
Seperti biasa saat pagi menjelang, Nisa sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk suami tercinta. Sementara Azzam pagi itu tampak sedang duduk bersila melantunkan ayat suci Al-Quran dengan suara merdunya.
Di sisi lain Linda pagi itu tengah bersiap untuk menjalankan aksinya. Ia bergegas berangkat ke kantor dengan membawa hasil tes kehamilannya.
Seusai sarapan, pasangan suami istri ini bergegas masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat ke kampus. Dimana jalanan sudah bersiap dengan keramaian serta kemacetan yang menanti.
Pagi itu jam menunjukkan hampir jam delapan, kebetulan Azzam dan Annisa jam mata kuliahnya sama, jadi keduanya berangkat bersamaan.
Setelah hampir tiga puluh menit menyusuri jalanan kota M, mobil Alphard warna hitam yang di kendarai Azzam, memasuki gerbang kampus menuju area parkir khusus dosen.
Malang tak dapat di hindari, Linda kebetulan juga baru keluar dari mobil yang ditumpanginya. Wanita yang mengenakan setelan blazer warna coklat susu itu tiba tiba menghadang dan menghentikan langkah Azzam.
" Stop, tunggu Zam !! aku ada perlu dengan kalian. Ini !!!" seru Linda menyodorkan amplop kecil berisi hasil testpack.
" Apa ini Lin??" tanya Azzam kebingungan saat melihat isi amplop yang disodorkan Linda.
Annisa mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak tahu apa maksudnya. Merasa penasaran melihat sikap sang suami yang seolah kebingungan. Nisa meraih amplop yang ada ditangan Azzam.
Betapa terkejut Nisa saat melihat apa isi dari amplop tersebut.
" Maaf, bu Linda ini apa maksudnya ya?" tanya Annisa menatap heran pada Linda.
Linda tersenyum sinis menatap Nisa, wanita ini melipat kedua tangannya ke dada dan berkata yang sungguh menyakitkan.
" Itu hasil test kehamilan aku, dari hubungan aku sama Azzam, alias suami kamu." ucap Linda seraya melotot tajam kearah Annisa.
__ADS_1
" Maksud bu Linda apa?? nggak mungkin itu anak mas Azzam, iya kan mas?" tanya Nisa mulai pelak suaranya dan berkaca kaca.
Melihat sang musuh sudah mulai down, Linda tertawa dan terkekeh. " Ha ha ha nggak perlu sedih dan cengeng seperti itu. Ayo Zam katakan iya ini anak kamu, atau kalau tidak, aku akan teriak di seluruh kampus ini, bahwa Annisa itu mandul dan nggak akan bisa punya anak." ancam Linda melotot tajam ke arah Azzam dengan senyum liciknya.
Nisa mulai terisak menatap suaminya, benar sebuah pilihan yang sulit bagi Azzam. Ia harus mengakui anak yang sama sekali bukan darah dagingnya atau membiarkan istri tercinta dihina dan ditindas oleh wanita licik itu.
" Katakan mas itu tidak benar kan,hiksss !!" seru Annisa meninggikan suara yang mulai serak menahan tangis.
" Bagaimana mungkin itu anak aku sayang, aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah sekalipun menyentuh dia apalagi tidur bersama. Aku masih waras yang." jawab Azzam geram.
" Linda hentikan kebodohan kamu ini !! , dan jangan pernah mengancam ku untuk mempermalukan Nisa. Atau kamu akan tanggung akibatnya." timpal Azzam kembali.
" Ha ha ha.... prok prok prok." Linda bertepuk tangan dan tertawa sinis.
" Aku tidak akan tinggal diam sebelum kamu mau mengakui bahwa bayi yang ada dalam kandungan ku ini, anak kamu. Atau aku tekan remot ini, seluruh kampus akan mendengar kabar kemandulan Annisa." ancam Linda mengeluarkan remot kecil dari dalam tas.
" Aku hitung sampai tiga, kalau kamu tidak bilang iya ini anak kamu, maka pilihan terakhir adalah jawabannya." ancam Linda kembali.
