HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Bercanda Ria Bersama di Dapur


__ADS_3

" Terimakasih kak Nisa." ucap Karen seusai mengganti pakaian selepas mandi dan sholat Dzuhur.


" Kalau boleh tahu, usia kehamilan kak Nisa berapa bulan ?" tanya Karen, mengusap perut Annisa yang mulai terlihat buncit.


" Sudah menginjak delapan belas Minggu." jawab Annisa tersenyum membalas Karen.


Keduanya pun berjalan kembali keluar, sementara yang lain tengah melaksanakan sholat Dzuhur berjama'ah di Masjid pesantren. Tinggal lah Annisa dan Karen.


Nisa mengajak Karen ke ruang makan, membantu santriwati yang tengah memasak di dapur.


" Assalamu'alaikum ustadzah Nisa." sapa santriwati seraya membungkukkan setengah badan, menyapa Annisa.


" Wa'alaikumussalam, jangan formal begitu lah mbak Nur, panggil saja Nisa seperti pertama Nisa kesini dulu, he he he." timpal Annisa tersenyum kepada Santriwati senior tersebut.


" Mana boleh seperti itu ustadzah, itu namanya nggak sopan." sahut Nur kembali dan kali ini tatapan matanya tertuju kepada Karen.


" Salam kenal bu ustadzah Han, he he he." ucap Nur menyapa Karen.


Karen mengulurkan tangannya kepada Nur, " Panggil saja Karen mbak, tidak usah terlalu formal juga." balas Karen.


Nur pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal,


" Anda berdua adalah istri dari ustadz Azzam dan ustadz Hanafi, sudah selayaknya kami memanggil bu ustadzah. " timpal Nur menjelaskan.


Ketiganya pun terkekeh dan mulai saling mengobrol, meski Karen seorang putri tunggal dan selama ini selalu di penuhi semua kebutuhannya oleh pelayan, tapi gadis ini pintar dalam hal memasak, sebab semenjak kecil, ia selalu ikut ke dapur dan mempraktekkan apa yang dilihatnya.


" Wah wah wah, ada yang jago dari aku nih, sepertinya aku harus berguru kepada cef Karen , ups Miss Han ha ha ha." goda Annisa sembari mencicipi masakan yang dibuat Karen.


" Mbak Nisa juga nanti pasti bisa kalau sudah biasa, iya kan mbak Nur?" ujar Karen membaur bercengkrama disana.


" Ustadzah Nisa mah nggak perlu masak, kan ustadz Azzam jago segala nya, termasuk memasak." timpal Nur kali ini membalas menggoda Nisa.


Azzam yang baru pulang dari masjid, segera mencari keberadaan sang istri, saat tidak didapati Annisa di dalam kamar.

__ADS_1


" Sayang...., kamu dimana? sayang..." teriak Azzam.


" Tuh kan panjang umur ustadz Azzam, baru juga di omongin sudah muncul." tukas Nur sembari menggoda Nisa lagi.


Mendengar suara ramai di dapur, Azzam pun segera menghampirinya.


" Sayang kenapa ajak Karen ke dapur, ntar si Han marah loh." ucap Azzam menghampiri istrinya.


" Kata siapa aku marah, biar saja mereka saling kenal, toh kita kan satu keluarga, iya kan sayang?" tiba-tiba sebuah suara yang tak lain adalah Hanafi, terdengar dan muncul dari belakang, membuat Karen tersipu malu.


" Eh eh eh sayang cieeeee, ternyata paman Han bisa juga ya bilang sayang." goda Azzam menepuk pundak sepupunya itu.


Kedua pria yang layaknya kakak beradik itu saling terkekeh, Karen hanya tersenyum simpul melihat kedua pria di depannya yang saling bercanda dan berkelakar di dapur, begitupun dengan Annisa dan Nur.


Tak berapa lama dapur berubah menjadi ramai dan riuh penuh dengan canda tawa antara Hanafi dan Azzam. Saat suasana sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba ponsel Hanafi berdering.


Han meraih ponsel yang ada di saku kemeja kokonya, dilihat rupanya nomor Safa yang tertera. Dan Hanafi pun dengan penuh antusias menerima panggilan video call dari Safa.


