HIJAIYAH CINTA

HIJAIYAH CINTA
Perhatiannya Azzam


__ADS_3

Setelah mobil yang dikendarainya memasuki halaman rumah, Devi segera turun. Sementara Annisa tampak tertidur pulas disamping Azzam.


" Biar mama bangunin nak Zam." ucap Devi.


" Jangan ma kasihan, pasti Nisa lelah sekali. Biar Zam gendong ke dalam. Ini kuncinya, tolong mama buka pintu !!" sahut Azzam.


Dengan sangat hati-hati Azzam menggendong tubuh Annisa yang terlelap, masuk ke dalam kamar.


Di lepasnya niqab serta sepatu yang menempel, juga hijab yang dikenakan. Tampaklah wajah cantik alami Annisa saat itu.


Azzam menatapi wajah sang istri yang terlihat polos tak berdosa saat tertidur, membelai pucuk kepala dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Annisa.


" Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah." tukas Azzam mengusap rambut Nisa. Dan pria ini pun segera keluar dari kamar menuju halaman depan, dimana bodyguard yang dikirim oleh Dirga, sedang berjaga disana.


" Mama mau kemana? apa nggak sebaiknya istirahat dulu. Nanti sore biar Zam antar mama pulang." tanya Azzam, saat melihat mertuanya bersiap pulang.


" Nggak usah nak, jaga Nisa saja. Mama bisa pulang sendiri. Lagian mama kan bawa mobil ." sahut Devi, menolak halus.


Azzam mencium punggung tangan Devi dan mengantarnya hingga halaman depan.


" Hati - hati ma !!" seru Azzam.


Tak lama kemudian, Devi masuk kedalam mobil, dan menghidupkan mobilnya. Meninggalkan kediaman sang putri.


Azzam berjalan mendekati pos jaga yang ada di depan rumahnya. Sebenarnya Azzam berniat memperkerjakan satpam untuk menjaga rumah sebelum menikah dengan Nisa. Namun karena Annisa tidak memperbolehkannya, maka Azzam pun mengikuti kemauan istrinya.


Namun berbeda dengan kali ini, mau tidak mau, dia harus memperkerjakan satpam dan bodyguard untuk menjaga keamanan tempat tinggalnya.


" Selamat siang pak Mansyur." sapa Azzam menjabat tangan pria bertubuh kekar tersebut.


" Selamat siang juga mas Azzam." jawab bodyguard utusan Dirga tersebut.

__ADS_1


" Semoga pak Mansyur betah bekerja disini, oh ya pak, saya ingin memperkerjakan satpam juga, menurut pak Mansyur bagaimana?" tanya Azzam meminta pendapat.


" Menurut saya sih bagus juga mas Azzam, sebab dengan begitu bisa bergantian berjaga. Tapi menurut pak Dirga, sesekali anak buah beliau akan mengawasi dari kejauhan. Disekitar sini, untuk memantau keadaan." tukas pak Mansyur.


Azzam manggut-manggut mendengar jawaban pak Mansyur.


" Kalau begitu, apa pak Mansyur mempunyai koneksi yang bagus, untuk bekerja sebagai satpam disini. Mengenai gaji, bisa mengusulkan kepada saya langsung pak." imbuh Azzam sebelum pergi.


" Kalau adik saya bagaimana mas? kebetulan dia sedang menganggur dan membutuhkan pekerjaan saat ini, untuk biaya sekolah anaknya." balas pak Mansyur.


" Boleh banget pak, saya setuju. Kalau begitu, mulai nanti malam bapak suruh saja adiknya memulai bekerja." timpal Azzam.


Setelah berbincang dengan pak Mansyur, Azzam pun berpamit masuk kembali kedalam.


*****


Sampai di dalam kamar, Annisa masih terlihat pulas sekali tidurnya, sebentar lagi adzan Dzuhur berkumandang. Sebelum membangunkan sang istri, Azzam meraih ponselnya menelfon sang abi.


" Hallo, Assalamu'alaikum abi." sapa Azzam mengawali percakapan dengan sang abi, lewat sambungan suara.


" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh, iya Zam ada apa nak? sepertinya kamu sedang gelisah." tanya Kyai Waffiq dari seberang telepon.


" Emmm, begini Abi. Mengenai kasus yang menimpa papa, sepertinya masih belum selesai bi. Tadi pagi Zam lihat wanita itu, mengawasi rumah kami, Zam jadi khawatir akan keselamatan Nisa bi." ujar Azzam bercerita.


" Innalilahi, kenapa wanita itu masih ingin berniat buruk. Harusnya dia bertaubat, kasihan juga dengan anak yang dikandungnya, harus dibawa kemana-mana, melakukan kejahatan oleh ibunya. Abi kasihan sekali dengan gadis itu. Pasti saat ini dia sedang kesepian tidak memiliki siapapun untuk bercerita, sehingga harus kalap seperti itu. Semoga saja Allah segera memberikan dia hidayah." ucap Kyai Waffiq.


" Iya bi, sebenarnya Zam juga kasihan, tapi jika kita lengah dan baik sama dia. Dia bisa berubah seketika bi. Dan Zam tidak ingin hal itu terjadi. Zam ingin istri dan calon anak Zam baik baik saja." timpal Azzam.


" Bi bisakah kirim bulek Rohimah kesini buat bekerja disini. Itung-itung menemani istriku bi. Paling juga memasak, kalau bersih bersih dan lainnya nanti Zam pakai jasa pelayan panggilan saja."


" Bisa Zam, boleh banget, sebenarnya sejak kamu menikah, abi ingin bulek mu bekerja denganmu, kasihan beliau di desa sendirian. Sementara Han, lebih suka tinggal bersama Abi, dan mengajar disini. Kalau ibunya bersama kamu, kan lebih enak mereka bisa sering bertemu." sahut Kyai Waffiq.

__ADS_1


Pasangan ayah dan anak ini, berbicara panjang lebar, bahkan Kyai Waffiq juga berpesan kepada sang putra sulung, untuk lebih bersabar menghadapi semua ujian ini. Karena sebenarnya ini adalah ujian untuknya dan juga Annisa. Apakah keduanya mampu melewatinya bersama - sama dan langgeng, atau sebaliknya.


" Iya bi, terimakasih. Sampaikan salam Zam buat umi dan Han, wassalamu'alaikum." ucap Azzam mengakhiri panggilan teleponnya.


" Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh." balas Kyai Waffiq, dan panggilan pun terputus.


****


Adzan Dzuhur berkumandang, Azzam kembali ke kamar membangunkan sang istri. Masih dalam posisi yang sama, Nisa tampak pulas sekali.


Di kecup nya pipi Annisa bergantian secara lembut, seraya berbisik. " Sayang, bangun yuk. Sudah adzan loh, kita sholat dulu sayang."


Mendengar suara bisikan Azzam, Nisa mulai menggeliatkan tubuhnya. Perlahan ia menggosok mata dan membukanya perlahan.


" Aku ketiduran ya mas. Kita sudah pulang kan mas?" tanya Annisa, sembari mengedarkan pandangannya, ke seluruh ruang kamar.


Azzam tersenyum, menatap Annisa dan mengangguk.


" Ayo kita sholat dulu sayang, sudah adzan loh. Mandi gih, biar segar yang." ucap Azzam, membantu sang istri terbangun.


Lagi lagi Nisa mengulurkan tangannya, meminta gendong hingga kamar mandi. Seperti biasa, Azzam hanya membalas senyuman, dan menggendong tubuh sang istri tanpa banyak bantahan lagi.


Annisa pun menempelkan kepalanya ke pundak Azzam, mendaratkan sebuah ciuman kecil ke pipi suaminya. Dan Azzam pun menatapnya dengan lirikan nakal. Dibalasnya kecupan hangat di bibir mungil Annisa oleh Azzam.


Dan Azzam pun meninggalkan Annisa di kamar mandi, beralih ke lemari. Mengambil baju ganti Annisa.


Sementara Azzam mandi di kamar mandi yang ada di belakang, untuk mempersingkat waktu. Dan tak lama kemudian, mereka selesai bersamaan. Bersiap menunaikan sholat Dzuhur bersama.


******


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2