
" Assalamu'alaikum." ucap Devi saat tiba di depan pintu rumah sang putri.
Wanita paruh baya ini menekan bel, karena tidak ada sahutan, teeet....teeet....
" Mama." sahut Annisa saat membuka pintu, gadis ini pun mencium punggung tangan sang ibunda dan memeluknya.
" Mama ucap salam tidak ada jawaban, ya terpaksa pencet bel." timpal Devi, berjalan masuk kedalam.
" Iya ma lagi didalam sama mas Azzam." balas Nisa.
" Loh suami kamu tidak masuk ?" tanya Devi.
Annisa dan Devi duduk di ruang tengah, mendengar suara sang ibu mertua, Azzam pun segera keluar dari dalam kamar.
" Assalamu'alaikum ma." sapa Azzam.
" Wa'alaikumussalam, mama kira nak Zam ngajar, ternyata libur. Tahu begitu mama nggak datang, biar tidak mengganggu kalian." tukas Devi, menerima uluran tangan sang menantu.
Azzam duduk bersebelahan dengan Annisa, sementara Devi, di kursi sebelah.
" Tadinya memang mau masuk ma, sudah siap. Tapi bumil mendadak merengek minta makan di luar. Mana tega Zam biarin bumil cemberut ma, ntar kalau anak Zam suka cemberut kan nggak bagus ma." kilah Azzam menggoda sang istri, padahal alasan sebenarnya dia tidak masuk bukan itu.
" Wah Nisa nggak boleh gitu sayang, suami kamu kan pergi bekerja, nah kalau dia keseringan bolos, kan kasihan para muridnya ketinggalan banyak mata kuliah." sahut Devi, mencubit pipi sang putri.
" Auw sakit ma. Kan yang minta si dede dalam perut ma, bukan Nisa." balas Annisa memasang wajah imutnya kembali, tanpa wajah berdosa.
" Tuh kan mama lihat sendiri, kalau sudah ngambek panjang urusannya. Atau biar besok Nisa ikut Zam ngajar saja ma, biar tidak jenuh dirumah terus." celetuk Azzam.
" Tapi kan kalau terlalu capek buat Nisa, nggak bagus juga untuk bayi yang ada dalam perut dia nak Zam. Nisa nggak boleh gitu ya nak. Kan tiap hari ada umi sama mama yang gantian jaga. Kalau pingin makan sesuatu nanti bisa mama atau umi buatin." Devi menasehati sang putri, Annisa pun mengangguk pelan.
" Ya sudah ayo bersiap sayang, mama ikut juga ya sekalian temani kami." ujar Azzam.
Wajah Annisa seketika berubah ceria, bergegas mengganti pakaian. Devi yang melihat perubahan sang putri pun menggeleng kepala sambil tersenyum.
" Nisa Nisa, sebentar lagi kamu itu akan menjadi seorang ibu. Masih saja seperti anak kecil." gerutu Devi.
__ADS_1
*****
Mobil Linda yang mengintai rumah Azzam, sepertinya sudah tidak ada lagi, dan sebelum mereka bertiga keluar rumah, seorang laki-laki bertubuh besar tinggi tegap, sedang memasuki halaman pelataran rumah Azzam.
Pria tersebut hanya menundukkan kepala saat berpapasan dengan mobil yang dikendarai Azzam, serta memberi kode dengan jarinya kepada Azzam.
" Loh ada tamu, kok nggak balik mas?" tanya Annisa, heran saat melihat sebuah mobil memasuki halaman rumah nya.
" Dia bukan tamu yang, tenang saja. Mulai sekarang, dia yang akan berjaga dirumah kita." jawab Azzam.
" Kenapa harus sampai seketat itu sih mas?? memangnya masih belum aman kah?" tanya Annisa terlihat bingung.
" Sudah dengar saja apa kata suami kamu Nis, pasti semuanya ada alasannya." sela Devi menengahi pembicaraan putrinya dan sang menantu.
Mobil yang ditumpangi Azzam mengitari jalanan kota M, menuju restauran yang diinginkan oleh sang istri.
