
Sepasang pengantin yang baru saja turun dari mobil, dan mengenakan pakaian pengantin menjadi sorotan beberapa pasang mata yang sedang berada disana. Salah satunya adalah sosok pria yang melihat Karen dengan tatapan sedih, melihat dari kejauhan selepas berkunjung ke ruangan papa Karen. Pria tersebut adalah Leo mantan kekasih Karen.
" Begitu mudahnya kamu dapat penggantiku Karen." gumam Leo dengan raut wajah sedih.
Sementara itu Hanafi berjalan dengan menggandeng tangan Karen, membuat mata Leo terasa panas dan menitikan buliran kristal bening.
Hanafi dan Karen berjalan menyusuri lorong koridor menuju ruang ICU.
Seperti biasa sebelum memasuki ICU, Karen terlebih dulu meminta izin kepada dokter untuk masuk kedalam. Dan kali ini dokter mengizinkan mereka berdua masuk bersama.
" Terimakasih dok." ucap Karen dan Hanafi bersamaan, keduanya pun pergi menuju kamar pak Mangku, papa Karen.
" Assalamu'alaikum papa, Karen datang memenuhi janji Karen kepada papa. Suami Karen sudah datang pa." ucap gadis berparas ayu itu, berjalan mendekati brankar memeluk tubuh lemah Mangku.
Karen dan Hanafi mencium punggung tangan sang papa bergantian.
" Assalamu'alaikum pa, saya kembali lagi dan kali ini sebagai suami dan menantu papa." ucap pria yang berdiri disamping Karen.
" Papa tenang saja, Han akan menggantikan tanggung jawab papa untuk menjaga dan mendidik putri papa, do'akan agar kami bahagia dunia akhirat." imbuh Hanafi.
" Iya pa benar kata mas Han, tanggung jawab papa kepada Karen purna sudah, do'akan kami selalu." timpal Karen masih memeluk sang papa dengan derai air mata.
Melihat wanita yang baru di nikahnya bersedih dan menangis, Han pun meraih pundak Karen dan mendekapnya dalam pelukan.
Pria yang kini berdiri tepat disamping Karen itu, mengusap air mata yang membasahi wajah cantik Karen.
" Sudah lah jangan menangis lagi, hapus lah air matamu. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, ada aku yang siap menjadi bahu untuk kamu bersandar, mencurahkan segala cerita dan lelah mu." tukas Hanafi mengusap wajah Karen, dibalas anggukan yang disertai Isak tangis. Hanafi pun mendaratkan sebuah kecupan di kening Karen.
Untuk beberapa saat pasangan pengantin baru ini larut dalam suasana sedih. Setelah Karen berhenti menangis, Keduanya kembali mendekat ke brankar.
__ADS_1
Tampak wajah pucat pria paruh baya yang tengah terbaring diatas brankar, dan disudut pelupuk mata, beranak butiran kristal dan perlahan menetes di pipi. Seolah mewakilkan ungkapan perasaan haru nan bahagia pria bernama Mangku tersebut.
" Mas Han lihat lah papa menangis !!" ujar Karen mendongakkan wajahnya menatap Han, saat berbicara kepada suaminya.
" Iya aku bisa merasakan apa yang papa rasakan." balas Hanafi menggenggam tangan Karen, wanita yang baru beberapa jam lalu di nikahnya.
Tak lama berselang setelah puas melepas rindu di dalam ruang ICU, ponsel Karen pun berdering.
" Assalamu'alaikum, iya hallo pak Yazid ada apa?" tanya Karen membuka percakapan.
" Emmm maaf nona jika saya mengganggu waktu anda, bisa kah nona ke perusahaan sekarang juga, ada sebuah berkas penting yang harus segera di kirim hari ini, dan membutuhkan tanda tangan anda sebagai perwakilan dari tuan Mangku." ujar Pak Yazid.
" Ta tapi pak Yazid, saya masih di rumah sakit, dan masih mengenakan pakaian pengantin. Bagaimana jika semua staff melihat saya, apalagi waktu itu mereka tahunya saya gagal menikah." ucap Karen dengan jawaban sendu.
