
Masih dikota Madinah, Devi, Azzam, dan Annisa, tak hentinya berdo'a untuk Amir, agar proses hukum yang ia jalani, dimudahkan.
Pagi itu, Devi sengaja menelfon Amir, dan memberi support.
"Assalamu'alaikum pa, bagaimana kabar papa hari ini?? apa tidur papa nyenyak??" sapa Devi mengawali percakapan di telefon.
" Wa'alaikumussalam, Alhamdulillah papa baik baik saja ma. Mama sendiri bagaimana ? apa ibadahnya lancar?" tanya Amir, mengalihkan pembicaraan.
" Pa, papa tidak usah menutupi lagi. Mau sampai kapan papa berbohong ke mama. Anak anak sudah bercerita semuanya hiksss..... masalah sebesar itu, kenapa papa tanggung sendiri. Apa guna mama sebagai istri, yang sekian tahun mendampingi saat suka, lantas giliran duka, apa pantas mama tidak menahu apapun, hiksss. Mama terima semua keadaan papa, kita bisa memulainya kembali dari nol. Huuuuuu..... andai papa kasih tahu mama dari awal, mungkin mama tidak akan pergi meninggalkan papa disana sendirian huuuuuu." ujar Devi, suara tangisannya kian menjadi.
Pria paruh baya yang baru saja hendak berangkat ke kantor polisi itu, diam terpaku. Batinnya terasa sangat sedih, mendengar ucapan sang istri. Benar kata Devi, harusnya ia berterus terang kepada partner hidupnya. Agar sama sama bisa saling mensupport satu sama lain.
" Maafkan papa ma, karena sayang papa yang teramat besar kepada kalian, maka papa ingin memikul beban ini sendirian. Aku tidak ingin melihat wajah orang yang ku sayangi bersedih. Tapi mama tenang saja, do'akan papa semoga kasus ini segera menemukan titik terang. Agar kebenaran terungkap." ucap Amir mencoba menenangkan hati sang istri.
" Iya pa, kami disini, selalu mendo'akan papa. Papa jangan lupa jaga kesehatan. Makanlah secara teratur." ucap Devi berpesan.
Beberapa menit kemudian, panggilan suara itu pun berakhir. Dan Devi meraung, menangis didalam kamar. Tangisan Devi tersebut, terdengar sampai ke kamar Azzam dan Annisa. Karenanya, mereka segera bergegas menuju kamar Devi.
" Ceklek...." pintu kamar yang tidak terkunci itu, berhasil dibuka oleh Azzam.
" Mama, mama kenapa??? " tanya Azzam dan Annisa bersamaan.
Devi masih saja terus meraung, menangis sedih. Benaknya masih sangat sakit, kala membayangkan pria yang bertahun menjadi partner hidupnya, kini bertarung seorang diri, menghadapi gelombang badai.
" Papa pasti baik baik saja ma. Kan mama sudah janji tidak akan bersedih, kita harus optimis dan selalu mendo'akan papa, agar kasus yang dijalaninya, segera terselesaikan." tukas Annisa, memeluk tubuh sang mama.
" Iya benar kata Nisa ma, mama tidak boleh down dan bersedih seperti ini. Kasihan papa juga Nisa ma, menurut Farid pengacara papa, mereka sudah berhasil mendapatkan beberapa bukti, jadi tinggal menunggu pria yang dibayar untuk menukar material itu. Semoga segera diketemukan ma, agar kebenaran segera terkuak." imbuh Azzam.
" Iya ma, mama tenangin diri ya sekarang, sebentar lagi kita akan berangkat ke Makkah, jadi biar ibadahnya lancar mama harus baik baik, nggak boleh sedih." hibur Annisa, seraya mengelus punggung sang mama.
Tangis pilu kembali mewarnai kamar Rua Hotel , sebelum meninggalkan kota Madinah.
******
__ADS_1
Setelah bertelepon dengan sang istri, Amir pun segera berangkat ke kantor polisi lagi, untuk melanjutkan penyelidikan. Berkat usaha keras Dirga dan Farid, maka Amir tidak dipenjarakan, apalagi mengingat bukti yang ditemukan, sama sekali tidak mengarah kepadanya. Dan pagi itu pak Ahmad mengantarnya ke kantor polisi.
" Alhamdulillah ya tuan, rumah tidak jadi di sita oleh bank, bank telah berbaik hati memberikan masa toleransi penyitaan. Semoga ada tangan tangan baik yang di utus Allah untuk membantu terungkapnya kasus tuan." ujar pak Ahmad, saat mengemudikan mobil sang majikan.
" Iya Alhamdulillah sekali pak Ahmad, sepertinya Allah tidak membiarkan saya sendirian, menanggung masalah ini. Allah masih berbaik hati mengirimkan orang pilihannya, untuk membantu saya, termasuk pak Ahmad." balas Amir tersenyum kepada pak Ahmad.
Disaat yang bersamaan mobil yang dikendarai Jimmy, juga telah tiba di halaman Polres kota M. Handoko yang menganggap Amir, adalah musuh bebuyutannya, terlihat jelas memasang wajah tidak suka, akan kehadirannya bersama dengan dia.
" Selamat pagi." ucap Amir dan Handoko, bersamaan, saat memasuki ruang penyidik.
" Selamat pagi tuan, silahkan duduk." jawab polisi yang bertugas.
