
"Assalamu'alaikum...." ucap Kyai Waffiq, umi Fatimah dan juga Hanafi bersamaan, saat memasuki ruang kamar Annisa.
"Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh." jawab seluruh penghuni ruangan tanpa terkecuali.
Pria paruh baya yang tengah mengenakan sarung beserta baju Koko lengan panjang dan juga peci warna putih serta surban diatas kepala, mendekati brankar tempat, Annisa terbaring.
" Alhamdulillah akhirnya nak Nisa sadar kembali. Bagaimana kondisi nak Nisa sekarang?" tanya Kyai Waffiq, mengusap kepala Annisa seraya berdo'a.
" Alhamdulillah abi." jawab Nisa lirih.
Umi Annisa pun mendekati brankar Annisa, mengecup kening Nisa serta mencium kedua pipi sang menantu.
Terlukis aura kebahagiaan diwajah seluruh penghuni ruangan tersebut. Tangis yang beberapa hari lalu adalah tangis kesedihan, kini berubah menjadi tangis kebahagiaan.
Dokter yang menangani Annisa, pagi itu melakukan kunjungan pasca sadar dari koma.
" Pagi pak Azzam, pagi ibu Annisa. Alhamdulillah ya akhirnya ibu Annisa bisa melewati semua nya." ucap sang dokter saat memasuki ruangan, menyapa Nisa.
Beberapa menit dokter melakukan pemeriksaan terhadap tubuh Annisa, dan saat sampai di bagian perut, dokter seperti ingin menyampaikan sesuatu terhadap keluarga pasien.
" Bisa saya bicara dengan pak Azzam, di ruangan saya?" tanya sang dokter seusai memeriksa Annisa.
" Oh iya dokter tentu saja bisa, mari !" ujar Azzam melangkah mengikuti langkah sang dokter menuju ruangan beliau.
" Silahkan duduk pak Azzam !!" ucap dokter mempersilahkan Azzam duduk.
Azzam yang terlihat sedikit cemas itu pun, menduduki kursi yang ada di depan meja kerja dokter.
" Emmm..... apa ada sesuatu yang serius kah dokter dengan istri saya?" tanya Azzam mengawali percakapan dengan dokter di depannya.
" Begini pak Azzam, sebelumnya saya meminta maaf selaku dokter yang menangani kasus yang dialami oleh istri anda." ucap sang dokter dengan suara berat.
__ADS_1
" Setelah benturan keras yang mengenai dinding rahim istri anda, dan mengalami luka dalam yang cukup serius, kemungkinan besar untuk bisa hamil sepertinya sangat kecil pak Azzam. Jadi itulah berita kurang bagus yang ingin saya sampaikan, semoga anda beserta nyonya Annisa bisa menerima semua ini dengan sabar dan ikhlas. Dan semoga saja masih ada keajaiban dari Tuhan seperti keajaiban yang terjadi hari ini." timpal dokter kembali.
Bagai di tampar oleh sebuah tamparan yang cukup keras, bagi Azzam pagi itu. Impian ia ingin mewujudkan keinginan sang istri memiliki bayi lucu berjenis kelamin perempuan sepertinya kandas.
Tanpa terasa butiran kristal bening pun menggenang di sudut pelupuk netra Azzam. Perasaannya seakan hancur, bukan karena kecewa Annisa tidak mampu hamil, namun bagaimana cara ia menyampaikan berita buruk ini terhadap istri tercinta.
Dokter Tamam pun ikut prihatin atas apa yang dialami oleh istri Azzam.
" Kemungkinan kecil, berarti masih ada harapan buat kami kan dokter?" tanya Azzam kembali berusaha meyakinkan dirinya akan kesempatan hamil sang istri.
" Maaf saya tidak berani mengatakan iya tidaknya pak Azzam." jawab dokter
" Saya yakin dibalik kemungkinan kecil itu, pasti masih ada kesempatan buat kami dokter, kami akan berusaha semaksimal mungkin meminta kepada Allah, agar kemungkinan kecil itu menjadi kenyataan." timpal Azzam penuh keyakinan.