Melihat reaksi dan jawaban dari Karen, maka Han pun mengambil ponsel Karen, dan berbicara dengan pak Yazid.
" Baiklah pak Yazid, saya akan mengantar istri saya ke perusahaan sekarang juga. Sudah saatnya seluruh karyawan dan staff tahu, bahkan seluruh dunia wajib tahu bahwa Karen bukan lagi wanita yang gagal menikah, saya lah suaminya sekarang, semuanya harus tahu itu." ucap Hanafi menegaskan dan mengakhiri panggilan tersebut.
" Sudah lah jangan lagi menangis, aku harap ini adalah air mata terakhir yang keluar karena kesedihan kamu, selanjutnya busungkan lah dada mu katakan pada seluruh dunia, hari bahagia mu telah tiba dan bahwa kamu tak lagi sendiri ." ucap Hanafi mengusap pundak sang istri.
Keduanya segera bergegas menuju perusahaan Mangku. Dengan kecepatan tinggi demi mengejar waktu Hanafi melajukan mobilnya, dan tak sampai satu jam, mobil itu pun memasuki halaman perusahaan.
Mobil yang dikendarai Hanafi berhenti tepat di depan pintu utama perusahaan. Saat Han turun dan membuka kan pintu untuk Karen, beberapa pasang mata melihat pemandangan yang mengejutkan tersebut.
Dengan lembut Hanafi mengulurkan tangan kepada Karen, dibalas uluran tangan oleh sang istri. Dan berjalan melewati resepsionis dan beberapa karyawan. Bahkan security yang berjaga di depan pintu utama menunduk hormat saat melihat siapa yang baru saja turun dari mobil. Beberapa mata karyawan yang melihat dibuat kaget dan terkejut akan pemandangan mengejutkan yang disuguhkan oleh pasangan pengantin baru ini.
" Selamat siang ibu." ucap resepsionis menyapa Karen sembari mengulum senyum dengan tatapan kaget.
Karen yang sedang berjalan dan bergandengan dengan Hanafi, mengangguk dan membalas sapaan karyawannya dengan seulas senyum merekah.
__ADS_1
" Wah rupanya Bu Karen jadi menikah, tapi kenapa bukan dengan pria yang ada di undangan pernikahan itu ya." bisik salah satu karyawan.
Hanafi dan Karen mendengar bisikan-bisikan karyawan tersebut, Karen menghentikan langkahnya hendak menegur, namun genggaman Han menahannya serta menggeleng sambil tersenyum seolah memberi isyarat tidak perlu meladeni mereka.
" Selamat siang pak Yazid." sapa Karen saat baru masuk ruangan sang asisten papanya, yang kini menjadi asisten dirinya.
" Selamat siang nona, selamat atas pernikahannya nona Karen, maaf saya tidak bisa menghadiri pernikahan anda, sebab rapat dengan pemegang saham asing baru saja selesai." tutur pak Yazid.
" Tidak apa-apa pak Yazid." jawab Karen tersenyum.
" Perkenalkan saya Hanafi Abdillah suami Karen." ucap Hanafi pria yang berdiri disamping Karen.
Pak Yazid menerima uluran tangan Hanafi dengan ramah lalu pasangan ini pun duduk didepan meja pak Yazid.
Karen membubuhkan tanda tangannya diatas lembar kertas putih yang baru saja di keluarkan oleh pak Yazid.
" Terimakasih nona, terimakasih juga tuan Hanafi." tukas pak Yazid
Pak Yazid juga mengingatkan kepada Karen bahwasannya besok dia harus melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.
" Iya pak Yazid saya pasti akan kesana." balas Karen.
" Oh ya satu lagi pak, apakah berkas pernikahan kami sudah diserahkan ke KUA?" tanya Karen.
" Belum nona, mungkin setelah mengirimkan berkas ini saya akan mengurus berkas pernikahan nona Karen dan tuan Hanafi." timpal pak Yazid.
Karen mengangguk dan tersenyum, lalu keduanya pun berpamit pulang.
*****
__ADS_1
**BERSAMBUNG.....
MOHON MAAF TELAT UPDATE DIKARENAKAN LAGI SAKITππ**