Kedua pria ini pun duduk didepan meja penyidik. Amir terlihat tenang, sementara Handoko terlihat gusar dan panik.
" Tuan Handoko dan tuan Amir, kenalkah kalian dengan kepala proyek yang bernama Ridwan ?" tanya polisi mengawali penyidikan.
Deg.... hati Handoko seketika beringsut, keringat menyapa nya, di sekujur tubuh.
" Ehmmm.... betul dia kabur, dan saya tidak mengenal dia. Itu orang kepercayaan dia." jawab Handoko seraya menuding ke arah Amir.
" Tuan Handoko, apakah anda yakin tidak mengenal dia. Bagaimana jika saat ini dia bersaksi bersama kalian disini." ujar penyidik, memancing reaksi Handoko.
" Haah... saya ti tidak bersalah. Dia sendiri yang melakukan sabotase dengan menukar material milik tuan Am A Amir." imbuh Handoko kalang kabut menjawab saat itu.
" Darimana anda tahu jika tuan Ridwan yang melakukan sabotase, dengan menukar material. Bukankah saya hanya bertanya kenal atau tidak?" timpal polisi.
Wajah merah padam terlukis diwajah Handoko, pria yang berhati jahat.
" Tuan Handoko, jawaban anda membuktikan bahwa ada keterlibatan anda dengan tersangka Ridwan. Karenanya, mulai saat ini, anda kami tahan, dengan tuduhan pembunuhan berencana, karena sabotase yang anda lakukan telah mengakibatkan banyak korban nyawa meninggal dan terluka parah. Dan tuan Amir, anda kami nyatakan bebas tak bersalah dari semua bukti dan tuduhan." timpal polisi penyidik.
Gelas yang tertata diatas meja tiba-tiba terjatuh, karena tersenggol oleh tangan Handoko, yang panik.
" Tidak, saya tidak bersalah. Tidak." jawab Handoko mulai panik dan histeris.
__ADS_1
" Jimmy, panggilan aku seorang pengacara handal segera !!" tukas Handoko memberi Jimmy mandat.
Tiba-tiba sosok pria yang kisaran berusia empat puluh lima tahun masuk kedalam ruangan, betapa kaget mata Handoko melihat kehadiran pria tersebut.
" Sialan, kenapa dia harus datang kesini. Apa kurang uang yang sudah aku berikan." gumam Handoko saat itu.
flashback on.....
Setelah mendapat petunjuk dari pekerja bangunan tempo hari. Maka Dirga mengutus tim investigasi nya, untuk mencari keberadaan Ridwan, sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan.
Ditambah, tanpa sepengetahuan dari Handoko, Jimmy pergi menemui Farid Basalamah, pengacara Amir. Ia mengungkap semua kejahatan yang dilakukan oleh majikannya. Namun ia meminta agar Farid tidak menyebut nama dan melibatkan dirinya.
Hal itulah yang membuat kinerja tim investigasi Dirga secepat kilat, menemukan keberadaan Ridwan.
flashback off....
" Maaf pak, saya memang bersalah. Waktu itu istri saya dikampung menelfon, sedang lahiran dirumah sakit, dan harus segera dilakukan operasi, karena terjadi kelainan pada bayi kami. Dan dokter meminta saya untuk menyediakan uang sekitar seratus juta rupiah, untuk biaya operasi istri dan bayi kami. Saat itu saya mendengar pak Handoko sedang ingin menghancurkan proyek pak Amir, namun beliau bingun bagaimana caranya. Lalu saya datang menwarkan diri dengan perjanjian, saya meminta bayaran seratus juta. Dan saya katakan cara sabotase nya. Beliau pun menyetujuinya. Saat insiden itu terjadi, beliau memberikan saya uang kembali dan meminta saya untuk pergi meninggalkan kota ini sejauh mungkin. Namun kebenaran berkata lain. Dan akhirnya polisi berhasil menemukan keberadaan saya, dan menangkap saya."
Suara Ridwan terdengar sedih saat bercerita. Handoko seketika merasa kalap, pria ini hendak memberontak dengan melempar gelas kearah Ridwan, namun sayang gelas itu tidak tepat. Dengan segera polisi memborgol tangan Handoko.
Handoko dan Ridwan bersama-sama masuk kedalam sel tahanan. Sampai waktu persidangan tiba.
Farid berdiri memberi ucapan selamat kepada tuan Amir Syah Alam.
" Selamat tuan, akhirnya kebenaran terungkap. Terimakasih juga saya sampaikan kepada saudara Jimmy yang telah banyak membantu kami." ujar Farid mengulurkan tangan kepada Amir dan Jimmy.
Jimmy juga menelfon seorang pengacara yang biasa digunakan jasanya oleh Handoko. Dan setelah peristiwa penangkapan Handoko dan Ridwan, Jimmy mengundurkan diri dari perusahaan milik Handoko.
Ia tidak ingin terlibat lebih dalam lagi dengan kejahatan keluarga Handoko. Harapan Jimmy hanya ingin agar Linda segera sadar dan mau menikah dengan dirinya.
Hari berganti hari, kabar ditangkapnya Handoko pun telah tersebar ke seluruh kota M. Ketiga orang yakni, Devi, Azzam, dan Annisa pun telah kembali dari tanah suci. Dan mereka kembali ke tanah air dengan perasaan bahagia. Karena Allah telah mendengarkan do'a mereka.
Bersambung....
__ADS_1