Saat itu terbilang masih pagi, dan restauran masih tampak sepi. Sepertinya ketiga orang ini adalah tamu pertama yang berkunjung.
Annisa memeluk lengan Azzam, berjalan masuk kedalam restauran, sementara Devi dibelakang mereka.
Azzam memilih tempat yang agak masuk kedalam, agar tidak terlihat oleh orang luar. Perasaannya masih was-was, semenjak melihat kehadiran Linda tadi pagi.
" Wah rupanya didalam pemandangannya lebih bagus ya ma. Ada kolam ikan juga." Annisa berlalu menuju kolam ikan yang ada disamping, tempat ia makan.
Nisa bermain gemericik air yang mengalir di kolam tersebut, sembari memberi makan ikan-ikan di kolam. Tampak tawa kecil terlukis dari bibir Annisa.
Azzam pun mendekati sang istri, " Alhamdulillah, bundanya senang sekali ya de." tukas Azzam menggoda Annisa yang asyik bermain ikan.
" Mas besok di belakang rumah, buatin kolam ikan serta taman seperti ini ya." pinta Annisa.
" Sejak kapan sayang suka dengan ikan dan taman?" ledek Azzam.
" Ihhh mas Azzam, boleh ya mas buatin ya." rengek Nisa, menggoyang tubuh suaminya.
Terlukis senyuman serta anggukan dari Azzam, mengiyakan permintaan istrinya.
__ADS_1
Lama bermain dengan ikan - ikan di kolam, makanan yang mereka pesan pun datang. Memenuhi meja yang ada.
Nisa dan Azzam kembali ke meja makan, Devi yang sudah merasa kenyang sejak dari rumah, menggeleng melihat banyaknya makanan yang dipesan.
" Nak Zam, makanannya banyak sekali. Apa yakin akan dihabiskan semuanya. Nisa yakin mau semua nak?" tanya Devi penasaran.
" Iya ma enak loh, mama lihat saja ya. Putri cantik mama ini pasti akan habiskan semuanya." sahut Annisa. Dan semua pun terkekeh melihat sikap Annisa.
Satu persatu makanan yang tersaji, dicicipi dan dilahap dengan nikmat, oleh Annisa. Sementara Azzam hanya memakan beberapa saja. Sedang Devi menjadi penonton saat itu.
Lagi lagi, Devi kaget. Makanan yang tadinya beraneka macam, dalam sekejap habis. Raut wajah gembira kembali terpancar dari bumil ini.
" Alhamdulillah kenyang. Yang gendong, nggak kuat ja lan...." rengek Nisa seusai makan.
" Nis ini tempat umum loh sayang, kamu nggak malu apa." ucap Devi.
Mendengar ucapan sang mama, Nisa memasang wajah cemberutnya lagi, " Nggak mau pulang, kalau nggak gendong." sahut Annisa ketus.
Tanpa basa basi, Azzam meraih tubuh Annisa dalam gendongannya. Nggak mau membuat wanita yang dicintainya berlama-lama cemberut.
" Siap bunda sayang." pungkas Azzam saat berjalan menggendong Annisa.
Kasir dan pelayan yang melihatnya pun tersenyum, bahkan ada yang terkekeh melihat kemanjaan Annisa.
" Nggak nyangka ya mas itu bisa berubah romantis setelah menikah. Padahal dulunya kan tiap kesini, wajahnya sedingin kulkas tujuh pintu. Senyum saja jarang." imbuh sang kasir.
" Iya benar, tiap kesini bersama keluarga atau adiknya, wajah mas itu selalu datar. Sungguh beruntung ya mbak itu." timpal pelayan lainnya.
Saat membayar ke kasir pun Annisa masih berada dalam gendongan Azzam. Meski para pelayan melihat mereka tak membuat Azzam malu sedikitpun. Baginya kebahagiaan wanita yang dicintainya adalah hal yang sangat penting.
Seusai makan di restauran, ketiganya kembali pulang, karena Annisa sudah merasa kekenyangan dan lelah.
*******
BERSAMBUNG.....
__ADS_1