
Hari berganti.... , kondisi Aulia sudah kian membaik, dan hari ini dokter memperbolehkan dirinya untuk pulang. Semua catatan medis menyatakan sudah tidak ada yang bermasalah atau mengkhawatirkan.
Azzam dan juga Nisa siang itu sengaja meluangkan waktu untuk pergi ke rumah sakit, mengurus biaya administrasi selama Aulia dirawat.
Dengan persetujuan dari sang istri, Azzam lah yang membiayai semua biaya perawatan Aulia selama di rumah sakit. Dan siang itu mereka juga mengajak Hamzah ke rumah sakit.
" Assalamu'alaikum mama." ucap Hamzah saat memasuki ruang kamar perawatan Aulia.
" Assalamu'alaikum, selamat siang." ucap Azzam dan Annisa barengan.
" Wa'alaikumussalam, hei anak mama yang ganteng. Siang juga mas, Nisa." balas Aulia menyapa kedua tamunya.
" Bagaimana kondisi kamu Lia?? apa sudah membaik, apa sudah siap pulang hari ini?" tanya Azzam dari sofa.
" Iya Alhamdulillah kata dokter semalam, hari ini aku sudah boleh pulang mas. Semua sudah membaik." jawab Aulia sembari mengusap bocah kecil dalam pangkuannya.
" Alhamdulillah baguslah, kalau begitu aku langsung urus saja administrasi nya. Sayang tunggu disini ya !!" pamit Azzam kepada sang istri.
" Iya mas ." sahut Annisa.
Tampak wajah Aulia terlihat ceria saat bertemu dengan putra tercintanya. Mereka banyak mengobrol dan bercerita siang itu, sesekali Nisa juga ikut bergabung dalam perbincangan ibu dan anak tersebut.
" Wah senangnya mas Ham yang mau berkumpul sama mama lagi, kaka di tinggal dong." ledek bumil kepada bocah tersebut.
" Kaka cantik nanti boleh ya Ham ajak mama main ke lumah Kaka dan om ganteng. Bial mama tahu kalau lumah kalian baguuuus banget." celetuk bocah kecil itu dengan nada cadelnya.
" Boleh dong, kapan pun anak ganteng kangen kaka, main-main ya ke rumah, nanti Kaka masakin masakan yang enak, kesukaan mas Hamzah." balas Nisa yang sedang dihampiri oleh bocah lucu itu.
__ADS_1
Hamzah kini beralih duduk di samping Annisa, mengusap perutnya.
" Kaka cantik, nanti dedeknya dikasih nama siapa?" tanya Hamzah.
" Emmm.... entah lah, kira-kira mas Hamzah punya nama buat dede nya Kaka nggak?" tangan Nisa menoel hidung mancung milik Hamzah. Membuat bocah lucu itu mengaduk sakit memegangi hidungnya.
" Kalau dede nya pelempuan, kasih nama Aisyah ka, kalau laki-laki kasih nama Alif, mau enggak?" ucap bocah itu sok jadi orang dewasa.
" Wah bagusnya, mas Ham dapat dari mana nama indah itu sayang?" tanya Nisa beralih mendekap bocah disampingnya.
" Itu nama teman balu Ham di TK kaka cantik." jawab bocah itu dengan lugunya.
" Masya Allah, mas Hamzah hebat ya. Teman sekolahnya banyak enggak?" timpal Nisa berbincang dengan Hamzah. Dan bocah lucu itu mengangguk mengiyakan pertanyaan Nisa.
" Wah pasti teman mas Ham cantik-cantik dan cakep-cakep ya." imbuh Nisa kembali bercanda dengan bocah kecil tersebut.
" Sungguh beruntung kamu Nisa, mendapatkan suami sebaik mas Azzam, kalian memang pasangan terbaik. Sama-sama baik." batin Aulia saat menatap buah hati nya bercanda ria dengan Nisa.
" Terimakasih suster. Terimakasih telah merawat saya dengan baik." ucap Aulia berterimakasih kepada perawat yang selama ini Azzam tugaskan untuk menjaganya.
" Sama-sama ibu, senang bisa merawat ibu dengan baik, semoga setelah keluar dari sini, kesehatan ibu akan terus baik." timpal sang perawat.
Suster itu mendorong Aulia yang duduk di kursi roda sampai parkiran. Azzam menggendong Hamzah, sementara Nisa berjalan beriringan disamping sang suami.
Siang itu Azzam mengantar Aulia pulang. Dan ternyata ia kembali ke rumah almarhum sang ayah.
Setibanya di rumah Aulia, Hamzah turun dari gendongan Azzam, sejenak pasutri ini duduk beristirahat menghormati anak kecil yang sedari tadi meminta mereka untuk mampir dan melihat foto dia bersama sang papa sebelum meninggal.
__ADS_1
" Jadi sudah berapa lama suami kamu meninggal?" tanya Azzam kepada Aulia, setelah melihat foto yang Hamzah tunjukkan.
" Sudah sekitar delapan bulanan mas. Awalnya aku nggak berani untuk keluar rumah, karena takut dan merasa bersalah terhadap mas Azzam. Namun tuntutan hidup mengharuskan aku untuk keluar dari rumah, guna memenuhi semua kebutuhan putra ku. Maka akhirnya aku putuskan untuk membuka usaha, dimana aku masih bisa terus merawat Hamzah. Dan aku berjualan." jawab ibu satu anak itu dengan wajah sendu, teringat akan perjuangannya selama delapan bulan terakhir.
Hati Annisa merasa terketuk, mendengar cerita dari wanita dihadapannya itu. Membayangkan bagaimana seandainya jika ia yang ada di posisi wanita tersebut. Apakah akan tetap mampu berjuang dan bertahan seorang diri.
" Kalau mbak Lia nggak keberatan, bisa bekerja di kantor papa saya. Mengenai Hamzah, mbak Lia bisa titipkan dia kepada kami, iya kan mas?"
ucap Annisa sambil menoleh ke arah sang suami, di amgguki oleh Azzam.
" Terimakasih banyak Nis, nanti aku pertimbangan lagi tawaran kamu." balas Aulia.
Setelah lama berbincang dan Hamzah kecil memperlihatkan semua koleksi mainan yang ia punya kepada Azzam, keduanya berpamit pulang.
" Maaf ya anak sholeh, om sama kaka mau pamit dulu, Ham temani mama ya. Masih ingat kan pesan om dan kak Nisa?" ucap Azzam mengamati wajah Hamzah.
Yang ditanya pun mengiyakan dengan anggukan.
" Ini simpan lah untuk keperluan anak kamu selama kamu masih belum sehat betul." seru Azzam menyodorkan uang yang ia masukkan ke dalam amplop.
" Nggak usah mas, kalian sudah sangat banyak membantu kami. " tolak Aulia halus.
" Jangan begitu mbak, ambillah mbak untuk kebutuhan kalian. Semoga bermanfaat." ujar Nisa berharap Aulia sudi menerima bantuan yang ia tawarkan.
Aulia pun dengan malu-malu terpaksa mengambil uang pemberian Azzam dan Annisa. Sebelum pulang , Hamzah mencium kedua pipi pasangan ini., juga memeluk keduanya bersamaan.
Hamzah sempat menitikkan air mata, saat melihat kepergian pasangan yang beberapa hari ini merawat dia dengan tulus dan penuh kasih sayang. Lambaian tangannya mengiringi mobil Azzam sampai benar-benar tak terlihat.
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG....