
Setelah puas menangis bersama, Karen mengajak Hanafi untuk pergi ke rumahnya. Betapa tersentak Hanafi melihat semua hiasan yang menempel disana. Bunga serta dekorasi dan meja kursi tamu undangan. Terlihat sederhana namun sangat menandakan bahwasannya, baru saja hendak akan dilangsungkan sebuah pesta pernikahan.
Hanafi mengusap dada seraya mengucap istighfar dalam hati.
" Lihat lah, semua tampak seperti lelucon bukan. Seluruh ruangan sudah dihias dekorasi pelaminan juga siap, bahkan penghulu juga telah datang. Tapi dia tak kunjung datang, hingga satu persatu tamu undangan pergi seraya menertawakan kesedihanku." ucap Karen bercerita dengan nada sedih.
" Sabarlah, ini semua pasti kehendak Allah. Kapan kita bisa melangsungkan pernikahan dan menemui papa kamu?" tanya Hanafi menatap Karen yang bersedih.
" Sekarang hari sudah malam, besok kita pergi ke penghulu, mengenai berkas kamu biar pak Yazid yang mengurusnya." timpal Karen.
" Boleh kah aku pergi ke rumah sakit, untuk melihat papa kamu?" tanya Hanafi. Dan dibalas anggukan oleh Karen.
Beberapa saat kemudian, gadis malang itu pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Karen yang tidak pernah mengenakan hijab, demi menghormati pria yang telah mengajukan diri untuk menjadi suaminya, malam itu di depan Hanafi, ia mengenakan setelan rok dan atasan cassual di padukan dengan hijab phasmina.
" Subhanallah ternyata sungguh cantik saat berhijab gadis ini." gumam Hanafi menatap perubahan Karen.
Karen tersipu malu saat Hanafi menatapnya dengan tatapan kagum.
" Oh ya boleh kan aku panggil mas Han?" tanya Karen ragu.
" Oh ya boleh, boleh tentu saja. Mari !!" seru Hanafi.
Keduanya pergi ke rumah sakit dengan mobil sendiri-sendiri. Karen pergi dengan di antar sopir keluarga.
" Siapa pemuda itu non, maaf kalau mamang lancang bertanya?" tanya mang Udin.
__ADS_1
" Dia mas Han mang, besok kami akan menikah." jawab Karen.
" Menikah? non Karen yakin?? apa non tidak curiga atau takut jika pemuda itu memanfaatkan nona." timpal mang Udin.
" Mang, nggak boleh suudzon seperti itu. Karen yakin mas Han adalah pemuda yang baik, takdir yang sudah mempertemukan kita." balas Karen.
Tak lama setelah mengitari jalanan kota di tengah malam, kedua mobil yang berbeda itu tiba di rumah sakit.
Hanafi berjalan beriringan dengan Karen, menuju ruang ICU.
Karen pergi menemui dokter yang berjaga malam itu. Memohon agar Hanafi di perbolehkan masuk untuk berkunjung sejenak.
" Terimakasih dok." ucap Karen kepada dokter muda yang berjaga.
Han pun berganti dengan pakaian yang diberikan oleh perawat. Ia segera masuk ke ruang ICU dengan pakaian sterilisasi.
Teringat akan mendiang sang ayah, disamping calon ayah mertuanya Han menangis sesenggukan.
Di genggam tangan lemah yang tak berdaya itu, seraya membisikkan sesuatu ditelinga pro tua itu.
" Assalamu'alaikum om, namaku Hanafi Abdillah. Saya sengaja datang kesini untuk meminta do'a restu, agar om sudi meridhai pernikahan kami besok. Dan mohon do'anya agar pernikahan kami nantinya senantiasa bahagia dunia akhirat. Han janji akan membahagiakan Karen om." begitulah bunyi kata- kata yang dibisikkan oleh Hanafi, tepat di telinga pria paruh baya yang tengah terbaring tersebut.
Meski tak mampu membuka mata, tangan yang digenggam oleh Hanafi seolah memberikan respon, dengan sedikit bergerak dan Hanafi pun dapat merasakan gerakan itu.
" Terimakasih om atas restunya." ucap Hanafi tersenyum haru seraya mengusap air matanya.
__ADS_1
Karen yang menatap adegan mengharukan di dalam ruang ICU dari balik kaca pintu, turut terisak saat melihat Hanafi berkali-kali mencium tangan sang papa.
Mang Udin yang juga berdiri disamping Karen ikut terharu.
" Semoga pemuda itu benar-benar tulus kepada non Karen. Kasihan nona selama ini dia sudah banyak menderita semenjak perceraian kedua orangtuanya." gumam mang Udin.
Karena jam kunjung juga dibatasi, maka kini berganti Karen yang masuk ke ruang ICu.
" Selamat malam pa, maafkan anakmu ini yang telah gagal mewujudkan permintaan terakhir papa. Tapi Karen yakin mas Han adalah pemuda yang baik, hikssss.... Karen minta do'a restu papa agar pernikahan kami besok berjalan dengan lancar. Papa harus sembuh ya demi Karen hikssss hikssss." bisik Karen seraya menangis sesenggukan dan terisak.
Seperti yang dilakukan terhadap Hanafi baru saja, tangan sang papa juga bergerak seolah memberi persetujuan dan restunya.
Bahkan disudut pelupuk mata Mangku, nama papa Karen. Bergulir butiran kristal bening, melihat hal tersebut, sang putri pun mendekap tubuh sang papa dengan erat dan makin terisak.
" Terimakasih papa huuuuu.... do'akan agar pernikahan Karen dan mas Han lancar. Papa harus sembuh untuk melihat kita bahagia huuuuuuuuu...." ujar Karen masih memeluk tubuh sang papa.
Dari balik kaca pintu, Hanafi memberikan kode lewat ketukan, agar Karen terhenti menangis dan segera keluar.
Mang Udin sopir keluarga Mangku yang sudah bekerja selama puluhan tahun merasa sedih melihat kondisi sang majikan yang semakin melemah.
Karen keluar dengan mata yang bersimbah air mata. Hanafi hanya bisa menepuk pundak gadis malang itu, agar kuat dan tegar.
" Sabarlah, kuatkan hatimu. Aku tahu kamu gadis yang tangguh, demi papa kamu. Berhentilah menangis, kita do'akan saja yang terbaik untuk beliau." ucap Hanafi menenangkan Karen.
Malam kian bergulir, tanpa terasa jam menunjukkan jam dua dini hari. Karen berpamit pulang kepada Hanafi, dan Hanafi juga pamit pulang. Keduanya berpisah menuju jalan rumah masing-masing.
__ADS_1
******
BERSAMBUNG......