" Iya pak Azzam, selagi kita mau berusaha Niscaya keyakinan kita akan menjadi kenyataan, sebaliknya saya do'akan semoga harapan bapak terkabulkan." timpal sang dokter.
Beberapa saat kemudian Azzam pun pergi meninggalkan ruangan dokter dengan langkah gontai. Azzam pergi ke Masjid yang ada di rumah sakit, disana ia tumpahkan kesedihannya lewat sholat Dhuha pagi itu.
Puas melampiaskan keluh kesah yang sedari tadi menyeruak dalam dada, pria ini segera kembali ke ruangan sang istri, namun sebelum itu Azzam kembali mengambil wudhu agar mata sembabnya tidak terlihat oleh Annisa.
"Assalamu'alaikum." ucap Azzam saat memasuki ruangan.
" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh." jawab seluruh penghuni ruangan.
Semua mata menoleh menatap Azzam yang baru masuk.
" Mas Azzam darimana saja?" tanya Annisa mengulurkan tangannya. Azzam pun menghampiri brankar Nisa, dan duduk disamping Annisa.
" Sayang harus banyak makan dan istirahat ya jika dua hari ke depan kesehatan sayang sudah pulih, kata dokter sayang boleh pulang." ucap Azzam berbohong pada Annisa agar tidak curiga.
" Benar kah mas Nisa dua hari lagi sudah boleh pulang?" tanya Nisa dengan wajah binar.
__ADS_1
" Iya sayang, makanya mulai sekarang makan yang banyak ya." timpal Azzam kembali .
Annisa mengangguk kegirangan, dan meminta Azzam untuk menyuapinya.
" Nisa mama suapin ya nak?" tanya Devi menawarkan diri.
Gadis itu pun menggeleng pelan, tatapannya tertuju pada Azzam. Membuat seisi ruangan terkekeh menertawakan sikap Annisa.
" Iya iya yang lagi kangen makan berdua, silahkan deh !! Anggap saja ruangan ini milik kalian berdua, kita semua ngontrak iya kan? ha ha ha." ledek Hanafi seraya terkekeh.
Yang lain pun balas terkekeh mendengar bualan Hanafi.
" Ngiri saja kamu mah, makanya buruan nikah Han. Biar jiwa jones kamu nggak meronta." sahut Azzam balas meledek.
" Wah wah dia ngledek nih, ya sudah kalau gitu, abi, umi, hari ini Hanafi ingin mengkhitbah Safa. Boleh kah?" suara Hanafi semakin membuat riuh tawa yang lain, padahal sebenarnya apa yang Hanafi sampaikan adalah benar dari dalam hati.
" Han Han, kamu ini ada ada saja. Masih banyak gadis di luaran sana yang lebih baik dari Safa. Apa jadinya jika kalian menikah nanti, yang ada pasti ribut terus." sahut umi Fatimah.
Safa tertunduk malu mendengar penuturan Hanafi. Dan Kyai Waffiq pun hanya diam tak bersuara, karena sebenarnya Hanafi sudah pernah mengutarakan niatan nya untuk mengkhitbah sang putri sulung.
Azzam mulai menyuapi sang istri dengan pelan pelan. Gadis yang baru sadar itu pun, menikmati makanan yang disuapkan Azzam.
Setelah beberapa jam bercengkerama disana, mereka semua berpamit pulang. Tinggal lah Annisa dan Azzam berdua saja.
Keduanya tampak menghabiskan waktu bersama, Azzam memijit kaki Annisa sambil bercerita hal hal lucu, dan sesekali Annisa pun tertawa lepas mendengar banyolan sang suami.
Lama keduanya tertawa bercanda ria lepas, hingga Annisa terlelap. Dan Azzam pun menyelimuti tubuh Annisa. Pria ini pun merebahkan tubuhnya di tepi brankar Annisa, sama sama terlelap.
*******
BERSAMBUNG.....
__ADS_1