" Stop jangan mau mas, biarkan bu Linda mengatakan pada seluruh penghuni kampus tentang kekuranganku. Aku tidak pernah malu mas. Jadi Nisa mohon jangan lakukan kemauan Bu Linda hiks hiks..." ucap Annisa terisak dan tersedu.
Azzam menggenggam tangan Annisa, berusaha menguatkan hati sang istri.
" Ayo sayang kita masuk, disini hanya membuang waktu saja meladeni wanita sinting ini." ujar Azzam menarik Nisa berjalan meninggalkan Linda.
Saat Azzam dan Linda telah beberapa langkah meninggalkan Linda yang mematung. Tiba tiba terdengar bunyi rekaman suara Linda yang mengumumkan tentang kemandulan Nisa.
__ADS_1
Tangis yang baru saja terhenti mendadak tumpah kembali, sambil membungkam mulutnya Nisa menangis hingga tubuhnya bergetar hebat.
" Ya Allah kenapa harus seperti ini cobaan yang Engkau berikan pada hamba hiks.... aku ikhlas walau takdirku tidak akan bisa punya anak. Tapi tidak harus dipermalukan seperti ini juga." gumam Annisa dalam hati sambil menahan tangis agar tidak semakin kencang.
Azzam memeluk tubuh wanita dihadapannya yang tengah bergetar hebat.
" Sabar sayang sabar. Pasrahkan semua sama Allah. Mas tidak akan sedikit pun meninggalkanmu, percayalah." bisik Azzam berusaha menenangkan Annisa.
Beberapa mahasiswa yang kebetulan masih diluar kelas terlihat menyimak bunyi dari toa yang diputar oleh Linda.
Pagi itu drama menyedihkan terjadi dikampus. Beberapa mahasiswa yang melihat kejadian pagi itu, ada yang mengatakan kasihan dengan Annisa. Namun ada juga yang mencibir dan mentertawakan.
" Kenapa kalian bergerombol disini, cepat bubar !!" usir Azzam sambil berteriak pada beberapa mahasiswa yang kebetulan berdiri tak jauh dari Azzam berdiri.
Linda tertawa puas telah berhasil mempermalukan pasangan muda ini, dihadapan seluruh mahasiswa di kampus.
" Dengar Linda, beribu cara licik atau jahat yang kamu lakukan untuk memisahkan kami. Tidak akan pernah berhasil. Sebab aku pastikan, semua usaha kamu akan sia sia belaka. Dimata ku tidak sedikitpun tertarik untuk melihat dirimu. Jadi stop untuk mempermalukan kami. walau jika nantinya kami tidak digariskan untuk memiliki keturunan, maka aku akan tetap disisi Nisa hingga maut memisahkan kami. " teriak Azzam dana berlalu membawa Nisa ke ruangannya.
Di dalam ruangan nya, Azzam membaringkan tubuh Nisa di sofa yang ada disana. Azzam menyelimuti tubuh Annisa dan menepuk punggungnya memberi support agar berhenti menangis.
" Sabar sayang, kita tidak perlu malu. Masih banyak kan pasangan yang nikahnya belasan tahun, namun belum juga dikaruniai anak, dan mereka bisa tetap bahagia kok. Jadi kita masih ada banyak kesempatan. Ayo kita lebih keras lagi berdo'a kepada Allah." ucap Azzam masih memberi support.pada istrinya.
Dalam hati Azzam mulai geram dan emosinya sudah merasuk sampai ke ubun-ubun. Ia ingin sekali memberi wanita sinting itu pelajaran.
Lama menumpahkan segala rasa sesak yang menghimpit pagi itu, Akhirnya perlahan Nisa bisa kembali tenang, setelah beberapa menit sibuk menangis.
__ADS_1
Dan saat melihat sang istri yang sudah mulai tenang, Azzam berpamit pergi sebentar namun tidak mengatakan hendak kemana. Yang jelas bagi pria kutub ini, melihat istri tercinta tenang rileks dan bahagia itu saja sudah cukup dari seluruh dunia dan seisinya.
BERSAMBUNG......