HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Berangkat Umroh


__ADS_3

Keesokan harinya, Amir mengadakan acara tasyakuran. Malam keberangkatan sang istri, dan putri tercinta serta menantunya ke tanah suci.


Acara tasyakuran tersebut hanya dihadiri oleh beberapa kerabat terdekat saja. Kyai Waffiq beserta sang istri umi Fatimah juga Han, tampak hadir dalam acara tasyakuran tersebut.


Kyai Waffiq sendiri yang memimpin acara tersebut. Dan Hanafi sebagai pembawa acara. Rombongan Hadrah dari pesantren juga turut meramaikan. Rumah Amir malam itu sejenak berubah menjadi ramai.


Azzam dan Annisa telah menyiapkan semua keperluannya selama tinggal di tanah suci, kedalam koper masing-masing. Begitu juga dengan Devi.


******


Hari mendebarkan bagi Amir Syah Alam telah tiba, pengusaha yang dinyatakan pailit oleh banker beberapa hari lalu. Kini harus menghadap ke pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan. Namun dihari yang sama. Hari itu juga merupakan hari keberangkatan Sang istri, putri tercinta dan menantu tersayangnya ke tanah suci Makkah Madinah, untuk menjalankan ibadah Umroh.


" Papa jaga diri baik-baik ya disini. Hiksss... kami akan selalu mendo'akan papa disana, huuu." ucap Nisa mulai menangis.


Dipeluknya erat tubuh sang papa, seolah tak mau lepas. Namun Azzam memberi kode kepada sang istri untuk tegar dan jangan bersedih.


" Sayang tolong jangan terlalu bersedih, kasihan papa, jika melihat sayang sedih begini." Bisik Azzam.


Nisa melepas pelukannya, dan kini gantian Devi berpamitan kepada suami tercinta. " Pa, mama berangkat ya. Papa jaga diri baik-baik. Ingat jangan terlalu capek dan jangan telat makan." tukas Devi saat memeluk tubuh suaminya.


Ada tangis yang tertahan dari netra Amir, pria paruh baya itu mencoba mengalihkan fokus Devi dengan tertawa.


" Mama ini kan hanya pergi Umroh saja, bukannya berpisah untuk selamanya. Ngatain Nisa cengeng, tapi mama sendiri juga cengeng he he he." ledek Amir, berusaha menutupi kesedihannya.

__ADS_1


" Tapi kan ini pertama kalinya mama bepergian jauh sendirian tanpa papa huuuu." tangis Devi.


Amir membalas pelukan sang istri dan menasehatinya. " Papa disini baik - baik saja. Mama yang harusnya jaga kesehatan disana, karena cuaca disana berbeda dengan disini. Zam, Nisa, papa titip mama kalian ya, jaga dia baik - baik." tukas Amir.


Tak lama setelah adegan mengharukan di halaman rumah Amir, ketiga orang ini memasuki mobil dengan diantar oleh sopirnya. Amir ikut dalam mobil tersebut.


Sementara Kyai Waffiq beserta umi Fatimah dengan mobil yang dikendarai oleh Han.


Sesampainya di bandara, semua saling berpelukan. Azzam, Nisa dan Devi juga berpamitan kepada Kyai Waffiq dan umi Fatimah juga Hanafi.


Ketiga orang ini pun meninggalkan keluarga tercinta, menuju terminal keberangkatan internasional.


Rombongan Kyai Waffiq kembali ke pesantren, sementara kini tinggal Amir dan sopirnya.


" Pak Ahmad, sebelumnya saya minta maaf, jika selama menjadi majikan, saya pernah bersikap kurang baik atau membuat tersinggung." ucap Amir dengan wajah sendu.


" Tidak tuan, tuan sangat baik kepada kami. Jika bukan tuan yang menolong saya bersama istri waktu itu, mungkin sampai sekarang kami akan menjadi gelandangan yang tidak punya pekerjaan. Tuan beserta nyonya, juga nona sangatlah baik. Kami banyak berhutang Budi kepada tuan." ucap sang sopir.


" Saya lihat akhir akhir ini tuan terlihat murung dan bersedih, apakah terjadi sesuatu dengan perusahaan tuan?" tanya pak Ahmad.


" Maaf pak, saya tidak bisa menjelaskan. Terimalah ini, pak Ahmad bisa mencari pekerjaan yang lebih baik lagi bersama ibu. Sekali lagi saya ucapkan banyak terimakasih." timpal Amir.


Amir menyodorkan sebuah amplop berisi uang gaji beserta pesangon kepada pak Ahmad. Termasuk juga gaji istrinya yang bekerja menjadi pelayan rumah.

__ADS_1


" Tuan kenapa banyak sekali uangnya, dan mengapa tuan berkata seperti itu? ada apa sebenarnya?" tanya pak Ahmad penasaran.


Amir Syah Alam pun akhirnya bercerita mengenai apa yang menimpanya saat itu, juga termasuk alasan dia mengirim sang istri ke tanah suci.


" Maaf tuan, saya tidak bisa menolak pemberian tuan. Tuan sudah banyak membantu kami. Jika tuan butuh tempat tinggal, tinggallah bersama kami. Toh itu rumah juga pemberian anda. Dengan senang hati kami akan merawat anda." ucap pak Ahmad dengan mata berkaca-kaca.


" Terimakasih pak Ahmad, tapi sepertinya saya harus menjalani masa tahanan, selama pemeriksaan terus berlanjut. Do'akan saya semoga kebenaran terungkap. Dan semoga pak Ahmad mendapat pekerjaan baru yang lebih baik." balas Amir.


Amir kemudian meminta pak Ahmad untuk mengantarnya ke kantor polisi, dimana Farid Basalamah, pengacara yang diutus Dirga untuk menangani kasus Amir juga hadir disana menemani Amir.


Ada kesedihan dalam wajah pak Ahmad saat mengantar sang majikan turun di kantor polisi. Dalam hati ingin berbuat sesuatu untuk meringankan beban sang majikan, tapi apalah daya. Dirinya hanyalah seorang bawahan dengan segala keterbatasan. Akhirnya hanya bisa mendo'akan.


Amir menghadap ke bagian tim penyelidik di kantor polisi, dengan didampingi Farid Basalamah.


Sementara itu, didalam pesawat, Nisa terlihat murung dan bersedih. Wanita ini berat berpisah dengan sang papa, yang sedang berjuang menghadapi kesulitan seorang diri. Tanpa ada keluarga yang mendampingi.


Nisa pergi ke toilet dalam pesawat dengan ditemani Azzam. Didalam toilet tersebut, wanita ini menumpahkan tangisnya yang sedari tadi ditahannya, di depan sang mama.


" Tenang sayang, sabar ya. Mas tahu ini sangat berat buat sayang. Tapi ingatlah pesan papa. Kita do'akan selalu beliau, semoga bisa melewati ini semua dengan tabah." ucap Azzam memeluk tubuh Annisa.


Dalam pelukan Azzam, Annisa menangis sejadinya hingga puas menangis dan ia membasuh wajahnya, lalu kembali duduk ke kursinya agar Devi sang mama tidak merasa curiga.


*******

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2