
" Suster, bisa minta tolong, bantu saya membersihkan diri !" ucap Aulia kepada perawat yang datang, saat jam injeksi.
" Sebentar lagi setelah selesai injeksi dulu ya mbak." jawab perawat, diikuti anggukan oleh Aulia.
Perawat pun memberikan obat injeksi lewat selang infus yang ada di tangan kanan Aulia. Dan setelah selesai perawat berganti membantu Aulia membersihkan tubuhnya, di kamar mandi. Sekitar sepuluh menit, keduanya kembali menuju bed.
Wajah Aulia sudah mulai tampak lebih segar saat itu, tak lama kemudian perawat pun pergi, kini hanya tinggal lah ia seorang.
" Dimana anak ku?? bagaimana kondisi Ham?? dia pasti sedih dan mencari ku." batin ibu satu anak ini.
Aulia tak bisa menahan lagi kerinduan kepada putra semata wayangnya itu, bahkan butiran kristal bening pun mulai menetes dari sudut bola mata miliknya.
" Andai kamu tidak terjerat oleh cinta wanita itu, perusahaan pasti masih baik-baik saja, dan kamu tidak akan pergi meninggalkan aku dan Ham selamanya mas." batin ibu satu anak ini, mengingat klise kejadian yang membuat ia kehilangan suaminya.
Saat suara Isak tangis Aulia makin menjadi siang itu, tiba-tiba sebuah ketukan pintu dari luar terdengar.
"Masuk !" sahut Aulia, menatap ke arah pintu, dan rupanya, sang putra kesayangan datang.
" Mamaaaaa." teriak Hamzah melepas kangen kepada Aulia, sembari berlari menghambur mendekati brankar.
Aulia segera mengangkat tubuh putranya, namun sayang, karena luka ditangan jadi tidak bisa menaikkan Hamzah ke brankar.
Melihat hal itu, hati nurani Azzam terketuk, ia membantu mengangkat tubuh Hamzah ke atas brankar, samping Aulia.
" Terimakasih mas." ucap Aulia malu.
__ADS_1
Annisa berjalan mendekati brankar juga, seraya menyapa wanita yang masih di perban luka-lukanya, duduk bersandar di brankar.
" Assalamu'alaikum, mbak." sapa Annisa mendekati brankar, dan mengulurkan tangan kepada Aulia.
Sambil menatap wajah cantik di balik niqab, Aulia menyambut uluran tangan Annisa, mengulas senyuman kepada istri dari mantan tunangannya tersebut.
" Wa'alaikumussalam." jawab Aulia merunduk malu.
" Aku Aulia." ujar Aulia.
" Perkenalkan, ini istri aku, namanya Annisa." ujar Azzam berdiri di samping sang istri, meletakkan tangannya ke atas bahu Annisa.
Ketiganya saling bersitatap sejenak satu sama lain. Dalam hati Aulia membatin,
Sesaat semuanya tampak canggung, tanpa ada pembicaraan lagi, namun Hamzah kecil, berhasil mencairkan suasana, sehingga tak lagi ada kecanggungan disana.
" Mama, semalam Ham bobo baleng om ganteng, dan kaka cantik, lumah om ganteng besaaaal sekali, ada kolam dan juga taman ma. Nanti kita main ke lumah om ganteng lagi ya ma, baleng mama." tukas bocah usia lima tahun tersebut dengan logat cadel.
" Anak ganteng nggak mau bobo di rumah kaka lagi kah?, kan mama mas Ham masih sakit, harus di rawat disini sampai sembuh." sahut Annisa.
Bocah itu terlihat masih kangen terhadap sang mama, karenanya saat Annisa bertanya, ia menatap kearah Aulia, seolah meminta persetujuan. Aulia mengerti akan maksud dari tatapan sang putra, dan ia pun mengusap rambut Hamzah, mengecup dan berkata kepada bocah itu.
" Iya sayang, maaf kan mama belum bisa pulang bersama kamu. Untuk sementara, tinggal lah dengan om Azzam dan kaka Annisa, ya nak?" ujar Aulia.
Hamzah kecil mengangguk dan tersenyum, memeluk erat tubuh sang mama, menghadiahi wanita yang di peluknya itu dengan sebuah kecupan di kening, dan juga bibir dengan gaya menggemaskan. Membuat Azzam dan Annisa terkekeh dengan tingkah lucu bocah tersebut.
__ADS_1
" Kamu fokus saja pada perawatan dan kesembuhan, masalah Hamzah, biar aku dan Nisa yang merawatnya. Setelah kamu sembuh, kami akan mengembalikan putramu kepadamu lagi." tandas Azzam, menyemangati Aulia.
" Iya mbak, benar apa yang di katakan mas Zam, mbak sebaiknya fokus pada penyembuhan dulu, biar Ham kami yang bantu jaga." sahut Nisa menimpali perkataan sang suami.
" Terimakasih atas pertolongan kalian, tanpa kalian entah bagaimana nasib ku dan Hamzah." ucap Aulia tertunduk dengan raut sedih.
" Mbak Lia enggak usah bersedih, semua yang terjadi atas kehendak Allah mbak, dan kami lah yang Allah tunjuk untuk menolong mbak Lia, iya kan mas?" ucap Annisa juga turut memberi support kepada mantan tunangan sang suami.
Aulia akhirnya bisa bernafas dengan lega, setelah mendengar perkataan kedua orang dihadapannya yang begitu tulus membantu dirinya dan sang putra.
" Aku merasa malu sekali sama kamu mas, setelah apa yang aku perbuat padamu beberapa tahu lalu, kamu masih saja sudi menolong ku." celetuk Aulia dengan wajah penyesalan.
" Sudah lah Li, tidak perlu di sesali yang sudah terjadi, mungkin Allah lebih menghendaki kita menjadi saudara sesama muslim, ketimbang menjadi pasangan, jodoh, maut, rezeqi, semua itu rahasia Allah, tidak satu pun dari kita yang dapat mengetahuinya." tandas Azzam.
Waktu terus bergulir, jarum jam pun kian bergeser, setelah berhasil mengantar Hamzah kecil melepas kangen terhadap mamanya, kini pasangan muda ini berpamit pulang dan membawa Ham kembali bersama mereka.
" Mama jangan sedih ya, om ganteng dan kaka cantik baik banget, emmmuach bai mama." ucap bocah lima tahu itu berpamit, seraya memonyongkan bibirnya memberi ciuman jauh kepada Aulia.
Wajah bahagia tersirat dari Aulia, melihat sang putra yang begitu antusias dan gembira untuk tinggal bersama pasangan suami istri di hadapannya.
Hamzah melambaikan tangan kepada Aulia, sembari tangan sebelah nya, menggandeng tangan Azzam. Dan ketiganya kembali pulang ke rumah.
******
BERSAMBUNG.....
__ADS_1