatikan wajah sang istri saat berbicara kepadanya.
" Insya Allah Nisa bisa kok mas, namanya juga baru belajar, nanti misal masakan Nisa gak sesuai selera mas Azzam, harap dimaklumi ya?" wajah Annisa berubah sedikit ragu.
Azzam menepuk pundak istrinya tersebut, " apapun yang dibuat oleh tangan istri, suami wajib memakan nya, walaupun asin sekalipun. Membuat hati istri senang dan bahagia itu wajib Nis." sahut Azzam meyakinkan.
Mendengar ucapan suaminya hati Annisa merasa sedikit lega. Meski selama di pesantren ia sering membantu umi Fatimah, namun Nisa masih kurang percaya diri, menghidangkan masakannya kepada Azzam.
Nisa segera ke dapur mengambil bahan yang hendak ia masak, sementara Azzam tengah duduk menatap layar laptopnya mengoreksi tugas tugas yang di kirim muridnya via online.
Beberapa menit berlalu, bau aroma masakan Annisa mulai tercium sampai ke hidung Azzam. " Baunya sedap sekali, pasti enak." ucap Azzam yang tiba tiba muncul dibelakang Annisa.
" Eh mas ngagetin saja." teriak Nisa kaget dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba.
__ADS_1
" Maaf, eh kamu masak apa Nis baunya enak sekali, bikin lapar. Masih lama nggak?" tanya Azzam yang tengah berdiri di samping Nisa, dan tepat dengan telinga Annisa.
Sejenak konsentrasi Nisa ambyar, saat deru nafas Azzam terasa ke daun telinganya. " Emmm... Ni Nisa nggak tahu namanya mas, Nisa cuma coba buat saja." jawab Nisa gugup, seraya mengatur nafasnya.
" Duhhh.... mas Azzam kenapa lagi lagi dekat banget seperti ini, makin jantungan aku lama lama dibuatnya. Kenapa dengan jantungku Yaa Allah, detak nya kencang sekali. Tarik nafas Nisa buang." gumam Annisa seraya mengatur nafas dan membuangnya.
" Nisa kamu kenapa kok gugup dan berkeringat seperti itu ?? kamu sakit ya?" tanya Azzam cemas, menempelkan telapak tangannya ke dahi Annisa.
" Enggak demam biasa saja, lantas kenapa berkeringat sekali?" suara suara Azzam makin membuat Nisa gugup tak karuan. Bahkan saking gugupnya, gadis ini hendak bergeser menjauh, tapi yang ada malah terjerembab ke dada bidang Azzam, sontak sang suami pun menangkap tubuh Annisa agar tidak terjatuh.
Posisi mereka kini sangat dekat sekali, kedua mata saling bertatapan, Azzam makin mengeratkan dekapannya, membuat Annisa yang terkunci tak berdaya hanya bisa menatap wajah tampan Azzam. Detak jantung keduanya sama-sama berdegup keras sekali.
Tangan kanan Azzam mencoba menyibakkan anak rambut Annisa, yang menutup sebagian wajahnya.
Annisa pasrah saat Azzam mulai mengusap pipi halusnya. Bahkan memejamkan mata, memberi kesempatan sang suami untuk menyampaikan hasratnya.
Saat ingin menikmati lebih dalam lagi ciuman pertama mereka, sayang aksi mereka harus terhenti karena bau gosong yang tercium dari masakan Annisa, capcay sayur yang tadinya berwarna warni dan cantik, kini berubah warna kecoklatan.
" Gosong mas gosong." teriak Annisa menyudahi ciuman yang baru saja akan dimulai.
Azzam pun tersipu malu, saat istrinya berteriak panik, karena masakannya gosong.
" Yaaahhh gimana ini mas, gosong lagi. Masa mas makan masakan gosong lagi." ujar Annisa memanyunkan bibirnya merasa kecewa tidak bisa memberikan makanan yang baik untuk sang suami
" Ya mau gimana lagi Nis, nasi sudah menjadi bubur, kita makan saja seperti tadi pagi. Selama kita mensyukurinya pasti akan terasa nikmat." timpal Azzam menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa sedikit malu pada Annisa.
" Mas yakin mau makan masakan Nisa yang gosong ini?" suara Annisa terdengar lirih dan wajahnya berubah lesu.
Azzam mendekat dan meraih kedua tangan Annisa, berusaha menenangkan dan menghiburnya, " cupppp... " sebuah kecupan mendarat di kening Annisa untuk pertama kalinya. Nisa yang tadinya lesu dan kecewa, mendadak kaget.
__ADS_1
" Nisa tenang saja, kan tadi mas bilang apapun yang Nisa masak pasti mas makan. Ayo kita makan, sudah lapar kan?" ucap Azzam mengecup kedua tangan Annisa, seraya tersenyum manis pada wanita dihadapannya.
Nisa pun membalas senyuman Azzam, dan tanpa disadari oleh Azzam juga tiba-tiba, Nisa mendaratkan sebuah ciuman kecil di pipi kanan Azzam, meski Nisa harus sedikit menjinjitkan kedua kakinya, untuk bisa mencium pipi suaminya.
Sambil sama sama terkekeh dan tersipu, keduanya lalu menikmati makan malam sederhana dengan menu sayur capcay yang gosong.
" Untung ikannya nggak ikutan gosong ya Nis he he he." kekeh Azzam seusai menyuapkan sendok terakhir ke dalam mulut sang istri.
Sambil mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya, Nisa mencubit pinggang Azzam,
" Auww..... sakit sayang." celetuk Azzam spontan mengaduh.
Mata Annisa membelalak kaget, saat mendengar pria yang baru saja selesai menyuapkan makanan terakhir ke mulutnya itu, menyebut dirinya dengan panggilan sayang.
Lagi lagi keduanya saling tersipu malu dan terkekeh tertawa bersama sama. Merasa konyol dengan sikap mereka sendiri, yang saling malu malu.
Kedua kalinya pasangan suami istri ini memakan masakan yang gosong kembali, kendati demikian keduanya tidak mengeluh, bahkan saling mensyukuri apa yang mereka makan saat itu.
Dan seusai makan malam, Azzam yang bertugas mencuci piring. Keduanya menikmati malam panjang dengan menonton televisi yang ada di dalam kamar. Dan jarak antara keduanya kini selangkah sudah lebih baik dari sebelumnya.
Dan malam itu mereka tertidur dan terlelap merenda mimpi indah bersama cerita masing masing.
******
**BERSAMBUNG.....
TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN NYA BUAT KAKAK READERS SEMUA YANG SUDAH SUDI DAN BERKENAN MAMPIR MEMBACA KARYA SAYA. TAK LUPA KAMI SAMPAIKAN BANYAK TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN, HADIAH SERTA MASUKAN MASUKAN DARI KAKAK SEMUA.
JAZZAQUMULLAAH KHAIRAN KATSIR 🙏😘😘😘😘**
__ADS_1