" Wa'alaikumussalam, wah wah yang udah nikah gitu ya nggak kasih kabar ke adiknya. Kak Han sudah lupa sama Safa." sahut Safa menatap Hanafi sambil memasang raut wajah cemberut.


Melihat ekspresi adik sepupunya yang sedang ngambek, maka Han pun mengalihkan layar kamera, ke arah Karen. Membuat Safa yang tadinya ngambek, seketika berubah menjadi girang.


" Aaaaaaaaa.... kak Han pinter banget pilih istri. Hallo kakak ipar." sapa Safa cengengesan, melambaikan tangannya dari layar ponsel ke arah Karen.


Karen yang berdiri disamping Han pun membalas lambaian tangan Safa, dan keduanya mengobrol lalu berkenalan satu sama lain. Melihat keseruan percakapan antara Karen dan sang adik ipar, maka sebuah suara mengejutkan percakapan mereka.


" Safa nggak kangen sama calon keponakan kah?" kali ini Annisa yang terlihat ngambek.


Karen tersenyum melihat reaksi Annisa yang tiba-tiba berubah manja.


" Kak Karen berikan ponsel pada kakak ku tersayang sebentar ya !!" ujar Safa kepada Karen, dibalas anggukan oleh Karen.


Kini berganti Annisa yang berbicara via video call bersama Safa, diikuti Azzam yang nyeletuk ikut bicara.

__ADS_1


" Aunty kapan pulang ? kalau pulang jangan lupa bawain oleh-oleh khas sana ya buat calon keponakan." celetuk Azzam.


" Wah bohong Sa, mana ada aku ngidam begituan, yang ada abang kamu itu yang dari kapan hari selalu bahas makanan khas sana." sahut Annisa menjewer telinga Azzam.


" Auw auw.... sakit yang." ucap Azzam memegangi daun telinganya akibat dijewer sang istri.


" Iya iya abang yang kepingin Sa, jadi kapan kamu pulang?? bukannya ujian sudah berakhir kamu, tumben kamu betah banget disana sekarang, biasanya juga dikit-dikit merengek minta diizinkan pulang." imbuh Azzam menatap lekat wajah sang adik satu-satunya.


Safa merasa salah tingkah saat sang kakak yang layaknya petugas interogasi itu menatap tajam kearahnya dari layar ponsel.


" Enggak, enggak gitu juga bang, Sa sekalian saja pulangnya nanti setelah semua tugas kampus selesai. Palingan juga satu bulan lagi Sa pulang." jawab Sa nyengir kuda sedikit berbohong kepada sang kakak.


" Kamu itu nggak bakat berbohong Sa, abang tahu kamu disana lagi deket sama seseorang. Kamu pikir abang mu ini orang baru disana, yang awasin kamu disana itu banyak, dasar pakai mau berbohong." kali ini Azzam sedikit serius berbicara kepada sang adik.


" He he he, iya Sa ngaku salah bang, tapi boleh ya bang Sa deket sama dia." rengek Safa mengiba.


" Iyain saja kenapa mas, iya Sa nggak papa kok sayang." timpal Annisa menyandarkan dagunya ke pundak Azzam, menatap ke layar ponsel.


" Horeeeeee, kak Nisa the best emang." balas Safa.


" La la la la, kata siapa boleh, pokoknya sebelum oleh-oleh ada di depan mata, lampu masih merah." sahut Azzam melambaikan tangan depan layar, menandakan belum menyetujui permohonan sang adik.


Beberapa menit saling berdebat kakak beradik itu, telefon pun berakhir karena Safa harus segera ke kampus.


Seluruh keluarga besar Kyai Waffiq berkumpul di depan meja makan, melakukan makan siang bersama untuk pertama kalinya dengan Karen.


Seusai makan siang, Karen membantu Hanafi berkemas beberapa pakaian yang penting-penting saja, dan sebagian pakaiannya masih di sisakan disana, agar saat menginap nanti tidak perlu repot-repot membawa ganti.


Seluruh keluarga mengantar kepergian Hanafi dan Karen sampai di depan pintu gerbang pesantren. Terlihat pancaran aura bahagia dari pasangan pengantin baru ini, saat meninggalkan halaman pesantren.


*****


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2